
Seharian Argan menangis karena terus menanyakan ayahnya, sampai-sampai matanya jadi sembab. Inas yang biasanya bisa menenangkan kali ini sangat sulit, entah kenapa tapi Inas juga merasakan kegelisahan dan kekhawatiran Argan, ditambah Ares tidak bisa dihubungi.
Sore itu Sakti pulang cepat, dia mendengar tangisan Argan dan langsung menghampirinya.
"Kenapa sayang kok nangis?" tanya Sakti.
"Ini bang, Argan nanyain kak Ares terus, dari pagi gak berhenti nangis, aku juga khawatir sama kak Ares dari tadi susah dihubungi!" jawab Inas.
"Mungkin Ares sibuk dek, jadi gak bisa dihubungi!"
"Ya udah sini biar papa yang gendong." Sakti langsung menggendong Argan meski tidak membuat tangisan Argan berhenti.
"Kenapa wajah kamu panik gitu dek?" tanya Sakti saat melihat Inas panik dan gelisah.
"Dari pagi aku kepikiran kak Ares, perasaanku juga gak enak dan aku rasa Argan juga merasakan itu!" jawab Inas membuat Sakti tercekat.
"Papaaaa.." teriak Penty tiba-tiba ketika melihat papanya.
"Iya sayang!" sahut Sakti.
"Kok papa gendong Agan, aku mau gendong!" ucap Penty sambil merentangkan kedua tangannya.
"Iya nanti ya sayang, papa gendong Agan dulu ya." ucap Sakti membuat Penty memberengut.
"Ya udah bang sini biar Argan sama aku!" ucap Inas sambil mengambil Argan dari Sakti. Argan sudah mulai tenang dan tidak menangis lagi.
Sakti pun beralih menggendong anaknya, dan membuat Penty tersenyum senang.
"Ini papa aku wleeee.." ucap Penty meledek Argan.
Argan hanya melihat dengan wajah sendu dan sesenggukan. Lalu dia memeluk Inas dan membenamkan wajahnya didada Inas.
"Jangan ledekin Agannya nanti nangis lagi!" ucap Sakti. Penty hanya membalas dengan pelukan. Tak lama Intan pun datang dari rumah sakit.
"Kamu udah pulang mas?" tanya Intan sambil menyalami suaminya.
"Baru sampe mah!" balas Sakti.
"Ini kenapa pada digendong sih?" tanya Intan melihat kedua anak itu digendong.
"Biasa mah lagi pada manja!" jawab sakti.
Setelah makan malam Inas langsung menidurkan anaknya, tapi terlihat Argan gelisah dan tidak bisa tidur.
"Nda ayah mana?" tanya Argan sambil menatap bundanya yang sedang memeluknya.
"Sudah adek bobo ya, nanti ayah juga pulang!" jawab Inas tapi Argan menggeleng.
"Agan pengen bobo sama ayah!" ucapnya. Inas bingung dia harus jawab apa, andai saja Ares bisa dihubungi setidaknya dia bisa Video call dengan Ares biar Argan tidak menanyakannya terus.
Inas pun terus mengusap kepala Argan agar dia tertidur.
"Kamu kemana sih kak? Kenapa buat aku dan Argan khawatir kaya gini!" batinnya.
Inas benar-benar khawatir dengan keadaan suaminya.
Ditempat lain Sakti pun terlihat gelisah, dia memikirkan apa yang sudah dibicarakannya dengan Ares sebelum Ares pergi.
*flashback
Sore itu saat Inas sedang bermain dengan Intan dan juga anak-anaknya, Ares dan Sakti sedang duduk ditempat kerja Sakti.
"Jadi kenapa kamu titipin Inas dan Argan disini?" tanya Sakti memulai pembicaraan.
"Iya maaf sak udah ngerepotin kamu, tadinya aku mau titip di ibu tapi nanti Argan sekolahnya jauh!"
"Ada yang gak beres dirumah saya sak!" lanjutnya dan menjeda ucapannya, membuat Sakti penasaran.
"Maksud kamu?" tanya Sakti penasaran.
Lalu Ares menceritakan kejadian saat dia pulang dari rumah sakit saat Argan sakit, saat rumahnya berantakan dan gangguan dirumahnya dan juga menceritakan kejadian yang menimpa Inas dan Argan sampai Argan Sakit.
Lalu dia juga menceritakan penuturan mantan pembantunya ditelpon dan itu yang membuatnya curiga pada bi Wati.
"Wahh jangan-jangan dia yang udah celakain Argan?" ucap Sakti setelah mendengar cerita Ares.
"Saya juga berfikir begitu sak dan saya pikir bi Wati itu bukan manusia, mungkin dia setan yang sedang mengincar Argan, makanya saya mohon tolong jagain mereka selama disini!"
Sakti mengangguk dia tau semua apa yang terjadi dengan keluarga adiknya, sampai Argan yang diincar makhluk halus karena darahnya dan juga soal mimpi Lakhuds yang mengutuk Argan.
