Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Bertemu Sakti


__ADS_3

Seminggu berlalu sikap Ares masih saja seperti itu belum berubah, meski sudah tidak lagi melakukan kekerasan tapi sikapnya masih kasar.


Inas terus bersabar menghadapi suaminya, selama dia tidak menyakiti anak-anaknya. Inas tidak akan marah dengan perlakuan suaminya. Meski perlakuan itu membuatnya sangat terluka tapi dia akan lebih terluka jika Ares menyakiti anak-anaknya.


"Yah makan dulu!"


"Hm."


"Bunda tunggu dimeja makan ya!"


Sekarang Inas hanya harus menurut apa yang dikatakan suaminya agar dia tidak marah.


Argan menatap bundanya yang sedang terduduk dimeja makan, meskipun bundanya tidak memperlihatkan kesedihannya, tapi Argan tau kalo bundanya sedang sedih dan terluka. Argan menghampiri bundanya dan memeluknya.


"Ada apa sayang?"


"Gak apa-apa bun, bunda makan aja dulu, gak usah nunggu ayah!"


"Kasian kalo ayah makan sendiri nak!"


Argan sebenarnya kesel karena bundanya selalu membela ayahnya, padahal sudah jelas ayahnya kasar.


"Udah kakak istirahat sana, udah malam sayang!"


"Gak, aku mau nemenin bunda sampe ayah kesini."


Tak lama Ares pun datang dan bersiap untuk makan. Argan melihat ayahnya, entah kenapa Argan baru menyadari sesuatu, ada yang aneh dengan ayahnya. Mata Ares beda dari biasanya, itu seperti bukan mata Ares.


"Kenapa kamu liat ayah kaya gitu?" tanya Ares ketus.


"Udah yah jangan marah, ayah makan aja!"


"Kakak istirahat gih."


"Iya bun!" Argan beranjak tapi matanya masih terus melirik ke ayahnya.


"Ayah mau nambah apa lagi?"


"Ikan!" jawab Ares ketus.


Inas pun mengambilkan ikan untuk Ares. Inas menatap lirih suaminya, dia seperti sedang tidak bersama suaminya. Inas kehilangan sosok suami yang penyayang, lembut dan penuh cinta. Dia sangat merindukan suaminya yang dulu.


Setelah selesai makan, Ares langsung kembali ke kamar. Inas membereskan bekas makan suaminya. Sekarang dia harus mengerjakannya sendiri karena ARTnya di pulangkan oleh Ares.


Selain lelah fisik Inas pun lelah batin, tapi Inas masih tetap bersabar, mungkin ini adalah ujian rumah tangganya. Inas yakin suatu saat suaminya akan kembali.


Sedangkan Argan yang sedang terbaring dikamar dia masih memikirkan ayahnya. Tatapan ayahnya sangat berbeda.


"Kenapa ya dengan ayah? kok aneh!" gumam Argan.


...***...


Malam berlalu berganti pagi, Inas sudah berkutat dengan pekerjaan rumahnya sejak pagi tadi. Sekarang dia sedang menata makanan untuk sarapan keluarganya.


"Pagi bun!"


"Pagi cantik!"


Inka langsung duduk dimeja makan, bersiap untuk sarapan tapi tiba-tiba wajahnya cemberut.


"Lho kenapa cemberut sayang?"


"Bun kenapa sekarang ayah gak pernah nganterin dedek sekolah?"


Inas tersentak mendengar pertanyaan putrinya. Inka memang tidak tau pertengkaran mereka dan jangan sampai Inka tau.


"Ayah sekarang sibuk sama pekerjaan sayang, jadi gak bisa anterin dedek sekolah!"


"Gitu ya bun!"

__ADS_1


"Iya cantik, ya udah dedek sarapan duluan ya!"


"Besok bunda sama ayah dateng kan ke acara sekolah dedek?"


"Iya bunda pasti dateng sayang!"


"Yeee.. ayah juga ya bun?" Inas bingung apa suaminya mau ikut kesekolah dengan sikapnya sekarang yang kaya gitu, kalo dulu dia pasti seneng banget bahkan rela ninggalin pekerjaan demi membahagiakan anaknya, tapi sekarang rasanya susah untuk mengajaknya.


"Iya nanti bunda ngomong sama ayah ya!"


