Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Pria Misterius


__ADS_3

Setelah beberapa hari kejadian di rumah sakit, Argan merasa tubuhnya sangat segar dan fit dari pada sebelumnya. Tapi dia belum menyadari apa yang terjadi dengannya, dia masih bingung dan tidak mengerti dengan dirinya.


Ares dan Inas sudah merasa tenang melihat keadaan anaknya sudah membaik. Hari-hari Argan di jalani dengan baik dan tenang tanpa gangguan meski Tamara terus mengikutinya, dia sudah mulai bersikap baik dengan Tamara meski kadang ketus dan mereka selalu ribut. Bahkan dia sudah mulai berteman, karena dia masih belum punya teman disekolahnya.


"Gan!"


"Hem.."


"Nanti sore kita nonton lagi, ya!" rengek Tamara.


"Malas!"


"Ayolah, nanti aku beritau kamu sesuatu yang penting!"


Seketika Argan menatap tajam Tamara. Sedangkan Tamara menatap memelas pada Argan sambil mengedipkan matanya beberapa kali.


"Kenapa lo, cacingan?" Tamara mendengus sebal mendengar cibiran Argan.


"Ayolah gan, aku ingin menonton film kopa-kopa itu!" rengek Tamara lagi. Argan mengernyit.


"Kopa-kopa?" tanya Argan bingung.


"Iya itu yang cowoknya ganteng-ganteng banget tuh!" Argan mendengus mendengar ocehan Tamara.


"Oppa bukan kopa!" ralat Argan.


"Ah terserah apa namanya, yang penting aku pengen nonton!" gerutu Tamara.


"Bodo amat!" balas Argan ketus.


"Kamu gak mau tau siapa mereka? kamu gak penasaran sama mereka?"


"Kagak!" Tamara hanya mendengus sebal pada Argan.


"Gan!" panggil Tamara. Tapi Argan tak bergeming membuat Tamara kesal. Lalu dia pun menghilang dan meninggalkan Argan.


Sebenarnya Argan pun sangat penasaran karena beberapa hari ini seperti ada yang terus mengikutinya, tapi Argan tak mau terus-terusan mengikuti kemauan Tamara yang sangat merepotkan itu.


...***...


Setelah bel pulang berbunyi Argan bergegas pulang. Dia berjalan menuju halte untuk menunggu angkot jurusan rumahnya. Dia berjalan sendiri biasanya si cerewet Tamara akan menemaninya tapi kali ini sepertinya dia sedang ngambek.


"Ahh sepi juga gak ada tuh cewek!" gerutu Argan dia merasa kesepian karena tidak ada yang di ajaknya berantem dan mngejeknya.


Saat Argan sudah sampai halte dia melihat seseorang. Argan mengernyitkan dahinya. Tak lama orang itu naik mobil, segera Argan mengikutinya pakai ojek, karena dia sangat penasaran.


"Pak terus ikutin mobil itu ya!"

__ADS_1


"Iya jang!" jawab si abang ojek.


Tak lama mobil itu berhenti disebuah restoran, Argan pun ikut berhenti dia mengikuti orang itu setelah membayar ongkosnya.


Saat dia berjalan menuju restoran dia menabrak seorang pria, karena dia berjalan tidak fokus sehingga barang bawaan orang itu terjatuh.


"Maaf om gak sengaja!" ucap Argan sambil mengambil barang orang itu. Saat Argan memberikan barang itu pada orang itu dia meminta maaf lagi.


"Maaf ya om, aku bener-bener gak sengaja!" ucap Argan tak enak.


Orang itu bukannya menjawab tapi dia malah terbengong melihat Argan. Argan bingung melihat orang yang ada didepannya malah terdiam menatap dia.


"Om.." orang itu masih terdiam.


"Om.." ucap Argan lagi sambil menepuk pundak orang itu, seketika dia tersadar.


"Eh i-iya maaf!"


"Om gak apa-apa?" Orang itu hanya mengangguk sambil terus menatap Argan dan menatap lekat ke arah Argan. Argan dibuat heran oleh orang yang ada dihadapannya. Kenapa dia melihat Argan seperti itu, sepertinya dia mengenal Argan.


"Maaf om kalo begitu aku permisi dulu!" ucap Argan sopan.


"Ohh iya!" jawab orang itu terkejut.


Argan pun berlalu tapi saat beberapa langkah dia menengok kebelakang dan melihat orang itu dan ternyata orang itu pun menengok ke arah Argan. Tepat Argan menengok dia pun menengok, Argan yang salah tingkah karena ketahuan menengok hanya tersenyum tak disangka pria itu pun membalas senyuman Argan. Argan bingung pria itu seolah mengenal Argan. Tapi Argan sama sekali tidak mengenalnya.


Siapa sebenarnya pria itu? Apa ada hubungannya dengan Argan?


Lalu Argan pun duduk disalah satu kursi yang kosong. Tak lama pelayan pun datang untuk menanyakan pesanan.


