Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Reno


__ADS_3

"Ha ha ha sudah kuduga kakak bisa lihat aku!" ucap hantu itu sambil tersenyum menyeringai.


Argan sangat kaget bahkan jantungnya berdegup kencang saking kagetnya. Dia mengelus dadanya yang sedang berdebar kencang.


"Elo kenapa gan?" Semua mata tertuju pada Argan dan Guntur, lagi-lagi mereka jadi pusat perhatian.


"Ng-nggak apa-apa Tur." Argan melanjutkan makannya dia mengabaikan hantu itu dan pura-pura tidak melihatnya. Meski hantu itu terus mencari perhatian Argan, tapi Argan terus mengabaikannya. Guntur mengernyit heran menatap Argan begitu juga orang-orang disekitarnya.


"Aku tau kakak bisa lihat aku." meski Argan mendengar apa yang diucapkan hantu itu dia tetap mengacuhkannya, terlebih lagi rupa hantu itu membuat Argan mual karena banyak darah dan nanah diwajah dan disetiap lukanya, ditambah bau busuk yang menyengat, membuat Argan harus menahan nafas.


"Tur gue ke toilet dulu." kata Argan sambil beranjak, dia sudah tidak tahan dengan bau busuk hantu itu. Segera Argan ke kamar mandi.


"Hueekk.. hueekk.. hueekk.." dia mengeluarkan semua yang sudah dia makan, bau busuk itu masih tercium olehnya.


"Sial ngapain sih tuh setan? muncul pas gue lagi makan!" gerutunya kesal.


Setelah mendingan Argan segera kembali menghampiri Guntur namun saat dia membuka pintu, dia dikejutkan kembali dengan hantu anak kecil itu.


"Astaghfirullah, kadal bunting.." reflek Argan latah saking kagetnya. Hantu itu tertawa senang, melihat Argan kaget. Dia cengengesan tapi lagi-lagi Argan pura-pura tidak melihatnya. Dia berlalu tanpa mempedulikannya.


"Kakak tolong aku, aku tau kakak bisa lihat aku, kakak tolong aku mohon." rengek si hantu tapi Argan tetap acuh dia tidak mau berurusan dengan hantu.


Dia kapok dulu saat dia berteman dengan Tio dia kira Tio adalah hantu yang baik tapi ternyata Tio adalah utusan Nyai Kelana. Dia pura-pura berteman dengan Argan padahal dia cuma mau cari tau kelemahan Argan. Agar Nyai Kelana bisa mendapatkan darah dan jantung Argan.


Maka dari itu Argan acuh dengan mereka yang tak kasat mata dan Argan selalu berpura-pura tidak melihat mereka.


Hantu anak kecil itu terus merengek, memohon pada Argan untuk menolongnya. Tapi Argan tetap acuh seolah tidak mendengar dan melihatnya. Padahal sudah jelas tadi dia kaget saat melihat hantu itu.


Argan merasa pusing mendengar rengekan hantu itu. Baru pertama masuk udah banyak kejadian yang membuatnya stress.


"Kakak harus tolong aku, kalo tidak kakak akan tau akibatnya!" ancam hantu itu.


Tapi Argan tetap tidak peduli, dia masih berpura-pura tidak mendengar. Hantu itu terus terbang sambil mengelilingi Argan membuat Argan pusing dan tidak tahan dengannya.


"Elo kenapa gan? muka elo pucet!"


"Gak apa-apa masuk kelas yuk!" Argan beranjak dan berjalan lebih dulu masuk ke kelas, saat berjalan dikoridor dia berpapasan dengan bu Ratih.


Argan tersenyum untuk menyapanya, begitu juga bu Ratih. Tapi tiba-tiba saja hantu itu mengagetkan Argan lagi, tiba-tiba saja hantu itu menjatuh diri dari atas didepan Argan. Membuat Argan benar-benar kaget sambil mundur kebelakang.


"Kamu kenapa gan?" tanya Bu Ratih heran melihat Argan tiba-tiba kaget.

__ADS_1


"Ng-nggak apa-apa bu aku permisi ya bu!" Argan berlalu tanpa mendengar jawaban dari bu Ratih. Tapi dia sempat mendengar tertawaan hantu kecil itu yang sedang mengejeknya.


Lalu hantu itu kembali mengikuti bu Ratih dia nemplok dipunggung bu Ratih.


"Dihh kenapa kepalaku berat, tubuhku juga terasa berat sepertinya aku terlalu lelah." kata bu Ratih.


