Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Keanehan Argan


__ADS_3

Hari berganti bulan, bulan berganti tahun, beberapa tahun sudah berlalu, saat ini usia Argan menginjak lima tahun.


Dia sedang bermain dengan mobil dan robot mainannya. Sedangkan Inas sedang memasak untuk sarapan keluarganya. Ares baru selesai mandi dan menghampiri Argan yang sedang bermain sendiri.


"Morning jagoan ayah!" ucapnya sambil mengecup puncak kepala Argan dan duduk dekat Argan.


"Mainnya sendiri aja sayang?"


"Enggak yah, aku main sama kakak!" jawab Argan sambil menatap Ares, membuat Ares mengerutkan dahi.


"Kakak? kakak siapa nak?"


"Kakak iyo yah" jawab Argan.


"Ohh itu nama robot Argan ya?" Argan menggeleng.


"Terus siapa nak?" Ares penasaran dengan ucapan anaknya itu.


"Temen Agan, dia ada disamping ayah." jawab Argan semakin membuat Ares bingung, pasalnya disana tidak ada siapa-siapa selain dia dan anaknya.


"Iya udah lanjutin ya mainnya!" Argan mengangguk dan kembali bermain sesekali dia berbicara sendiri, seperti ada yang mengajaknya bicara dan semakin membuat Ares bingung. Tapi dia mengabaikannya mungkin aja itu khayalannya Argan, pikirnya.


Lalu dia menghampiri istrinya yang sedang cuci peralatan masak karena baru selesai masak. Ares memeluk Inas dari belakang.


"Morning bunda cantik!" sapanya sambil mencium pipi Inas. Perlakuan Ares tidak pernah berubah masih sama seperti dulu, penuh cinta dan mesra.


"Ayah udah mandi belum?" tanya Inas. Semenjak Argan mulai besar panggilan mereka terbiasa ayah bunda.


"Emang bunda gak cium bau ayah udah wangi?" tanya Ares sambil terus memeluk Inas dan mengganggunya yang sedang mencuci peralatan.


"Kenapa belum ganti baju? Emang gak ke kantor?"


"Gak bun, ayah lagi pengen dirumah sama bunda sama Argan, kangen sama kalian." jawab Ares sambil terus mengganggu istrinya.


"Ya udah sana temenin Argan main yah, kok malah gangguin bunda sih," ucap Inas sebal.


"Entar main sama Argannya, masih kangen sama bunda," rayunya sambil terus menciumi pipi dan leher Inas.


"Ck.. ayah ini bunda lagi repot yah."


"Bun, Argan kan udah gede, bikin dedek yuk!!"


"Aaaa..aaa.. ampun bun ampun!!" Ares meringis karena Inas mencubit pinggang Ares. Sebab Inas kesal melihat tingkah suaminya itu. Tapi tak membuat Ares melepaskan pelukannya.


"Emang kenapa sih? Setiap ayah ngomongin itu, bunda marah mulu." sungut Ares sambil mengerucutkan bibirnya.


"Masih pagi yah udah ngomongin kaya gitu. Udah sana ayah main sama Argan."


"Tapi nanti malam ya." ucap Ares tersenyum jail sambil terus menggoda istrinya.


"Ayah!! udah sana temenin Argan" Ares pun melepaskan pelukannya, tak lupa mencium pipi Inas dan kembali menghampiri Argan. Inas hanya geleng-geleng kepala liat kelakuan suaminya.


Tapi saat Ares memperhatikan Argan, dia bingung karena Argan masih berbicara sendiri, bahkan dia seperti menyodorkan mainannya entah pada siapa, karena disana tidak ada siapa pun selain Argan.


Ares pun tidak mempedulikannya dan menghampiri Argan yang sedang bermain.


"Sini main sama ayah." Argan menggeleng.


"Kenapa?" Ares sedih karena Argan tidak mau main dengannya.


"Mau main sama kakak!" jawab Argan. Ares dibuat bingung sama anaknya itu. Siapa yang di maksud kakak? pikirnya.


Akhirnya Ares hanya memperhatikan anaknya bermain. Dan membuat Ares semakin bingung melihat tingkah anaknya, seperti tidak main sendirian. Argan tertawa seperti ada yang mengajaknya tertawa, Ares hanya memperhatikan anaknya itu.


"Kayaknya itu bukan khayalan Argan, saya memang udah tidak bisa merasakan kehadiran makhluk halus, tapi saya yakin ada yang sedang mengajak main Argan, siapa dia? Semoga dia gak jahat!" pikirnya.


"Yah, kok bengong!!" Inas membuyarkan lamunan Ares.


"Ayo sarapan dulu yah." ajak Inas.


"Iya bun." Ares pun menggendong Argan untuk sarapan bersama.


Inas mengambilkan nasi dan lauk untuk Ares, lalu dia mengambil nasi untuk Argan.


