Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Kepergian Ares


__ADS_3

Argan terbaring lemah di rumah sakit, dia masih belum sadarkan diri. Sedangkan Inas dan yang lainnya sudah mulai pulih dan membaik.


Inas dan yang lainnya sedang mengurus pemakaman Ares, Inas sangat terpukul karena harus kehilangan suami tercintanya.


Saat itu Argan perlahan membuka matanya, meski terlihat agak sulit membuka matanya. Namun akhirnya dia membuka mata dengan sempurna, dia melihat seseorang yang sedang tersenyum padanya.


Dia ingin berbicara namun mulutnya masih terasa kaku, bahkan untuk membuka mulutnya pun terasa sangat susah.


"Alhamdulillah kamu sudah sadar, kalo begitu om akan panggilkan dokter!" ucap seseorang itu lalu bergegas keluar.


Argan masih bingung dan tidak tau kenapa dia ada disini, seingatnya dia sedang berjalan di sebuah padang rumput dekat sungai bersama keluarganya dan dia juga sudah berhasil memusnahkan iblis itu, tapi kenapa dia berada di rumah sakit. Tiba-tiba dia teringat ayahnya.


"Ayah!" gumamnya dalam hati.


Seketika air matanya menetes, mengingat ayahnya pergi meninggalkan dia.


"Bunda! di mana bunda?" tanya nya dalam hati. Dia ingin bergerak tapi tubuhnya terasa kaku, lalu tak lama seorang dokter dan suster masuk kedalam dan memeriksa Argan.


Setelah memeriksa Argan, dokter pun kembali ke luar dan mengajak orang itu untuk berbicara.


Argan masih kebingungan apa yang sebenarnya terjadi? kenapa dia bisa ada di rumah sakit?


Rasanya Argan ingin beranjak dan menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dia yakin sekali dia habis bertempur dengan iblis itu untuk menyelamatkan keluarganya. Lalu apa ini kenapa dia bisa ada di sini?


Tak lama Argan merasa merasakan kantuk. Dia memejamkan mata dan menenangkan pikirannya.


"Apa aku mengalami Delusi lagi?" gumamnya dalam hati lalu dia pun terlelap.


...***...


Di rumah, Inas sedang termenung dan melamun di dalam kamarnya, terlihat kepalanya terbalut perban, dia masih tidak menyangka Ares akan pergi meninggalkannya secepat itu. Semua kenangan indah bersama suaminya dia putar dalam memorinya.


Tak lama Inka masuk menemui Inas, namun Inas tetap tak bergeming, dia masih menyenderkan tubuhnya di ujung tempat tidur sambil melamun. Inka menghampiri bundanya dan memeluknya. Isak tangisnya terdengar, dia pun tak menyangka ayahnya akan pergi meninggalkan dia dan keluarganya.


Inka terisak dalam pelukan Inas, diam-diam Inas pun meneteskan air mata, baginya terasa seperti mimpi kehilangan pria yang sangat di cintainya.


Di luar semua orang pun sedang berduka, Sandi, Shina, Penty, Marvel dan Fahri, semuanya sedang bersedih karena kehilangan Ares, mereka baru saja selesai memakamkan Ares dan semuanya berkumpul di rumah Inas. Tak lama ponsel Sandi berdering. Dia pun mengangkat telponnya, setelah berbicara dengan orang yang di telpon.


Sandi memberi tahukan bahwa Argan sudah sadar, semua orang merasa senang mendengar Argan sudah sadar.


"Ya sudah kalo begitu lebih baik kita jenguk Argan!" ucap Fahri. Semua orang mengangguk.


"Apa kita kasih tau kak Inas?" tanya Sandi.


"Sebaiknya jangan dulu, dia lagi butuh waktu sendiri!" ucap Fahri.


"Lebih baik Shina dan Penty temenin mbak Inas, kalian juga masih perlu istirahat!" lanjut Fahri.


"Tapi aku pengen ketemu Argan om!" ucap Penty.


"Sebaiknya kamu di sini dek, temenin bunda sama dedek, hibur mereka! yang penting Argan sekarang sudah baik-baik saja!" ucap Sandi. Akhirnya Penty pun mengangguk.


Fahri, Sandi dan Marvel berangkat ke rumah sakit untuk menjenguk Argan. Sesampainya di rumah sakit, mereka segera menuju ruangan Argan, dia melihat seseorang sedang duduk di samping Argan.


