
"Brengsek!!" teriak seseorang. Dia langsung menarik Sakti dan menghajarnya dengan membabi buta. Sakti tak sempat melawan karena kejadiannya terlalu cepat.
Inas menangis histeris melihat suaminya memukuli Sakti secara membabi buta. Hingga Sakti terkulai lemah dengan wajah yang sudah penuh luka pukulan.
"Ayah cukup, jangan pukul bang sakti lagi!" Inas berusaha menghentikan Ares tapi Ares semakin murka.
"Kamu belain dia!" teriak Ares murka.
"Gak yah, bunda cuma gak mau nanti kamu dipenjara karena mukulin bang Sakti! udah yah jangan dipukulin lagi, bunda gak mau kehilangan kamu!" Ares pun berhenti memukuli Sakti setelah mendengar perkataan istrinya.
"Aarrghhh.." teriak Ares meluapkan emosinya sambil menonjok tembok hingga tangannya terluka.
"Ayah!" lirih Inas melihat kemarahan suaminya. Ares menahan diri untuk tidak memukul Sakti lagi, tapi emosinya memuncak saat ingat Sakti menyentuh Inas hingga dia ingin memukul Sakti lagi, tapi seseorang menahannya saat tangan Ares akan mendarat di wajah Sakti.
"Kak cukup, udah jangan pukul bang Sakti lagi!" ucap Sandi yang ternyata menyusul Sakti kerumah Ares.
"Urus kakak mu itu, jangan sampai dia ganggu istri saya lagi!" teriak Ares murka. Lalu dia berlalu kedalam untuk meluapkan emosinya.
Sandi pun membantu Sakti yang sedang tergeletak lemah. Sakti meringis merasakan sakit diwajahnya.
"San, bawa bang Sakti pulang ya, maaf aku gak bisa bantu kalian!"
"Iya kak, maafin bang Sakti, aku pastiin bang Sakti gak akan ganggu kak Inas lagi, aku mohon maafin bang Sakti!"
"Iya san, pulanglah sebelum kak Ares tambah marah!"
Sandi pun membawa Sakti pulang. Inas memang sangat kecewa pada Sakti, tapi biar gimana pun Sakti pernah berjasa dalam hidupnya.
"Maafin aku bang, gara-gara aku kamu jadi kaya gini!" Inas menutup pintu saat mobil Sakti sudah menghilang dari pandangan.
Inas pun menghampiri suaminya, yang pasti sedang meluapkan emosinya. Inas masuk ke kamar sambil membawa kotak p3k untuk mengobati luka ditangan Ares. Terlihat kamarnya sudah berantakan karena amukan Ares. Inas menghampiri Ares yang sedang terduduk di lantai sambil menelungkupkan wajah ditangannya. Inas ikut duduk disamping suaminya, air matanya masih mengalir.
Inas mengambil tangan Ares untuk di obati, tapi Ares menepisnya dan membuang muka.
"Ayah!" lirih Inas terisak Saat suaminya menepis tangannya. Inas meraih tangan Ares lagi tapi kali ini Ares tidak menolak, Inas pun segera mengobatinya. Ares sangat marah ketika melihat istrinya disentuh pria lain.
"Apa yang sudah dia sentuh? apa yang sudah si brengsek itu lakukan sama kamu?" tanya Ares dengan menahan amarahnya.
Inas hanya menangis terisak sambil menundukan kepalanya. Ares memegang dagu Inas dan mengangkat kepala Inas agar menatapnya, air mata Inas mengalir deras.
"Katakan!! apa yang sudah dia sentuh?" teriak Ares tak bisa menahan emosinya. Inas makin terisak melihat kemarahan Ares. Inas tak berkata apa-apa dia hanya menunjuk bibirnya yang sudah disentuh oleh Sakti.
"Brengsek!" geram Ares. Ares langsung mencium bibir istrinya untuk menghilangkan jejak sentuhan Sakti. Inas membiarkan suaminya melakukan apa yang dia mau.
Ares mencium kasar bibir Inas, dia benar-benar sangat emosi. Inas kewalahan membalas ciuman Ares yang sangat kasar.
"Aaa..!" pekik Inas saat Ares menggigit bibirnya. Nafas Ares memburu selain emosinya yang memuncak hasratnya pun bangkit. Inas membiarkan saja suaminya yang sudah mulai menyentuhnya.
__ADS_1
"Kau itu milikku, tidak ada yang boleh menyentuhmu!" ucap Ares.
...***...
Setelah menuntaskan hasratnya, Ares memeluk tubuh Inas yang terbungkus selimut.
"Maafin ayah ya sayang, tadi ayah udah membentak bunda!" ucap Ares sambil mengelus pipi istrinya.
"Ayah gak salah, bunda ngerti kok, bunda juga minta maaf karena gak bisa jaga diri!"
Cup..
Ares mengecup kening Inas. "Tapi benar kan si brengsek itu cuma menyentuh bibir kamu?" Inas mengangguk.
Ares memeluk erat tubuh istrinya yang masih terbalut selimut. Air matanya menetes saat melihat Sakti menyentuh istrinya tadi. Inas yang tau suaminya menangis menatapnya.
"Ayah nangis?" tanyanya sambil menyeka air mata suaminya.
"Saya gak rela kamu disentuh dia, kamu hanya milik saya, rasanya sakit saat melihat kamu disentuh dia!" Ares menempelkan keningnya di kening Inas, lalu Inas mengecup bibir Ares dan mengecup dada Ares.
"Maafin bunda ya udah nyakitin ayah!" Lalu Inas menenggelamkan wajahnya di dada Ares.
