Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Sandi dan Shina 4 (Visual)


__ADS_3

Setelah hujan reda Sandi dan Shina melanjutkan perjalanan untuk pulang. Shina terus menggenggam tangan Sandi.


Mereka berjalan meninggalkan saung itu, sudah lumayan jauh mereka berjalan akhirnya mereka sampai di sebuah pemukiman.


"Kita istirahat dulu ya, kamu pasti capek!" Shina mengangguk. Lalu mereka mencari warung sekalian mereka mencari makan karena merasa lapar. Untung saja dompet Sandi tidak jatuh saat berkelahi. Jadi dia punya uang untuk membeli makanan.


Setelah selesai makan mereka melanjutkan lagi perjalanan mereka. Sandi mencari tumpangan agar bisa membawa Shina pulang, dia sudah tidak tega melihat Shina kelelahan.


"Capek ya?" Shina mengangguk lalu dia menyenderkan kepalanya di bahu Sandi sambil memainkan jari tangan Sandi. Sandi hanya tersenyum melihat tingkah laku kekasih kecilnya itu.


"Sayang!"


"Hm.. apa?" tanya Sandi. Apa dia salah dengar atau tidak Shina memanggilnya sayang.


Shina pun tak sadar dia langsung menutup mulutnya saat tersadar. Dia merasa malu karena keceplosan. Sandi tersenyum.


"Aku suka, kamu panggil aku sayang!" bisik Sandi.


"Siapa yang panggil sayang, nggak ada yang panggil sayang!" elak Shina. Sandi tertawa melihat wajah malu Shina.


"Jangan ketawain aku!" ucap Shina sebal.


"Enggak sayang, maaf!" ucap Sandi justru membuat Shina semakin blushing saat Sandi memanggilnya sayang.


Tak lama ada bus lewat, meski jurusannya bukan ke daerah tempat tinggal mereka, Sandi tetap memilih naik karena dari tadi menunggu tidak ada bus yang lewat.


"Ayo kita naik!" Shina mengikuti kemana Sandi mengajaknya, entahlah dia tak bisa menolak pria ini.


Di rumah, Ares dan yang lainnya sedang frustasi karena tidak ada kabar dari Sandi mau pun Shina. Argan terlihat semakin cemas, dia takut terjadi apa-apa pada Shina.


Tiba-tiba saja dahaganya kambuh. Dia merasakan panas terbakar lagi. Entah kenapa semakin kesini dia selalu merasakan dahaga setiap saat tidak lagi menunggu waktu malam jumat kliwon, bisa kapan aja kambuh dan ini pertama kalinya dia kambuh di siang hari.


Tubuhnya semakin panas terbakar, tenggorokannya sudah mulai panas kering dan perih. Dia segera berlari keluar membuat Ares dan yang lainnya kaget.


"Argaann!!" panggil Inas.


Ares mengejar Argan dia tau anaknya sedang mencari darah untuk menghilangkan dahaganya, tapi dia tidak menyangka Argan akan kambuh di siang hari.


Inas terlihat panik, mereka sudah hapal jika anaknya sedang kambuh. Penty dan Inka pun terlihat panik. Meski Penty tidak tau apa yang terjadi tapi melihat Inas panik dia pun ikut panik.


"Bunda ada apa? Argan kenapa?" tanya Penty.


Inas menggeleng dia tidak tau harus menjelaskan apa pada Penty.


Ares mengejar Argan yang terus berlari sambil terus memekik berkata haus. Argan mencari mangsanya tapi entah kenapa Argan seperti memilih mangsanya, kali ini dia tidak mencium bau wangi dari orang-orang yang di temuinya. Biasanya dia akan langsung membawa orang yang di temuinya untuk di hisap darahnya.


Argan terus berlari sangat kencang, Ares pun tak bisa mengejarnya. Orang-orang yang melihat Argan menatap aneh pada Argan.


Tak lama Argan melihat sekumpulan anak kecil yang sedang bermain. Argan menatap mereka seperti harimau melihat mangsanya yang siap menerkam. Dia terus menelan salivanya.


Dia menghampiri mereka, dia celingak celinguk agar tidak ada yang melihatnya mengambil salah satu dari mereka.


Sungguh darah dari anak-anak itu terasa sangat menggiurkan bagi Argan. Dia sudah tidak bisa menahan lagi dia ingin segera menghilangkan dahaganya.

__ADS_1


"Aa kunaon?" tanya salah satu anak.


Argan menggeleng dia berusaha menahan agar tidak meminum darah itu disini atau dia akan mati di hajar massa.


"Kalian mau jajan gak?" rayu Argan.


"Mau a!" jawab mereka.


"Ini uang untuk jajan, sana pergi jajan!" ucap Argan. Lalu mereka pun pergi jajan.


Lalu Argan mendekati anak balita yang sedang bermain di boxnya di depan rumah, kenapa orang tuanya meninggalkan anak sekecil itu di luar rumah.


Argan segera menggendong balita itu, dia mengendus tubuh balita itu.


"Nikmat!" gumamnya.


Dia segera membawa balita itu pergi ke arah hutan, seperti biasa dia akan menyantap mangsanya di hutan. Balita itu terus menangis Argan membekap mulut balita itu agar berhenti menangis.


