
Sakti sedang bersiap-siap, dia menyuruh Sandi dan Penty juga bersiap-siap.
"Kita mau kemana sih bang?"
"Udah jangan berisik, ikutin aja!" Sandi hanya menghela nafas, entah apa yang akan dilakukan abangnya itu.
"Pah, kita mau kemana? kok kita beres-beres?"
"Udah sayang jangan banyak tanya dulu, nanti juga kalian tau!" Penty terdiam dan menuruti apa yang disuruh papanya.
"Aku harus bawa Inas pergi, aku gak akan biarin Ares mengambil Inas lagi, aku menyesal dulu aku menyerahkan Inas sama dia." batin Sakti.
Setelah semua sudah selesai bersiap. Sakti menghampiri Inas yang masih terlelap, karena kelelahan sebab Inas menangis terus.
Sakti mengusap kepala Inas. "Abang janji akan bahagiain kamu, abang gak akan biarin siapa pun nyakitin kamu sayang!" Sakti mencium kening Inas.
Mumpung Inas tidur Sakti menggendong Inas ke mobil, karena kalo Inas bangun dia pasti akan menolak ikut dengannya.
"Kamu tenang aja, setelah urusan kamu dan Ares selesai, abang akan jemput Argan dan Inka, karena abang tau mereka adalah sumber kebahagiaan kamu!" ucap Sakti saat menaruh Inas dimobil, Sakti memasangkan Seatbelt Inas.
Lalu Sakti memanggil Sandi dan Penty untuk segera masuk mobil. Mobil melaju meninggalkan rumah bu Rini.
Tak lama mobil Sakti melaju, Ares dan kedua anaknya datang, meski tubuh Ares masih lemas tapi Ares memaksa untuk mencari Inas.
"Ayah hati-hati!"
"Iya nak."
Ares berjalan dengan di papah oleh Argan sedangkan Inka memegang tangan Ares yang satunya. Tak lama mereka sampai ke rumah bu Rini.
"Ayah duduk sini ya, biar aku yang ketuk pintu!" Argan mendudukan Ares dikursi luar.
Argan mengetuk pintu dan mengucap Salam tapi tak ada jawaban dari dalam. Beberapa kali Argan melakukannya tapi masih tak ada jawaban.
Ares merasa sedih dan juga bersalah, setelah dia mendengar penjelasan dari Argan. Ares merasa bersalah dan sangat menyesal.
"Sayang, maafin saya udah nyakitin kamu, saya mohon kembalilah, demi anak-anak kita!" batin Ares menangis.
"Yah kayaknya gak ada orang!" Ares kecewa dia ingin sekali bertemu istrinya dia ingin bersimpuh dan meminta maaf, meski dia melakukannya dengan tidak sadar, dia tau dia sudah sangat menyakiti istrinya.
Inka menangis dia terus memanggil bundanya. Ares memeluk Inka dan menenangkannya. Akhirnya mereka memutuskan kembali pulang dan melanjutkan pencarian besok, karena hari sudah malam.
Di tempat lain Inas terbangun dari tidurnya, dia bingung tiba-tiba ada di dalam mobil. Dia melihat kesamping, ada Sakti sedang menyetir dan melihat kebelakang ada Penty dan juga Sandi yang sedang terlelap.
"Kamu udah bangun?"
"Kita mau kemana bang?" Sakti tersenyum dan mengelus kepala Inas.
"Kamu tidur aja lagi, perjalanan kita masih jauh!"
__ADS_1
"Maksud abang?" Inas melihat kesekeliling dia melihat hutan di kanan kiri.
"Abang jawab, kita mau kemana?" Inas mulai panik.
Tapi Sakti terdiam, dia enggan menjawab pertanyaan Inas.
"Abang aku pengen pulang, aku pengen ketemu Argan dan Inka!" Inas merengek tapi Sakti tidak mempedulikannya.
"Kenapa abang lakuin ini? aku pengen pulang bang, aku pengen ketemu kak Ares dan anak-anak!" Inas terisak, Penty dan Sandi yang mendengar isak Inas terbangun.
"Bunda kenapa nangis?" Inas masih terisak dia benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Sakti.
"Bang sebenarnya kita mau kemana sih?" tanya Sandi.
Lagi-lagi Sakti hanya terdiam, dia tak menjawab pertanyaan mereka. Dia fokus saja menyetir, pandangannya tetap fokus kedepan.
Sakti tak menggubris Inas yang terus merengek karena minta pulang.
...***...
Semenjak ada masalah dengan keluarganya Argan tidak bisa fokus belajar, terlebih sekarang dia belum menemukan bundanya, sudah tiga hari mereka belum menemukan keberadaan bundanya membuat Argan semakin tidak tenang.
"Kemana papa Sakti bawa bunda?" Argan terus bertanya pada diri sendiri.
Guntur yang tau akan kondisi Argan dia hanya memberi semangat pada Argan, dan menyuruhnya untuk bersabar.
Argan lebih banyak melamun dia terus mengabaikan penjelasan pak Rendi. Melihat Argan banyak melamun membuat pak Rendi mengernyitkan dahi.
"Kenapa dengan bocah itu? apa dia sudah menyerah? bagus deh jangan suka ikut campur urusan orang dewasa bocah, atau kau akan dapat akibatnya!" batin pak Rendi dan menyunggingkan senyum.
Tak lama bel istirahat berbunyi, semua murid bergegas keluar kelas untuk melepas penat karena lelah belajar, seperti biasa sebagian mereka ke kantin, ada yang ke taman ada juga yang ke perpustakaan.
