
Setelah bel pulang berbunyi, Argan segera menjemput adiknya, mungkin adiknya sudah pulang sekolah tapi pasti sedang menunggu Argan dirumah temennya yang didekat sekolah. Biasanya Inas yang menjemput tapi tadi pagi Inas menyuruh Argan yang menjemput.
Setelah sampai dirumah temen sekolahnya Inka, Argan segera mengajak Inka pulang.
"Kakak lama banget jemputnya!"
"Maaf dek, kakak juga baru pulang!"
Inka hanya cemberut mendengar alasan kakaknya.
Tak lama mereka sampai di gang komplek rumah mereka. Argan dan Inka berjalan menuju rumah. Sejak dari sekolah perasaan Argan sudah tidak enak, dia kepikiran dengan bundanya.
Tak lama mereka sampai dirumah, mereka melihat mobil ayahnya sudah bertengger di garasi.
"Ayah udah pulang kak!"
"Iya dek!"
Mereka masuk rumah dan mengucap salam tapi tak ada jawaban dari penghuni rumah. Rumahnya sepi seperti tidak ada orang. Inka langsung ke kamarnya untuk berganti baju begitu juga Argan. Setelah berganti baju Argan mencari bundanya.
"Bunda!! bunda!!"
Tak ada jawaban dari orang yang di carinya. Akhirnya Argan putuskan cari ke kamar orangtuanya mungkin bundanya sedang tidur, pikir Argan.
Argan membuka pintu kamar, tapi yang dia lihat hanya ayahnya yang tergeletak dilantai, dengan wajah penuh luka.
"Ayah!!"
Argan segera menghampiri Ares, wajahnya penuh luka lebam.
"Ayah kenapa?" Argan panik melihat ayahnya tak sadarkan diri. Inka yang mendengar teriakan kakaknya langsung menghampiri kakaknya. Dia langsung menangis saat melihat ayahnya terluka.
"Ayah kenapa kak?"
"Udah ayo dek bantu kakak bawa ayah ke ranjang!" Argan mengangkat tubuh Ares dengan susah payah karena badan Ares yang tinggi dan juga berat. Setelah membaringkan Ares di kasur Argan segera mengambil kompres untuk mengompres luka Ares. Inka duduk disamping Ares sambil terus menangis dan memeluk ayahnya.
"Ayah bangun!"
Argan panik dan bingung dia sampai bingung mencari mangkok dan juga kain untuk mengompres saking paniknya.
"Duhh mana sih, lagi genting malah susah dicari!" gerutunya.
"Bunda kemana ya, kok gak ada sih!" kekhawatiran Argan semakin bertambah karena bundanya tidak ada.
Setelah semua alat ditemukan Argan segera kembali ke kamar dan mengompres luka Ares.
Ditempat lain Inas sedang bersama Sakti. Sakti membawa Inas kerumah orang tuanya. Setelah Inas di obati Sakti menyuruh Inas istirahat.
"Bang aku pengen pulang, aku khawatir sama kak Ares, terus anak-anak juga pasti nyariin aku!"
"Abang nggak akan biarin kamu pulang, abang gak rela kamu di sakiti Ares!"
"Bang aku mohon, aku ingin lihat keadaan kak Ares dia pasti terluka."
"Kamu masih aja peduli sama dia, meski dia sudah menyakiti kamu!"
"Biar gimana pun dia adalah suamiku, aku harus ada disampingnya untuk merawat dia."
Sakti kesal karena Inas masih saja membela Ares dan mempedulikannya, padahal Ares sudah sangat kasar. Kalo tadi dia gak ada, entahlah apa yang terjadi dengan Inas mungkin habis di sakiti Ares.
Sakti mengelus pipi Inas. "Nas ceraikan Ares!" Inas terbelalak mendengar ucapan Sakti.
"Ma-maksud abang?"
"Abang gak rela liat kamu di sakiti kaya gini, abang gak sanggup, ceraikan Ares dan menikahlah dengan abang. Abang janji akan jaga kamu dan anak-anak kamu! abang akan bahagiain kalian!"
Inas membeku dia tidak percaya apa yang didengarnya, bagaimana bisa Sakti bicara seperti itu.
Melihat Inas terdiam dan tak merespon ucapannya, Sakti mencium bibir Inas, lagi-lagi Inas terbelalak kaget.
"Abang sangat mencintai kamu!" ucap Sakti setelah melepaskan ciumannya.
plakk..