"Ayo sayang kita sarapan dulu!" Inas mengambil Argan dari Ares. Lalu dia memangku Argan dan menyuapinya.


"Kakak ayo makan.." ucap Argan lalu tertawa.


Membuat Inas dan Ares saling berpandangan. Lalu Ares melanjutkan makannya, begitu juga Inas melanjutkan menyuapi Argan. Apa yang dipikirkan Inas sama dengan pikiran Ares tentang anaknya.

__ADS_1


"Nda kakak mau makan!" ucap Argan sambil menatap bundanya.


"Iya adek dulu makan ya, nanti baru kakak!" Argan menggeleng.


"Agan mau makan sama kakak!" ucap Argan polos.


"Iya sayang nanti kakak juga makan, sekarang adek dulu makan ya," rayu Inas sambil memasukan nasi ke mulutnya, Argan pun tidak menolak dia mengunyah dan memakannya.


Ares hanya memperhatikan tingkah anaknya, Inas menatap suaminya yang sedang memperhatikan Argan.


"Yah.." Ares terdiam saat Inas memanggilnya.


"Ayah!" sentak Inas. Membuat Ares tersentak.


"I-iya bun, kenapa?"


"Ayah lagi makan kok ngelamun!" Ares hanya menyengir lalu melanjutkan makannya.


"Yah!!"


"Iya sayang."


"Bagaimana proyek rumah kita? Progresnya udah berapa persen?" tanya Inas.


"Ayah belum kesana lagi, terakhir ayah kesana udah 75% bun."


Inas mengangguk. "Sebentar lagi dong yah?"


"Iya sebentar lagi kita pindah ke rumah baru,"


"Syukurlah, lalu kamu jual mau Apartemen ini yah?" tanya Inas. Karena sebelumnya Ares berencana jual Apartemennya saat mereka sudah punya rumah.


"Enggak bun, mau ayah sewain aja, biar Apartemen ini buat anak kita nanti!" jawab Ares.


"Bunda sih terserah ayah aja."


Ares melanjutkan sarapannya, Inas pun melanjutkan menyuapi Argan yang malah lepas dari pangkuan dan lari-lari.


"Jangan lari nanti jatoh sayang!" Tapi Argan tak mendengarkan ucapan bundanya, dia masih terus lari-lari dengan teman gaibnya. Seorang anak laki-laki berumur delapan tahun bernama Tio.


...***...


Sore itu Inas dan Argan sedang bermain ditaman Apartemen, disana banyak anak-anak yang bermain, ada yang sama ibunya ada juga yang sama baby sitternya. Argan sedang bermain lari-larian sendiri, dia malah menjauh dari teman-temannya. Tapi Inas tau anaknya tidak sedang main sendiri ada yang sedang menemaninya.


Inas sendiri sedang berbincang dengan ibu-ibu lainnya. Tak lama ada anak menangis karena terjatuh, lututnya berdarah.


Argan yang melihat itu terpaku melihat temannya menangis. Tapi perhatiannya bukan pada temannya melainkan pada darah si anak itu. Argan terpaku sambil sesekali menelan ludah, bahkan panggilan dari teman gaibnya tidak dia hiraukan.


Lalu Inas yang menyadari anaknya tiba-tiba terdiam langsung menghampirinya.


"Sayang kenapa? Kok bengong?" tapi Argan juga tidak mempedulikan panggilan ibunya. Dia terus memperhatikan anak itu, sampai anak itu di gendong dan dibawa pulang. Argan menatapnya sampai anak itu tak terlihat lagi dari pandangannya. Barulah Argan tersadar.


"Nda ayo pulang!" ajaknya sambil menatap Inas.


"Ayo sayang udah capek ya?" Inas langsung menggendong Argan lalu berpamitan pada ibu-ibu yang disana.


Sesampainya dirumah, Argan jadi pendiam bahkan dia tidak mau lepas dari gendongan Inas.


"Kenapa nak? Adek sakit, apanya yang sakit sayang?" tanya Inas saat melihat anaknya tiba-tiba diam dalam pelukan Inas, biasanya dia sangat aktif lari-larian terus.


Ares menghampiri anak istrinya saat mendengar suara istrinya ngomong.


"Kok anak ayah udah pulang mainnya?" Ares langsung menggendong Argan dan mengangkat-ngangkat Argan ke udara. Tapi reaksinya tidak seperti biasanya yang akan tertawa senang bahkan selalu minta di ulang-ulang dan itu membuat Ares bingung.


"Kenapa kok diem?" Ares melirik Inas untuk minta penjelasan ada apa dengan anaknya. Inas hanya mengendikan bahunya.


"Ayah yang wana meyah itu apa?" tanya Argan polos. Membuat Ares dan Inas mengernyitkan dahi.


