Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Ares bertemu Fahri 1


__ADS_3

Argan segera di bawa keruang IGD untuk mendapatkan pertolongan. Inas tidak berhenti menangis melihat keadaan anaknya yang sangat menderita itu.


Ares terus menenangkan istrinya. "Kita doain Argan ya sayang!" Inas mengangguk. Ares mengelus kepala istrinya dan mengecup pucuk kepala Inas.


Argan masih di periksa, Ares dan Inas masih harap-harap cemas menunggu.


"Sayang kamu udah telpon Penty?"


"Udah yah, bunda juga udah bilang biar mereka gak sekolah dulu!" Ares mengangguk lalu memeluk Inas lagi. Mata Inas sudah bengkak karena terus menangis dia sampai kelelahan dan tertidur di pelukan Ares, apa lagi semalam dia tidak tidur sama sekali.


Ares terus mengelus kepala Inas. Tak lama dokter pun keluar membuat Inas terbangun karena tidurnya belum terlalu lelap. Ares dan Inas bangkit.


"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Ares.


"Anak bapak butuh transfusi darah, saya tidak mengerti bagaimana anak bapak masih bisa selamat dengan keadaan darah yang hanya beberapa persen ditubuhnya, bahkan dia hampir tidak memiliki darah!" ucap dokter terheran-heran.


Inas dan Ares saling berpandangan, jadi jika Argan tidak meminum darah dia akan kehilangan darah dalam tubuhnya.


"Apa di antara bapak dan ibu ada yang memiliki darah ya sama?"


"Saya dok!" jawab Ares.


"Saya juga bisa dok!" sahut Inas.


"Gak sayang biar ayah aja!" Inas menggeleng.


"Bunda juga mau menolong anak kita!"


"Jika ibu dan bapak bisa mendonorkan juga gak apa-apa, itu lebih bagus karena kita membutuhkan banyak darah!" ucap Dokter.


Inas dan Ares pun mengangguk. Setelah selesai mengambil darah. Inas dan Ares menunggu Argan untuk di pindahkan ke ruang perawatan.


Setelah di pindahkan Inas duduk di samping Argan, Inas menatap lirih Argan yang sedang terbaring lemah dengan tubuh yang sangat pucat pasi. Inas tak henti-hentinya menangis.


"Sayang!" panggil Ares.


"Ayah pulang dulu ya, ayah mau lihat Penty dan dedek!"


Inas mengangguk. "Iya yah!"


Ares mengecup kening Inas sebelum pergi. Ares melangkah keluar dan segera untuk pulang, takut membuat Penty dan Inka cemas, namun tak sengaja Ares menabrak seseorang karena tidak memperhatikan jalan sampai barang bawaan orang itu jatuh.


"Maaf pak saya tidak sengaja!" ucap Ares sambil membantu membereskan barang yang jatuh.


"Gak apa-apa saya juga kurang hati-hati!" ucap Orang itu saat mata mereka bertemu orang itu terkejut.


"Mas Ares!" ucapnya. Ares bingung karena dia tidak mengenal orang yang didepannya tapi kenapa dia mengenal dirinya.


"Saya Fahri mas!" ucapnya.


"Fahri?" Ares mencoba mengingat.


"Dulu mas dan kekasih mas pernah menolong istri saya dirumah sakit Pelita, mas ingat?"


Ares masih berfikir, tak lama dia mengingatnya.


"Ya ampun mas Fahri! iya saya inget, maaf mas saya lupa tadi!"


"Gak apa-apa mas! gimana kabarnya?"


"Alhamdulillah baik, mas sendiri?"


"Ya beginilah mas seperti yang mas lihat!" jawab Fahri sambil tertawa kecil.


"Ada yang sakit mas Fahri?" Fahri mengangguk.


"Anak saya mas! mas sendiri siapa yang sakit?"


"Sama anak saya juga!"


"Ya ampun kok bisa barengan!"


"Oh iya mas Fahri maaf banget nih, saya harus pergi dulu nanti kita lanjut lagi, saya harus pulang dulu!"


"Iya mas Ares silahkan!"


"Oh iya ruangan anak mas Fahri di mana? nanti saya sama istri saya sekalian jenguk anak mas Fahri!"


"Ruang melati kelas VIP mas!"


"Baiklah nanti saya kesana, kalo gitu saya permisi dulu!" Ares dan Fahri pun berpamitan. Ares segera pulang. Fahri menatap kepergian Ares.


"Akhirnya saya bisa menemukannya!" ucapnya.


Lalu dia pun kembali ke ruangan anaknya yang sedang dirawat.


...***...

__ADS_1


Penty dan Inka terlihat cemas karena mendengar kabar dari Inas kalo Argan masuk ke rumah sakit.


