
Argan masih kesal karena gara-gara Reno dia harus dihukum dan juga dipermalukan didepan teman-temannya. Argan sudah pulang sekolah dia berjalan disekitaran komplek rumahnya, karena angkot yang dia tumpangi tidak sampai di depan rumah karena cuma sampai didepan gerbang komplek.
Tiba-tiba Argan melihat seseorang yang sedang berdiri didepan rumahnya, seorang pria, kedua tangannya di masukan ke saku celana. Pria itu terus menatap ke arah rumahnya.
Argan menghampiri pria itu. "Papa Sakti!" Seru Argan membuat Sakti terkejut dengan kehadiran Argan yang tiba-tiba.
"Argan, bikin papa kaget aja!" ucap Sakti sambil mengelus dadanya.
"Maaf pah!" sahut Argan sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu menyalami Sakti.
"Papa lagi ngapain disini? bukannya masuk!"
"Papa lagi nunggu Penty pengen ketemu!"
"Ya udah masuk yuk, tunggu di dalam aja, kayaknya Penty belum dateng!" Sakti mengangguk dia mengikuti Argan dan masuk ke dalam rumah.
Tapi entah kenapa Argan merasakan sesuatu yang aneh, tiba-tiba kalung belati yang dia pakai bergetar. Tapi ini baru pertama kali Argan merasakan ini.
"Papa duduk dulu, papa mau minum apa?"
"Gak usah repot-repot nak, papa cuma mau tunggu penty terus mau ajak pulang Penty!"
"Gak apa-apa pah!" Argan berlalu ke belakang, tak di temui bunda dan mbak nya. Akhirnya Argan membuat minum sendiri untuk Sakti.
Setelah selesai membuat minum dan menyajikannya Argan pamit untuk berganti baju. Terlihat senyum tipis dari bibir Sakti meski tidak begitu jelas jika kita hanya melihatnya sekilas, tapi Sakti memang tersenyum. Entah apa yang dia pikirkan?
Setelah beberapa saat Inas dan mbak Susi datang dari supermarket selesai belanja bulanan.
"Eh abang, sudah lama?" tanya Inas canggung. Sebenarnya Inas merasa canggung bertemu Sakti tanpa Ares meski ada Mbak Susi. Semenjak pembicaraannya dengan Intan. Inas merasa agak kikuk dengan Sakti, terlebih lagi mereka akan segera bercerai.
"Belum kok dek, abang lagi nunggu Penty, abang mau ajak pulang!" jawab Sakti tersenyum.
"Ya udah aku beresin belanjaan dulu ya bang!" Sakti mengangguk dengan senyum yang masih mengembang di bibirnya. Dia terus menatap Inas sampai Inas hilang dari pandangannya.
"Kenapa kau harus muncul lagi dihatiku? aku gak mau tersiksa lagi karena mencintaimu! aku ingin mendapatkanmu!" gumam Sakti dalam hati.
Tak lama terdengar salam dari luar ternyata Penty dan Inka.
"Papa!" Sakti tersenyum melihat anaknya. Penty dan Inka menyalami Sakti.
"Papa mau jemput kamu sayang!"
"Tapi pah.." Penty cemberut dia masih enggan pulang kerumah, apa lagi dia tidak punya teman dirumah, kalo disini ada Argan dan Inka.
"Kasian bunda sama ayah, kalo kamu repotin terus!" Sakti memberi pengertian pada Penty. Penty mengangguk meski masih enggan.
Penty pun masuk kedalam dan membereskan bajunya lalu dia berpamitan pada Inas.
"Bunda aku mau pulang ya!"
"Kenapa pulang sih sayang? bunda masih kangen sama Penty!"
"Papa nyuruh aku pulang bun, kasian papa dirumah sendirian!"
"Padahal bunda masih kangen sama Penty!" ucap Inas sambil memeluk Penty.
"Penty juga, nanti kapan-kapan Penty kesini lagi ya bun."
"Iya cantik!" Inas dan Inka mengantar Penty sampai kedepan.
"Dadah bunda, dadah dedek!" teriak Penty dari mobil sambil melambaikan tangannya.
