Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Rumah Kakek


__ADS_3

Sudah beberapa hari Inas berada dirumah sakit. Dia masih terlihat lemah. Dia pun sudah sadar dan mengetahui semua yang terjadi dengannya dan keluarganya. Dia sudah tidak merasa ketakutan lagi saat melihat Ares, justru dia sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan keluarga kecilnya.


Sedangkan Sakti tadinya dia mau dilaporkan ke polisi oleh Ares, tapi Inas melarangnya karena tidak tega dengan Penty. Meski berat Ares menuruti permintaan Inas.


"Sayang cepet sembuh ya, kami sangat merindukan kehadiran kamu dirumah!" Ares menggenggam tangan Inas dan mengecupnya berkali-kali. Inas tersenyum dan mengangguk.


Setelah seminggu lebih Inas dirawat akhirnya Inas diperbolehkan pulang. Argan dan Inka pun ikut menjemput bundanya.


"Yeee akhirnya bunda pulang!" teriak Inka kegirangan sambil memeluk Inas. Inas dan Ares tersenyum melihat kebahagiaan anaknya.


"Iya Alhamdulillah bunda akhirnya pulang, Allah udah ngabulin doa-doa kita ya dek!" ucap Argan. Inka mengangguk dan masih dalam pelukan Inas.


Akhirnya mereka berempat sudah dalam perjalanan senyum bahagia terpancar dari raut wajahnya mereka.


Setelah beberapa saat mereka sampai dirumah. Inas terlihat sangat bahagia dan sangat merindukan rumah dan keluarganya.


Dia menatap lirih rumahnya. "Kenapa sayang?" tanya Ares saat melihat istrinya meneteskan air mata.


"Aku bahagia kak, aku bisa kembali kerumah ini bersama kamu dan anak-anak kita!"


Ares menatap istrinya dia mengelus kedua pipi Inas dan menyeka air matanya.


"Saya juga bahagia bisa berkumpul sama kamu dan keluarga kita, kalian adalah hidup saya jangan pernah pergi dari hidup saya!" Inas memeluk Ares dan menangis dalam pelukannya.


Argan dan Inka yang melihat kedua orang tuanya berpelukan, mereka ikut berpelukan bersama orang tuanya. Mereka terlihat sangat bahagia.


...***...


Saat Inas sedang duduk di sofa kamarnya Ares menghampiri dan memeluk Inas.


"Bunda!"


"Iya yah." Inas berbalik menghadap suaminya.


"Maafin ayah, ayah udah nyakitin bunda!" ucap Ares sedih sambil membelai pipi istrinya. Sudah kesekian kalinya Ares meminta maaf karena terus merasa bersalah atas apa yang dia lakukan meski semua diluar kesadarannya.


"Kenapa ayah minta maaf, ini bukan salah ayah!" Inas mengelus pipi Ares.


Ares mencium kening Inas, pipi dan bibir Inas.


"Ayah sangat merindukan bunda!" lirih Ares. Lalu Ares memeluk istrinya.


"Ayah takut bunda pergi ninggalin ayah dan anak-anak!" Inas tersenyum mendengar ucapan suaminya.


"Bunda janji kita akan selalu bersama-sama!"


"Bun, ayah udah putuskan kita akan pindah dari sini!" Inas yang mendengar itu langsung melepaskan pelukannya.


"Kenapa yah?"


"Ayah gak mau tinggal disini lagi, terlalu banyak kenangan menyakitkan disini, kita akan pindah ke Bandung!"


"Bunda terserah ayah, bunda akan ikut kemana pun ayah pergi, karena ayah adalah hidup bunda dan rumah bunda!" ucap Inas sambil mengecup bibir Ares.


Ares tersenyum. "Terima kasih sayang!"


Sebenarnya Inas tau suaminya minta pindah karena dia takut Sakti akan mengganggunya lagi.


...***...


Bandung.


Setelah diskusi panjang akhirnya mereka sepakat akan menempati rumah kakeknya Inas, meski Ares sudah menolak karena akan membeli rumah untuk keluarganya. Tapi lagi-lagi dia tidak bisa menolak permintaan istrinya.


Hari ini mereka sudah bersiap-siap untuk membereskan tempat tinggal baru mereka. Argan dan Inka membereskan kamar mereka masing-masing.