"Maksudnya nak?" Ares tidak mengerti dengan ucapan anaknya, bukan tidak mengerti dengan bahasa anaknya, tapi tidak mengerti apa maksud dari perkataannya.


"Emang apa sih bun yang warna merah?" tanya Ares pada Inas.


"Bunda gak tau juga yah!" Namun tiba-tiba Inas mengingat sesuatu, tiba-tiba saja tadi Argan terdiam menatap temannya yang terjatuh, tapi Inas tidak tau apa penyebab anaknya seperti itu.


"Ya udah sekarang main sama ayah ya?" Argan menggeleng dia malah memeluk Ares dengan wajah yang lesu.


"Adek kenapa sayang?" Ares dan Inas khawatir melihat anaknya yang tiba-tiba seperti itu.


"Yah apa Argan sakit?" Tapi Argan menggeleng setiap ditanya sakit. Membuat Ares dan Inas bingung melihat sikap anaknya.

__ADS_1


...***...


Siang telah berlalu berganti malam, sang mentari telah menyelesaikan tugasnya, berganti dengan bintang dan rembulan, namun malam itu tak nampak adanya bintang atau pun rembulan hanya ada gumpalan-gumpalan awan hitam yang mungkin saja akan meneteskan air matanya.


Inas baru selesai menidurkan Argan, setelah anaknya terlelap dia kembali ke kamarnya menghampiri suaminya yang sedang berkutat dengan laptopnya.


"Ayah kok masih kerja aja sih?" tanyanya sambil duduk disamping suaminya.


"Iya sayang ini sebentar lagi selesai kok, Argan udah tidur?" Inas mengangguk.


"Mau kopi yah?" tanya Inas. Ares menggeleng lalu menatap istrinya yang sedang menatapnya.


"Kenapa?" tanya Inas bingung saat melihat tatapan suaminya.


cup


Kecupan hangat mendarat dibibir istrinya, lalu tiba-tiba Ares memeluk istrinya.


"Kangen sama bunda!!"


"Tiap hari kan ketemu yah."


"Kangen berduaan," ucapnya sambil menatap istrinya.


"Yuk!!"


"Ayuk apa?" tanya Inas bingung. Tapi Ares malah menggendong Inas dan membaringkannya dikasur.


"Bikin adek buat Argan," bisiknya di telinga Inas.


"Ihh ayah lagi kerja juga, bukannya selesain dulu kerjanya," Ares menggeleng.


Lalu saat sedang mencium istrinya, suara ponsel berbunyi. Membuat Ares menghentikan aktivitasnya, dia pun beranjak dan mengangkat telpon.


Setelah selesai menelpon Ares kembali lagi menghampiri istrinya, lagi-lagi aktivitasnya diganggu oleh suara ponsel, kali ini ponsel Inas yang berbunyi. Ares hanya menghela nafas,


lalu Inas pun mengangkat telpon.


Setelah selesai menelpon Inas menghampiri suaminya.


"Bun matiin aja hapenya, ganggu!" ucap Ares sebal. Inas mengangguk dan mematikan ponselnya.


Baru juga mulai memeluk Inas udah ke ganggu lagi dengan suara bel, akhirnya tertunda lagi deh tuh acaranya. (kasian banget ya 😂😂)


Inas pun beranjak dan membuka pintu. Siapa malam-malam begini bertamu? pikirnya.


Setelah selesai membuka pintu yang ternyata petugas Apartemen yang mengantarkan paket untuk suaminya, Inas kembali ke kamar.


"Siapa bun?"


"Nih paket buat ayah"


"Ohh taro aja bun di meja!!"


Ares yang sudah menahan kesal karena terus di ganggu, langsung menarik Inas.


"Iihh ayah sabar dong."


Ares memeluk Inas dan menatap istrinya, lalu mencium bibir Istrinya sambil meraba-raba tubuh istrinya.


Tok Tok Tok


"Ayah.. ndaaa.." suara panggilan dan ketukan pintu kamar menggagalkan acara mereka lagi, karena anaknya mengetuk pintu.


Ares benar-benar menahan kesal, karena lagi-lagi ritual malamnya gagal.


"Iya sayang sebentar nak!!" ucap Inas lalu membuka pintu terlihat anaknya sedang berdiri sambil mengucek mata.


Lalu Inas menggendongnya. "Ada apa sayang?"


"Pengen bobo sama nda, sama ayah!" jawab Argan dengan suara khas baru bangun tidur, membuat Ares sebal. (Gagal maning son 🤣🤣)


Lalu Inas pun membawa Argan tidur bersamanya. Inas yang melihat suaminya kesal, hanya terkekeh melihat wajahnya yang memberengut.


Akhirnya mereka pun terlelap dan masuk ke alam mimpi masing-masing.


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung.....


...Jangan lupa dukungannya ya. Like dan komennya ditunggu. Terima kasih 😊...


__ADS_2