Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Kepergian Argan 1


__ADS_3

Ares dan Inka masih berusaha membangunkan Inas, perlahan Inas tersadar dia mengerjapkan matanya dan dia membuka matanya dengan sempurna.


"Bunda!!" ucap Inka dan Ares senang. Inas langsung menangis.


"Ayah anak kita, gak mungkin itu terjadi! gak mungkin kan yah, anak kita pasti baik-baik aja!" Inas histeris saat mengingat cerita Argan.


"Bunda tenang ya, kita akan cari jalan keluarnya oke, sekarang bunda harus tenang!"


"Enggak yah, ini tuh salah kita gak seharusnya anak kita yang jadi korban, dia pasti ketakutan yah, ayo kita selamatin anak kita yah, aku gak mau kehilangan anakku!" Inas menangis histeris.


Ares memeluk istrinya dan berusaha menenangkan istrinya. Inka hanya terdiam dia tidak mengerti kenapa bundanya sama sekali tidak marah dan tidak membenci Argan seperti dirinya.


"Iya sayang, kamu sabar ya kita pasti akan selamatin anak kita!"


"Argan mana yah? anak kita mana?" Inas beranjak dari kasurnya. Tapi Ares menahannya.


"Bunda istirahat yah, nanti kita omongin sama Argan!"


"Gak yah aku mau ketemu anakku, dia pasti ketakutan yah, kenapa kita mengabaikannya? kenapa kita tidak menyadarinya? sampai kita tidak tau dengan penderitaan anak kita." Inas memaksa beranjak dan keluar kamar.


"Argan sayang.." panggil Inas sambil menuju kamar Argan, tapi tak ada.


"Argan, nak.. kamu dimana sayang!" Inas terus mencari-cari Argan tapi tak ditemuinya.


"Ayah Argan mana?" isak Inas.


"Ayah gak tau bun, dari tadi ayah sama bunda!" ucap Ares. Inka hanya terdiam dan masih bingung dengan sikap bunda dan ayahnya.


Inas kembali ke kamar Argan dan mencarinya mungkin di kamar mandi karena tadi tidak diperiksa. Tapi tetap tidak ada, Ares dan Inka terus mengikuti Inas.


"Bun!" panggil Ares lalu dia mengambil secarik kertas yang ada di meja belajar Argan. Ares membacanya.


...Assalamualaikum.....


...Ayah, bunda, dedek.....


...Aku sayang banget sama kalian, aku bahagia punya keluarga seperti kalian. Aku bangga punya ayah dan bunda, kalian adalah orang tua yang sangat hebat. Kalian adalah panutanku....


...Ayah, bunda.....


...Maafkan aku jika selama ini aku belum bisa menjadi anak yang baik buat kalian, maafkan aku karena aku belum bisa bahagiain kalian....


...Ayah, bunda.....


...Aku tidak tau apa yang terjadi dengan diriku, itu semua bukan keinginanku, aku juga tidak mau hidup seperti ini....


...Ayah, bunda.....

__ADS_1


...Kenapa aku berbeda? siapa aku sebenarnya? kenapa aku bisa menjadi seperti ini? aku gak mau menjadi manusia setengah iblis, aku ingin hidup normal seperti anak lainnya....


...Ayah, bunda.....


...Aku tau aku bukan anak kalian, tapi aku bahagia karena pernah menjadi bagian keluarga kalian, aku sangat bahagia mengenal kalian....


...Ayah, bunda.....


...Terima kasih karena kalian sudah merawatku dan membesarkanku, maafkan aku belum bisa membalas kebaikan kalian. Aku pergi karena aku sadar, aku bukanlah bagian dari kalian. Aku berbeda, aku bukan manusia seperti kalian. Karena tidak ada manusia sepertiku....


...Dedek.....


...Maafin kakak ya, karena kakak gak bisa jadi kakak yang baik, maafin kakak udah bikin dedek ketakutan. Kakak sayang banget sama dedek. Meski mungkin kakak bukanlah kakak yang baik buat dedek tapi kakak sayang banget sama dedek. Jaga ayah sama bunda ya dek. Jadilah anak yang nurut....


...Selamat tinggal, aku pergi. Aku sayang kalian.. 😘😘😘...


Ares membaca dengan berderai air mata, begitu juga Inas dan Inka yang mendengar isi surat itu.


"Argan kamu anak bunda sayang, kamu lahir dari rahim bunda, jangan tinggalin bunda nak, bunda gak mau kehilangan kamu nak!" Inas menangis tubuhnya lemas setelah mendengar isi surat itu sampai dia terduduk dilantai sambil memukul-mukul dadanya. Ares memeluk istrinya untuk memberi kekuatan.


"Pulang sayang jangan tinggalin bunda, kamu anak bunda!"


Ares tak sanggup bicara dia hanya mengelus punggung istrinya untuk memberi ketenangan. Sedangkan Inka dia menangis dan menunduk, dia menyesal karena dia yang sudah mengusir kakaknya, meski masih ada rasa benci sama kakaknya, tapi penyesalan itu jauh lebih besar.