Argan yang sedang sibuk membereskan kamarnya tiba-tiba ada sesuatu yang menimpuk kepalanya, tapi saat dia menoleh tidak ada siapa pun. Akhirnya Argan mengabaikannya

__ADS_1


Lalu Argan melanjutkan aktivitasnya dan lagi-lagi ada sesuatu yang menimpuknya.


"Dedek jangan iseng deh!" Argan mengira itu adalah adiknya. Padahal adiknya juga sedang beres-beres dikamarnya.


Argan menengok ke sekeliling tapi tak ditemui juga adiknya, akhirnya dia melanjutkan aktivitasnya. Dan kali ini ada yang mendorongnya hingga Argan tersungkur ke kasur.


"Inka jangan iseng!" teriak Argan kesal tapi lagi-lagi tidak ada siapa pun. Akhirnya Argan keluar kamar dia melihat kedua orang tuanya dan beberapa orang sedang membereskan rumah. Dan dia juga melihat adiknya keluar dari kamarnya.


Argan mengernyit adiknya keluar dari kamarnya.


"Dek!"


"Apa kak?" Inka menghampiri kakaknya yang sedang berdiri didepan pintu kamar.


"Tadi dedek gangguin kakak ya?" Inka mengernyit bingung pasalnya dia baru saja keluar dari kamarnya, bagaimana dia bisa mengganggu kakaknya.


"Dedek lagi beresin kamar kak, mana sempet isengin kakak!"


"Jangan bohong."


"Dedek gak bohong, ihh kakak kok gak percaya!" Inka sebel dituduh sama kakaknya. Inas yang melihat kedua anaknya sedang bertengkar menghampiri mereka.


"Jangan bohong dek, atau kakak jitak kamu!"


"Dedek gak bohong!" teriak Inka tak terima.


"Ada apa sih?"


"Itu bun si dedek gangguin aku terus!"


"Gak bun, kakak bohong, dedek gak gangguin kakak!" balas Inka tidak terima.


"Udah-udah jangan berantem lagi, kalian udah beresin kamarnya?"


"Udah bun!" jawab mereka serempak.


"Iya bun!" jawab mereka serempak lagi.


Inka pergi sambil mendengus sebal ke arah kakaknya. Sedangkan dipojok kamar Argan ada sosok wanita cantik memakai dress berwarna merah yang sedang terkekeh geli karena berhasil mengerjai Argan, dia lah yang sudah menjaili Argan.


"Ganteng!" gumamnya. Lalu dia menghilang entah kemana.


...***...


Sudah seminggu keluarga Ares menempati rumah kakek Inas, mereka bersyukur karena mereka hidup dengan tenang. Argan dan Inka pun sudah masuk kesekolah barunya.


Malam itu Argan sedang mengerjakan tugas dari sekolahnya. Dia terlalu fokus pada bukunya, hingga dia tidak menyadari ada sepasang mata sedang mengawasinya.


Setelah Argan selesai mengerjakan tugasnya, dia berlalu ke dapur untuk mengambil minum. Saat itu lampu rumah sudah padam hanya ada beberapa lampu yang menyala agar tidak terlalu gelap berarti semuanya sudah tidur.


Argan kedapur dan mengambil air minum di kulkas, namun ekor matanya menangkap sosok sekelebat lewat. Namun saat Argan menoleh tidak ada apa-apa. Memang selama seminggu ini dia tidak bertemu hantu atau apa pun selama dirumah itu, biasanya akan ada banyak makhluk halus untuk rumah yang sudah lama tidak di tinggali. Tapi justru dirumah itu Argan tak menemukan apa pun, makanya dia bisa tidur nyenyak tanpa gangguan dari mereka.


Setelah selesai minum dia bergegas ke kamar untuk tidur, baru saja dia berbaring dan matanya menatap ke atas, matanya terbelalak saat ada sesosok perempuan berambut panjang dengan senyum jail dengan wajah yang menghitam karena habis terbakar, kulit wajahnya terkelupas dia di atas langit-langit kamar Argan.


Baru saja Argan akan bangun sosok itu menjatuhkan dirinya ke tubuh Argan. Membuat Argan berteriak dan menutup mata karena kaget.


Namun setelah beberapa saat menutup mata tak ada apa pun yang menimpa tubuhnya, Argan pun perlahan membuka mata. Dan menoleh kesekeliling tapi tak ada siapa pun. Argan pun menghela nafas lega.


Dia pun membaringkan tubuhnya lagi dan sebelum memejamkan mata dia berdoa dulu.


