
Argan kembali masuk kedalam rumah itu dan kali ini kejadian itu tidak terulang lagi, dia bernafas lega. Dia berjalan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang mengobrol dengan Fahri dan Widia.
"Ehh kakak udah temuin om Reka? tadi nanyain kakak!" ucap Inas. Argan menggeleng lalu dia pamit untuk bertemu Reka.
"Hey boy! dari mana aja om tungguin kamu!" ucap Reka saat Argan menghampirinya. Argan tersenyum lalu dia memeluk Reka.
"Selamat ya om!" ucap Argan. Reka mengangguk. Lalu dia mengenalkan tunangannya yang bernama Calista itu. Argan menatap mata wanita itu, tidak ada yang aneh malah wanita itu merasa tidak nyaman di tatap tajam oleh Argan.
"Heyy boy apa kamu terpesona dengan tantemu?" tanya Reka saat melihat tatapan Argan. Argan tersadar dan dia merasa malu karena sudah menatap Calista. Argan menyengir.
"Tante Calis cantik!" celetuk Argan. Membuat Calista tersipu dan membuat Reka tergelak.
"Bisa aja kamu boy, om hebat kan bisa dapetin cewek cantik!" ucap Reka tertawa.
Argan hanya tersenyum. Tak lama acara pertunangan Reka dan Calista di mulai, acara pertukaran cincin.
Setelah selesai pertukaran cincin, pesta di lanjutkan dengan pesta dansa. Semua pasangan berdansa, termasuk Inas dan Ares, Sandi dan Shina, Fahri dan Widia bahkan Marvel mengajak Inka berdansa.
Argan hanya terduduk menatap semua orang berdansa, termasuk Penty dia pun hanya terduduk yang lumayan jauh dari Argan.
Argan menatap Penty dan kebetulan pun Penty menatapnya, namun dia langsung mengalihkan pandangannya. Argan pun berniat menghampiri Penty dan mengajaknya berdansa, tapi tiba-tiba ada seorang pria yang menghampiri Penty dan mengajaknya berdansa.
Argan kesal dan tak terima apa lagi Penty mau berdansa dengan pria itu. Argan hanya berdecak kesal lalu dia pergi keluar. Dia duduk di luar dan menghadap ke arah hutan yang lumayan terang karena ada lampu jalan yang berjejer di tepi jalan.
Namun semakin Argan tak fokus, dia merasakan pandangannya kabur dan buram, dia menggelengkan kepalanya, untuk menetralkan pandangannya.
Namun dia tidak bisa menahannya dan akhirnya semuanya gelap. Dia tidak sadarkan diri di bangku luar.
Lalu seseorang menghampirinya dan tersenyum menatap Argan yang sedang pingsan. Lalu dia menyuruh dua pria untuk mengangkatnya dan membawanya ke sebuah ruangan.
Pesta berjalan lancar sampai pesta berakhir tidak ada yang menyadari ketidak hadiran Argan. Sampai akhirnya Penty sadar dan celingak-celinguk mencari Argan.
Di melihat ke sekeliling tapi tak di temui Argan. Lalu dia menghampiri Inas.
"Bunda!"
"Iya sayang!"
"Argan mana? kok aku gak lihat?" Inas pun baru tersadar dan dia celingak-celinguk mencari anaknya yang tidak ada.
"Bunda juga gak lihat sayang, bunda kira sama kamu!" Penty menggeleng.
Lalu dia mencoba mencari begitu juga Penty tapi tak ada yang melihat keberadaan Argan. Semuanya panik lalu Ares dan Inas bertanya pada Reka.
"Re, kamu lihat Argan?"
"Si boy tadi pamit katanya pengen istirahat, jadi aku suruh aja ke kamar nas!" jawab Reka.
Inas dan yang lainnya bernafas lega.
"Sebaiknya kalian juga nginep aja, ini udah malam, perjalanan kalian kan lumayan! di sini juga banyak kamar kosong!" ucap Reka.
"Gimana yah?" tanya Inas.
"Ayah mah terserah! gimana mas Fahri apa mau langsung pulang, atau mau istirahat dulu, benar juga kata Reka ini udah malam!"
