
Sudah beberapa tahun berlalu, Ares dan Inas masih saja harmonis, walau kadang pertengkaran selalu ada, dalam rumah tangga pasti akan selalu ada pertengkaran itu wajar.
Masalah Sakti sudah Inas lupakan, terlebih Inas memang menjaga jarak dengan Sakti semenjak kejadian Intan datang kerumahnya. Inas jarang bertemu dengan mereka, kadang sesekali Penty bermain ke rumah, jika ditanya pun Penty akan bilang mereka sedang sibuk dengan pekerjaan.
Sekarang Argan mulai masuk sekolah menengah Pertama, tak terasa waktu terlalu begitu cepat. Argan menjadi anak yang baik dan juga tampan, namun paras Argan yang tampan mengingatkan Inas pada sesuatu. Semakin Argan tumbuh besar semakin mengingatkan akan seseorang.
Hari ini Argan akan mengikuti Masa Orientasi Siswa disekolahnya. Dia sudah bersiap-siap dari pagi.
"Bun yah, aku berangkat dulu takut kesiangan!" ucap Argan sambil menyalami kedua orang tuanya juga adiknya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, hati-hati kak!"
"Iya bun yah.." teriak Argan yang sudah lari keluar.
Sedangkan Ares sedang tidak ke kantor. Inka sedang sarapan dia pun sudah bersiap akan ke sekolah.
"Dedek cepet makannya, nanti kesiangan!"
Setelah selesai sarapan Ares mengantar Inka ke sekolah. Inas membereskan bekas sarapan mereka. Tiba-tiba saja dada Inas terasa nyeri dan sesak.
"Astaghfirullah, kenapa ini?" Inas menekan dadanya yang terasa nyeri. Bahkan perasaannya juga tidak enak. Setelah terasa lebih baik Inas melanjutkan aktivitasnya. Karena ARTnya sedang pulang kampung dia harus mengerjakannya sendiri.
Tapi semakin lama kepalanya terasa pusing, dan juga pandangannya kabur, tak lama Inas tergeletak tak sadarkan diri.
...***...
*Inas POV
Aku mencium bau aneh, aku berusaha membuka mataku, namun mataku terasa berat. Perlahan aku buka sampai aku bisa buka mata dengan sempurna.
Ku edarkan pandanganku, aku berada di sebuah dikamar. Aku seperti tak asing dengan tempat ini. Tapi dimana? Aku terus mengingat dimana tempat ini pernah kulihat.
Aku terkejut saat mengingat, bukankah ini kamar Lakhuds. Kenapa aku ada disini?
Aku ingin beranjak tapi tubuhku kaku, aku tidak bisa menggerakkan tubuhku, kenapa ini?
Tak lama tercium bau menyengat, entah bau apa, aku seperti pernah menciumnya tapi tidak tau bau apa.
grepp..
Tiba-tiba lampu mati, semuanya jadi gelap, tidak! aku melihat sebuah cahaya, tapi cahaya apa itu. Tiba-tiba cahaya itu mendekat ke arahku, aku tidak bisa lari, untuk beranjak pun aku tak bisa.
Lalu cahaya itu tiba-tiba membentuk sesuatu, seperti manusia, lalu cahaya itu memudar dan menjadi sosok manusia berjubah, meski aku tidak bisa melihatnya dengan jelas tapi aku yakin dia adalah sosok berjubah.
"Hai cantik, kita bertemu lagi!" entah kenapa itu bukan suara Lakhuds. Sepertinya Lakhuds sedang menggunakan tubuh seseorang. Tiba-tiba lilin dikamar itu menyala, dugaanku benar, itu sosok berjubah tapi aku tidak bisa melihat wajahnya.
Lalu dia membelai wajahku. "Kau ingat sayang bagaimana pesanku dulu!" ucapnya.
Pesan? Pesan apa? Aku tidak tau maksudnya? Aku ingin berbicara tapi lidahku kelu.
"Sepertinya kamu sudah melupakannya, tidak apa biar itu jadi kejutan untukmu sayang, kau pasti akan senang Ha Ha Ha Ha."
Apa yang dia katakan aku tidak mengerti, kejutan apa? Aku ingin berteriak tapi tidak bisa.
__ADS_1
"Darah Iblis sudah mengalir, tidak ada yang bisa menyembuhkannya kecuali satu! Dia bisa sembuh dengan darah suci keturunanku Ha Ha Ha Ha.."
Apa maksudnya, kenapa dia membicarakan darah suciku. Sembuh? Kenapa dia mengatakan sembuh, memang siapa yang Sakit, aku tidak bisa berfikir dengan baik, apa yang dia katakan aku tidak mengerti.
Aku tau dia Lakhuds, tapi apa maksudnya? Tolong jelaskan aku tidak mengerti.
Tiba-tiba kamar ini menjadi gelap gulita, aku tidak bisa melihat apa pun, ini sangat gelap.
Tolong aku, aku takut ini sangat gelap, tubuhku pun kaku, aku ingin keluar dari sini.
Tolong aku!!
*Inas POV end
...***...
Ares panik saat mendapati istrinya tergeletak didapur dia langsung menggendongnya ke kamar, lalu dia mengoleskan minyak kayu putih dikening dan pelipis Inas.
"Sayang bangun!" Inas masih tidak sadarkan diri. Ares terus berusaha menyadarkan Inas. Tak lama kemudian Inas tersadar.
"Sayang kamu gak apa-apa, kamu sakit?" Inas menggeleng.
"Ya udah kamu istirahat ya!" Ares mencium kening Inas lalu beranjak tapi Inas menahannya.
"Temenin bunda yah!"
"Yaudah ayah temenin, tapi beneran bunda gak apa-apa?"
"Tadi bunda cuma kecapean aja yah!"
