
Argan terkejut saat tau siapa yang sudah mengintipnya, bahkan jantungnya serasa mau copot, tenggorokannya tercekat.
Terlihat wajah ketakutan darinya saat melihat Argan. Saat Argan akan menyentuhnya dia menjauh.
"Jangan sentuh aku!" pekiknya.
"De-de-dedek!" ucap Argan terbata. Dia sangat terkejut saat tau Inka adiknya yang sudah mengintip dia sedang menghisap darah manusia. Air mata mengalir di wajah Inka dia langsung berlari meninggalkan Argan.
"Dedek tunggu!" teriak Argan lalu dia mengejar Inka. Suasana hutan yang gelap agak sulit Argan untuk berlari, di tambah Inka larinya sangat kencang.
"Kenapa Inka ada disini? apa dia ngikutin gue?" tanya Argan pada diri sendiri.
Argan terus mengejar Inka, entahlah tapi kenapa Inka bisa lari secepat itu sampai Argan tak bisa mengejarnya. Padahal hutan ini sangat gelap, meski ada bulan yang masih memberi sinarnya sedikit, tapi tetap saja hutan ini sangat gelap dan Argan malah meninggalkan lenteranya di gubuk.
Argan sudah lari jauh, namun dia kehilangan jejak Inka.
"Dedek!" teriak Argan.
"Deeeekk.." teriaknya lagi tapi tak ada sahutan dari sang adik.
"Gimana ini? jangan sampe dedek hilang!" Argan mengacak rambutnya frustasi. Dia benar-benar dalam bahaya besar. Inka hilang, jika ketemu pun bagaimana dengan yang sudah dia lihat tadi.
"Aaaa.." teriak Inka.
"Dedek!" Argan langsung menuju asal suara dan secepatnya mencari Inka.
"Dedek!!" pekiknya saat melihat Inka sedang tergeletak tak sadarkan diri.Argan segera menggendong Inka di punggungnya.
Dia bergegas untuk keluar dari hutan ini, itu tidak sulit bagi Argan untuk menemukan jalan keluar dari hutan ini. Karena sudah cukup lama dia selalu memangsa mangsanya di hutan ini. Dia sudah hafal seluk beluk hutan ini.
Tak butuh waktu lama Argan sudah keluar hutan dan dia sudah mulai memasuki pemukiman warga. Dia terus menggendong Inka. Sambil memikirkan bagaimana mengatakan pada Inka tentang apa yang dia lihat.
Hari sudah semakin larut, untung saja kedua orang tua mereka masih tidur. Jadi tidak ada yang tau habis ada yang keluar masuk rumah itu.
Argan membaringkan tubuh Inka di kasurnya. Argan menatap wajah cantik adiknya yang sedang terpejam.
__ADS_1
"Gue harus ngmong apa sama elo dek? gimana kalo ayah dan bunda tau? gue harus apa? gue harus jelasin apa? ini juga bukan kemauan gue, ini bukan kehendak gue, gue juga gak tau kenapa gue bisa berubah kaya gini, ya Tuhan apa salah gue!" Argan benar-benar frustasi dengan kejadian ini.
Bagaimana bisa dia sampai tidak tau Inka mengikutinya.
*Flashback on
Saat itu Inka terbangun karena merasa haus dan dia pergi ke dapur karena lampu di matikan jadi suasananya agak gelap meski ada lampu yang menyala di luar. Saat Inka akan kembali ke kamar dia melihat pintu kamar Argan terbuka, tadinya niat Inka akan menjaili kakaknya dia akan mengagetkan kakaknya. Tapi saat melihat gerak-gerik kakaknya yang mencurigakan dan juga pakaian yang dia kenakan ditambah Argan membawa lentera di tangannya, Inka tak jadi untuk menjaili kakaknya. Akhirnya dia hanya melihat gerak-gerik kakaknya.
Sampai dia terpaksa mengikuti kakaknya, karena dia penasaran mau kemana kakaknya di tengah malam buta begini.
Saat Argan sedang membius seorang wanita Inka sangat kaget, Inka pikir Argan akan menculiknya.
Tadinya Inka akan memprotes kakaknya tapi dia tak berani, lalu Inka pun mengikuti Argan lagi. Inka merasa ragu saat Argan akan memasuki hutan tapi sudah terlanjur pikir Inka, dia juga penasaran apa yang sedang dilakukan kakaknya itu, dia berjalan agak jauh dari Argan agar tidak ketauan, dia juga merasa takut berjalan ditengah hutan sendirian ditengah malam buta begini. Ditambah suasana dingin hutan menusuk tulang padahal tidak habis hujan tapi sangat dingin. Inka memeluk tubuhnya sendiri sambil terus fokus mengikuti kakaknya, agar tidak ketinggalan. Bahkan dia tidak berfikir bagaimana dia akan kembali kerumah, apa dia akan ingat jalan keluar hutan ini.
Sampai akhirnya Argan sampai di sebuah gubuk reot, Inka masih mengikutinya, saat Argan masuk dia hanya menunggu di luar sambil mengintip. Suasana gubuk sangat gelap, meski masih ada bias cahaya dari rembulan memancar ke arah gubuk. Namun di dalam gubuk masih terlihat jelas karena ada lentera yang di bawa Argan.
