
Inas dan Ares kaget mendengar ucapan Penty, Sakti dan Intan mau cerai tentu saja itu membuat Inas bingung dan merasa bersalah. Dia berfikir dialah penyebabnya.
"Kamu tau dari mana sayang?"
"Aku denger sendiri bun, mama sama papa sering berantem, hampir setiap hari mereka berantem, terus aku denger tadi malam papa mau menceraikan mama."
Inas dan Ares saling berpandangan, Inas tau ini pasti gara-gara Sakti yang masih menyimpan rasa padanya, dia tidak menyangka akan seperti ini kejadiannya.
"Papa bilang mama udah selingkuh!"
"Apa?" sentak Inas kaget.
"Bunda kenapa kaget gitu?" tanya Ares.
"Iya bunda kagetlah yah, bunda gak percaya kalo kak Intan selingkuh!"
"Bun, Penty boleh ya nginep dirumah bunda Penty gak mau pulang, Penty gak mau denger mama dan papa berantem terus!" Penty terisak lagi dan memeluk Inas.
"Iya sayang Penty boleh nginep dirumah bunda, nanti bunda bilangin sama papa kalo Penty nginep disini!" Penty mengangguk.
"Ya udah Penty ke kamar Inka gih, temenin Inka dia lagi bobo, penty udah makan?"
"Udah bun!" Inas tersenyum dan menatap penty yang masih berderai air mata.
"Udah dong cantiknya bunda gak boleh nangis lagi!" Penty mengangguk Inas menyeka air matanya Penty.
Penty pun beranjak ke kamar Inka. Inas menatap Ares.
"Yah kita harus bicara sama bang sakti dan kak Intan!"
"Buat apa bun? ayah gak mau ikut campur urusan rumah tangga mereka!"
"Tapi kasian Penty yah, setidaknya kita mengingatkan mereka untuk mempertimbangkan keputusan mereka untuk bercerai!"
"Terserah bunda!" Ares beranjak dan berlalu meninggalkan Inas.
"Ihh ayah kenapa sih, kok kaya sewot gitu!"
...***...
Semua berkumpul untuk makan malam kecuali Ares dia malah duduk diruang tamu, seperti ada masalah yang sedang dia pikirkan.
"Kalian makan yang banyak ya!"
"Iya bun!" jawab mereka serempak.
Tapi Ares masih terduduk diruang tamu, dia tidak menyusul ke meja makan. Semenjak pembicaraan tadi siang Ares banyak diam, Inas pun menghampiri Ares yang sedang duduk termenung.
"Yah!" Inas memanggil dan menepuk bahu Ares.
"Kenapa bun?"
"Kok malah bengong disini? ayo makan anak-anak udah pada makan!"
"Ayah belum laper!"
Inas memeluk suaminya, dia merasa bingung dengan sikap suaminya yang tiba-tiba jadi pendiam.
"Ayah kenapa? Ayah marah sama bunda? Atau ayah ada masalah?"
Ares menatap Inas terlihat wajah Inas yang sedang bersedih. Ares mengusap pipi Inas.
__ADS_1
"Ayah gak apa-apa sayang, ayah juga gak marah sama bunda. Ayah cuma.." ucapan Ares menggantung dan membuat Inas penasaran.
"Cuma apa yah?" Inas menggenggam tangan Ares dan mengecupnya.
"Ayah cuma takut kehilangan bunda!" Inas tersenyum lalu membelai pipi Ares dan dia juga mengecup bibir Ares.
"Kenapa ayah bicara kaya gitu? kita akan selalu bersama dengan anak-anak kita juga, kita akan bersama sampai anak kita menikah dan punya anak nanti, bunda selalu berdoa untuk itu, bunda selalu berdoa agar Allah menjaga keluarga kita. Jadi ayah gak usah takut!" ucapan Inas membuat hati Ares merasa tenang.
"Makasih ya sayang, kamu udah setia mendampingi ayah dan mau menerima segala kekurangan ayah!" Ares mengecup kening Inas.
"Iya sayang, ayah adalah suami dan ayah yang terbaik, bunda sayang sama ayah dan bunda akan selalu cinta sama ayah!"
"Ayah juga!" ucap Ares sambil mengecup bibir istrinya.
"Ya udah ayo kita makan!" Ares mengangguk namun baru saja mereka beranjak tiba-tiba ada yang mengetuk pintu.
"Biar ayah yang bukain bun!" Ares berlalu membuka pintu dan Inas kembali menemani anak-anak makan. Ternyata Sakti yang datang. Ares menyuruh Sakti masuk dan duduk.
"Saya mau jemput Penty!" ucap Sakti tanpa basa-basi.
"Sebaiknya biarkan Penty disini dulu, kamu selesain dulu urusan kamu!" namun wajah Sakti terlihat kacau, marah, kesal, sedih dan frustasi terpancar diwajahnya.
"Ada apa? kenapa kalian jadi begini?"
"Saya masih mencintai istri kamu!" celetuk sakti.
Ares terbelalak mendengar ucapan Sakti dia tidak percaya dengan ucapan Sakti. Dia menatap tajam ke arah Sakti seketika dadanya terasa panas dan emosinya meluap.
"Apa maksud kamu?" teriak Ares berdiri dan mengepalkan kedua tangannya.
Inas dan yang lainnya terkejut mendengar teriakan Ares.
"Ayah sabar, jangan emosi!" Inas mengusap dada Ares untuk menenangkannya. Ares menatap Sakti penuh amarah namun terlihat Sakti tersenyum pada Ares.
"Sabar sayang, jangan marah!" Inas berusaha menenangkan suaminya Inas bingung apa yang sudah terjadi dengan mereka.