"Saya juga terserah mas Ares kalo mau nginep juga gak apa-apa, mau pulang juga hayu!" ucap Fahri.
"Udah kalian nginep aja, nanti bisa pulang besok pagi, kalian pasti capek harus istirahat!" ujar Reka.
Semuanya pun setuju karena memang semuanya kelelahan. Reka pun menyuruh anak buahnya mengantar Ares dan yang lainnya ke kamar. Ares Inas dan Inka satu kamar, Fahri bareng Sandi dan Marvel, Shina sama Widia dan Penty.
Semuanya masuk dan beristirahat ke kamar. Namun Shina merasakan perasaan yang tidak enak sehingga dia tidak bisa tidur dan terus gelisah. Lalu dia menghubungi Sandi dan mengirimi pesan pada Sandi.
📩 "abang!!"
__ADS_1
📩"iya sayang! kenapa belum tidur? ini udah malam lho!" balas Sandi.
📩"aku gak bisa tidur bang!"
📩"kenapa? hm.."
📩"aku gak tau tapi perasaanku gak enak"
Shina dan Sandi saling mengirimi pesan namun lama kelamaan mereka pun tertidur juga karena mengantuk.
Semuanya terlelap dan sedang berlabuh di alam mimpi. Mereka tidak tau jika Argan sedang berada di ruangan lain tapi bukan di kamar, seperti gudang namun tempatnya luas.
Argan sedang di ikat dan tergantung dengan posisi tubuh yang terbalik, tapi dia masih belum sadarkan diri.
Terlihat seorang pria sedang terduduk di sofa sambil menatap Argan yang tergantung sambil memainkan gelas yang berisi minuman berwarna merah. Dia masih menunggu Argan tersadar.
"Lalu bagaimana dengan keluarganya tuan?" tanya salah seorang pria. Pria itu nampak terdiam.
"Seret mereka ke sini dan ikat mereka, saya ingin melihat reaksi mereka saat melihat bocah itu tergantung disana!" ucap Pria itu.
Anak buahnya pun mengangguk, lalu mereka membawa satu persatu keluarga Argan dan mengikatnya di kursi yang menghadap ke arah Argan yang sedang tergantung terbalik. Mereka pun belum sadarkan diri karena ternyata mereka bukan tidur biasa, tapi mereka di buat tidur lelap oleh pria itu.
Tak lama satu persatu mereka pun sadar dan mereka kaget karena tiba-tiba mereka terikat di kursi.
"Kenapa ini? kenapa saya di ikat?" ucap Fahri.
Semua orang bingung, dan melihat ke sekeliling dan mereka sangat kaget melihat Argan yang sedang tergantung.
"Argaann.." teriak Inas.
Semua orang benar-benar panik kenapa tiba-tiba mereka di ikat.
"Argan sayang bangun nak!" teriak Inas.
"Argan!" teriak yang lainnya.
"Sabar ya sayang jangan panik kita pasti bisa keluar dari sini!" ucap Ares.
"Ayah bunda, dedek takut!" Inka menangis dan ketakutan.
"Dedek berdoa ya, semoga kita baik-baik saja!" ucap Ares menenangkan putrinya.
"Reka! apa mungkin dia yang melakukan ini? tapi apa maksud dia?" pikir Ares.
Mereka tidak menyadari bahwa seseorang sedang duduk di belakang mereka dan tersenyum melihat kepanikan itu.
Hahahaha..
Akhirnya tawa pria itu pun pecah karena tak tahan melihat pemandangan di depannya, lalu dia menghampiri Ares dan yang lainnya. Semua menoleh ke arah mereka.
Ares dan Inas terkejut melihat dia dan tidak percaya. Ares dan Inas saling bertatapan. Sedangkan yang lainnya hanya mengernyit karena tidak mengenal pria itu.
"Ghandi!!" ucap Inas. Ghandi tertawa melihat wajah panik dari Inas dan Ares.
"Hai keponakan kita bertemu lagi, ups bukankah sekarang kamu sudah menjadi menantuku!" ucap Ghandi. Semua orang menatap bingung.
