
Malam itu hujan turun sangat deras, kilatan petir menyambar dan suara guntur menggelegar. Inas memeluk Argan dikamarnya, tiba-tiba saja lampu mati dan membuat suasana gelap gulita, Inas mengambil ponsel di nakas dan menyalakan senter.
Inas pun mencari lilin dikamarnya tapi tidak ada, tiba-tiba Inas seperti melihat bayangan dekat jendela. Lalu Inas mengarahkan senter ponsel ke jendela, namun tidak ada apa-apa. Tapi setiap senter ponselnya mengarah ke arah lain, bayangan itu kembali muncul, membuat bulu kuduk Inas meremang. Tapi dia tidak mempedulikannya, dia ke kamar pembantunya untuk minta dicarikan lilin.
"Bi.. bi Wati!!" panggil Inas. Tapi tak ada sahutan dari pembantunya itu meski sudah beberapa kali dia mengetuk pintu.
"Si bibi udah tidur apa ya?" gumamnya. Dia pun keruang tengah untuk mencari lilin, tapi tak ditemuinya lilin.
"Apa aku lupa beli ya?" Akhirnya Inas kembali ke kamar karena tak ditemuinya lilin.
Saat Inas masuk kamar Inas terkejut saat melihat samar-samar seseorang tidur disamping Argan, meski tidak terlalu jelas, tapi terlihat saat kilat menyambar cahayanya membuat sosok itu terlihat, seorang wanita berambut panjang. Inas tidak bisa melihat wajahnya karena gelap, senter ponsel Inas pun tiba-tiba mati, hanya ada cahaya kilat yang memberi pencahayaan. Tubuh Inas gemetaran.
"Si-siapa kamu?" tanya Inas gemetaran. Namun tak ada jawaban dari sosok itu dia tetap bergeming sambil membelai kepala Argan.
"Ja-jangan ga-ganggu anak saya!!" Meski Inas ketakutan dan gemetaran tapi Inas memberanikan diri untuk mendekat.
Suasana kamar itu semakin mencekam, bulu kuduk Inas semakin meremang, tiba-tiba tercium bau busuk di kamar itu, membuat Inas mual dan Pusing, tapi Inas menahannya yang terpenting dia harus menyelamatkan anaknya.
"Pergi!!" sentak Inas.
"Jangan ganggu kami!!" Tapi makhluk itu sama sekali tak bergeming, dia malah memangku Argan yang sedang terlelap, suara petir dan guntur semakin menggelegar, hujan pun semakin deras, lampu belum juga menyala.
Hi hi hi hi hi hi
Suara makhluk itu melengking dikamar itu, membuat telinga Inas sakit. Inas sudah sangat gemetaran dan ketakutan tapi dia harus kuat dan cepat menolong anaknya.
"Kembalikan anak saya!" ucapnya dengan mulut yang gemetar.
hi hi hi hi hi hi
Suara makhluk itu menggema lagi di kamar itu, Inas berusaha kuat meski sebenarnya tubuhnya lemas karena ketakutan.
Makhluk itu menggendong Argan dan menimang-nimang Argan dan dia menyanyikan lagu nina bobo, suaranya yang halus semakin membuat merinding, bau busuk perlahan menghilang berganti dengan bunga tujuh rupa.
Inas berusaha mendekat dengan tubuh gemetar, nafasnya terengah-engah, keringatnya juga bercucuran ditengah hujan deras. Tapi saat Inas mulai dekat dan akan menggapai sosok itu..
grepp..
Lampu menyala tapi tidak ada siapa pun disana, bahkan Argan masih tertidur di kasur, nafas Inas ngos-ngosan, Inas merasa lega dia langsung naik ke kasur dan memeluk Argan.
Inas mengedarkan pandangannya ke sekeliling kamar. Inas yakin yang baru saja dia lihat bukan halusinasinya, itu adalah nyata. Inas memeluk Argan dan menyelimutinya.