Inas menghampiri Argan yang belum keluar kamar. "Kakak udah siap sekolah?"


"Udah bun!"


"Ya udah cepetan kak sarapan dulu, nanti kesiangan jangan lupa anterin dedek dulu ya!"


"Iya bunda!" Argan berlalu ke meja makan menyusul adiknya yang sudah lebih dulu sarapan.


Setelah selesai sarapan Argan dan Inka berpamitan pada Inas. Lagi-lagi mereka tidak berpamitan pada ayahnya karena masih tidur, itu kebiasaan baru ayahnya semenjak dia berubah. Argan sudah terbiasa karena sudah tau sikap ayahnya tapi Inka selalu menanyakan itu, kenapa ayahnya selalu tidur sampai siang?


Dan Alasan Inas masih sama, ayahnya kelelahan karena habis bekerja.


Setelah mengantar adiknya Argan langsung meluncur kesekolahnya, untung saja sekolahan adiknya tidak terlalu jauh dari sekolahannya.


Argan masuk kelas namun tiba-tiba dia melihat kerumunan dikelas sebrang. Argan menghampirinya karena penasaran.


"Do ada apa?" tanya Argan pada teman sekelasnya Dado.


"Itu gan katanya ada siswi yang hilang!"


"Maksudnya?"


"Gue juga gak tau gan!"


Argan tak mendapatkan informasi lengkap membuat dia semakin penasaran, tak lama terlihat seorang ibu dan bapak paruh baya sepertinya habis dari ruang kepala sekolah.


Dan terlihat mereka sedang berbicara dengan pak Rendi. Namun saat kedua orang itu berlalu meninggalkan pak Rendi. Argan seperti melihat pak Rendi tersenyum meski senyumannya samar, tapi Argan yakin kalo pak Rendi sedang tersenyum.


"Pagi pak!" sapa Argan dengan suara yang agak tercekat.


"Pagi!" lagi-lagi pak Rendi menatap tajam Argan. Dia memegang bahu Argan lalu mendekatkan wajahnya ke Argan lalu berbisik.


"Jadi anak jangan suka penasaran, kalo tidak mau celaka!" Argan kaget mendengar ucapan pak Rendi. Lalu pak Rendi menepuk pundak Argan dan berlalu meninggalkan Argan yang masih kaget karena ucapannya.


"Apa dia tau aku selalu memperhatikannya dan bahkan aku baru berniat akan menyelidikinya, dia sudah lebih dulu menebar ancaman, tapi aku semakin penasaran sama dia dan semakin ingin mencari tau!" pikir Argan.


"Woyy bro, bengong mulu lo!" Argan kaget dengan kedatangan Guntur yang tiba-tiba terlebih lagi dia berteriak dekat kuping Argan.


Argan mengabaikan Guntur dia masuk ke kelas, dia semakin penasaran dengan guru matematikanya itu.


Ditempat lain Inas sedang membeli keperluan anak-anaknya, dia belanja sendiri biasanya ditemani mbak Susi, tapi sekarang dia harus mengerjakan semuanya sendiri.


Setelah selesai dan membayar semua, Inas bergegas untuk pulang.


"Inas!" panggil seseorang.


"Abang!" Sakti menghampiri Inas yang sedang kesusahan membawa barang belanjaannya.


"Sini abang bantuin!" Sakti mengambil dua kantong kresek dari tangan Inas. Inas cuma menatap heran ke arah Sakti.


"Kenapa liatin abang kaya gitu?"


"Ehh nggak, kok abang disini? abang gak kerja?"


"Tadi abang habis meeting di cafe sebrang terus abang mampir kesini mau beli sesuatu!" Inas hanya mengangguk tanda mengerti.


"Gimana kabar kamu dek?"


"Baik bang!" Sakti menatap lekat Inas dia tidak percaya dengan ucapan Inas.

__ADS_1


"Kenapa?" tanya Inas bingung mendapat tatapan dari Sakti.


"Kamu bohong, kamu lagi sakit ya? muka kamu pucet dan juga kenapa badan kamu jadi kurus gini. Kamu kenapa dek?" Inas terhenyak mendengar ucapan Sakti.


"Ikut abang!" ucap Sakti sambil menarik tangan Inas.


"Kita mau kemana bang?" Sakti tak menjawab pertanyaan Inas, Sakti membawa Inas kedalam mobil.


