Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Mencari jalan keluar


__ADS_3

Hari-hari telah di lewati Argan dan keluarganya. Penty pun sudah masuk sekolah disekolah Argan. Argan, Inas dan Ares sering membahas tentang Lakhuds dan darah suci.


Besok malam adalah malam mengerikannya Argan. Dia terlihat gelisah memikirkan itu. Inas menghampiri anaknya diruang tamu yang sedang mondar-mandir gelisah.


"Sayang ada apa? kenapa gelisah?" Argan menghampiri Inas dan duduk di sampingnya.


"Ayah mana bun?"


"Dikamar!"


"Aku mau ngomong sama ayah dan bunda."


"Ya udah kita bicara di kamar aja!" Argan mengangguk dan mengikuti bundanya ke kamar. Ares sedang duduk di sofa sambil mengerjakan beberapa pekerjaan. Ares menoleh saat ada yang masuk ke kamar.


"Bunda, kakak ada apa?"


"Kakak mau ngomong katanya yah!" Inas duduk di samping Ares. Argan pun ikut duduk.


"Ada apa kak?"


"Besok malam yah, bagaimana aku mencegahnya?" Inas dan Ares saling memandang dan terlihat raut khawatir.


"Sayang apa yang kamu rasain, saat itu terjadi?"


"Panas! rasanya seperti terbakar seluruh badanku bun, belum lagi tenggorokanku terasa panas, perih dan kering!" jawab Argan, membuat Inas dan Ares sedih tak tega melihat penderitaan anaknya.


"Dan hanya dengan meminum darah yang bisa menyembuhkan rasa panas itu!" lanjut Argan.


"Ya ampun sayang maafin ayah dan bunda ya ngebiarin kamu mengalami ini sendirian!" Argan tersenyum pada bundanya, entah sudah keberapa kali bundanya meminta maaf.


"Apa yang terjadi kalo kakak tidak meminum darah?" tanya Ares.


"Aku gak tau yah, aku belum pernah tidak meminum darah, karena rasanya tidak kuat jika tidak meminum darah, apa aku bakal mati kalo tidak meminum darah!"


"Argan!" lirih Inas.


"Jangan bilang begitu, bunda gak mau kamu ngomong kaya gitu!" omel Inas.


"Maaf bun!" ucap Argan tertunduk.


"Sabar bun, jangan marah!" ucap Ares sambil mengelus punggung istrinya.


"Kita harus segera mencari cara, ayah gak mau kalo kamu bergantung terus sama darah, ayah gak mau kamu jadi pembunuh nak!" ucap Ares.


Argan menunduk lebih dalam, memikirkan takdirnya yang sangat menyedihkan. Inas menghampiri Argan dan memeluknya.


"Sayang, ayah dan bunda akan selalu ada di samping kamu, kamu jangan khawatir ya nak!" Argan menangis, selama ini dia selalu ketakutan jika ayah dan bundanya tau, dia takut mereka akan membuangnya. Tapi ternyata mereka malah terus memberi dukungan dan membantunya.


"Argan takut bun, setiap malam itu tiba, Argan takut!" Hati Inas benar-benar teriris mendengar ucapan anaknya.


Inas menangis sambil memeluk Argan lalu Ares menghampiri anak dan istrinya dan memeluk mereka. Ares pun sama, sakit rasanya melihat anaknya yang harus mendapatkan karma akibat dari perbuatannya dulu.


Setelah puas menangis dan saling berperlukan, mereka melepaskan diri dari pelukannya. Inas menyeka air mata Argan dan mengusap wajah tampan anaknya itu.


"Kita pasti bisa melewati ini semua sayang!" Argan mengangguk lalu memeluk bundanya lagi. Ares menatap lirih sambil mengelus kepala Argan.


"Yah bun!" panggil Argan dengan suara yang serak karena habis menangis.


"Iya sayang!" sahut Inas sambil terus mengusap kepala Argan.


"Malam kemarin aku merasa ada yang aneh!"


"Aneh gimana?" tanya Inas dan Ares penasaran.


"Biasanya setiap malam itu tiba, aku pasti akan merasakan panas terbakar tapi malam bulan kemarin saat dedek memergoki aku, aku tidak meraskan panas disekujur tubuhku, aku hanya merasa gerah, tapi tenggorokanku tetap terasa panas dan perih!" tutur Argan.


Inas dan Ares mencerna ucapan Argan. "Apa sebelum itu, terjadi sesuatu?" tanya Ares.


Argan menggeleng ragu. Tapi dia seperti mengingat sesuatu. Dia berpikir sejenak, membuat Ares dan Inas penasaran.


"Oh iya aku juga merasa ada yang aneh dengan Shina!"