"Sabar res, kenapa kamu marah begitu saya cuma becanda!" ucap Sakti terkekeh.
"Ada apa sih bang? kok kalian malah mau berantem!"
"Gak ada apa-apa nas, tadi abang cuma becanda tapi Ares malah nganggap serius, abang kesini cuma mau jemput Penty!"
"Udah ayah jangan marah lagi" Inas masih terus menenangkan suamianya dia mengalihkan pandangan Ares agar menatapnya, Inas menatap lembut Ares. Akhirnya emosi Ares mereda.
"Penty gak mau pulang pah, penty gak mau liat mama dan papa berantem terus!" Penty berlalu meninggalkan mereka, Inka menyusul Penty. Sedangkan Argan menatap Sakti dengan tatapan ambigu.
"Kenapa aku merasa ada yang aneh dengan papa Sakti yah!" pikir Argan lalu dia pun berlalu meninggalkan orang tuanya.
Setelah itu Inas, Ares dan Sakti berbicara. Membicarakan masalah Sakti.
...***...
Pagi hari semua sudah berkumpul untuk sarapan, Argan dan yang lainnya sudah siap untuk berangkat sekolah. Argan merasa malas untuk pergi ke sekolah karena dia malas bertemu hantu anak kecil itu yang membuat dia stress.
Argan sudah berada dikelasnya, untung saja dia tidak bertemu dengan hantu anak kecil itu yang sangat menyebalkan baginya.
Tak lama murid lain berdatangan termasuk Guntur, dia langsung menghampiri Argan yang sedang membenamkan wajahnya ditangan yang dia lipat di atas meja.
"Woyy bro! tidur loh?" sentak Guntur sambil menyenggol tubuh Argan.
Argan mengangkat kepalanya dan menatap datar ke arah Guntur namun matanya terbelalak ketika melihat sesosok bocah sedang nemplok dibahu Guntur. Dia duduk dipundak Guntur dan kakinya menjuntai kebawah.
__ADS_1
"Hai kakak, selamat pagi!" sapa Reno si hantu kecil sambil menyengir dan melambaikan tangannya.
Raut Argan menjadi kesal dan sewot, dia berdecak kesal. Membuat Guntur bingung dengan sikap Argan.
"Elo kenapa sih liat gue sewot gitu?"
Argan menatap tajam ke arah Reno tapi Reno hanya membalas dengan cengirannya.
"Badan gue juga kenapa terasa berat sih?" ucap Guntur kesal sambil memukul-mukul pundaknya.
"Ya jelas lah, kan kakak lagi gendong aku!" ucap Reno terkekeh. Argan yang mendengar hanya menggelengkan kepalanya.
"Jangan-jangan.." tiba-tiba Guntur berbicara dengan wajah yang serius. Argan langsung menatap Guntur dengan serius juga.
"Jangan-jangan apa?"
"Gue ketempelan setan!" bisik Guntur membuat Argan terbelalak karena apa yang dia ucapkan memang benar.
"Yeee.. kakak dapat nilai seratus karena jawaban kakak benar!" ucap Reno girang sambil bertepuk tangan dan bertepuk kaki secara bersamaan.
Guntur begidik ngeri mendengar ucapannya sendiri, dan tiba-tiba tengkuknya terasa dingin dan bulu kuduknya berdiri.
"Gan kok gue merinding?" bisik Guntur.
Argan melihat Reno sedang meniup-niup tengkuk Guntur lalu mengusap tangan Guntur sehingga bulu kuduknya berdiri.
"Gan gak ada setan kan di dekat gue?" tanya Guntur mulai ketakutan.
"Kata siapa? banyak setannya!" jawab Argan datar namun membuat Guntur semakin ketakutan dan dia langsung memeluk Argan.
"Lepasin Tur, elo pikir gue meho!" ucap Argan menatap tajam.
"Gak mau pokoknya elo harus usir dulu tuh setan!" Guntur semakin mengeratkan pelukannnya. Membuat teman-temannya menatap aneh ke Guntur dan Argan.
"Iihh kalian homo ya?" ucap seorang siswi.
"Enak aja kagak! lepasin gue tur!" Argan berusaha melepaskan pelukan Guntur. Tapi guntur tidak peduli dia masih ketakutan dan memeluk erat tubuh Argan.
"Gue gak mu lepasin kalo elo gak usir tuh setan!"
"Elo penakut amat sih, gak ada setannya juga!"
"Seriusan lo jangan bohong?"
"Kagak, udah lepas!" akhirnya Guntur melepaskan pelukannya meski tangannya masih bergelayut ditangan Argan dan pandangannya menilik kesekeliling.
"hi hi hi masa cowok penakut!" ucap Reno tertawa geli.
Argan menghela nafas, pagi-pagi sudah dibikin stres gara-gara hantu bocah dan Guntur si penakut, belum lagi tatapan teman-temannya yang menatap geli. Lagi-lagi dia jadi pusat perhatian.
"Dasar si Guntur bikin pamor gue turun aja!" batin Argan tertunduk malu.
Tak lama bel masuk berbunyi, semua murid masuk. Lalu guru pun masuk memulai untuk mengajar dan lagi-lagi Argan dibuat tidak fokus gara-gara Reno yang terus mengganggunya membuat Argan kesal dan Argan akhirnya harus dihukum gara-gara Reno. Dia harus menyapu lapangan yang ada di sekolah.
"Aku bakal gangguin kakak terus sampe kakak mau tolongin aku!" ucap Reno tersenyum menyeringai.
.......
.......
...Bersambung.....
__ADS_1