Inas menampar Sakti karena dia kaget dan juga kesal.
"Abang jangan kelewatan, aku udah punya suami dan asal abang tau, aku sangat mencintai kak Ares dan hanya akan mencintai kak Ares!" Air mata Inas mengalir dia merasa bersalah pada suaminya, karena ada laki-laki lain yang menciumnya, meski itu bukan disengaja olehnya.
__ADS_1
"Baiklah sebaiknya kamu pikirkan, jangan bodoh Inas kamu pikirkan anak-anakmu, kalo sama kamu saja Ares sudah berani memukul, dia bisa saja memukul anak-anakmu!" Sakti kesal dia langsung keluar kamar dan membanting pintu. Dia menahan amarahnya, agar tidak pecah dihadapan Inas.
Inas menangis dia tidak menyangka semuanya jadi seperti ini. Dia mencari ponselnya untuk menelpon Argan, namun ponselnya tidak ada. Sepertinya di bawa Sakti.
Inas memikirkan perkataan Sakti, perkataan Sakti ada benarnya. Ares bisa saja kasar pada anak-anaknya, dia juga pernah melihat Ares hampir memukul Argan. Tapi Inas masih sangat mencintai suaminya.
"Kenapa kamu berubah kak? aku gak mau pisah sama kamu tapi aku juga takut kamu menyakiti anak-anak, aku gak rela jika kamu melakukan itu." Inas terisak.
Sakti masih menahan amarahnya. "Bang sebenarnya ada apa sih?" tanya Sandi.
Sakti terdiam dia sedang malas untuk berbicara.
"Ada apa? kenapa abang bawa kak Inas kesini, gimana kalo kak Ares-"
"Diam kamu! kamu gak tau apa-apa!" bentak Sakti. Sandi hanya menggelengkan kepalanya, dia merasa Sakti berubah semenjak berpisah dengan Intan.
"Ya udah deh bang, aku mau jemput penty!"
"hemm."
Sandi berlalu meninggalkan Sakti. Sakti masih terdiam dia tenggelam dalam pikirannya, tiba-tiba dia mendengar tangis Inas. Sakti menatap lirih ke arah pintu.
"Maafin abang Inas, abang gak rela kamu bersama Ares apa lagi dia sudah nyakitin kamu, apa pun akan abang lakukan asal kamu bahagia, termasuk memisahkan kamu dengan Ares!" batin Sakti.
Ares sudah sadar dari pingsannya, Argan dan Inka merasa lega.
"Ayah gak apa-apa?"
Ares hanya meringis sambil memegang wajahnya yang terasa nyeri.
"Sial dia pasti bawa Inas!" batin Ares.
"Yah bunda di mana?"
"Sakti."
"Maksud ayah?"
"Cari bunda dirumah Sakti!" Argan mengangguk.
"Iya kak." Argan segera beranjak untuk berangkat kerumah Sakti, dia memesan ojek online.
Tak lama ojol datang, Argan segera meluncur ke rumah Sakti, beberapa menit mereka sampai. Tapi rumah Sakti terlihat kosong dan tak berpenghuni, seperti sudah lama tak ditinggali.
Argan mengetuk pintu berharap ada orang, namun sudah beberapa kali, tak ada jawaban.
"Papa kemana ya? apa dia tinggal dirumah nenek?"
Argan menelpon Penty untuk mencari tau keberadaan mereka, tapi nomernya tidak aktif.
"Apa aku harus kerumah nenek!" Argan bergegas pergi menuju rumah bu Rini.
Dia mau memesan ojol lagi, tapi tiba-tiba Inka menelponnya.
📞"Ada apa dek?"
📞"Kakak cepet pulang, dedek takut!"
📞" Ya udah tunggu, kakak pulang."
Argan segera menutup panggilannya, dia langsung mencari angkot, takutnya lama kalo nunggu ojol. Tak lama angkot lewat, Argan segera naik. Angkot melaju dengan kecepatan lumayan tinggi.
"Argan!" panggil seseorang.
Argan melihat siapa yang memanggilnya.
"Om Ayub!"
"Kamu ngapain disini?"
Argan terdiam dia bingung harus jawab apa. "Om bisa tolong aku gak?"
"Ada apa?"
Setelah Argan menceritakan masalahnya, Ayub mau membantu Argan. Tak lama mereka sampai ke rumah Argan. Ayub sempat menelaah sekitar rumah Argan.
