Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Idola Sekolah


__ADS_3

Pagi itu Argan merasa lelah entah kenapa dia merasa malas untuk berangkat sekolah, dia ingin sekali merebahkan tubuhnya di kasur. Padahal dia tidak habis ngapa-ngapain.


Argan berjalan gontai di koridor sekolah dengan langkah yang lesu.


"Argan!" panggil seseorang. Argan pun menoleh dan ternyata itu Silvi kakak kelasnya.


"Iya ada apa kak?" tanya Argan saat Silvi menghampirinya.


"Gak usah panggil kakak kali, panggil aja Silvi!" ucapnya tersenyum malu. Argan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Hm.. iya ada apa sil?"


"Nih buat kamu!" Silvi menyodorkan sesuatu. Argan mengernyit bingung.


"Ini apa kak? eh maksudnya Sil!"


"Bekal!" Argan semakin bingung.


"Aku buatin bekal buat kamu, di makan ya!" ucap Silvi sambil tertunduk malu lalu meletakkan bekal itu ketangan Argan.


"Eh iya makasih ya!" Argan bingung kenapa tiba-tiba Silvi memberinya bekal tapi dia tidak tega untuk menolak. Silvi mengangguk dan tersipu karena Argan mau menerima pemberiannya lalu dia berlalu ke kelasnya.


Ya semua siswi di sekolah itu menyukai Argan karena ketampanannya, termasuk Silvi. Banyak sekali siswi yang mencari perhatian Argan. Karena Argan selalu merespon baik mereka, membuat mereka semakin menyukai Argan karena keramahannya. Bukan hanya wajahnya saja yang tampan, hatinya pun setampan wajahnya semakin membuat siswi disana klepek-klepek sama Argan. Bahkan mereka menyebut Argan sebagai Dewa Sekolah.


"Ehh liat tuh si Silvi kecentilan banget sama Dewa gue!"


"Iya kecentilan banget sok cantik banget dia."


"Argan gak cocok sama Silvi cocoknya sama gue!"


"Argan tuh masa depan gue, calon ayah dari anak-anak gue!"


"Idihh kepedean banget lo, dia tuh punya gue, gak pantes buat lo!"


Itulah bisik para siswi penggemar Argan yang saling memperebutkan Argan. Melihat Silvi mendekati Argan membuat mereka kesal. Setiap ada yang deketin Argan, para Siswi pasti akan merasa kesal dan akan menatap sinis pada siswi itu.


"Cihh cowok sinting kaya gitu apa hebatnya sih!" gerutu Shina yang emang sangat membenci Argan. Dia selalu merasa kesal jika mendengar para siswi memuji-muji Argan. Bahkan selalu pada caper.


"Suka gak sadar, sendirinya juga kecentilan!" gerutu Shina lagi yang kebetulan sedang duduk tak jauh dari para Siswi yang sedang menggosipi Argan dan Silvi.


Argan masuk ke kelas dan langsung duduk dikursinya, dia benar-benar merasa lelah dan ngantuk, dia pun menenggelamkan wajahnya di antara kedua tangan yang dia lipat di meja. Mumpung belum bel dia ingin memejamkan matanya sebentar.


Tapi baru saja dia memejamkan mata, sudah ada yang mengganggunya, siapa lagi kalo bukan para penggemarnya. Argan terkadang pusing meladeni para Siswi itu, tapi dia juga tidak tega jika harus mengabaikan mereka.


Seperti biasa para siswi itu sedang caper sama Argan dan berebut minta di ajarin sama Argan karena selain tampan Argan pun pintar. Ada aja tingkah mereka untuk mencari perhatian Argan. Membuat para Siswa lain kesal sama Argan.


Marvel yang baru datang pun menggelengkan kepalanya saat lihat Argan sedang di kerumuni para cewek. Semenjak Argan masuk SMA dia jadi idola sekolah disana. Banyak para siswi yang halu jadi pacar Argan, apa lagi Argan termasuk orang yang ramah semakin membuat dia jadi idola para siswi.


Marvel pun menghampiri Argan. "Woyy minggir gue mau duduk!" pekik Marvel.


"Apa sih lo Vel ganggu gue aja!" sahut Clara sebal.


