Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Penjelasan


__ADS_3

Setelah berpamitan pada Sandi, Argan memilih untuk ke sekolah Inka. Dia ingin berbicara pada adiknya, dia ingin menjelaskan bahwa apa yang di lihat bukan kehendaknya. Semoga Inka mau mendengarkan penjelasannya dan Inka tidak memberi tahukan pada ayah dan bundanya.


Setelah perjalanan tiga puluh menit dari kontrakan Sandi, Argan sampai di sekolahan Inka. Dia menunggu di warung depan sekolah Inka. Ini memang belum jam pulang, tapi semoga Argan bisa bertemu di jam istirahat.


Saat sedang menunggu tiba-tiba Argan mengingat kejadian di rumah sandi.


"Iissh.. dasar nih mulut, gak bisa dijaga!" gerutunya sambil memukul mulutnya.


"Kalo bunda tau, bisa ngomel dia! semoga si Peniti gak ember." Argan sendiri sebenarnya malu banget dia bahkan gak berani buat pamitan pada Penty.


Beberapa saat Argan menunggu akhirnya terdengar bel istirahat berbunyi. Argan beranjak dan mencari adiknya, para murid berhamburan keluar sekolah untuk jajan, memang banyak sekali pedagang di depan sekolah, menjajakan jajanan anak sekolah.


Tak lama Argan melihat adik cantiknya. Argan menghampirinya, namun Inka masih belum menyadari kehadiran Argan. Sampai akhirnya temannya yang melihat dan menyapa.


"Kakak ganteng!" Inka langsung menoleh karena dia tau siapa yang di maksud kakak ganteng oleh temannya itu.


Argan tersenyum dan membalas temannya Inka.


"Hai Rania!"


"Hai kakak ganteng!"


Inka langsung bergegas pergi saat melihat Argan tapi Argan segera menahannya dan memegang gadis berusia 10 tahun itu.


"Lepasin, ngapain kamu disini?" Argan terbelalak saat Inka memanggil dirinya kamu bukan kakak.


"Dek, kakak mau bicara!"


"Kamu bukan kakakku!" pekik Inka sambil berusaha melepaskan genggaman Argan.


"Lepasin!!" teriaknya. Semua yang ada didekat situ menoleh ke arah Argan dan Inka karena Inka berteriak.


"Hei kamu ngapain ganggu dia!" ucap salah seorang bapak paruh baya.


"Kamu mau menculiknya?"


"Enggak pak, saya bukan penculik, ini adik saya!"


"Bohong kamu! lepasin tangannya!" teriak bapak itu membuat banyak mata memandang tak bersahabat ke arah Argan.


"Enggak pak saya mau bicara pada adik saya!"


"Aku bukan adik kamu!" teriak Inka. Membuat Argan terbelalak begitu juga Rania teman Inka, dia kaget karena Inka bicara seperti itu.


"Tuh kan bohong kamu, kamu pasti penculik!"

__ADS_1


Bapak itu pun melepaskan genggaman tangan Argan pada Inka. Argan menatap adiknya, terlihat tatapan kebencian dari adiknya, hati Argan teriris melihat sikap adiknya. Inka pun berlari ke dalam sekolahnya dan di ikuti Rania. Rania masih bingung apa yang sudah terjadi, karena setau dia Argan adalah kakaknya Inka.


Lalu tak lama datang seorang guru datang melerai kerumunan itu dan terlihat Argan sedang dipukul oleh bapak paruh baya itu, sehingga bibirnya memar dan sedikit berdarah, untung saja guru itu mengenal Argan.


"Berhenti!"


"Maaf bu dia ini penculik!" ucap bapak itu geram.


"Saya kenal anak ini pak dia bukan penculik dia tetangga saya!" ujar guru itu.


Bapak itu pun berhenti menghakimi Argan. "Tapi tadi dia mau menculik murid di sini bu!" ujar bapak itu.


"Saya mau ketemu adik saya bu, kami sedang bertengkar dan saya mau meminta maaf padanya!" ujar Argan menjelaskan.


"Iya ibu percaya gan!"


"Lagian pak kalo dia mau menculik, mana mungkin dia menculik di tempat ramai begini!" ucap guru itu. Semua orang disana pun mengangguk membenarkan.


"Kalo ada apa-apa jangan main hakim sendiri, kalian bisa di tuntut, apa lagi kalian memukuli orang yang tidak bersalah, kalian bisa di laporin polisi!" ucap guru itu.


Semua orang yang ada disana menunduk malu dan bapak itu pun terlihat malu dia langsung pergi gitu aja tanpa meminta maaf.


"Maafin kami ya dek!" ujar salah satu pria memakai topi.


"Iya gak apa-apa pak!" Semua kerumunan pun membubarkan diri.