"Kalian!" dia tersenyum pada Sandi dan yang lainnya.


"Gimana keadaan Argan mas Ayub?" tanya Fahri.


"Alhamdulillah, keadaannya membaik dan stabil, tinggal perlu perawatan aja dan Insya Allah juga perawatannya tidak akan lama!" jawab Ayub.


"Alhamdulillah.." ucap mereka serempak.

__ADS_1


Lalu Sandi menghampiri Argan dan mengusap kepala Argan. Lalu dia menatap semua orang.


"Ada apa om?" tanya Marvel.


"Bagaimana reaksinya kalo tau ayahnya sudah gak ada, apa akan mempengaruhi kondisinya?"


Semua orang saling pandang.


"Sebaiknya tunggu dia bener-bener pulih baru memberitahukannya!" ucap Fahri.


"Tidak perlu!" timpal Ayub.


"Maksud mas Ayub?"


"Saya rasa Argan juga sudah tau!" ucap Ayub.


Semua orang bingung dengan perkataan Ayub, dari mana Argan tau padahal Argan baru sadar hari ini dan Ares meninggal tadi malam.


"Apa mas Ayub memberi tahuanya?" tanya Sandi. Ayub menggeleng, membuat semua orang semakin bingung.


"Kalian gak usah khwatir dia anak yang kuat!" ucap Ayub lalu dia menatap Argan dan tersenyum.


"Kamu hebat nak!" ucap Ayub dalam hati.


...***...


Tiga hari berlalu keadaan Argan berangsur membaik, dia bahkan sudah bisa bangun dan beranjak. Kali ini dia sendirian, tidak ada yang menemaninya, dia celingak-celinguk mencari keluarganya, tapi mereka tak ada yang datang.


"Kemana mereka?" tanyanya dalam hati.


Tak lama terdengar suara gaduh di luar ruangan Argan, Argan langsung beranjak dan ingin menengok, namun tak lama pintu terbuka dan menampakan keluarganya.


Argan tersenyum, melihat keluarganya datang tapi lagi-lagi dia kecewa karena bundanya tak pernah ikut menengoknya, dia tau bundanya sedang sangat terluka karena kepergian ayahnya.


"Oh iya nih aku dapet titipan dari temen-temen sekelas, katanya maaf gak bisa jenguk soalnya kan lagi ujian!" Argan tersenyum dan mengangguk.


"Bilangin terima kasih buat mereka!" Marvel mengangguk.


"Bunda gak ikut?" tanya Argan.


Semua terdiam tak ada yang menjawab pertanyaan Argan. Argan menunduk padahal dia sangat merindukan bundanya.


"Bunda baik-baik aja kan?" tanya Argan lagi.


"Bunda baik-baik aja sayang!" ucap Inas tiba-tiba. Argan langsung menoleh, air matanya mengalir saat melihat Inas. Inas langsung menghampiri Argan dan memeluknya.


"Maafin bunda ya sayang!" Argan terisak sungguh dia sangat merindukan Inas, karena selama dia di rumah sakit, baru kali ini Inas menjenguknya. Bukan karena Inas tidak peduli tapi semenjak kepergian Ares Inas mengalami syok berat, hingga dia tidak mau keluar rumah dan hanya berdiam diri di kamar memikirkan Ares.


"Aku rindu sama bunda!" isak Argan.


"Bunda juga sayang, maafin bunda, karena mengabaikan kamu!" isak Inas lalu dia melepaskan pelukannya dan mencium kening dan pipi Argan.


Argan tersenyum dan menyeka air mata Inas. Semua orang ikut menangis karena terharu.


"Kamu anak yang hebat! bunda bangga sama kamu!" ucap Inas. Argan mengernyit tidak mengerti perkataan Inas.


Setelah pemeriksaan lebih lanjut dan kondisi Argan sudah pulih, hari ini dia di perbolehkan pulang. Argan senang begitu juga yang lainnya. Inas tak sedikit pun beranjak dari sisi Argan, dia terus memeluk putranya itu.


Akhirnya mereka pun pulang, kali ini Sandi yang membawa Argan sedangkan Shina dan Penty di rumah bersama Inka mereka mempersiapkan untuk menyambut Argan.


Tak lama Argan dan yang lainnya sampai rumah. Semua menyambut hangat kedatangan Argan.

__ADS_1


"Kakak!!" Inka langsung berlari dan memeluk Argan.


"Hai cantik! kakak kangen banget sama kamu!" ucap Argan.