"Terus kamu mau apa?" tanya Sakti.
"Saya harus menyelesaikan ini, dan saya mohon jangan ceritain ini sama Inas, saya gak mau dia khawatir dan panik!" jawab Ares.
__ADS_1
"Apa kamu bakal nyelesain sendiri? Kalo gitu biar saya bantu!" tanya Sakti lagi.
Ares menggeleng. "Gak sak saya minta tolong kamu jagain Inas dan Argan aja, itu udah sangat membantu saya, masalah ini biar saya menyelesaikannya sendiri!" jawab Ares.
"Tapi Res yang kamu hadapi ini bukan manusia loh!!"
"Iya saya tau sak, tapi kitakan sudah biasa menghadapi yang beginian, lagian saya gak sendiri saya mau minta bantuan kyai, biar bisa memudahkan mengusir setan itu!"
Sakti mengangguk, untuk beberapa saat mereka terdiam, sampai Ares membuka suara.
"Sak saya mohon tolong jagain anak dan istri saya, kalo sa-"
"Gak usah ngomong macem-macem!" ucap Sakti memotong perkataan Ares yang pasti bakal ngomong yang tidak-tidak.
"Kamu harus cepet selesain masalah kamu dan cepet jemput anak dan istri kamu, kamu tenang aja saya pasti bakal jagain mereka selama disini!" lanjut Sakti.
Ares terdiam dan tertunduk. "Makasih!!" ucap Ares tanpa mengangkat kepalanya.
*Flashback end
"Saya jadi ikut khawatir dengan Ares, melihat kecemasan Inas dan Argan seperti itu, apa saya harus menyusul dia?" pikir Sakti.
Sakti pun beranjak dan akan menyusul Ares kerumahnya. Saat Sakti keruang tengah terlihat Inas sedang duduk termenung sendiri.
Sakti menghampirinya dan duduk disampingnya, tapi Inas tidak menyadari kehadiran Sakti sampai Sakti duduk disampingnya dia masih termenung.
"Dek!!" ucap Sakti sambil memegang Pundak Inas dan membuat Inas terkejut, bahkan kagetnya Inas berlebihan seperti orang yang sedang di kagetkan padahal Sakti menegurnya pelan.
"Kamu kenapa ngelamun kaya gitu?" tanya Sakti.
"Aku kepikiran kak Ares bang, aku khawatir gak biasanya dia kaya gini, atau jangan-jangan dia lupa sama anak istrinya!" jawab Inas.
Sakti bingung apa dia harus memberitahu Inas atau tidak, tapi jika diberi tau Inas bakalan semakin panik.
"Udah kamu doain aja suami kamu, semoga dia baik-baik aja, mudah-mudahan dia cepet menyelesaikan masalahnya dan cepet jemput kamu dan Argan!"
"Masalah? Emang kak Ares ada masalah apa?" tanya Inas bingung membuat Sakti gelagapan.
"I-itu ma-masalah dikantornya iya masalah dikantornya!" jawab Sakti gugup.
"Ohh iya waktu itu dia juga bilang ada masalah dengan kerjaannya, apa karena itu dia harus ke Bandung?" ujar Inas.
Sakti bernafas lega karena Inas tidak mencurigainya.
Inas mengangguk. "Abang mau kemana?"
"Biasa ada urusan kerjaan diluar!"
"Udah malam masih ada urusan kerjaan." ucap Inas.
"Ya udah abang pergi ya!" ucap Sakti sambil mengelus kepala Inas dan dia beranjak lalu bergegas akan menyusul Ares.
Di perjalanan pikiran Sakti tidak tenang dan memikirkan Inas dan Ares.
"Jangan sampe Ares kenapa-napa!" gumamnya.
Dua puluh menit kemudian Sakti sampai dirumah Ares. Terlihat rumah Ares sangat gelap. Sakti heran karena dirumah Ares ada dua mobil.
"Apa mobil kyainya ya?" pikir Sakti.
Sakti pun memarkirkan mobilnya dibelakang mobil yang ada diluar pagar. Sakti bergegas masuk ke rumah Ares. Sakti mengetuk pintu tapi tidak ada jawaban.
Dia berusaha membuka pintu tapi pintunya dikunci.
"Aresss.." teriak Sakti.
Sakti berusaha mendobrak pintu, beberapa kali akhirnya dia bisa membuka pintu. Gelap, pertama masuk suasananya gelap sekali, sakti berjalan untuk mencari saklar lampu tapi dia seperti menabrak sesuatu, akhirnya sakti mengambil ponsel dan menyalakan senternya.
Sakti terkejut melihat rumah Ares berantakan, Sakti segera mencari saklar lampu dan menyalakannya.
Rumah Ares benar-benar berantakan, Sakti kesana kemari mencari Ares dan memanggilnya tapi tidak ditemui Ares atau siapa pun.
Sakti membereskan kekacauan itu, tak lama terdengar seseorang batuk.
"Ares.." gumamnya.
Sakti menajamkan pendengarannya untuk mencari asal suara itu.