Argan masih termenung di kelas sesekali dia menghubungi nomer bundanya berharap nomernya aktif dan di angkat, namun semuanya nihil nomernya masih tidak aktif.
Setelah beberapa saat, Argan ingin buang air dia bergegas ke toilet, namun sebelum kakinya melangkah kedalam toilet, dia melihat sosok siswi sedang berdiri menghadap belakang sekolah, Argan yang penasaran menghampirinya, saat hendak dia mau menepuk pundak siswi itu, tiba-tiba seseorang memanggilnya.
"Gan!" Argan menoleh ternyata Guntur.
"Elo ngapain disitu?"
"Gue-" ucapan Argan tertahan karena saat Argan menoleh kembali siswi itu sudah tidak ada, membuat Argan bingung.
"Hantu apa manusia?" tanya Argan dalam hati.
Akhirnya Argan melanjutkan niatnya untuk ke kamar mandi, Guntur lebih dulu kembali ke kelas karena dia baru selesai dari ke kamar mandi. Saat Argan sedang asyik buang air kecil tiba-tiba terdengar suara isak tangis. Argan menoleh kesekeliling, bulu kuduknya merinding, hawa dingin juga menyentuh tubuhnya, meski ini hal biasa bagi Argan. Tapi tetep aja rasanya tidak enak setiap merasakan ini.
Suara tangis semakin lirih, semakin menyayat hati, Argan yang memang acuh dengan makhlus halus dia santai aja dan melanjutkan aktivitasnya. Setelah selesai dia kembali untuk ke kelas, namun saat dia menengok kembali ke tempat tadi siswi itu ada lagi.
Argan yang masih penasaran menghampirinya, terlihat bahunya naik turun seperti sedang menangis, belum sempat Argan menyapa dia di kagetkan oleh bel masuk, Argan tersentak kaget dan langsung menoleh kebelakang, namun saat berbalik siswi itu hilang lagi.
__ADS_1
"Fix, dia setan bukan orang!" gumam Argan.
Argan pun kembali ke kelas, saat Argan berlalu Siswi yang tadi kembali muncul dengan tubuh menghadap Argan yang sedang berlalu ke kelas. Terlihat bola matanya tidak ada dengan darah yang mengalir dari matanya seperti air mata, kulitnya mengkerut dan keriput.
"toloongg~~" lirihnya. Lalu dia menghilang lagi.
...***...
Ares termenung dengan tatapan kosong, dia frustasi karena tidak bisa menemukan istrinya. Dia sudah menyuruh beberapa orang untuk mencari istrinya, tapi belum ada yang menemukannya.
Terlebih dia mengingat perlakuan kasar kepada istrinya, meski itu di luar kesadarannya. Dia sangat menyesal dan merasa sangat bersalah. Dia juga sudah mendengar penuturan Ayub yang ternyata sikap kasarnya itu disebabkan jin kiriman seseorang yang ingin membuat keluarganya hancur. Tapi dia pun belum menemukan siapa pengirimnya.
"Sayang kamu dimana?" gumamnya dalam hati.
Argan dan Inka baru pulang sekolah mereka melihat ayahnya yang sedang melamun, terlebih sudah tiga hari Ares hanya terdiam mematung dan tidak mau makan. Bahkan dia tidak menyadari kedua anaknya sudah pulang.
"Ayah!" Inka sedih melihat ayahnya dia ingin menghampiri ayahnya, tapi Argan menahannya.
"Jangan ganggu ayah dek, dedek ke kamar aja ganti baju, terus nanti kita makan!" Inka mengangguk menuruti perintah kakaknya.
Argan pun bergegas ke kamar dia terduduk di tepi ranjang.
"Bunda kami merindukan bunda! bunda cepat pulang!" gumam Argan tak terasa air matanya menetes. Di kamar Inka pun sama dia menangis dan terus memanggil bundanya.
"Bunda dedek kangen, bunda cepet pulang!" isak Inka sambil badannya tengkurep dan membenamkan wajahnya di bantal.
Siang berlalu dan malam menyapa para jiwa yang lelah akan rutinitas hari-hari yang mereka jalani. Namun terlihat tiga orang yang sedang larut dalam kesedihannya di dalam rumah, mereka hanya saling terdiam. Meski yang dipikiran mereka satu orang yang sama.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu, membuyarkan lamunan mereka. Mereka saling melempar pandangan, yang dipikiran mereka sama.
"Bunda!" ucap mereka serempak.
Mereka bergegas ke depan membuka pintu, berharap dia adalah orang yang sedang mereka tunggu. Tapi tak ada siapa pun, hanya angin malam yang berhembus menerpa tubuh mereka. Raut kekecewaan terpampang di wajah mereka. Mungkin suara ketukan itu berasal dari angin yang berhembus, itulah pikir mereka.
Isak tangis terdengar dari Inka, dia berlari ke kamarnya. Dia sudah sangat merindukan bundanya, Argan yang berniat mengejar ditahan oleh Ares.
"Biarin dedek kak!" Argan mengangguk. Dia berlalu ke kamarnya dia pun merasa sangat sedih dan sangat merindukan bundanya.
"Kenapa semuanya jadi seperti ini?"
Ares masih mematung didepan pintu, setiap malam dia terus menunggu istrinya berharap dia pulang dan kembali bersama keluarga kecilnya. Jika siang dia terus mencari Inas, kadang sampai dia lupa untuk memikirkan diri sendiri.
"Saya akan selalu menunggumu sayang!"
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1