Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Mengungkap Masa Lalu


__ADS_3

Semua bahagia karena sudah berkumpul kembali. Pagi Ini mereka berkumpul di meja makan untuk sarapan.


Bahkan Marvel pun sudah datang untuk mengantar Inka sekolah, karena dia pikir Argan belum pulang jadi dia datang lagi.


"Bunda seneng banget, kita ngumpul begini!"


"Kami juga seneng bun!" Mereka sarapan sambil bercengkrama dan bercanda.


Saat Argan akan mengambil tahu goreng yang tinggal satu Shina pun mengambilnya sehingga tangan mereka saling menyentuh. Argan menatap Shina begitu juga Shina menatap Argan. Dan itu membuat Penty cemburu, dia menjatuhkan sendoknya ke piring hingga terdengar bunyi berdenting dan langsung membuyarkan lamunan Argan dan Shina.


"Kamu mau tahunya?" tanya Argan sambil menaruh tahunya di piring Shina.


"Enggak, buat kamu aja!" Shina pun memindahkan tahunya ke piring Argan.


"Gak usah buat kamu aja!" ucap Argan lagi.


"Ya udah kalo kalian gak mau buat aku aja!" pekik Penty kesal lalu mengambil tahunya dan langsung memakannya dengan perasaan kesal. Ares, Inas, Inka dan Marvel saling melempar pandangan lalu menahan tawa melihat tingkah laku tiga remaja itu.


"Kenapa kamu gak bilang sih kalo kamu juga mau!" ucap Argan sambil menatap Penty. Kali ini Shina yang cemburu melihat Argan perhatian sama Penty. Lagi-lagi kelakuan mereka tak luput dari perhatian Ares dan yang lainnya. Mereka hanya bisa menahan tawa.


Setelah selesai sarapan, Shina, Marvel dan Inka pamit sekolah di antar Ares, sambil Ares akan mendaftarkan Penty sekolah.


Sedangkan Argan belum mau masuk sekolah, dia masih pengen dekat dengan bundanya. Setelah semuanya pamit Penty membantu Inas membereskan meja makan dan mencuci piring.


"Makasih ya sayang, udah bantuin bunda!"


"Bunda ini kan udah tugas aku bantuin bunda!" Inas tersenyum. Tiba-tiba Penty memeluk Inas dan menangis.


"Kenapa sayang?"


"Aku bahagia banget punya bunda, kemarin aku ketemu mama, tapi dia sama sekali tidak mengakui aku dan malah mengusirku!" Inas mengelus kepala Penty.


"Maafin bunda ya nak, ini semua karena bunda!" lirih Inas dalam hati.


"Penty kan punya bunda dan ayah, kami adalah orang tua penty, Penty mau kan jadi anak ayah dan bunda sayang?" Penty mengangguk.


"Sekarang Penty gak usah sedih lagi, karena Penty punya bunda dan ayah!" ucap Inas sambil menyeka air mata Penty. Penty mengangguk dan tersenyum.


"Makasih bunda, aku sayang bunda!" Inas mengangguk dan tersenyum.


Sedangkan Argan hanya tersenyum melihat dua wanita yang sudah mengisi hatinya, meski ditempat yang berbeda.


"Kakak bantuin Penty beresin kamar ya!"


Argan mengangguk. "Siap bunda sayang.." ucap Argan sambil memberi hormat. Inas tersenyum lalu mengelus kepala Argan.


Argan pun menghampiri Penty yang sedang mulai membereskan kamar.

__ADS_1


"Aku bantuin ya!" Penty menoleh dan menatap sinis.


"Gak perlu!" Argan mengernyit bingung dengan sikap Penty.


"Kenapa? biar cepet!"


"Aku bisa sendiri!" jawab Penty ketus. Argan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, dia bingung dengan sikap Penty yang tiba-tiba ketus.


Tapi Argan pun tetap membantu membereskannya. Penty pun tak memprotes. Akhirnya mereka membereskannya bersama.


Lima belas menit kemudian mereka selesai membereskan dan membersihkan kamarnya. Argan langsung merebahkan tubuhnya di kasur yang baru saja mereka bereskan.


"Aku ambilin minum dulu!" ucap Penty dengan nada datar. Tapi Argan malah tersenyum. Tak lama Penty pun datang membawa minuman ke kamar. Lalu Argan pun bangkit dan duduk ditepi kasur diikuti Penty.


"Makasih!"


"Hm.."


Penty mengalihkan pandangannya ke arah lain. Tiba-tiba Argan mengelap dahi Penty yang berkeringat dengan tisu, membuat Penty terkesiap.