"Kamu kenapa?" tanya Sakti saat di mobil.


"Aku gak apa-apa bang, emang aku kenapa?"


"jangan bohong, kamu lagi ada masalah? kenapa kamu jadi seperti ini?"


"Beneran bang aku gak apa-apa!" Inas tak ingin memberi tau masalah keluarganya pada orang lain termasuk Sakti yang sudah dia anggap kakak sendiri.


Tak lama Sakti sampai disebuah cafe. "Ayo turun!"


"Kita mau ngapain bang?"


"Abang mau interogasi kamu, jangan pikir kamu bisa bohongin abang!" Sakti keluar lalu dia membuka pintu mobil Inas dan menarik tangan Inas lalu mereka masuk ke cafe.


Setelah mendapat tempat duduk Sakti memesan minum.


"Ayo cerita sama abang!"


"Cerita apa bang? aku gak apa-apa."


"Jangan bohong dek, abang tau pasti ada sesuatu yang kamu sembunyiin!" Sakti yakin sekali terjadi sesuatu dengan Inas dan keluarganya. Kondisi fisik Inas berubah sekali, dia terlihat lebih kurus dan juga wajahnya begitu pucat. Tak lama pesanan minuman mereka datang.


"Apa Ares nyakitin kamu?" tanya Sakti saat pelayan sudah pergi. Inas menggeleng.


"Cerita dek apa yang terjadi? kamu gak bisa bohongin abang!" Inas terdiam dia tak mau menjawab pertanyaan Sakti. Dia tidak mau aib keluarganya diceritakan pada orang lain.


Tapi Sakti terus mendesaknya. "INAS SHADRINA!!" pekik Sakti dengan menekan panggilannya.


"Jawab, apa yang terjadi?"


"Baang biar masalah keluargaku aku selesain sendiri, aku gak mau melibatkan orang lain dalam masalah keluargaku!" jawab Inas.


Sakti menghela nafas dan menatap tajam Inas.


"Kamu anggap abang orang lain?"


"Gak gitu bang, aku cuma-" Sakti memegang tangan Inas dan menghentikan ucapan Inas karena dia kaget.


"Bukankah abang pernah bilang, kalo Ares macem-macem bilang abang, biar abang kasih dia pelajaran!" Inas melepaskan genggaman tangan Sakti.


"Maaf bang, tapi aku tidak mau membawa masalah keluargaku ke dunia luar, masalah keluargaku cukup aku dan keluargaku yang tau!"


Sakti jengah dengan Inas yang terus menyembunyikan masalahnya.


"Abang tanya satu kali lagi! apa Ares nyakitin kamu?" Inas menatap Sakti, dia tau pria yang ada dihadapanya itu sedang khawatir padanya. Tapi dia tidak mau ada orang lain ikut campur masalah keluarganya, selama dia masih bisa mengatasinya dia tidak mau melibatkan orang lain.


Tiba-tiba tangan Sakti memegang pipi Inas. Air mata Inas mengalir sebenarnya dia ingin sekali meluapkan segala beban yang selama ini dia simpan, dia ingin menumpahkan segala masalah yang selama ini menimpanya, tapi dia tidak mau sampai orang lain tau aib keluarganya.


"Abang gak mau liat kamu terluka, abang gak mau kamu menangis, abang mohon katakan apa yang sudah terjadi?" Inas menunduk sebenarnya dia ingin menceritakannya agar beban yang selama ini dia tanggung bisa terlepas. Tapi lagi-lagi dia tidak ingin memberi tau Sakti.


"Inas, abang sayang sama kamu, kamu tau itu! abang gak mau wanita yang abang cintai terluka!" Inas terkesiap mendengar penuturan Sakti, jadi apa yang di katakan Intan benar kalo Sakti masih mencintainya.


"Abang!" ucap Inas lirih.


Sakti menyeka air mata Inas, sebenarnya Inas memang sedang butuh seseorang yang bisa di ajaknya bicara, dia ingin sekali menceritakan semua masalahnya, agar tidak terasa sesak di dadanya.


"Abang masih sangat mencintai kamu, abang gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu!" Inas terdiam dia tidak tau harus berkata apa.


Namun tiba-tiba ada sebuah tangan yang mencengkram tangan Sakti yang sedang menyeka air mata Inas membuat Inas dan Sakti terkesiap.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2