"Dadah sayang-dadah kakak!" jawab mereka serempak sambil membalas lambaian tangan Penty.
__ADS_1
Mereka pun masuk kedalam setelah mobil Sakti hilang dari pandangan. "Bun dedek laper!"
"Ayo sayang kita makan" Inas mengajak Inka untuk makan siaang.
...***...
Sore itu Argan Sedang mengajari Inka mengerjakan tugasnya. Sedangkan Inas sedang duduk mendampingi mereka. Tak lama terdengar suara mobil Ares yang baru datang dari kantornya.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalaam" jawab penghuni rumah serempak. Ares menghampiri anak dan istrinya.
"Lagi pada apa nih kesayangan-kesayangan ayah?"
"Lagi belajar yah!" Jawab Inka semangat.
"Anak pinter!" ucap Ares sambil mengusap kepala Inka dan Argan, lalu tak lupa mencium pipi istrinya.
"Ayah malu ihh diliatin anak-anak!" ucap Inas saat suaminya menguyel-nguyel pipi Inas.
"Biarin ayah kangen!" ucap Ares mau mencium Inas lagi. Tapi Inas menahannya.
"Udah yah, ayo kita mandi!"
"Ayo!!" ucap Ares antusias.
"Maksud bunda ayah cepetan mandi, ayo kita ke kamar biar bunda siapin air buat ayah mandi!" ucap Inas menjelaskan kesalah pahaman suaminya.
"Tadi kan bunda ngajak mandi bareng!" ucap Ares menggoda Inas.
"Ck.. Ayah!!" Inas sebal dengan suaminya lalu dia beranjak ke kamar membawa tas dan jas Ares.
"Ayah mandi dulu ya sayang!"
Ares pun menyusul istrinya ke kamar. Inas sedang di kamar mandi menyiapkan air untuk mandi suaminya.
"Udah bunda siapin airnya, ayah mandi sana!"
"Iya cantikku!"
"Ihh ayah gombal terus, malu sama anak-anak yah kalo di lihat. Anak kita udah bujang sama gadis!" Inas selalu sebal dengan sikap suaminya yang selalu seperti itu.
Ares menarik istrinya dan memeluknya.
"Lepasin yah, cepetan sana mandi!" Inas berusaha melepaskan pelukan Ares.
"Gak terasa ya sayang, anak kita sudah pada besar, ayah bahagia banget memiliki kalian. Kalian adalah harta ayah yang paling berharga!" ucap Ares sambil membelai pipi Inas.
"Bunda juga bahagia memiliki kalian. Kalian adalah hidup bunda dan belahan jiwa bunda!" Inas membalas belaian di pipi Ares.
"Ayah takut bun, ayah gak mau kehilangan kalian, jangan pernah tinggalin ayah!" ucapan Ares membuat Inas terdiam dan menatap Ares.
"Insya Allah kita akan selalu bersama yah!"
"Aamiin.." Ares mendekatkan wajahnya pada Inas sehingga kening mereka beradu.
Sebenarnya semenjak obrolannya dengan Sakti dan omongan Sakti yang membuatnya marah, meski Sakti bilang itu cuma gurauan. Ares takut kehilangan istrinya, karena biar gimanapun Sakti pernah mencintai istrinya, masih ada kemungkinan kalo Sakti masih mencintai Inas, Ares takut Sakti mengambil istrinya. Meski dia tau cinta istrinya hanya untuk dia.
Tapi dia pun tidak mau mengatakannya pada Inas soal pembicaraannya dengan Sakti waktu itu, karena tidak mau membuat Inas khawatir.
"Udah sana ayah mandi dulu, nanti kita main sama anak-anak, katanya Argan mau ngomong sesuatu!" ucap Inas.
"Iya sayang!" Ares mengeratkan pelukannya, seolah tak ingin melepaskan pelukan istrinya. Lalu Ares mencium pipi istrinya dan beranjak ke kamar mandi.
__ADS_1
"Bunda yakin kita akan selalu bersama, kita akan berjuang bersama, melewati segala rintangan bersama!" gumam Inas sambil tersenyum.
...***...