"Maafin dedek kak!" gumamnya pelan sambil terisak.


"Ayah harus cari anak kita, cari Argan yah!" isak Inas.


Di tempat lain Argan sedang berada di sebuah bus, pandangannya mengarah keluar. Air matanya masih menetes saat mengingat bundanya pingsan gara-gara dirinya.


"Maafin aku bun!" lirihnya dalam hati.


Empat jam perjalanan akhirnya Argan sampai disebuah kota, dia turun dari bus. Dia berjalan mencari taksi.


Setelah sampai ditempat tujuan dia bergegas turun dia berjalan memasuki gang. Dia sempat memandang kesekeliling.


"Welcome Argan, you come back again!" ucapnya.


Dia berjalan lalu dia sampai sebuah rumah, dia menatap seorang gadis yang sedang menyiram bunga didepan rumah. Dia tersenyum, membuat dia melupakan sejenak kejadian yang menyakitkan itu. Tiba-tiba gadis itu menoleh ke arah Argan karena merasa ada yang memperhatikan.


Dia terdiam sambil mengucek-ngucek matanya, lalu menggelengkan kepalanya tak lama dia menampar-nampar pipinya.


"Apa gue mimpi? gak mungkin dia ada disini!" ucapnya. Argan tersenyum melihat tingkah laku gadis itu, dia berjalan menghampirinya. Gadis itu masih terpaku menatap Argan. Sampai akhirnya Argan ada dihadapannya.


Tiba-tiba Argan mendekatkan wajahnya ke hadapan gadis itu, membuat gadis itu memejamkan matanya.


"Ini nyata bukan mimpi!" bisik Argan di telinga gadis itu, membuat gadis itu tersentak lalu dia membuka matanya dan dia melihat wajah Argan yang sangat dekat, mata mereka bertemu dan saling mengunci.

__ADS_1


Jantung gadis itu berdebar kencang, saat menatap mata Argan. Mereka saling memandang untuk sesaat.


"Argan!" panggil seseorang membuyarkan keheningan di antara mereka. Mereka pun saling menjauhkan diri dan salah tingkah.


"Om!" ucap Argan.


"Kamu ngapain disini dan kapan datang?" tanya Sandi.


"Kalian gak mau mempersilahkan aku masuk!" Sandi terkekeh, lalu dia mengajak Argan masuk kedalam sedangkan gadis itu yang tak lain adalah Penty melanjutkan menyiram bunga. Jantungnya masih berdebar kencang, dia memegang dadanya lalu menghela nafas.


"Kamu kok bisa ada disini?" tanya Sandi saat mereka duduk disofa.


"Ceritanya panjang om dan aku belum mau cerita, aku bolehkan om tinggal disini?"


"Nanti ayah sama bundamu nyari gimana?"


"Gak bakal om, aku mohon boleh ya aku tinggal disini?" Sandi mengangguk.


"Ya boleh lah, ini kan rumah nenek kamu juga!" Argan tersenyum.


"Makasih ya om!"


"Kamu kangen ya sama Penty!" ledek Sandi.


"ihh.. apaan sih, ya nggak lah!" wajah Argan memerah dan membuat Sandi terkekeh. Tak lama Penty masuk kedalam.


"Pen, buatin minum ya buat om dan Argan!"


"Iya om!" ucap Penty sambil menunduk. Lalu Penty pun ke dapur.


"Sebenarnya om penasaran kenapa kamu bisa kesini, tapi kalo kamu belum mau cerita ya sudah, tapi sekolah kamu gimana gan?"


Argan menggeleng. "Masalah kamu besar ya? sampe kamu harus kabur dari rumah!"


"udahlah om aku gak mau bahas! oh iya jangan kasih tau bunda sama ayah kalo aku ada disini ya om, aku lagi pengen menenangkan pikiran dulu!" ucap Argan lalu dia membaringkan tubuhnya di sofa sambil melipat tangan di dada, lalu memejamkan mata. Dia merasa lelah karena habis perjalanan jauh.


Sedangkan Inas dan Ares lagi ketar-ketir mencari Argan. Mereka sudah mencari Argan dan menanyakan ke semua temannya tapi tidak ada yang tau. Inas tak berhenti menangis memikirkan keberadaan anaknya.


"Ayah coba telpon Reka, mungkin Argan ada disana!" Ares mengangguk. Dia menelpon Reka berharap Argan bersama Reka, tapi ternyata tidak ada juga dan itu membuat Inas menangis histeris.


"Kamu dimana sayang, pulang nak, bunda gak mau kehilangan kamu!" Ares memeluk istrinya dan mengusap kepala istrinya sampai Inas terlelap karena kelelahan mencari Argan dan terus menangis. Di tempat lain Inka pun terus menangis, dia menyesal dia yang sudah menyebabkan kakaknya pergi.


"Kakak pulang, maafin aku! kasian bunda!" isaknya. Dia sudah menelpon Argan tapi nomernya tidak aktif.


"Maafin aku, maafin aku.." lirihnya sambil menatap foto Argan dan dirinya yang di jadikan wallpaper di ponselnya.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2