Tak lama hujan pun mulai mereda, suara petir dan guntur pun sudah mulai menghilang, nafas Inas masih tak beraturan, tapi dia berusaha tenang dan memejamkan mata. Sampai akhirnya dia terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Pagi hari Inas terbangun dan masih memeluk anaknya yang masih terlelap. Sejenak dia memandangi anaknya namun terlihat wajahnya pucat, Inas memegangi dahi Argan dan ternyata badannya panas. Inas panik dia segera mengambil temperatur dan mengecek suhu Argan ternyata suhunya lumayan tinggi dan membuat Inas semakin panik.
"Ya Allah nak, kenapa badan kamu panas sayang." Inas segera menelpon Intan semoga dia belum berangkat ke rumah sakit, tapi ternyata Intan sudah berangkat karena ada pasien yang harus ditangani. Terpaksa Inas pun harus ke rumah sakit.
"Aku telpon taksi aja kalo gitu," ucap Inas.
Setelah menelpon Inas segera cuci muka dan ganti baju sambil menunggu taksi datang, lalu dia menyiapkan keperluan Argan.
"Sebentar ya sayang, kita ke rumah sakit." Pagi itu Inas benar-benar panik, dia langsung menggendong Argan yang masih terlelap.
"Bi.. bi..!!" panggil Inas. Ternyata pembantunya sedang memasak.
"Bi aku mau ke dokter dulu, bibi jaga rumah ya!" Pembantu itu hanya mengangguk tanpa mengatakan apa pun dengan wajah yang sangat datar dan tanpa ekspresi.
Namun saat Inas sudah keluar, terlihat bi wati menyunggingkan senyum tipis, lalu dia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Inas sudah dalam perjalanan, dia sangat khawatir dengan putranya, pasalnya jika anaknya sakit dia tidak sepanik ini karena ada Ares.
"Ya Allah sayang kok kamu makin panas sih."
Argan membuka mata, meski pandangannya sayu dia menatap bundanya yang sedang khawatir.
"Sabar ya sayang, kita mau ke rumah sakit nak!" ucap Inas saat putranya memandanginya lalu dia mencium kening Argan. Lalu Argan menutup mata kembali.
Tak lama kemudian Inas sampai rumah Sakit, dia langsung mencari suster dan membawanya ke dokter anak.
Setelah di periksa dokter, Argan di berikan infus, membuat Inas semakin khawatir.
"Dok kenapa dengan anak saya? Kenapa dia sampai di infus?" tanya Inas.
"Anak ibu kekurangan darah dan juga cairan, bahkan dia perlu transfusi darah." ucap dokter.
"APA??" sentak Inas tak percaya. Seketika tubuhnya lemas.
"Kenapa bisa dok?" tanya Inas lemas.
__ADS_1
"Entahlah bu, bahkan itu bukan anemia, karena anak ibu benar-benar membutuhkan donor darah dia banyak kehilangan darah seperti orang habis mengalami kecelakaan dan kehilangan banyak darah." jawab dokter. Membuat Inas semakin lemas.
"Sebentar ya bu!" ucap dokter. Inas mengangguk lalu dia menatap putranya yang sedang terlelap dan terlihat wajahnya sangat pucat, Inas memegangi tangan anaknya.
"Bunda takut sayang, kamu jangan sakit begini, biar bunda aja yang sakit." Inas mencium tangan anaknya dan air matanya menetes.
Tak lama dokter dan suster datang dia membawa Argan ke ruang perawatan, Inas mengikutinya dengan air mata yang berderai, dia tidak tega melihat anaknya sakit seperti itu.
Setelah sampai diruang perawatan Argan di pasangkan oksigen dan pulse oximeter terpasang dijari mungil Argan, membuat Inas semakin terpukul kenapa anaknya tiba-tiba seperti ini.
Dia ingat setelah kejadian semalam yang menyeramkan dan paginya anaknya jadi seperti ini.
"Ya Allah nak maafin bunda sayang, gara-gara bunda gak bisa nyelamatin kamu semalam, kamu jadi kayak gini."
Karena Inas pikir ini ada hubungannya dengan kejadian semalam, Inas terus menggenggam tangan mungil Argan dan terus menangis karena tak sanggup melihat kondisi anaknya.