"Ya udah bunda istirahat ya, ayah mau mandi dulu!" ucapnya sambil mengelus kepala istrinya.
"Iya sayang!" Ares pun beranjak dan segera ke kamar mandi.
Tak lama Ares selesai mandi, dia melihat istrinya sudah terlelap, dia bergegas memakai baju. Dia menatap istrinya yang sedang terlelap, lalu dia mengecup kening istrinya.
"Terima kasih kamu sudah menjadi istri dan ibu yang baik, saya sangat mencintai kamu dan juga anak-anak kita!" Ares mencium kening istrinya lagi lalu menyelimutinya.
...***...
Sudah beberapa hari Argan sudah mulai masuk sekolah dengan normal Setelah menyelesaikan MOS. Dia sudah mulai belajar.
Sekarang dia tidak satu sekolah dengan Penty, sedangkan sejak paud sampe SD mereka satu sekolah.
Pagi itu Argan datang terlambat, karena kesiangan, untung saja gerbang belum tertutup secepat mungkin Argan masuk. Pas dia masuk area sekolah, bel berbunyi, Argan segera berlari padahal guru pun belum masuk.
"Hari pertama belajar malah kesiangan!" gerutunya. Dia masuk kelas, semua temannya sudah masuk dan sedang bercengkrama karena guru belum masuk.
"Gan!" Argan menoleh pada seseorang yang memanggilnya.
"Duduk sama gue!" Argan menghampirinya ternyata dia adalah temannya saat MOS, namanya Guntur Permadi. Dia adalah teman pertama Argan karena saat MOS mereka satu kelompok.
"Hei Tur!"
"Gue udah siapin tempat duduk buat elo, sengaja biar sebangku sama gue."
__ADS_1
"Oke, thanks!"
Akhirnya Argan duduk bersama Guntur, tak lama seorang guru wanita berhijab masuk ke kelas, wanita sekitar umur 30an, wajahnya lumayan cantik, kulit kuning langsat, ada tahi lalat dihidung mancungnya. Keriuhan para murid seketika hening saat sang guru masuk ke kelas.
"Pagi anak-anak!"
"Pagi bu.."
"Perkenalkan ibu wali kelas kalian, nama ibu Ratih, salam kenal dan selamat datang dan belajar di SMPN 01 Bangsa!"
"Hallo bu Ratih!!" sapa semua murid.
Tapi tidak dengan Argan semenjak kedatangan bu Ratih, dia melihat sosok mengikuti bu Ratih. Dia sosok anak kecil sekitar umur 9 tahun sedang mengikuti bu Ratih. Argan tau dia bukan manusia.
"Tur, elo percaya kan gue bisa lihat hantu?" bisik Argan.
"Iya emang elo liat apa?" Argan pernah bercerita pada teman pertamanya itu kalo dia bisa lihat hantu, awalnya guntur tidak percaya, tapi saat Argan bertemu hantu sepupu Guntur dan menceritakan kedekatan Guntur dengan hantu itu Guntur percaya. Padahal sebenarnya Guntur sangat penakut.
"Gue liat hantu anak kecil, dia ngikutin bu Ratih wajahnya penuh luka begitu juga tangan dan kakinya, dilehernya kaya bekas luka sayat."
"APA!!" sentak Guntur mendengar penjelasan Argan membuat semua orang menoleh kearahnya.
"Ada apa?" semua orang terheran tiba-tiba Guntur berteriak padahal bu Ratih sedang mulai mengabsen, membuat Guntur dan Argan malu, karena semua mata tertuju pada mereka.
"Gak ada apa-apa bu, tadi Guntur kentut, jadi aku cubit dia." ucap Argan mencari alasan membuat Guntur sebal karena dia dijadikan kambing hitam dan semua anak ada yang menatap acuh ada juga yang menahan tawa.
"Ya sudah kita lanjut absen lagi."
"Kenapa elo fitnah gue?" geram Guntur sambil berbisik Argan hanya terkekeh.
"Sorry gue cuma kepikiran itu." Argan tertawa geli melihat raut Guntur yang menahan malu.
Setelah selesai mengabsen, bu Ratih memulai pelajaran pertama. Argan tidak terlalu fokus karena hantu anak kecil itu terus menatap tajam ke arahnya semenjak dia membicarakannya. Argan begidik ngeri karena tatapan anak itu penuh kebencian, amarah dan dendam.
Sesekali Argan dapat teguran dari bu Ratih karena Argan tidak fokus belajar. Lagi-lagi tatapan teman-temannya mengarah kepada mereka dan untuk kesekian kalinya mereka jadi pusat perhatian.
Pelajaran pertama, kedua, ketiga sudah mereka lewati tak terasa bel istirahat berbunyi.
Semua murid bergegas keluar kelas untuk menghilangkan penat setelah disibukan dengan pelajaran. Kebanyakan mereka pergi ke kantin sehingga kantin terlihat sangat ramai, ada juga yang sekedar nongkrong dan ngobrol.
Argan dan Guntur pun ke kantin. Tapi raut Guntur masih kesal karena temannya masih ada yang mengejeknya karena kejadian dikelas.
"Elo masih marah? ya elah kaya anak cewe lo ngambekan."
Guntur mengabaikan Argan, membuat Argan terkekeh melihat sikap Guntur.
"Dasar anak gadis." ejeknya.
Mereka berdua memesan makanan dikantin, tak lama pesanan mereka sampai, tapi baru saja Argan mau menyuapkan mie ayamnya, dia dikejutkan dengan sosok hantu anak kecil yang tiba-tiba ada dihadapannya. Membuatnya terkejut dan hampir terjengkang kebelakang.
"Ha ha ha sudah ku duga kakak bisa lihat aku!!" ucap hantu itu sambil tersenyum menyeringai.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....