"Tau nih kita lagi minta di ajarin Argan!" balas sheril.


"Cihh dasar modus!" ucap Marvel sebal. Dia tau banget para cewek hanya modus dan caper sama Argan.

__ADS_1


Tak lama bel masuk pun berbunyi, siswi yang sedang duduk dekat Argan pun kembali ke kursinya, tentu saja dengan raut wajah kecewa karena mengganggu kesempatan mereka dekat dengan Argan.


"Gan elo tuh pake pelet apa sih? sampe cewek satu sekolah di sini klepek-klepek sama elo!"


Argan hanya mengendikan bahunya, dia sendiri pun tidak tau kenapa para cewek di sekolah itu begitu menyukainya. Tidak seperti waktu SMP meski Argan sering denger banyak juga yang suka sama dia, tapi tidak seperti sekarang ceweknya pada bar-bar.


Pelajaran pun dimulai dengan baik, meski Argan sedang tidak semangat dia mengikuti pelajaran dengan baik, karena kali ini tidak ada pengganggu yaitu Tamara. Entahlah sedang kemana hantu rese itu.


Pelajaran pertama, kedua dan ketiga selesai tak terasa bel istirahat berbunyi. Semua murid berhamburan keluar kelas untuk menghilangkan penat.


"Gan ke kantin yuk!" ajak Marvel.


"Gue ada bekel, elo aja sendiri!"


"Buset dah sejak kapan elo bawa bekel, kaya anak TK aja!" ledek Marvel.


"Rese lo! ini di kasih Silvi, elo mau?"


"Silvi mana?" tanya Marvel mengernyit.


"Kakak kelas kita kalo gak salah kelas XI A!" Argan pun membuka bekal yang di kasih Silvi ternyata isinya Sandwich dengan emoticon cium. Argan meringis menatap bekal itu.


"Ck.. ck.. ck elo pake susuk apaan sih gan? elo bisa bikin cewek disini klepek-klpeek sama elo!" Argan hanya menggeleng sambil tersenyum kecut.


"Gak usah rese deh lo, cepet nih makan! ini kebanyakan!" Argan pun menyodorkan bekal itu. Marvel pun mengambil sandwich itu dan ikut memakannya.


"Enak ya jadi elo, bisa makan enak! kalo tiap hari kaya gini gue happy, kecipratan gue." ucap Marvel dengan mulut penuh dengan makanan. Argan hanya menggeleng dengan kelakuan temannya itu.


Sementara itu Silvi tersenyum bahagia karena bekal yang dia kasih di makan Argan. Dia sempat mengintip ke kelas Argan karena penasaran apa Argan memakan bekal yang dia kasih apa tidak. Dan ternyata Argan memakannya.


"Hehh lo jadi cewek gak usah kecentilan!" sentak Aura sambil memegangi kerah baju Silvi.


"Sok-sok'an ngasih bekal sama Argan!" Aura kesal melihat Silvi memberi bekal pada Argan. Tentu saja dia kesal karena dia juga sangat menyukai Argan.


"Ehh denger ya lo, gak usah deketin Argan lagi!" sentak Aura sambil menjambak rambut Silvi. Silvi pun kesal dan ikut menjambak rambut Aura.


"Elo siapa ngatur-ngatur gue, elo gak ada hak ngelarang gue!" sentak Silvi sambil menjambak rambut Aura.


"Sialan lo!" pekik Aura.


Akhirnya mereka berdua pun saling menjambak dan saling memperebutkan Argan. Kedua teman Aura membantu Aura mereka memegangi tangan Silvi.


Aura tersenyum. "Elo jangan macem-macem sama gue!" ucap Aura lalu menampar pipi Silvi sampai pipi Silvi terlihat merah. Kedua teman Aura masih memegangi tangan Silvi. Lalu Aura menonjok perut Silvi.


"Aaarggh.." erang Silvi.


"Awas lo ya kalo elo masih deket-deket sama Argan, habis lo!" ucap Aura sambil menjambak rambut Silvi lalu menghempaskannya. Lalu mereka meninggalkan Silvi yang sedang terduduk meringis kesakitan.


...***...