"Hi hi hi ibu aku sedang di gendong sama ibu, jadi terasa berat. Ibu Reno sangat rindu sama ibu!" ucap Hantu itu yang bernama Reno dia terlihat sedih karena ibunya sudah tidak bisa melihatnya lagi.


Namun seketika tatapan Reno menjadi tajam, marah, benci dan dendam.


"Ehh pak Rendi, tadi di cariin sama bu Femi tuh!" ucap Bu Ratih saat berpapasan dengan pak Rendi. Pak Rendi hanya mengangguk, lalu berlalu meninggalkan bu Ratih.


Argan masih kesal dengan hantu itu.


"Elo kenapa sih bro, aneh banget dari tadi?" tanya Guntur tapi Argan hanya menggelang.


Tak lama bel masuk pun berbunyi, mereka mulai melanjutkan pelajaran mereka.


...***...


Argan sudah pulang, hari pertama belajar benar-benar menguras pikiran dan tenaganya. Karena ditambah hantu bocil yang terus mengganggunya. Masih untung dia tidak ikut sampai kerumah, karena dia tidak akan bisa jauh dari ibunya.


"Ganti baju kak, terus sholat dan makan."


Setelah selesai dia menghampiri bundanya yang sedang menyiapkan makan siang.


"Kakak udah sholat?"


"Udah bun tadi disekolah!" Inas tersenyum mendengar ucapan anaknya, dia memang mengajarkan anaknya agama yang kuat, agar kelak dia tidak jauh dari Tuhannya.


"Bunda sakit?"


Inas menggeleng. "Enggak kata siapa?"


"Itu muka bunda pucet." Argan memang sangat menyayangi Inas, baginya Inas adalah wanita yang menjadi cinta pertamanya, lalu yang kedua adiknya Inka, setelah itu baru ayahnya.


"Bunda gak apa-apa sayang, udah kakak cepet makan."


"Bunda udah minum obat?" Meski pun bundanya sudah bilang tidak apa-apa tapi Argan tau Inas bilang begitu agar tidak membuat dirinya khawatir.


Inas tersenyum menatap Argan, dia sangat bahagia memiliki anak-anak yang sangat baik sholeh dan sholehah. Baginya keluarga adalah hidupnya jiwanya. Keluarga lebih dari sekedar harta, mereka lebih berharga dari pada harta benda. Dia lebih rela kehilangan harta dari pada kehilangan keluarganya.

__ADS_1


"Udah sayang makasih kakak selalu perhatian sama bunda!" ucapnya sambil mengusap kepala Argan.


"Bunda itu adalah Surga ku, aku gak mau sampai bunda sakit!" Inas terharu mendengar ucapan anaknya. Dia memeluk Argan, mengusap kepala Argan.


"Dedek dimana bun?"


"Lagi bobo siang!"


"Kalo ayah?"


"Kenapa nanyain ayah? kangen sama ayah?" tiba-tiba Ares datang menghampiri mereka ikut makan bersama anak dan istrinya. Argan hanya menyengir saat ayahnya duduk disampingnya sambil mengelus kepalanya.


Selepas makan siang, Argan pergi ke kamar untuk tidur siang, karena memang mereka sudah terbiasa untuk istirahat siang.


Ares dan Inas duduk santai diruang tv sambil menonton. Inas menyenderkan kepalanya di bahu Ares.


Tak lama terdengar suara ketukan pintu, Inas beranjak dan membuka pintu. Inas terkejut tiba-tiba seseorang memeluknya dan menangis.


"Kenapa sayang ada apa?"


"Bundaaa.." Dia terisak dan menangis dalam pelukan Inas. Inas membawanya masuk duduk diruang tamu.


"Kenapa? ada apa? cerita sama bunda!"


Dia hanya menangis dalam pelukan Inas. Untuk sementara Inas tidak banyak tanya dulu, karena sepertinya dia belum mau cerita.


Ares menghampiri Inas karena mendengar suara tangisan.


"Ada apa bun?" tanya Ares. Tapi Inas memberi isyarat agar Ares diam dengan menaruh jari telunjuk dibibirnya.


Ares mengangguk, gadis itu masih terisak dan menangis dipelukan Inas. Setelah merasa lebih tenang, dia baru melepaskan pelukannya dan menatap Inas.


"Ada apa sayang?" tanya Inas.


"Papa sama mama, mereka mau cerai!"


Deg!


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2