"Masih ada." gumamnya.
__ADS_1
"Ayo om!" Ayub segera masuk, terdengar Inka sedang menangis dan terdengar teriakan Ares. Ayub dan Argan segera menghampiri mereka.
"Kakak dedek takut tadi ayah marah-marah!!" Inka langsung memeluk Argan dia begitu ketakutan melihat ayahnya, apa lagi tadi Ares sempat membentaknya, membuat Inka ketakutan.
"Kalian tunggu di luar aja, biar om yang urus ayah kalian!" Argan dan Inka menurut mereka menunggu di luar. Argan terus menelpon bundanya, tapi kali ini nomernya malah tidak aktif.
"Bunda kemana sih?" Argan benar-benar khawatir, keadaan keluarganya makin kacau.
Ayub menatap Ares, dia melihat sesuatu dalam kepala Ares dan juga di dadanya ada gumpalan asap hitam.
"Siapa yang mau menghancurkan keluarga kamu?" Ayub tau ada yang mengirim jin ke Ares agar rumah tangga Ares hancur.
Ayub membaca doa untuk mengeluarkan asap hitam yang ada di kepala dan dada Ares dan itu membuat Ares menjerit kesakitan.
"Kak ayah kenapa?" Inka terus menangis dalam pelukan Argan.
"Dedek berdoa ya biar ayah baik-baik aja!"
"Iya kak." Argan pun sebenarnya sangat khawatir, tapi dia harus berusaha tenang agar Inka tidak ikut khawatir.
Teriakan kesakitan Ares kembali terdengar, Inka langsung histeris mendengar ayahnya menjerit. Beberapa kali Argan dan Inka mendengar ayahnya merintih kesakitan. Padahal Ayub tidak sedang menyiksanya, dia hanya membaca doa agar jin itu keluar dari tubuh Ares.
Tak lama suasana nampak hening tak terdengar lagi suara Ares berteriak, hanya terdengar suara Inka yang masih terisak. Lalu Ayub keluar dari kamar.
"Gimana om?"
"Alhamdulillah ayah kalian gak apa-apa, dia baik-baik aja!" Argan menghela nafas lega. Dia dan Inka segera menghampiri Ares.
"Ayah!" Argan langsung duduk disamping Ares.
"Ayah gak apa-apa?" Ares terlihat sangat lemah, dia hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Inka bersembunyi di belakang Ayub dia masih ketakutan melihat ayahnya.
"Dedek gak usah takut, ayah gak akan marah kok!" ucap Ayub.
"Dedek takut om!"
Ayub tersenyum. "Coba sekarang dedek samperin ayah!" Inka menggeleng dia masih ketakutan.
"Sa-yang!" panggil Ares lemah.
"Sini dek, ayah gak akan marah!" ucap Argan. Inka menatap ayahnya yang terlihat sangat lemah, Ares tersenyum ke arah Inka. Perlahan Inka mendekati Ares, dia masih agak takut ayahnya akan membentaknya lagi.
Setelah mendekat, Ares memegang tangan Inka dan tersenyum. Inka yang sudah merasa yakin ayahnya tidak akan marah langsung menghambur ke pelukan Ares.
"Ayaahhh!!"
Ares mengelus kepala Inka. Sebenarnya dia masih bingung apa yang sudah terjadi tapi dia belum kuat untuk berbicara banyak.
"Mas Ares sebaiknya istirahat ya, biar tubuh mas Ares kembali pulih!" Ares hanya mengangguk pelan.
"Saya harus segera pergi, masih ada urusan gak apa-apa ya om tinggal Argan!"
"Iya om, makasih ya!" Ayub mengangguk.
Lalu Argan mengantar Ayub sampai depan.
"Gan, tolong jangan biarkan orang lain masuk kerumah kamu!"
"Kenapa om?"
"Ikuti saja, demi kebaikan keluarga kalian!" Argan mengangguk meski sebenarnya dia masih belum paham.
"Ya udah om pergi ya, Assalamualaikum"
"Waalaikumsalaam, hati-hati om!"
Setelah Ayub pergi Argan kembali ke kamar, Inka masih di pelukan Ares.
"Bun-da" ucap Ares masih kesulitan untuk berbicara.
Argan bingung harus berkata apa? Dia sendiri belum tau pasti keberadaan bundanya di mana, apa benar bundanya rumah nenek.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1