"Keponakan, menantu!" gumam mereka tak mengerti.
Ares sudah sangat murka, dia tidak menyangka pria itu datang lagi ke kehidupannya. Lalu Ghandi menghampiri Ares.
"Hai anakku apa kabar? apa kamu tidak rindu pada papa?"
"Kau bukan papaku! saya gak sudi punya bapak sepertimu!" geram Ares. Ghandi malah tertawa mendengar ucapan Ares.
"Dasar anak tidak tau diri!" ucapnya namun sambil tertawa.
__ADS_1
Tak lama Argan pun tersadar, dia terbangun dan membuka mata, namun kepalanya terasa berat dan sakit, pandangannya pun masih buram dan kabur, dia mengerjapkan mata agar pandangannya jelas dan setelah pandangannya jelas dia kaget melihat semua orang duduk terbalik, dia belum sadar dia yang sedang keadaan terbalik.
Dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling melihat keluarganya terikat dan seorang pria yang sedang berdiri menghadap mereka dan beberapa orang yang sedang berdiri terbalik.
"Apa aku mengalami Delusi lagi?" pikir Argan.
Namun tak lama dia menyadari karena merasa kram di kakinya dia melihat kakinya terikat di atas.
"Sial ternyata gue yang kebalik!" gumamnya.
Dia berusaha melepaskan ikatannya tapi tak bisa.
"Kakak!" isak Inka yang melihat Argan sudah sadar. Semua orang pun menoleh ke Argan.
"Argan sayang!" panggil Inas. Argan menoleh.
"Bunda ayah dedek!" lirih Argan.
"Lepasin woyy!!" teriak Argan.
Ghandi malah tertawa lalu dia menghampiri Argan. Dan melihat Argan.
"Lepasin gue!!" teriak Argan.
"Apa orang tuamu tidak mengajarkan sopan santun kepadamu!" ucap Ghandi.
"Siapa lo? gue gak peduli! lepasin gue dan keluarga gue!" pekik Argan.
Yang lainnya menatap Argan dan Ghandi. Mereka tak tinggal diam mereka berusaha melepaskan ikatan mereka. Namun selalu gagal.
Tak lama datang Reka menghampiri mereka. Ares dan Inas menoleh, tatapan Reka seperti berbeda tapi Inas mengenal tatapan itu.
"Lakhuds!" ucap Inas dalam hati. Reka tersenyum lalu menghampiri Inas.
"Kamu masih mengenaliku sayang!" bisiknya di telinga Inas.
Inas menegang jadi ternyata iblis itu sedang berada di tubuh Reka. Inas tak menyangka kenapa dia tidak menyadarinya.
"Aku merindukanmu!" bisik Reka lagi.
"Lepasin saya!" pekik Inas.
Semua orang bingung, kecuali Ares dia pun menyadari keberadaan iblis itu dalam diri Reka. Ares geram melihat Reka mendekati istrinya. Lalu Reka mengelus pipi Inas.
"Jangan sentuh istri saya!" pekik Ares. Reka hanya tersenyum lalu menatap tajam Ares.
"Dia juga istriku, apa kamu lupa aku sudah pernah menikah dengannya!" ucap Reka.
"Kurang ajar!" pekik Ares berusaha melepaskan diri tapi tidak bisa, dia ingin sekali menghajar iblis itu. Lalu Reka menghampiri Ghandi dan Argan.
"Hei pah!" ucap Reka. Ghandi pun mengangguk dan memberi hormat.
"Tuan!"
"Tak usah sungkan, panggil saja aku Reka karena aku anakmu!" ucap Reka.
Argan terkejut mendengar Reka anak pria itu, itu artinya dia adalah Ghandi orang yang di ceritakan orang tuanya, si penyembah iblis itu. Tapi Argan bingung, karena setau dia Ghandi di penjara seumur hidup. Lalu Reka melihat Argan.
"Hey boy!" ucapnya tersenyum menyeringai.
"Dasar iblis!!" teriak Argan. Reka tertawa sangat kencang, mendengar teriakan Argan.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....