Tak lama ponselnya berdering, Inas menatap ponselnya dan dia bingung apa harus di angkat atau tidak?
"Kak Ares, apa aku harus memberi tahunya, aku takut dia panik dan khawatir dan mengganggu pekerjaannya." pikirnya.
Akhirnya dia tak ingin mengangkat telpon itu dan men-silentkan ponselnya.
Tak lama dokter datang, dengan membawa sekantung darah dia langsung memasangkannya pada Argan.
Inas masih terisak dan terus menatap putranya. Tak lama seseorang masuk ternyata Intan.
"Permisi dokter shella, saya mau liat keponakan saya!" ujar Intan dokter shella mengangguk dan tersenyum. Inas langsung memeluk Intan dan menangis.
"Sabar, Argan pasti baik-baik aja!" ucap Intan sambil mengelus punggung Inas.
"Aku takut kak, kenapa Argan jadi seperti ini?" isaknya. Intan hanya menghela nafas dan mengusap punggung Inas.
"Kamu udah telpon Ares?" tanya Intan sambil melepaskan pelukannya.
Inas menggeleng. "Aku takut dia khawatir kak." jawab Inas.
"Tapi kamu harus tetep memberitahunya, nanti kalo dia marah gimana? Kamu gak kasih tau anaknya sakit, apa perlu aku yang telpon Ares?"
"Gak usah kak biar aku aja!" Intan mengangguk lalu dia melihat Argan dan mengusap kepala Argan.
"Ya udah aku kembali dulu ya, aku gak bisa lama-lama soalnya masih ada pasien yang harus aku periksa!"
"Iya kamu tenang, jangan panik, terus berdoa buat kesembuhan Argan!" Inas mengangguk.
Lalu Intan pun keluar, Inas kembali duduk disamping Argan dan menggenggam tangan anaknya.
"Cepet sembuh ya jagoan bunda, bunda pengen liat senyum kamu lagi sayang!"
Di sisi lain teman gaibnya Argan yaitu Tio, menatap sedih ke arah Argan.
"Maaf ya Argan aku gak bisa jagain kamu." ucapnya lalu menghilang.
Inas pun berusaha tenang dan dia akan menelpon Ares, karena apa yang dikatakan Intan benar, Ares bakal marah kalo dia tidak dikasih tau kalo anaknya sedang sakit.
Panggilan pertama tak ada jawaban, sampai panggilan berikutnya pun tak ada jawaban.
"Kamu kemana kak? Ayo angkat!" ucapnya tak tenang.
Akhirnya Inas mengirim pesan ke Ares dan semoga Ares cepat baca dan segera pulang.
Hari sudah mulai siang, Inas sudah menelpon Ares tapi belum ada jawaban juga, bahkan kali ini nomernya gak aktif.
"Apa dia marah karena tadi aku tidak mengangkat telponnya!" pikir Inas cemas.
Tak lama seseorang datang, ternyata Sakti.
"Dek!!"
"Abang." Inas langsung memeluk Sakti dan dia terisak lagi.
"Udah jangan nangis, jangan terlalu dipikirin banget nanti kamu sakit, kasian Argan kalo kamu sakit." ucap Sakti.
"Iya bang tapi aku takut, kenapa Argan tiba-tiba bisa kayak gitu, bahkan dari tadi dia belum sadar." ucap Inas sambil melepaskan pelukannya.
"Iya kamu sabar dan terus berdoa untuk kesembuhan Argan." Ucap Sakti. Lalu dia menghampiri Argan dan mengusap kepala Argan.
"Kamu udah telpon Ares dek?" tanya Sakti.
"Udah tapi gak di angkat terus tadi malah gak aktif bang." jawab Inas.
__ADS_1
"Ck..pria itu lagi urgent begini malah susah dihubungi!" decak Sakti kesal.
...***...
Ares sedang berkutat dengan laptopnya menyiapkan presentasi untuk meeting nanti sore dengan klien dari Australia. Pikirannya tidak fokus, karena tiba-tiba saja perasaannya tidak enak.