"Shina!" Ares dan Inas mengucapkannya serempak.

__ADS_1


"Apa hubungannya?" tanya Inas.


"Dulu saat pertama bertemu Shina, aku merasakan hawa panas saat didekat Shina dan akan terasa terbakar jika menyentuh dia, makanya dulu kami saling bermusuhan!"


Inas dan Ares masih mendengarkan sambil sesekali berpandangan.


"Tapi sekarang udah jatuh cinta kan?" ledek Inas mencairkan suasana yang tegang. Di luar dugaan Argan menganggukan kepalanya tanpa sadar.


Inas terkejut Argan mengangguk. "Beneran sayang kamu suka sama Shina?" tanya Inas lagi tak percaya.


Lalu Argan tersadar dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Inas hanya menggeleng melihat anaknya salah tingkah.


"Lalu Penty gimana?" celetuk Inas.


"Bunda!" ucap Argan semakin malu. Membuat Inas dan Ares tertawa melihat anaknya semakin salah tingkah.


"Lalu apa lagi yang aneh dengan Shina?" tanya Ares kembali ke topik pembicaraan.


"Biasanya jika aku melihat atau mencium darah baunya pasti sangat enak dan wangi!" jawab Argan membuat Inas meringis mendengar Argan begitu senang saat membicarakan bau darah.


"Lalu?" tanya Ares penasaran.


"Tapi darah Shina beda yah, bun, bau darah dia sangat amis dan anyir, aku sampe mual mencium baunya, padahal waktu itu hanya sedikit darah yang keluar dan waktu itu gak sengaja tanganku mengenai darahnya saat mengobatinya dan saat itu aku sudah tidak merasakan panas lagi jika didekat dia dan setelah itu aku tidak merasakan panas lagi saat malam itu tiba!" jawab Argan panjang lebar menjelaskan.


Inas dan Ares saling memandang dan mencerna ucapan Argan. Ares terdiam memikirkan ucapan Argan.


"Jangan-jangan Shina yang punya darah suci?" ucap Inas membuat Ares dan Argan menatapnya.


"Kenapa bunda bisa berpikir seperti itu?"


"Biasanya obat itu pahit tapi bisa menyembuhkan, kata kakak bau darah Shina sangat amis dan anyir, tapi beda dengan darah orang lain yang baunya terasa wangi dan nikmat dan kakak bilang kakak kepanasan saat kakak menyentuh Shina dan yang bisa menyembuhkan kakak hanya darah suci.."


Argan mengangguk, Ares masih mendengarkan istrinya.


"Bukankah dulu Lakhuds juga sama saat didekat bunda dia akan merasakan panas terbakar jika menyentuh bunda.." Inas menjeda ucapannya untuk mengambil nafas.


"Di dalam diri kakak mengalir darah Lakhuds dan itu membuat darah yang ada di dalam tubuh kakak sangat takut dengan darah suci, maka dari itu kakak akan merasakan panas saat didekat orang yang memiliki darah suci!"


Ares mengangguk mengerti begitu juga Argan.


Argan terlihat senang. "Belum pasti sayang, karena kita belum memastikannya!"


"Pertanyaanya sekarang jika memang Shina memiliki darah suci bagaimana Shina memiliki darah suci itu, sedangkan cuma bunda yang punya!" ucap Ares.


"Itu yang bunda pikirin yah!"


"Ayah kenal dengan pak Rizal?" tanya Argan tiba-tiba.


"Rizal siapa?" tanya Ares bingung tiba-tiba anaknya malah menanyakan orang.


"Dia ayahnya Shina, saat pertama bertemu dia juga aneh, saat melihat ku dia seperti melihat orang yang sudah lama dia kenal, padahal kami baru bertemu waktu itu!"


"Kakak tau nama lengkapnya? siapa tau ayah kenal!" Argan menggeleng.


"Sebaiknya kakak cari tau tentang Shina, semoga memang dia yang memiliki darah suci, biar kakak bisa sembuh!"


"Iya yah!"


"Bunda juga berdoa semoga memang Shina pemilik darah suci!"


"Aamiin.." ucap Ares dan Argan.


"Dan bunda juga berdoa, semoga Shina menjadi menantu bunda!"


"Am-" Argan menutup mulut karena hampir keceplosan bilang Aamiin, membuat Inas dan Ares tergelak melihat tingkah laku anaknya.


Argan hanya menyengir malu dan salah tingkah.


"Sayang bunda gak melarang kamu buat suka sama perempuan, tapi bunda pesen jangan pernah sakitin mereka!"


"Pacaran boleh bun?" celetuk Argan lagi-lagi dia menutup mulut karena keceplosan dan membuat Inas dan Ares tergelak lagi.