"Aku gak apa-apa bu, aku mau ngomong sama Inka kami sedang bertengkar ada kesalah pahaman!" jawab Argan. Bu guru itu tersenyum.


"Sebaiknya kamu biarkan Inka dulu, biarin dia tenang dulu, baru kamu ajak bicara!" ucap bu guru. Argan mengangguk dia tau adiknya juga tidak akan mudah menerima penjelasannya, tapi Argan takut Inka akan mengadu pada orang tuanya.


"Ya udah bu, aku permisi dulu!" bu guru mengangguk dan tersenyum. Argan pun pergi dari sekolah itu. Sedangkan Inka menatap lirih kakaknya.


"Aku gak tau harus gimana, kamu kakakku atau bukan meski pun ayah bilang kamu adalah kakakku, tapi aku ragu. Maaf aku udah buat kamu dipukulin orang!" Inka pun melangkah kembali ke kelas.


Dia mengintip saat Argan sedang di pukul, sebenarnya dia tidak tega, tapi jika mengingat kejadian malam itu, dia merasa benci pada kakaknya.


Argan melangkah gontai dia tidak tau harus kemana, dia tidak mungkin pulang, karena ini bukan jam pulang sekolah.


"Apa gue kembali ke rumah om Sandi?" pikirnya.


"Tapi gue malu sama si Peniti!" pikirnya lagi.


Akhirnya dia terus melangkah, entah kemana tujuannya, dia berjalan mengikuti langkah kakinya dia mengabaikan para hantu yang berlalu lalang disekitarnya.


Sampai akhirnya dia sampai disebuah rumah sakit, dia menatap sebentar, bibirnya terasa ngilu saat ditonjok tadi.

__ADS_1


"Apa gue obatin dulu ya, kalo bunda tau bisa berabe!" pikir Argan.


Dia pun melangkah ke apotik yang didekat rumah sakit untuk membeli obat memar. Karena gak mungkin dia memeriksakan ke rumah sakit.


Dia pun membeli obatnya. Setelah selesai tiba-tiba dia melihat sosok dikenalnya menuju rumah sakit.


"Itu kan papanya Shina!" gumamnya.


Dia menatap pria itu hingga dia hilang dari pandangannya.


"Siapa yang sakit? apa Shina, ahh kenapa gue jadi kepikiran dia dan juga tumben banget Shina gak nelpon, padahal gue gak masuk sekolah!"


"Ah.. mungkin dia sedang sibuk belajar!"


Dia pun melangkah pergi dari tempat itu. Dia menaiki angkot yang justru tujuannya ke rumah Sandi.


Rizal berjalan dikoridor rumah sakit, dia berjalan tergesa dan cemas. Dia mengkhawatirkan kondisi putrinya. Seperti biasa semalam adalah kejadian malam terkutuk untuk putrinya. Sudah tujuh belas tahun lebih, dia belum menemukan penyebab kondisi putrinya seperti itu. Apa yang terjadi dengan putrinya, dokter tidak pernah menemukan penyakit apa pun. Datang ke orang pintar pun tak ada yang tau penyebabnya. Awalnya Rizal mengira itu adalah santet atau guna-guna, tapi tak ditemukan hal semacam itu. Dia bingung bagaimana menghentikan penderitaan putrinya.


Dia sudah ada diruang perawatan putrinya. Dia menatap sendu putrinya yang sedang terlelap, meski dia tidak merasakan sakit putrinya, tapi dia merasa sakit melihat kondisi putrinya.


"Papa gak tega liat kamu kaya gini terus nak!" lirihnya.


Sedangkan Argan dia sudah sampai dirumah Sandi. Dia ragu untuk melangkah karena masih malu dengan Penty.


"iissh.. kenapa sih harus ada kejadian itu!" gumamnya kesal.


"Gan!" Argan menoleh saat ada yang memanggilnya. Argan hanya menyengir melihat om nya.


"Muka kamu kenapa? kamu berantem?" tanya Sandi sambil memegang pipi Argan.


"Sakit om!" ucap Argan meringis. Sandi terkekeh.


"Maaf! ya udah ayo masuk kita obatin!" Argan pun mengangguk dan masuk.


"Aku udah beli obat om!" ujar Argan sambil menunjukan kantong kecil yang dia pegang. Saat Sandi akan mengambil obat.


"Mau om bantu obatin?" Argan menggeleng.


"Aku bisa sendiri om!" Argan pun mengobati lukanya sendiri sambil liat dicermin.


Lalu tiba-tiba muncul sesuatu di cermin membuat Argan terkejut dan menjatuhkan cerminnya hingga pecah.


"Astagfirullah... setan kutil!" umpatnya kesal.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2