Namun tidak ada lagi suara itu, bahkan suasana rumah menjadi hening.
"Mungkin saya salah denger!" ucapnya sambil melanjutkan membereskan rumah Ares.
"Kalo Inas tau, udah pasti dia bakal panik banget, ya meskipun sekarang dia sudah panik!" pikirnya.
__ADS_1
Sakti membereskan rumah Ares secepat mungkin, lalu dia mendengar suara batuk itu lagi.
Kali ini Sakti yakin dia gak salah denger, dia yakin ada orang dirumah Ares. Sakti segera mencarinya sambil memanggil-manggil Ares.
Sampai akhirnya dia sampai ditaman belakang, tapi gelap dia mencari saklar untuk menyalakan lampu taman. Terlihatlah seseorang yang tergeletak. Sakti segera menghampirinya.
"Ar-" belum sempat melanjutkan ucapannya, Sakti melihat kalo orang itu bukanlah Ares.
"To-tolong!" ucap orang itu lemah.
Sakti segera membantu orang itu dan memapahnya ke dalam. Lalu dia membaringkannya di sofa.
"Kamu siapa? Kenapa ada disini? Dimana Ares?" tanya Sakti.
Tapi orang itu terlihat sangat lemah, Sakti tidak tega bertanya lagi. Akhirnya Sakti membawanya ke rumah Sakit, agar dia mendapat pertolongan.
Sesampainya dirumah Sakit orang itu segera dibawa ke IGD. Sakti menunggu diruang tunggu tak lama ponselnya berbunyi.
📞"Hallo mah!" sapa Sakti.
📞"Papa dimana? Mama cariin kok gak ada!" Sakti lupa memberitaukan istrinya.
📞"Oh iya maaf papa lupa, papa keluar sebentar ada urusan mah."
📞"Urusan apa? Kerjaan?"
📞"Iya mah, ya udah mah udah dulu telponnya ya, gak enak ada temen papa!" ucap Sakti berbohong dia langsung menutup telponnya.
Dia tidak mau kalo Intan akan banyak tanya dan membuat dia harus mengatakan sebenarnya. Nanti dia malah cerita sama Inas.
Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang IGD, Sakti langsung menghampirinya.
"Gimana keadaanya dok?"
"Dia sangat lemah, dia hampir kehabisan nafas, tapi untuk sekarang keadaannya sudah lebih baik!" jawab Dokter lalu dia berpamitan dan berlalu.
"Kenapa dengan dia? dan kenapa Ares tidak ada dirumah, malah ada dia, apa jangan-jangan setan itu mencelakai mereka, tapi kenapa Ares tidak ada?" Sakti terus memikirkannya, sebenarnya bukan dia peduli sama Ares tapi dia melakukannya karena Inas.
Tak lama Suster membawa Faris keruang perawatan, Sakti mengikutinya.
"Cuma dia satu-satunya yang bisa saya tanyakan dimana keberadaan Ares!" pikir Sakti. Tapi Faris belum sadarkan diri.
"Sebaiknya saya pulang dulu, besok saya kesini lagi, untuk menanyakannya, yang penting saya sudah menelpon keluarganya!"
Sakti bergegas kembali ke rumah, takut orang rumah mengkhawatirkannya.
...***...
Pagi itu Argan sudah menangis karena terus menanyakan ayahnya, ternyata ikatan batin mereka begitu kuat, sehingga Argan terus-terusan gelisah karena ayahnya dalam bahaya.
Inas terus menenangkan Argan dan juga sambil menelpon Ares, tapi masih sama ponselnya tidak bisa dihubungi.
"Ayaaahh.." rengek Argan sambil menangis.
"Iya sayang sebentar, nda telpon ayah dulu ya!" ucap Inas berusaha menenangkan.
Tapi lagi-lagi ponsel Ares tidak bisa dihubungi, membuat Inas pun ikut gelisah dan khawatir dengan suaminya.
Inas membawa Argan keluar, untuk menenangkannya agar berhenti menangis, Sakti yang mendengar tangisan Argan langsung menghampirinya.
"Kenapa sayang?" tanya Sakti sambil mengelus kepala Argan.
"Ayaaahh.." Argan terus memanggil-manggil ayahnya. Membuat Sakti bimbang dan juga khawatir.
"Bang aku pengen nyusul kak Ares!" ucap Inas.
Membuat Sakti terbelalak kaget. "Maksud kamu?" tanya sakti kaget.
"Kak Ares gak bisa dihubungi dari kemarin, aku khawatir banget sama dia, aku pengen nyusul dia ke Bandung!" jawab Inas.
Glek..
Sakti menelan ludah apa yang harus dia lakukan, memberi tahu Inas atau tidak? Semuanya jadi serba salah.
Inas semakin khawatir ditambah Argan terus memanggil ayahnya. Inas takut ada apa-apa sama Ares.
Sakti bingung dia harus berpikir cepat bagaimana caranya mencegah Inas tanpa harus memberitahukan masalah sebenarnya.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1