"Kak Penty, kakak kenapa ya?"


"Kakak juga gak tau dek, kita tunggu aja dan doain kak Argan semoga kak Argan baik-baik aja!" jawab Penty menenangkan Inka. Padahal dia pun sangat cemas dengan keadaan Argan.


Inka mengangguk lalu memeluk Penty. Inka takut karena dia tau tadi malam adalah malam kakaknya meminum darah. Dia takut terjadi sesuatu sama kakaknya.


Tak lama terdengar suara mobil. "Itu mungkin ayah dek!"


"Iya kak!" Mereka pun segera keluar namun bukan Ares yang datang melainkan Sandi.


"Om Sandi!" Penty langsung memeluk Sandi karena merindukan omnya.


"Bagaimana kabarmu sayang?"


"Baik om!"


"Hai cantik!" sapanya pada Inka.


"Hai om jelek!" ledek Inka membuat Sandi memonyongkan bibirnya. Inka langsung memeluk Sandi.


"Gak kok, om itu paling ganteng!" ucap Inka.


"Makasih cantik!"


Mereka pun masuk kedalam. "Gimana masalah om sudah beres?"


"Udah, untung aja ayah Ares bantuin om, jadi om terbebas dari tuduhan!"


"Syukurlah!" ucap Penty lega.


"Loh yang lain kemana? kok sepi!"


Wajah Penty dan Inka langsung sedih. "Ada apa? apa yang terjadi?" tanya Sandi panik.


"Kak Argan masuk rumah sakit, ayah dan bunda lagi jagain kakak om!"


"Ya ampun Argan sakit apa dek?" Inka menggeleng karena memang tidak tau.


Tak lama terdengar suara mobil lagi. "Mungkin itu ayah?" Inka langsung beranjak keluar dan benar ternyata itu Ares.


"Ayah!" Inka berlari lalu memeluk ayahnya.


"Ayah kakak sakit apa?"


"Sandi!" sapa Ares saat melihat Sandi.


"Kak Ares."


"Kimana beres?" Sandi mengangguk.


"Makasih kak udah bantuin aku!"


Ares tersenyum. "Kamu juga adikku san!"


"Argan kenapa kak?" Ares terdiam dia bingung harus jawab apa jika ada yang menanyakan keadaan Argan.


"Apa keadaan Argan buruk?" tanya Sandi khawatir karena melihat Ares terdiam.


"Alhamdulillah.. sudah baik San! hanya perlu perawatan aja!"


"Oh iya san karena ada kamu saya titip Inka ya, saya harus kembali ke rumah sakit kasian Inas sendiri!"


"Ya udah kita kesana bareng aja kak, aku juga ingin menjenguk Argan, biar nanti Penty dan Inka pulang bareng aku!"


Ares mengangguk. "Ya udah saya mau beresin baju Inas dan Argan dulu!" Sandi mengangguk.


Setelah selesai mereka berangkat ke rumah sakit. Sandi membawa mobil bersama Penty, Ares bersama Inka.


"Ayah!"


"Iya sayang!"


"Kakak gigit orang lagi?" tanya Inka.


"Enggak sayang, kakak gak gigit orang!" jawab Ares.


"Jadi karena kakak gak gigit orang, kakak masuk rumah sakit?" Ares terdiam dia tidak mau semakin membuat anak bungsunya khawatir.


Tak lama mereka pun sampai ke rumah sakit. Ares dan yang lainnya masuk menuju ruangan Argan.


Sampai di ruangan Argan Inas sedang terlelap karena kelelahan. Terlihat kelopak mata Inas bengkak karena banyak menangis dan juga begadang.


Semua orang pun masuk perlahan agar Inas tidak terbangun. Namun karena Inas tak bisa tidur dengan nyenyak dia mendengar langkah kaki mereka.


"Ayah!" panggil Inas.

__ADS_1


"Bunda kok bangun?" Ares menghampiri Istrinya dia belum menyadari kehadiran Sandi dan yang lainnya sehingga Inas memeluk Ares manja.


"Bunda gak bisa tidur sayang! baru terlelap tapi bunda denger banyak suara langkah kaki orang!"


"Iya tuh liat!" ucap Ares sambil pandangannya mengarah ke Sandi dan yang lainnya. Membuat Inas malu, karena dia bersikap seperti itu hanya saat mereka berdua saja. Sandi hanya mengulas senyum.


"Sayang!" Inas langsung memeluk Inka.


"Bunda!" ucap Inka manja.


"San, kapan datang? gimana udah selesai?" tanya Inas.


"Tadi pagi kak, Alhamdulillah kak aku udah bebas!"


"Syukurlah kalo gitu san!" Sandi mengangguk.


