
Hari demi hari bulan demi bulan berganti tahun Argan sudah masuk SMA.
Ditemukan mayat seorang perempuan di dekat hutan pinus. Diduga ini adalah pembunuhan. Mayat ini tidak mengalami kekerasan atau pelecehan seksual namun ditemukan luka sayat dipergelangan tangan, hingga dia kehilangan banyak darah, namun pihak yang berwajib tidak menemukan setetes darah pun disekitar mayat itu.
Setahun terakhir ini memang sering dihebohkan berita tentang penemuan mayat entah itu laki-laki atau perempuan. Pihak berwajib belum menemukan pelakunya dan apa motif si pelaku. Hasil dari pemeriksaan Visum korban pembunuhan itu tidak mengalami kekerasan atau pelecehan seksual, hanya saja mayat ditemukan sudah kehabisan darah, hanya ada luka sayat dipergelangan tangan atau dileher. Yang diduga awalnya hanya bunuh diri. Tapi kejadian ini sering terulang setiap bulannya. Dan aparat hukum memastikan ini adalah pembunuhan dan sedang mencari siapa pelakunya.
Seperti biasa pagi hari sudah dikabarkan berita yang tidak mengenakan. Hari ini ditemukan kembali mayat bahkan semakin dekat dengan daerah tempat tinggal Ares. Ares dan Inas semakin cemas dan khawatir takut kenapa-napa dengan kedua anaknya.
"Yah bunda khawatir sama anak kita, bunda takut!"
"Tenang ya sayang ayah akan selalu jagain kalian!" balas Ares.
"Iya yah, bunda percaya sama kamu!"
"Dedek sama kakak, kemana?"
"Dedek lagi ngerjain tugas yah, sama kakak juga!"
Karena ini hari minggu semua berkumpul dirumah. Ares tidak mengijinkan anak-anaknya keluar rumah tanpa pengawasan Ares. Karena masih khawatir dengan kejadian akhir-akhir ini. Untung saja Argan dan Inka penurut, mereka pun tidak mengeluh karena mereka tau kedua orang tuannya mngkhawatirkan mereka.
"Gak terasa ya yah, anak kita sudah pada besar, padahal rasanya baru kemarin bunda mengandung Argan dan Inka!" ucap Inas sambil merebahkan kepalanya didada Ares.
"Iya bun, gak terasa juga umur kita semakin bertambah, rasanya baru kemarin ayah nyatain cinta ke bunda!" Inas tertawa mendengar ucapan suaminya apa lagi saat mengingat perjalanan cintanya bersama suaminya. Meski tidak mudah tapi akhirnya mereka menemukan kebahagiaannya.
"Kenapa ketawa?"
"Lucu aja yah, waktu pertama ayah nyium bunda, bunda kaget banget sampai bunda gak mau ketemu ayah saking malunya! padahal bunda masih sekolah tapi ayah udah ngajarin bunda ciuman!" ucap Inas bernostalgia. Ares nampak merenung mengingat kejadian itu.
"Waktu itu ayah lagi sakit ya bun? sebenarnya ayah juga kaget, tapi ayah gak bisa nahan diri liat bibir bunda yang sexy dan gemesin itu!" Ares tertawa mengatakan itu sambil mengusap bibir istrinya.
"Ihhh dasar mesum!"
"Aaww.. sakit sayang!" Ares meringis saat Inas mencubit perut Ares.
"Tapi ayah bahagia ayah bisa dapetin cinta bunda dan juga bunda. Bunda tau kan waktu ayah terpaksa mengkhianati bunda, rasanya kehidupan ayah hilang separuh, sakit banget rasanya, apa lagi denger saat bunda mau nikah sama Sakti, sakit dan hancur banget bun!" ucap Ares sambil memandang wajah istrinya yang sedang berada dipangkuannya.
cup
Inas mendaratkan bibirnya pada Ares. "Itu masa lalu yah, sekarang bunda milik ayah, hanya milik ayah dan ayah milik bunda!" Ares tersenyum mendengar perkataan istri tercintanya.
"Terima kasih bunda udah setia sama ayah, terima kasih bunda selalu nemenin ayah, terim-" belum Ares melanjutkan ucapannya Inas sudah menghentikannya dengan ciuman lembut dibibir Ares. Tak buang kesempatan Ares membalas ciuman istrinya, dia menahan tengkuk Inas, dia ******* bibir istrinya mereka menikmati morning kiss menjelang siang mereka, ******* itu semakin lama semakin bergairah dan ujung-ujungnya pasti akan beradegan lebih dari itu.
Setelah cukup lama, mereka melepaskan bibir mereka untuk mengambil nafas. Inas menatap suaminya begitu juga Ares. Inas mengusap pipi Ares. Ares mencium bibir istrinya lagi, bahkan kali ini semakin panas.
"Bunda udah mancing ayah, bunda harus tanggung jawab!" Ucap Ares saat melepaskan pagutan bibir mereka.
__ADS_1
"Gak ahh, bunda mau bikin kue!" sahut Inas beranjak tapi Ares menahannya.
"No! bunda harus bertanggung jawab atas perbuatan bunda!" Ares segera menggendong istrinya ke kamar, Ares mengacuhkan istrinya yang terus meronta untuk dilepaskan.
Sedangkan ditempat lain mereka hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua orang tuanya sampai tidak menyadari kehadiran kedua anaknya dan satu hantu rese.