"Udah ahh aku mau tidur!" ucap Argan beranjak dengan raut yang kesal campur malu, lalu dia pun keluar dan meninggalkan kedua orang tuanya yang masih tertawa meledeknya.

__ADS_1


Setelah Argan keluar mereka berhenti tertawa. Ares langsung mendekat ke Inas dan memeluk istrinya itu. Ares melepaskan pelukannya dan menatap istrinya sambil mengelus pipi istrinya.


"Apa kita akan punya cucu?" tanya Ares.


Inas tertawa. "Anak kita masih sekolah ayah! emangnya dia akan langsung menikah!" jawab Inas.


"Apa kita sudah tua ya bun?"


"Ihh ayah suka gak nyadar!" ledek Inas membuat Ares gemas dan menggelitiki istrinya.


"Hahaha.. ampun yah geli!" Inas terbahak karena merasakan geli. Lalu Ares berhenti menggelitiki istrinya.


"Ayah kangen!" ucap Ares dengan nada yang menggoda sambil menempelkan keningnya di kening Inas. Inas hanya berdecak sebal, karena sudah pasti suaminya itu minta jatah.


Ares langsung menyambar bibir istrinya. Inas pun membalas ******* bibir suaminya. Beberapa saat mereka menikmati ciuman yang awalnya lembut dan lama kelamaan semakin bergairah.


Ares melepaskan pagutan bibir mereka untuk memberi ruang agar Inas bernafas. Lalu Ares melanjutkannya lagi mencium Inas, kali ini dia menggendong Inas ke kasurnya untuk melanjutkan ke adegan berikutnya.


Argan kembali ke kamarnya tapi dia terkejut ada Penty yang sedang terbaring di kasurnya. Penty menatap Argan yang masuk ke kamar.


"Kamu dari mana? aku tungguin kamu!"


Argan duduk di samping Penty yang sedang berbaring. Penty pun bangkit dan ikut duduk.


"Ada apa?" Argan malah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan. Penty menunduk.


"Apa kamu suka sama Shina?"


Argan terkejut mendengar pertanyaan Penty. "Maksud kamu?" Penty menatap Argan.


Penty menggeleng. "Tidak apa, lupakan!" ucapnya sambil menghela nafas. Argan menatap Penty dan menggenggam tangan Penty.


"Peniti! aku.." Argan menjeda ucapannya karena ragu. Penty menunggu lanjutan ucapan Argan tapi Argan malah terdiam.


"Aku kangen sama papa!" ucap Penty tiba-tiba Argan menoleh, Penty sudah terisak sambil menundukan kepalanya.


Argan mengangkat wajah Penty agar menatapnya lalu dia menyeka air mata penty.


"Besok kita ketemu papa Sakti ya? aku juga kangen sama papa!" ucap Argan menenangkan. Air mata Penty mengalir deras.


"Hey, jangan menangis!" Argan panik Penty malah semakin terisak. Lalu Argan memeluk Penty.


"Sudah jangan menangis, aku janji besok kita akan jenguk papa!" Argan mengelus kepala Penty, sedangkan Penty memeluk tubuh Argan erat.


Setelah beberapa saat Penty merasa tenang. Lalu dia melepaskan pelukannya dan menatap Argan.


"Makasih!" Argan mengangguk dan tersenyum. Lalu dia mengusap pipi Penty.


"Kalo kamu kangen sama papa, kenapa kamu tadi tanya soal Shina?" Penty berdecak kesal.


"Udah ah aku mau ke kamar!" ucap Penty beranjak karena malas membahas Shina. Tapi Argan menahannya dan menarik tangan Penty hingga dia terjatuh ke dekat Argan. Penty tersentak jantungnya berdegup sangat kencang, saat menatap wajah Argan yang sangat dekat.


"Kamu cemburu?" Wajah Penty memerah saat Argan bertanya seperti itu.


"Enggak! siapa yang cemburu?" kilah Penty sambil mengalihkan pandangannya.


Argan tersenyum dia tau Penty cemburu sama Shina dan dia juga tau kalo Shina sering cemburu sama Penty.


"Pilihan yang sulit!" gumamnya dalam hati.


(Author : dua-duanya aja gan!)


(Argan : bener juga lu thor, pinter nih Author 😁)


(Author : huhh.. maunya kamu itu mah! 😞)


(Argan : 😂😂😂😂 lah kan tadi kamu yang ngasih saran thor)


(Author : udah lah tong sekolah aja yang bener jangan mikir cewek mulu)


(Argan : nyebelin lu thor, 😒)


.......

__ADS_1


.......


__ADS_2