"Mau pesan apa kak?"


"Maaf teh saya, mau nunggu temen dulu!" jawab Argan. Untung saja Argan memakai sweater dan celana hitam karena ini hari sabtu, jadi dia tidak terlalu terlihat seperti anak sekolah dan dia pun memakai masker.


Pelayan itu pun mengangguk dan berlalu. Argan akan menunggu orang itu sampai dia keluar. Argan yakin orang itu masih ada didalam. Setelah sekitar setengah jam, orang yang ditunggu pun keluar. Argan menutup wajahnya dengan buku menu. Argan mengintip dari buku menu, Argan terbelalak melihat orang itu bersama orang yang dia kenal juga. Mereka sedang berjalan bersama sambil ngobrol. Lalu mereka keluar, Argan pun mengikutinya.


"Kenapa mereka ada disini? apa hubungan mereka?" Argan bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


Saat Argan akan melangkah mengikuti mereka, ponsel Argan berdering. Argan pun mengangkat telponnya. Ternyata bundanya yang menelpon.


📞"Assalamualaikum bun!"


📞"..."


📞"Iya bentar lagi Argan pulang bun!"


📞"..."

__ADS_1


📞"Waalaikumsalam!"


Argan menutup telponnya, dia lupa mengabari bundanya. Sampai bundanya menelpon karena khawatir. Akhirnya Argan pun kehilangan jejak kedua orang itu, Argan sangat penasaran apa hubungan mereka?


Akhirnya Argan pun memilih untuk pulang, hari ini dia bertemu tiga orang yang membuatnya penasaran. Pria misterius dan juga dua orang yang di kenalnya.


Argan termenung dia sibuk dengan pikirannya, sampai tak terasa dia sudah sampai didekat rumahnya.


Argan berjalan sekitar dua puluh meter dari jalan raya menuju rumahnya, karena angkot yang dia tumpangi tidak sampai kedepan rumahnya.


Seperti biasa setiap Argan berjalan menuju rumahnya dia melewati rumah kosong, sebagian orang menganggap rumah itu angker. Tapi memang iya karena banyak penghuni disana yang tak kasat mata. Argan sudah biasa melewati rumah itu, dia tenang saja meski penghuni rumah itu menakut-nakutinya. Sehingga mereka pun bosen menakuti Argan karena sama sekali Argan tidak takut.


Plukk..


Sebuah batu kecil menimpa Argan. Argan menoleh dan menatap tajam pada sosok yang menimpuknya.


"Apa?" sentak Argan.


"Busett dah manusia lebih serem dari pada setan!" ucap sesosok pocong penunggu pohon pisang didepan rumah kosong itu.


Argan hanya mendelik sebal pada pocong itu.


"Hehh bocah salamin buat sicantik!" ucap pocong itu. Argan berlalu meninggalkan pocong itu dan mengacuhkannya. Dia sebal dengan tingkah setan jaman now. Pake acara salam-salaman lagi.


Setelah sampai dirumah Argan langsung ke kamar, terlihat hantu cewek itu sedang duduk dimeja belajarnya dan membelakangi Argan dengan kepala yang dia letakkan diatas tangannya yang ditaruh di atas meja. Argan hanya acuh, Argan tau hantu cewek itu sedang ngambek, karena tidak di izinkan nonton drakor.


Argan bingung sejak kapan dia bisa dekat dengan hantu itu. Padahal biasanya dia tidak perduli dengan para hantu sekitarnya. Bahkan dia pura-pura tidak melihat mereka. Tapi meskipun sebal dengan Tamara, Argan merasa ada yang aneh kedekatannya dengan Tamara. Tapi Argan pun tidak tau apa itu.


Setelah bergelut dengan pikirannya tentang Tamara. Tiba-tiba dia mengingat tiga sosok yang dia temui tadi.


"Siapa pria misterius itu?" batinnya.


"dan kenapa papa Sakti ada di sini dan apa hubungannya dengan dia?" batinnya lagi.


Tak lama dia terlelap karena kelelahan. Dia bahkan belum sempat ketemu bundanya, yang tadi mengkhawatirkan dia.


Setelah Argan terlelap Tamara menghampiri Argan yang sedang terlelap, dia duduk disamping Argan. Dia membelai pipi Argan.


"Kenapa aku merasa aneh saat melihat Argan!" gumamnya sambil menatap wajah Argan.


"Apa aku..?"


"Ah mana mungkin!" elaknya.


Tamara gadis yang terlihat lebih tua dua tahun dari Argan, dia masih menguak misteri kematiannya. Karena dia tidak mengingat apa pun selain namanya, dia tidak tau apa yang membuatnya bisa meninggal. Makanya dia senang saat Argan bisa melihatnya dan dia berharap Argan bisa membantunya untuk menguak misteri kematiannya, apa yang terjadi dengannya sehingga dia masih ada didunia ini.


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2