Setelah cukup lama mereka di rumah sakit. Ares menyuruh Sandi pulang bersama Inka dan Penty.


"San tolong besok antar Inka dan Penty ke sekolah ya!"


"Siap kak, serahin semuanya sama aku!"


"Terima kasih san!"


Mereka pun bersiap pulang. "Kalo nanti kalian mau makan pesen aja ya san!"


"Iya kak!" Sandi dan Inka berpamitan. Tapi Penty masih terdiam menatap Argan. Ares dan yang lainnya saling berpandangan melihat Penty.


"Apa kita keluar dulu yah!" bisik Inas. Ares mengangguk.


"Pen, kalo kamu liat Argan dulu silahkan!" Ares dan yang lainnya pun keluar.


Sedari tadi Penty menahan air matanya untuk tidak tumpah melihat keadaan Argan yang benar-benar seperti mayat. Penty duduk di kursi di samping tempat Argan berbaring, lalu menggenggam tangan Argan.


"Aku sayang sama kamu! aku gak mau liat kamu sakit kaya gini, aku mohon cepet sembuh!" isak Penty dia tidak bisa menahan air matanya lagi. Dia menundukkan kepalanya sambil sesekali menyeka air matanya. Tiba-tiba ada sebuah tangan memegang kepalanya. Penty menoleh.


"Argan!" Penty langsung memeluk Argan saat melihat Argan membuka mata.


"Kenapa menangis?" tanya Argan dengan suara yang lemah. Darah yang masuk ketubuh Argan membuat sedikit tenaganya pulih sehingga dia bisa membuka mata.


Penty mengangkat kepalanya dan menatap Argan tapi dia masih memeluk Argan.


"Kamu yang udah buat aku nangis! kamu udah buat aku khawatir, kenapa kamu jadi kaya gini?" Argan tersenyum lalu mengusap air mata Penty.


"Maaf!" ucap Argan dengan suara yang sangat pelan.


Hatinya menghangat ketika melihat Penty. Dia sangat senang dan nyaman saat di dekat Penty. Di dekat Shina dia juga merasa senang dan nyaman, tapi ada perasaan yang berbeda pada Shina. Entahlah Argan masih bingung dengan perasaannya pada dua gadis cantik itu.


"Cepet sembuh! aku pengen berangkat sekolah dan pulang bareng lagi, aku pengen makan es krim lagi aku pengen main di kebun teh lagi bareng kamu!" ucap Penty masih dengan posisi yang sama.


Argan mengangguk pelan sambil tersenyum. Lalu dia memegang tengkuk Penty dan mendorong kepala Penty ke arahnya.


Cup


Argan mengecup kening Penty. Membuat Penty blushing, wajahnya memerah seperti kepiting rebus dan jantungnya berdetak sangat kencang.


"Jangan nangis lagi!" bisik Argan. Penty tak berkata apa-apa dia benar-benar malu dengan perlakuan Argan, lagi sakit aja masih bisa bikin Penty hampir jantungan.


"Aku pulang!" ucap Penty sambil melepaskan pelukannya. Dengan wajah yang dia tundukan karena masih malu.


Argan mengangguk, lalu penty keluar kamar dia benar-benar di buat malu oleh Argan. Untung saja cuma ada mereka berdua.


Argan hanya tersenyum melihat wajah Penty yang memerah. Dia ingin sekali bangkit dan memeluk Penty, tapi tubuhnya sangat lemah bahkan tenggorokannya masih terasa sakit, perih dan juga haus. Tapi dia sudah tidak merasakan panas lagi di tubuhnya.


Tapi demi membuat Penty tidak khawatir Argan berusaha menahan rasa sakit itu. Belum lagi bau darah yang menggantung di atas tiang tempat Infus. Membuat Argan terus menelan ludah karena baunya sangat nikmat dan menyegarkan.


Argan menatap darah itu, tangannya berusaha meraih kantong darah itu tapi tubuhnya sangat lemah.


Akhirnya Argan mencabut jarum yang menancap di lengannya.


"Aaahkk." pekiknya.


Tak lama Inas masuk. "Ya ampun sayang!"


Inas menghampiri Argan. "Kenapa di cabut sayang?"


"Haus!" jawab Argan dengan suara yang lemah.


Inas mengambil minum tapi Argan menggeleng. Lalu mata Argan tertuju pada darah yang tergantung. Inas mengerti anaknya ingin minum darah itu.


"Tidak sayang kamu harus bisa menahannya, bunda gak mau kamu ketergantungan dengan darah!"


"Haus!" Argan hanya berkata haus, tenggorokannya benar-benar sangat perih dan kering dia benar-benar menginginkan darah untuk menyegarkan tenggorokkannya.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2