Bel pulang berbunyi sorak bahagia terdengar dari para murid. Satu persatu mereka meninggalkan kelas termasuk Argan dan Marvel. Mereka melangkah bersama keluar sekolah.


"Gan gue duluan ya!" Marvel pamit dengan membawa motornya karena arah jalan rumah mereka berbeda. Argan mengangguk, sedangkan Argan menunggu ojek online yang sudah dia pesan. Argan punya motor tapi jalan kerumah dia terkadang ada polisi, tentu saja dia tidak berani karena dia belum punya SIM.


Argan menunggu ojek di depan gerbang sekolah, terlihat semua murid berhamburan keluar sekolah, ada yang dijemput, ada yang naik angkot, ada juga yang masih menunggu jemputan, termasuk Shina dia masih menunggu jemputannya. Banyak sekali para siswi yang menyapa Argan dan setiap Argan membalas dengan senyuman, mereka akan merasa senang dan histeris. Shina yang sedang berdiri tak jauh dari Argan hanya memutar bola matanya malas.

__ADS_1


"Cihh.." dengusnya sebal. Beberapa saat menunggu semua murid sepertinya sudah pada pulang hanya tinggal beberapa saja. Ojek Argan belum juga datang. Tak lama jemputan Shina datang dan papanya Shina keluar dari mobil. Shina langsung masuk ke mobil.


Namun papanya Shina terpaku saat melihat Argan yang sedang berdiri dekat Shina tadi.


"Anak itu juga sekolah disini!" gumamnya. Shina yang melihat papanya terdiam merasa bingung.


"Papa!!" panggilnya. Namun papanya masih terpaku menatap Argan. Shina pun mengikuti arah pandang papanya.


"Ngapain papa ngeliatin Dewa sinting itu?" jika para siswi lain memanggil Argan Dewa Sekolah lain dengan Shina dia menyebutnya Dewa sinting.


Argan yang merasa diperhatikan pun menoleh dan dia ikut terpaku saat melihat papa Shina. Dia mengernyit saat melihat papa Shina.


Merasa di tatap balik papa Shina mengalihkan pandangannya dan segera masuk ke mobil lalu melajukan mobilnya. Argan semakin bingung dengan sosok pria itu, siapa sebenarnya dia?


"Anak sama bapak, sama-sama aneh!" gumam Argan.


Tak lama ojek pesanan Argan datang. "Mas Argan ya?" Argan mengangguk dan bergegas naik ke motor.


Di tengah perjalanan Argan melihat kerumunan yang sedang mengerumuni kecelakaan. Argan sempat melihat korban kecelakaan itu meski sekilas, Argan menenggak ludah saat melihat darah berceceran di aspal.


"Wangi.. manis.." gumamnya sambil mengendus menghirup aroma bau darah yang menurutnya sangat wangi. Untung saja ojeknya melaju kalo berhenti bisa bahaya, Argan tidak bisa mengendalikan diri.


Tak lama Argan sampai rumahnya, setelah dia memberikan ongkos, dia bergegas masuk rumah. Tapi ternyata ada Reka yang sedang duduk di ruang tamu.


"Om!"


"Hey boy, baru pulang?" Argan mengangguk sambil menyalami Reka.


"Dari tadi om?"


"Sudah cukup lama boy, ini bentar lagi om pulang!" Argan duduk disamping Reka.


"Kenapa kok lemes?"


Argan hanya menggeleng. "Capek om!"


Reka tersenyum saat melihat Argan terkulai lemes, dia menatap Argan yang sedang memejamkan matanya sambil bersender di sofa.


"Om mau ketemu ayah?" tanya Argan sambil membuka mata. Reka yang sedang fokus menatapnya mengalihkan pandangannya.


"Gak juga om lagi pengen main aja, kangen sama si dedek cantik!"


"Lah si dedek nya mana?"


"Lagi bantuin bundanya tuh!" Argan mengangguk lalu dia beranjak.


"Om aku ke kamar dulu ya!"


"Iya kamu istirahat sana!" Saat Argan melangkah kedalam terlihat Reka semakin mengembangkan senyumnya.


"Anak malang!" gumamnya tersenyum Smirk.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2