Inka terbelalak kaget saat melihat Argan sedang menggigit leher wanita itu, bahkan Inka melihat darah menetes di bibir Argan. Inka sampai menutup mulut agar tidak mengeluarkan suara. Dia masih meyakinkan diri apa itu mimpi atau nyata. Dia melihat lagi ke dalam untuk memastikan. Lalu dia mencubit tangannya dengan keras untuk memastikan mimpi atau bukan.
"Aaa.." teriaknya saat merasakan sakit ditangan yang dia cubit. Akhirnya dia yakin bahwa itu adalah nyata. Dia segera berlari takut kalo Argan akan melihatnya, lalu ketika dirasa aman dia bersembunyi di balik pohon, dia sangat ketakutan melihat sisi lain dari kakaknya. Padahal Inka mengenal kakaknya seorang yang sangat baik, penyayang dan bertanggung jawab sehingga Inka sangat mengagumi kakaknya itu. Tapi malam ini kekagumannya runtuh setelah tau sisi lain dari kakaknya.
"Kakak!" gumamnya lirih dengan air mata yang berderai dan tubuh yang gemeteran. Dia sangat kaget saat Argan menemukannya, namun dia tidak menyangka kalo Argan pun ikut kaget.
Argan kembali ke kamarnya dia tidak bisa tertidur membuat dia terus mengingat tentang dirinya. Padahal jika dia tertidur dia akan melupakannya. Tapi kali ini dia tidak bisa tidur karena hatinya dilanda kekhawatiran dan kecemasan. Di tambah dia semakin mengingat kejadian mengerikan itu, terkadang dia merasa jijik dengan dirinya sendiri.
...***...
Pagi menjelang Argan sama sekali tak tertidur dia benar-benar tak bisa melupakan kejadian semalam. Justru semakin melekat di otaknya. Bagaimana dia berhadapan dengan adiknya? bagaimana kalo adiknya menceritakannya pada kedua orang tuanya. Argan benar-benar menyesali kecerobohannya.
"Kak, cepetan sarapan nanti kesiangan sekolahnya!" teriak Inas di luar kamar.
Argan ragu untuk keluar tapi dia tidak mungkin bersembunyi terus di kamar. Terpaksa mau tidak mau Argan keluar. Meski langkahnya ragu, tapi dia memaksakannya.
Dia menghela nafas untuk menetralkan kegugupannya. Dia menuju meja makan, terlihat Inka sudah mulai sarapan, kepalanya terus tertunduk dia seperti enggan untuk melihat Argan, dia terus memalingkan wajahnya agar tidak berpandangan dengan Argan dan itu membuat hati Argan sakit.
"Dek! jangan benci kakak, kakak mohon!" ucapnya dalam hati.
__ADS_1
Melihat Inka mengabaikannya hati Argan terasa sakit, bagaimana jika orang tuanya tau. Apa dia akan di usir dan di buang, itulah pikir Argan.
Argan semakin takut Inka akan menceritakan kejadian semalam pada Ayah dan Bundanya.
Hari ini Argan hanya sarapan sedikit karena dia tidak bernafsu.
"Bun, yah aku berangkat dulu ya!" ucap Argan sambil beranjak.
"Makannya belum habis kak!"
"Entar aku kesiangan bun!"
"Gak bareng ayah?" Argan menggeleng.
"Aku udah pesen ojek online yah, biar cepet!" Argan pun pamit pada orang tuanya. Dia menyalami mereka. Saat dia akan menyalami Inka, Inka beranjak dan berpura-pura ingin ke kamar mandi. Dan membuat Argan semakin terasa sakit. Akhirnya Argan pun bergegas berangkat.
Di kamar mandi Inka menangis, dia tidak tau harus bagaimana, dia juga takut untuk bicara sama orang tuanya. Dia masih penasaran siapa sebenarnya kakaknya itu. Dia begitu mengerikan, Inka tidak bisa melupakan kejadian semalam, kejadian itu terus berputar di otaknya.
"Ayah bunda aku harus gimana?" gumamnya dengan air mata yang mengalir.
"Dek, cepetan nanti kesiangan, ayah udah mau berangkat tuh!" panggil Inas.
"Iya bun!" sahut Inka.
Dia pun keluar kamar mandi, dia menghapus air matanya. Dia bergegas masuk ke mobil setelah berpamitan dengan Inas. Di dalam mobil Inka banyak terdiam biasanya dia akan bawel dan cerewet dan membuat Ares bingung dengan sikap anak bungsunya.
"Dek!" panggil Ares. Tapi Inka tetap terdiam.
"Dedek gak apa-apa?" tanya Ares. Tapi Inka masih terdiam dan tenggelam dengan pikirannya.
"Ayah, apa kak Argan anak ayah?" tanya Inka. Membuat Ares ngerem mendadak, karena terkejut.
"Apa maksud dedek?" tanya Argan dengan mata yang membulat.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....