"Ini bukan salah bunda."
"Ayah!" panggil Inas sambil mengangkat kepalanya untuk menatap Ares.
"Iya sayang!"
"Tadi saat ayah habis mengantar si kakak, Sandi nelpon dan bilang kalo Sakti mau kerumah, padahal Sandi sudah melarangnya, tapi Sakti memaksa. Dan akhirnya ayah pulang lagi karena takut terjadi sesuatu sama bunda, dan ternyata bener dia sedang kurang ajar sama bunda!" jawab Ares.
"Makasih ya sayang, kalo gak ada ayah bunda gak tau apa yang akan terjadi!"
"Sssstt!" Ares menaruh telunjuknya di bibir Inas.
"Kamu gak boleh ngomong kaya gitu, itu adalah tugas ayah untuk menjaga kamu sayang!"
Inas tersenyum dan mencium bibir Ares, Ares membalasnya dengan lembut dan penuh Cinta.
"Ayah gak ke kantor?" tanya Inas saat pagutan bibir mereka lepas, Ares menggeleng.
"Sekarang kamu jangan halangi saya untuk memenjarakan Sakti, dia sudah sangat keterlaluan!"
Sebenarnya Inas tidak setuju karena memikirkan Penty. Tapi dia juga tidak mau melihat suaminya tambah marah. Inas pun mengangguk.
...***...
Shina sedang berjalan menuju toko buku, langkahnya terburu karena dia merasa ada yang mengikutinya. Shina terus menoleh ke belakang tapi tak ada siapa pun dibelakangnya. Hari ini dia tidak masuk sekolah karena tadi pagi perutnya terasa sangat sakit dan ternyata dia sedang datang bulan.
__ADS_1
Karena perutnya sudah merasa baikkan dia memutuskan untuk ke toko buku untuk menghilangkan bosan. Tapi lagi-lagi seperti ada yang mengikutinya, sudah seminggu lebih Shina merasa selalu ada yang mengikutinya, bahkan kadang ada yang menerornya. Shina tidak tau siapa yang sudah menerornya.
Shina mempercepat langkahnya agar cepat sampai di toko buku. Saat Shina mempercepat langkahnya seseorang pun mempercepat langkahnya dibelakang. Tapi saat Shina menoleh tidak ada siapa-siapa.
Tak berapa lama Shina pun sampai di toko buku. Dia bergegas masuk, Shina lega akhirnya dia bisa sampai di toko buku.
Nafas Shina memburu karena kelelahan dan ketakutan. Dia duduk sebentar di tempat baca, untuk menetralkan nafasnya. Setelah nafasnya mulai membaik, dia segera mencari buku yang dia perlu.
Saat dia sedang mencari buku Shina merasa ada yang memperhatikannya. Tapi Saat Shina melihat ke sekeliling tidak ada yang mencurigakan. Shina bergegas mencari buku itu, perasaannya semakin tidak enak. Setelah menemukan buku yang dia cari dia bergegas ke kasir untuk melakukan pembayaran.
Setelah selesai Shina memesan ojek online. Beberapa saat Shina menunggu dia duduk di depan toko buku, namun pandangannya terus menjuru ke segala arah. Takut ada yang mengikutinya lagi.
Lalu ojek pesanan Shina datang, Shina bergegas naik dan motor pun melaju. Shina merasa tenang karena tak ada yang mengikutinya lagi.
Motor itu melaju dengan kecepatan sedang, Shina tidak sadar masih ada yang mengikutinya di belakang. Saat motor yang ditumpangi Shina melewati area yang sepi, ada sebuah mobil yang mencegatnya. Abang ojek kaget dan motornya oleng, hingga mereka terjatuh.
"Aaa.." pekik Shina.
Lalu tiga orang keluar dari mobilnya, mereka mengangkat motor yang menimpa Shina dan abang ojeknya.
Lalu mereka membawa Shina. Shina di paksa masuk ke dalam mobil. Mereka tidak mempedulikan teriakan Shina. Abang ojek pun tidak bisa menolongnya karena kakinya sakit karena tertimpa motor tadi.
"Tolong!!" teriak Shina.
"Diam!"
Lalu mereka membawa Shina dan meninggalkan abang ojek yang sedang merintih kesakitan.
Shina di bawa oleh mereka ke gudang tua di dekat kebun tebu. Shina di ikat di kursi dan mulutnya di sumpal. Ada beberapa orang yang menjaga Shina, lalu datang seorang pria memakai masker menghampiri Shina. Dia mencengkram pipi Shina, membuat Shina meringis kesakitan. Lalu pria itu membuka maskernya dan membuat Shina terbelalak kaget.
"Pak Rendi!!" pekiknya dalam hati.
Rendi tersenyum kepada Shina. Shina hanya bisa menggeram karena mulutnya disumpal.
Rendi menatap tajam ke arah Shina, dia terlihat kesal pada Shina.
"Lain kali gak usah ikut campur urusan orang!" ucap Rendi.
Shina mengernyit bingung, pasalnya dia tidak tau apa kesalahan dia kepada pria yang pernah jadi gurunya waktu SMP ini. Ikut campur urusan apa? Shina tidak tau. Lalu Rendi menodongkan pistol ke kepala Shina.
"Kau harus dimusnahkan biar tidak ada masalah!" ucapnya sambil memegang pelatuk yang siap untuk ditarik.
Shina ketakutan dia tidak tau apa kesalahan dia sehingga mantan gurunya itu mau membunuhnya. Saat Rendi akan menarik pelatuk, tiba-tiba ada yang mendobrak pintu.
"Hentikan!" teriaknya.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....