Suara ayam berkokok terdengar merdu saat pagi buta, Argan yang belum terbiasa mendengar kokokan ayam terbangun jam tiga pagi. Namun dia terkejut saat melihat seseorang terbaring disampingnya.


Argan mengerjapkan matanya berkali-kali, untuk memastikan apa yang dia lihat itu benar atau hanya mimpi. Setelah mengumpulkan semua nyawanya. Argan menatap sosok wanita yang sedang terbaring di kasurnya.


"Siapa dia? kenapa dia ada dikamar gue?" gumam Argan. Argan menusuk-nusuk tangan wanita itu menggunakan jari telunjuknya.


Namun wanita itu tak bergeming, dia masih terbaring membelakangi Argan. Sehingga Argan tidak bisa melihat wajahnya.

__ADS_1


"Kenapa di kamar gue ada cewek?" gumam Argan bingung sambil menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.


"Kalo bunda tau bisa ngamuk." gumamnya lagi.


Argan pun terus berusaha membangunkan wanita yang sedang terbaring itu dan akhirnya wanita itu terbangun, dia menatap datar ke arah Argan.


"Siapa lo? kenapa ada di kamar gue?"


Wanita cantik itu hanya tersenyum ke arah Argan, dia menatap lekat wajah Argan. Membuat Argan semakin bingung dengan tingkah wanita cantik dihadapannya.


"Kamu bisa lihat saya?" tanyanya dengan suara yang sangat merdu.


"Bisa lah gue kan punya mata!" jawab Argan ketus.


"Elo cepetan keluar dari kamar gue, sebelum bunda tau dan marahin gue!" Sentak Argan. Wanita itu menggeleng dia terus tersenyum melihat Argan.


"Ganteng!" gumamnya.


"Keluar gak!" pekik Argan. Tapi wanita itu terus menggeleng. Tak lama terdengar suara ketukan pintu.


"Kak! kakak kenapa?" teriak Inas dari luar.


"Bunda!" Argan pun panik saat bundanya mengetuk pintu. Dia terus mondar-mandir karena bingung menyembunyikan wanita yang ada dikamarnya.


"Elo sembunyi di kolong, cepeten!" ucap Argan sambil menarik tangan wanita itu. Sedangkan wanita itu hanya tersenyum melihat kepanikan Argan dia terus mengikuti kemana Argan menariknya. Karena di kolong gak muat, disuruh keluar lewat jendela pun tidak bisa karena memakai tralis, akhirnya wanita itu disembunyikan Argan dilemarinya.


Jantung Argan berdetak kencang, dia benar-benar panik. Inas bisa marah kalo tau ada wanita di kamar Argan. Karena Inas selalu mengatakan agar Argan selalu menghargai wanita dan menghormati wanita, jangan sampai dia melecehkan atau merusak wanita. Inas selalu berpesan seperti itu, karena bagaimana pun dia terlahir dari seorang wanita dan dia juga punya adik seorang wanita.


Setelah menetralkan jantungnya Argan membuka pintu yang terus diketuk oleh bundanya.


ceklek..


"Ada apa bun?" Argan berusaha tenang dihadapan Inas padahal dia sangat gugup dan juga panik.


"Tadi bunda denger kamu teriak-teriak ada apa?"


"Ng-nggak ada apa-apa bun!" jawab Argan agak gugup.


"Bener?" Inas tak percaya dengan putranya itu.


"Bener bun gak apa-apa, mungkin tadi aku cuma ngigo!"


Inas mengangguk. "Ya udah, udah bangun sekalian kakak sholat malam!"


"Siap bunda." Argan berusaha tersenyum dihadapan bundanya.


Argan menghela nafas lega saat Inas sudah pergi dari hadapannya dia mengelus dadanya, karena tenang.


Tapi saat dia berbalik dia kagetkan dengan sosok wanita yang ada dihadapannya. Wanita itu hanya terkekeh melihat reaksi Argan.


"Elo ngagetin gue!" Lagi-lagi jantung Argan berdetak kencang, karena kaget.


Wanita itu memiringkan kepalanya kekanan sambil tersenyum.


"Ganteng!" gumamnya.


"Gak jelas lo!" Argan berlalu meninggalkan wanita itu. Tapi wanita itu terus mengikutinya.


Argan kesal karena terus diikuti. "Kenapa lo ngikutin gue?"


"Elo pulang sana, jangan ganggu gue! gue mau sholat!" pekik Argan lalu pergi ke kamar mandinya.


Wanita itu hanya memandang Argan yang berlalu meninggalkannya.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2