Tapi dia harus mengerjakan pekerjaannya.
Saat pagi dia menelpon Inas tapi tak di angkat membuat pikirannya gak konsen, tapi dia berusaha berfikir positif, mungkin istrinya sedang sibuk mengurus anaknya.
Tapi mengingat mimpi semalam dia gak bisa konsen bekerja. Bagaimana tidak dia bermimpi melihat Argan sedang dikelilingi makhluk-makhluk menyeramkan, dengan rambut panjang yang kusut dengan wajah yang membusuk penuh belatung, ditambah kuku-kukunya yang panjang dan tajam.
Argan menangis ketakutan, tapi Ares sama sekali tidak bisa menolongnya. Tak lama sekretarisnya masuk.
"Maaf pak Aresta ada telpon dari istri bapak!" ucap Sinta.
Ares mengernyitkan dahi, kenapa Inas menelpon sekretarisnya bukan dirinya. Saat dia cek ponselnya ternyata ponselnya mati. Ares mengambil ponsel sinta.
📞"Hallo Assalamualaikum sayang ada apa?" Ares panik pasti ada sesuatu yang tidak beres karena sampe istrinya menelpon sekretarisnya.
Tapi tak ada jawaban dari Inas dia hanya mendengar isak tangis istrinya, membuat dia semakin panik dan khawatir.
📞"Sayang ada apa?"
📞"Hallo res, ini saya Sakti, sebaiknya kamu pulang, anak kamu masuk rumah sakit!" ucap Sakti.
📞 "Apa??" ucap Ares kaget. Dia langsung mematikan ponselnya dan dia bergegas membereskan semuanya.
"Sin, kita pulang sekarang!" ucap Ares.
"Tapi pak hari ini kita ada-"
"Batalkan!" sentak Ares memotong perkataan Sinta.
Dia langsung membereskan pakaian dan semuanya. Setelah itu dia langsung meluncur menuju bandara agar cepat sampai.
...***...
Inas masih terpaku disamping Argan sambil menggenggam tangan Argan, Argan belum juga sadarkan diri.
"Dek makan dulu ya!" ucap Sakti. Inas menggeleng.
Bu Rini dan pak Zaki pun ada disana.
"Nak, kalo kamu gak makan nanti kamu sakit!" ucap bu Rini sambil mengelus kepala Inas.
"Aku gak laper bu." ucap Inas sambil menciumi tangan anaknya.
Sakti dan yang lainnya sudah membujuk Inas untuk makan, tapi Inas terus saja menolak. Akhirnya mereka menyerah.
"Sayang cepet bangun nak, jangan bikin bunda takut." lirihnya.
"Ibu sama bapak pulang aja ke rumah Sakti, tolong temenin Penty, aku mau jagain Inas, karena Intan juga pulang malam karena masih banyak pasien yang harus ditangani!" ucap Sakti.
"Ya udah kalo ada apa-apa, kabarin bapak sama ibu." ucap Pak Zaki. Sakti mengangguk.
Pak Zaki dan bu Rini berpamitan sama Inas lalu mereka pun pulang.
Tak lama pak Zaki dan bu Rini pulang Ares pun datang.
"Assalamualaikum.." ucap Ares.
"Waalaikumsalam.." jawab Sakti dan Inas.
Inas langsung memeluk Ares dan tangisnya pecah lagi.
"Maaf ya sayang, saya gak ada disaat anak kita sakit." ucap Ares.
"Aku takut banget kak." ucap Inas terisak.
"Iyaa sayang, kita berdoa terus ya, agar anak kita baik-baik aja," ucap Ares sambil melepaskan pelukannya. Lalu dia berjalan ke arah anaknya dan mencium kening anaknya.
"Bangun nak, ayah sudah pulang sayang," ucap Ares lirih. Hatinya merasa sakit melihat buah hatinya terbaring lemah dirumah sakit.
Lalu Ares menghampiri istrinya yang masih terisak dan memeluknya lagi, dia menyesal sudah meninggalkan anak dan istrinya.
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung.....