Untung saja Argan menutup mata Inka agar tidak melihat adegan orang dewasa dan Tamara menutup mata Argan. Meski Argan menepisnya Tamara menutupnya lagi dan Tamara menutup matanya sendiri dengan tangan satunya, tapi dia mengintip disela-sela jarinya.
"Gak tau tempat, gak sadar disini ada anak-anak!" gerutu Argan. Mereka pun kembali ke kamar masing-masing.
"Gan!"
"Hm"
"Gimana kalo-"
"Gak usah macem-macem!" potong Argan.
"Emang aku macem-macem apa?" Tamara mengernyit bingung.
"Mm.. ya elo kan biasanya minta macem-macem!" jawab Argan gugup.
"Ciyeee.. muka Argan merah, jangan-jangan kamu mikir aku minta cium ya, kaya ayah sama bunda, sini aku mau kok di cium sama kamu!" ucap Tamara sambil menyodorkan dan memonyongkan bibirnya ke Argan.
"Dasar hantu mesum!" pekik Argan.
"Dihh, kan kamu yang mikir mesum!"
"Siapa? kagak!" Argan mengalihkan pandangannya dari Tamara.
"Ciyee.. ciyee Argan malu ketahuan mikir mesum!" ledek Tamara.
Argan mendengus sebal sambil melemparkan bantal ke Tamara, lalu dia beranjak keluar.
"Dihh bilang aja pengen aku cium!" Tamara terkekeh melihat wajah Argan memerah.
Sedangkan Ares dan Inas baru selesai dengan ritual panasnya.
"Ayah nyebelin, bunda kan mau bikin kue!" gerutu Inas sambil mengerucutkan bibirnya.
"Tapi bunda suka kan?" ledek Ares sambil menaik turunkan alisnya.
"Dasar suami mesum!"
"Mesumnya juga cuma sama istri tercinta." ucapnya sambil mengecup bibir istrinya.
__ADS_1
"Udah ahh, gara-gara ayah bunda harus mandi lagi!" Inas beranjak sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Ares hanya terkekeh melihat tingkah laku istrinya.
Dia masih tidak menyangka dia bisa memperistri wanita yang sangat di cintainya. Padahal dulu dia udah pesimis untuk mendapatkan Inas. Karena dia pikir dia akan menjadi wadah untuk Lakhuds.
Setiap mengingat Lakhuds Ares akan mengingat kutukan itu. Tapi untuk saat ini tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena anaknya selalu baik-baik saja. Dia pikir anaknya akan kenapa-kenapa, tapi sampai saat ini Argan baik-baik saja.
Setelah selesai mandi, Inas bergegas ke dapur untuk melanjutkan membuat kue, ketika pagi dia sedang membuat kue, Ares memanggilnya untuk dibuatkan teh. Tapi dia malah ikut fokus liat berita di tv, sampai bernostalgia masa lalunya dan malah berakhir di ranjang sama suaminya. Sampai buat kuenya tertunda.
Tak lama Ares menyusul Inas kedapur yang sedang membuat kue.
"Mau ayah bantuin sayang!" godanya sambil memeluk Inas dari belakang dan mencium pipi istrinya.
"Ayah jangan gangguin bunda nanti kuenya bantat!" Inas sebal dengan kelakuan suaminya. Ares tak mempedulikan ocehan istrinya dia malah mengeratkan pelukannya.
"Ayah!!"
"Hm"
"Jangan gangguin bunda!"
"Ayah gak gangguin, ayah sedang bantuin bunda!" Inas menggelengkan kepalanya melihat kelakuan suaminya.
"Awas aja ya, bunda gak bakal kasih jatah selama seminggu!" Ares langsung melepaskan pelukannya.
"Jangan gitu dong sayang!"
"Makanya jangan gangguin bunda yah!"
"Iya iya cerewet banget sih istriku yang cantik!" Ares mencium pipi Inas lalu duduk dimeja makan.
Argan yang melihat kelakuan kedua orang tuanya hanya menggelengkan kepala, tapi dia bahagia karena kedua orang tuanya, selalu harmonis meski sering bertengkar karena masalah sepele. Tapi Argan belum pernah melihat kedua orang tuanya bertengkar hebat, kecuali saat dulu dirumah lamanya di Tangerang, itu pun karena ada yang mengganggu mereka.
Terkadang dia takut orang tuanya seperti kedua orang tua Marvel yang harus berpisah karena sering bertengkar hebat. Argan dan Marvel berteman setelah pertemuan mereka di halte, mereka jadi dekat dan sekarang mereka satu sekolah dan satu kelas di SMA.
Begitu juga dengan Shina, gadis misterius yang selalu membuat Argan penasaran dengan sosok Shina yang selalu membuat tubuh Argan kepanasan. Dia juga satu sekolah dengan Argan dan satu kelas pula. Gak usah ditanya lagi mereka tidak pernah akur. Selalu ada aja yang diributin kalo ketemu, apa lagi kalo udah dapat tugas bareng, mereka seperti musuh bebuyutan.
"Semoga keluargaku selalu bahagia dan harmonis!" ucap Argan dalam hati. Dia tersenyum melihat ayahnya masih saja mengganggu bundanya meski sudah di marahi.
"Aku sayang kalian, kalian baik-baik ya ayah bunda!" gumamnya tersenyum.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1