Lagi-lagi jantung Penty berdegup kencang dengan perlakuan Argan. Penty menatap Argan yang sedang mengelap wajahnya yang berkeringat. Argan pun ikut menatap Penty. Tiba-tiba Argan mendekatkan wajahnya ke Penty, jantung Penty berdetak semakin kencang dan rasanya mau copot melihat Argan mendekat.


"Jangan lagi please!" ucap Penty dalam hati sambil memejamkan matanya.


"Peniti kenapa kamu merem?" Penty membuka mata mendengar Argan berbicara, wajah Argan sangat dekat mata mereka bertemu. Lalu tangan Argan menyentuh bagian bawah mata Penty.


...***...


Sore itu semua sudah berkumpul, kali ini Shina tidak menginap. Mereka bersantai sambil ngemil dan minum teh di ruang tv.


"Yah, bun!"


"Iya sayang?" Inas menatap Argan.


"Boleh gak aku denger ceritanya sekarang?"


Inas menoleh ke Ares. Lalu Ares mengangguk.


"Penty sama dedek ke kamar dulu ya, bunda sama ayah mau ngomong sama kakak!" Inka mengangguk begitu juga Penty. Penty ikut masuk ke kamar Inka.


Ares menghela nafas dia mulai menceritakan semuanya dari awal sampai akhir. Bagaimana kehidupannya di masa lalu. Sampai akhirnya Argan mendapat kutukan dari Lakhuds.


Argan mendengarkan cerita ayahnya. Ares tidak menceritakannya detail, dia hanya menceritakan beberapa garis besarnya saja. Karena jika di ceritakan secara rinci waktunya tidak akan cukup.


"Jadi iblis itu belum musnah?" tanya Argan setelah mendengar cerita ayah dan bundanya.


"Entahlah nak padahal dulu bunda sudah menghancurkannya, tapi sepertinya dia masih ada?"

__ADS_1


"Kata bunda iblis itu bisa di musnahkan dengan darah suci dari keturunannya, dan itu adalah bunda dan yang punya darah itu cuma bunda satu-satunya, tapi kata bunda darah itu sudah lenyap jika bunda menikah!" Inas mengangguk.


"Lalu bagaimana kita memusnahkan iblis itu, jika darah suci itu tidak ada?" Inas dan Ares menggeleng.


"Tapi yah bun, semalam aku bermimpi bertemu seorang kakek, dia bilang aku harus mencari darah suci itu dan harus cepat melenyapkan iblis itu sebelum merajalela dan kakek itu juga bilang darah suci itu bisa memusnahkan kutukanku, itu berarti pemilik darah suci itu ada dong!" Inas dan Ares saling berpandangan.


"Apa kakek itu memakai pakaian serba putih?" tanya Inas. Argan mengangguk.


"Kakek Nur Jagad!" ucap Ares dan Inas.


"Jadi itu kakek Nur Jagad?" Ares dan Inas mengangguk.


"Tapi yang jadi pertanyaannya sekarang dimana keberadaan iblis itu dan siapa pemilik darah suci itu?" tanya Inas.


"Kalo menurut ayah Lakhuds pasti sudah menemukan wadahnya dan dia pasti sudah menyempurnakannya saat bulan purnama merah!"


Mereka terdiam memikirkan di tubuh siapa iblis itu bersemayam. Belum lagi mereka tidak tau siapa pemilik darah suci itu.


"Kok semakin sulit ya!" keluh Inas.


"Sabar bun kita pasti bisa mengalahkan iblis itu, kita terus memohon pertolongan pada Allah, agar di permudah urusan kita!"


"Aamiin.."


Argan mengernyit tiba-tiba dia mengingat seseorang. Wajahnya terkejut sendiri dengan pemikirannya.


"Kamu kenapa kak?" tanya Ares saat melihat ekspresi Argan aneh.


Argan menggeleng. "Gak apa-apa yah!"


"Ya sudah sekarangkan kakak sudah tau, apa penyebab kakak berbeda, sekarang kita tinggal memikirkan cari jalan keluarnya!" Argan menghampiri bunda dan ayahnya lalu memeluk mereka.


"Ayah bunda maafkan aku karena meragukan kalian sebagai orang tuaku!"


"Kamu adalah anak bunda dan ayah nak, kamu adalah jagoan kami!"


"Iya yah bun, aku sayang kalian!" mereka pun mengeratakan pelukannya.


"Kami juga sayang kamu nak!"


"Aku pasti bisa menemukan iblis itu dan melanjutkan misi bunda dan ayah untuk melenyapkannya!" gumam Argan dalam hati.


Lalu dia tersenyum smirk.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2