Setelah makan malam mereka berkumpul diruang tv. Argan menatap ayah dan bundanya, membuat Inas dan Ares saling berpandangan.
"Kakak mau ngomong apa?"
Argan tak menjawab dia mengeluarkan kalung belati yang ada di lehernya.
"Yah, bun ini kalung apa sih?"
"Ohh kakak mau tanya itu, emang kenapa?" tanya Inas balik.
"Bunda aku tanya kok malah balik tanya." Inas tersenyum melihat anaknya merengut sebal.
"Itu kalung dari kakek buyut mu kakek Nur Jagad, kalung itu pelindung buat kamu!" ucap Ares.
"Astaghfirullah ayah, itu musyrik gak boleh kita meminta bantuan selain kepada Allah!" ucap Argan tak terima dengan ucapan ayahnya.
Inas dan Ares tersenyum, mendengar ucapan anaknya.
"Ayah tidak meminta kakak buat menyembah dan meminta pertolongan pada benda itu, karena sejatinya Allah lah sebaik-baik penolong. Benda itu hanya perantara. Kakak tetep harus meminta pertolongan dan perlindungan hanya kepada Allah. Kakak jangan salah menafsirkan maksud dari perlindungan dari benda itu. Kita harus meminta perlindungan pada Allah, namun dengan perantara kalung itu. Sedangkan musyrik jika kita mengagungkan dan mengharapkan pertolongan dari benda itu langsung dan menganggap benda itu bisa memberi perlindungan kepada kita!" ucap Ares panjang lebar.
Argan masih bingung dengan penjelasan ayahnya.
"Aku gak ngerti yah!" ucap Argan meringis sambil menggaruk kepala yang tidak gatal.
"Contohnya kalo ayah sakit kalo ayah pengen sembuh ayah harus minum obat, padahal Allah lah maha penyembuh, tanpa izin Allah kita tidak akan sembuh. Nah obat itu adalah perantara Allah agar kita mendapat kesembuhan dengan niat memohon kesembuhan pada Allah." Argan menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Kita harus terus berdoa memohon perlindungan kepada Allah, tapi tanpa usaha juga semuanya sia-sia. Jadi kalung itu adalah tanda usaha kita." lanjut Ares.
"Iya yah aku paham!" ucap Argan tersenyum.
"Tapi untuk kalung ini melindungi aku dari apa yah? tapi kok dedek, ayah dan bunda gak pake kalung kaya gini."
Seketika membuat Inas dan Ares membeku. Mereka tidak tau harus bagaimana memberitau Argan, kalo dia berbeda dengan adik dan orang tuanya.
"Suatu saat kamu akan tau nak!" ucap Ares lirih.
...***...
Argan yang tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari ayahnya. Dia tidak bisa tidur, dia gelisah memikirkan dirinya sendiri.
"Kenapa gue harus pakai kalung ini? apa ada yang bakal nyelakain gue!" pikir Argan.
Dia terus memikirkan, tentang kalung belati yang sedang dia pegang.
Kalung belati itu melindungi Argan dari para makhluk halus yang terus mengincarnya. Dengan memakai kalung itu bau darah Argan yang menarik para makhluk halus akan tersamarkan. Maka dari itu selama Argan memakai kalung itu, dia aman dan tak ada makhluk jahat yang mengganggunya. Itulah pesan yang Ares tau dari kakeknya lewat Ayub yang membawa kalung itu.
Waktu menunjukan pukul dua belas malam, Argan masih terjaga dia masih menatap kalung belati yang sedang dia pegang.
"Aaargghhh.." tiba-tiba Argan tersentak mendengar suara teriakan seseorang. Argan langsung beranjak dan mencari asal suara itu. Tapi saat dia keluar kamar semuanya hening dia tak mendengar suara apa-apa lagi. Padahal tadi jelas sekali dia mendengar suara teriakan dari sebuah kamar.
Karena tak ditemui apa pun akhirnya Argan kembali ke kamar dan kembali merebahkan tubuhnya.
"Mungkin gue salah denger!" gumamnya. Tapi dia merasakan perasaanya tidak enak.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1