"Dedek juga kangen sama kakak, dedek juga kangen sama ayah!" ucap Inka terisak.


Suasana senang itu berubah jadi suasana yang penuh kesedihan. Argan memeluk erat Inka dan mengecup kepala Inka. Lalu melepaskan pelukannya dan menatap adiknya.


"Inka anak yang solehah, doain ayah ya biar ayah bahagia di Surga!" ucap Argan sambil menyeka air mata Inka. Inka mengangguk.


Lalu memeluk Argan lagi, Inas pun memeluk kedua anaknya, dadanya terasa sesak melihat kedua anaknya begitu kehilangan ayahnya.


"Sudah sudah, kak Argan kan baru datang dari rumah sakit, biar kak Argan istirahat ya!" ucap Fahri.


Inka mengangguk, lalu Inas mengantar Argan ke kamar. Argan duduk di tepi ranjang begitu juga Inas.


"Bunda, apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Argan.


"Menurut kakak?" tanya Inas balik. Argan mengernyit bingung mendapat pertanyaan balik bundanya.


"Seingat aku, aku habis bertempur dan memusnahkan iblis itu bun, lalu ayah terkena serangan iblis itu hingga ayah tiada, terakhir aku melihat kakek, terus aku seperti berjalan di padang rumput bersama bunda dan yang lainnya, tapi kenapa aku bisa ada di rumah sakit?" tanya Argan. Inas menghela nafas.


"Saat perjalanan kita menuju rumah Reka kita semua mengalami kecelakaan, saat itu hanya tante Widia yang meninggal di tempat dan yang lainnya di rawat di rumah sakit, sampai akhirnya ayah tidak kuat dan meninggalkan kita!" ucap Inas. Membuat Argan semakin bingung.


"Apa aku bermimpi saat mengalahkan Lakhuds?" tanya Argan dalam hati.


"Tapi bun, aku benar-benar memusnahkan iblis itu!" ucap Argan.


"Bunda tau sayang, makanya bunda dan ayah bangga sama kamu!"


"Maksud bunda? tapi kata bunda kita kecelakaan saat kita mau ke rumah om Reka!"


"Saat kita berada di rumah Reka, bukan diri kita yang berada disana melainkan jiwa kita, jadi saat kakak melawan Lakhuds saat itu adalah jiwa kakak yang bertempur dengannya, sedangkan raga kakak terbaring di rumah sakit!" Argan terdiam dia masih belum paham dan bingung.


"Kita semua mengalami koma saat kecelakaan itu dan saat koma jiwa kita terdampar di rumah Reka, jadi saat kita di rumah Reka sebenarnya kita di dunia yang berbeda sayang, bukan dunia kita! Reka memang sengaja melakukan itu, agar dia bisa membunuh kita semua!" ucap Inas memperjelas.


"Maksud bunda kita berada di dunia gaib?" tanya Argan. Inas mengangguk.


"Tapi iblis itu benar-benar musnah kan bun?"


"Iya sayang! terima kasih karena kamu sudah berhasil memusnahkan iblis itu!"


"Tidak bun, semua ini berkat doa bunda dan ayah dan juga pertolongan dari Allah, aku gak melakukan apa pun!" Inas tersenyum dan memeluk Argan.


"Bunda dan ayah bangga sama kamu sayang!" Argan melepaskan pelukan Inas dan mengelus pipi Inas.


"Apa om Sandi dan yang lainnya ingat akan kejadian itu bun?" Inas menggeleng.


"Hanya kita berdua yang ingat, karena kakek membantu menghilangkan ingatan mereka akan kejadian itu, agar mereka tidak trauma!" Argan mengangguk mengerti.


"Sekarang bunda jangan sedih ya, bunda ikhlasin ayah biar ayah bahagia di sana, aku yang akan menggantikan ayah untuk jaga bunda dan dedek, sekarang kalian adalah tanggung jawab aku!" ucap Argan sambil menyeka air mata Inas yang mengalir deras. Inas mengangguk.


"Makasih sayang!" Argan tersenyum lalu mengecup kening Inas.


"Ya udah sekarang kakak istirahat ya!" Argan mengangguk.


"Bunda juga, aku gak mau lihat bunda menangis lagi, aku sayang sama bunda!"


"Bunda juga sayang sama kamu!" balas Inas. Lalu Inas membaringkan Argan dan menyelimutinya, lalu mengecup kening Argan.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2