Sungguh Argan sudah tidak punya rasa kemanusiaan lagi, hati nuraninya di kalahkan oleh darah iblis yang mengalir ditubuhnya. Dia tak peduli anak kecil atau pun dewasa, jika dia menginginkannya dia akan memangsanya.


Ternyata sekarang dia menginginkan darah dari manusia yang masih suci. Sebelumnya dia tidak pernah memilih mangsanya, namun semakin kesini penciumannya selalu memilih mana bau darah yang nikmat untuk di santap. Sebelumnya dia menginginkan darah dari gadis perawan dan sekarang dia menginginkan darah dari manusia yang masih suci.


Entahlah apakah masih ada sisi manusianya? tentu saja ada, dia akan menyesali perbuatannya ketika dia telah tersadar. Tapi ketika jiwa iblis nya sudah menguasai, sisi manusianya akan terkalahkan.


Argan sudah berjalan cukup jauh dia sudah memasuki hutan, anak kecil itu masih saja menangis. Argan menyeringai melihat santapan di hadapannya.


Dia segera menyantap santapan nikmat yang ada di hadapannya. Namun belum sempat dia menyantapnya. Tiba-tiba ada yang memukul punggung Argan hingga dia tak sadarkan diri.


Ares segera menggendong balita itu, seketika dia berhenti menangis saat Ares yang menggendongnya. Ares pergi membawa balita itu untuk di kembalikan, namun sebelum pergi dia mengikat Argan dulu agar dia tidak kabur saat tersadar.


Setelah mengembalikan balita itu pada orang tuanya. Ares kembali ke hutan untuk membawa Argan pulang. Ares menggendong Argan dan membawanya pulang.


Inas panik melihat anaknya di gendong suaminya dengan keadaan tak sadarkan diri. Ares segera membaringkan tubuh Argan di kasur.


"Apa yang terjadi yah? Apa dia melakukannya lagi?" Ares mengangguk.


Inas menangis dia tidak sanggup terus-terusan melihat anaknya seperti ini. Ares memeluk istrinya.


"Sampe kapan yah? Bunda gak tega lihat anak kita kaya gini!"


"Bun kita harus segera meminta pertolongan pada Shina!"


"Iya tapi sekarang kita tidak tau keberadaan Shina di mana yah!" isak Inas.


Sungguh ujian ini sangat berat untuk Ares dan Inas, dulu mereka bisa dengan sabar dan kuat mendapat ujian untuk melawan iblis. Tapi kali ini yang mereka hadapi adalah darah daging mereka sendiri.


Di tempat lain Sandi dan Shina baru turun dari bis. Mereka justru ketiduran di bis hingga membuat mereka terbawa jauh dari tempat mereka tinggal.


"Kita mau kemana bang?" Sandi tidak tega melihat kekasihnya sudah sangat kelelahan.


"Kita cari penginapan biar kamu bisa istirahat! nanti kita lanjutin lagi!" Shina mengangguk.


"Maaf ya gara-gara abang ketiduran kita jadi kebablasan!"

__ADS_1


"Gak apa-apa bang, aku seneng bisa jalan berdua sama kamu!" ucap Shina tersenyum.


Sandi sangat bahagia kekasihnya begitu pengertian, tapi dia tetap tidak tega melihatnya kelelahan. Mereka pun berjalan untuk mencari penginapan sekalian mencari telpon untuk menghubungi Ares.


Tak lama mereka menemukan penginapan, Sandi ingin menanyakan telpon untuk menelpon Ares, Penty atau Inas. Namun dia lupa nomer mereka.


"Sayang kamu inget nomer papa kamu?" tanya Sandi. Shina mengangguk mereka pun meminjam telpon untuk menelpon Fahri. Namun nomernya tidak bisa di hubungi. Lalu dia menelpon nomer rumahnya, namun tak ada yang mengangkat.


"Gak ada yang bisa!" Shina menunduk dia sungguh merindukan papanya.


"Apa kamu inget nomer Argan?" tanya Sandi. Shina menggeleng. Sandi menghela nafas, akhirnya mereka pun memutuskan menginap disana. Sandi memesan dua kamar untuk mereka.


Sandi mengantar Shina ke kamarnya, namun saat Sandi akan melangkah pergi Shina menahannya.


"Ada apa? hm.." Shina menunduk dia malu untuk mengatakan ingin di temani.


"Aku takut sendirian!" jawabnya malu-malu.


Sandi tersenyum dia mengerti kekasihnya ini sedang ketakutan karena ini tempat baru. Sandi pun mengajak Shina ke kamar dan menemaninya.


"Kamu langsung istirahat ya!" Shina menggeleng.


"Kenapa sayang?" tanya Sandi sambil mengelus kepala Shina. Shina menatap Sandi.


"Nanti abang pergi ninggalin aku sendiri kalo aku tidur!"


"Ya udah abang akan temanin kamu tidur di sini, nanti abang tidur di sofa!" Shina mengangguk lalu dia membaringkan tubuhnya di kasur sampai dia terlelap.


Lalu Sandi menyelimuti Shina dan dia berlalu ke sofa untuk beristirahat.


.......


.......


...Bersambung.....


Visualnya imajinasi Author aja ya, kalo gak suka bayangin sendiri aja. 😁 Kalo visualnya Ares dan Inas mah udah tau ya di season pertama.


Argan Adhiasta Wijaya



Areshina Felisha Putri



Penty Purnama Wiraguna



Sandi Wiraguna


__ADS_1


__ADS_2