Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Kepergian Argan 2


__ADS_3

Sudah beberapa hari Argan belum pulang dia masih betah tinggal sama Sandi.


"Gan sampe kapan kamu tinggal disini?"


"Om ngusir aku!"


"Enggak gitu, kasain orang tuamu pasti nyariin!"


"Gak bakalan om!"


"Gak bakalan gimana mereka pasti nayariin kamu Argan dan khawatirin kamu!"


"Gak mungkin lah om, mereka pasti membenciku seperti Inka setelah tau siapa aku sebenarnya!" ucapnya dalam hati.


"Udahlah om, aku masih pengen disini" ujar Argan. Sandi hanya menggelengkan kepalanya.


"Terserah kamu lah!" Sandi pun beranjak.


Sedangkan Inas sedang terbaring dikamarnya dia sakit karena terus memikirkan Argan yang belum pulang. Ares sudah mencarinya dan dia di bantu Reka. Ares juga sudah menceritakan masalahnya pada Reka. Dan akhirnya Reka membantunya.


Namun Ares belum menemukan keberadaan putranya itu. Marvel dan Shina juga membantu mencari Argan. Namun belum ada yang menemukan dimana keberadaan Argan.


Hari ini Marvel dan Shina sedang di rumah Argan untuk membahas pencarian Argan. Sedangkan Shina dia menemani Inas dan Inka.


"Jadi elo mau ke Tangerang kak?" tanya Reka. Ares mengangguk.


"Jika disini tidak ada, kemungkinan Argan kembali ke sana!" ujar Ares.


"Ya semoga aja dia ada disana!"


"Aamiin.." ucap Ares dan Marvel.


Setelah mereka berdiskusi Reka pamit pulang. Lalu Marvel pun ikut pamit tapi Shina masih mau menemani Inas dan Inka.


Lalu Ares pun masuk kamar, Shina dan Inka keluar kamar.


"Sayang!!"


"Gimana yah, Argan udah ketemu?" tanya Inas lemas.


"Belum sayang bunda sabar ya, ayah pasti nemuin anak kita!"


Inas terisak lalu dia bangkit, Ares membantunya karena tubuh Inas sangat lemah bahkan wajahnya sangat pucat.


"Sayang makan ya terus minum obat!" Inas menggeleng.


"Bunda gak bakalan sembuh minum obat yah, karena obat bunda adalah Argan!" ucap Inas terisak sambil menyenderkan kepalanya di bahu Ares.


"Ayah janji ayah akan bawa Argan pulang sayang!"


"Bener ya, ayah gak bohong?" Inas menatap suaminya.


"Iya sayang!" Inas memeluk Ares.

__ADS_1


"Kenapa kita gak menyadarinya, padahal kita sudah tau bahwa kutukan itu benar-benar akan terjadi, kenapa kita membiarkan Argan menanggungnya sendiri, dia pasti sangat ketakutan yah!" Ares mengelus kepala istrinya dan mengecup pucuk kepala Inas.


Sedangkan Argan sedang berbaring di sofa, tiba-tiba dia merasakan perasaan tidak enak.


"Bunda, apa bunda baik-baik aja, kenapa aku terus teringat bunda!" pikirnya.


Tak lama Sandi menghampiri Argan dan pamit untuk keluar.


"Nanti kamu tolong jemput Penty ya gan!"


"Hm.." jawab Argan singkat. Lalu Sandi pun pergi.


Setelah beberapa jam, Argan pun siap untuk menjemput Penty di sekolahnya.


Lima belas menit Argan menempuh perjalanan, dia sampai di sekolah Penty, tak perlu waktu lama Penty pun keluar sekolah.


Penty celingak celinguk mencari seseorang, lalu Argan membunyikan klakson motornya. Dia tidak melepaskan helmnya karena tidak mau menjadi pusat perhatian. Penty pun menghampiri karena kenal motor itu.


"Kok elo yang jemput, om kemana?"


"Ada urusan, cepat naik!"


Penty pun naik dan Argan langsung melajukan motornya. Dia langsung ngegas membuat Penty reflek memeluk Argan.


"Pelan-pelan dong, kalo gue jatuh gimana?" ujar Penty kesal. Argan hanya terkekeh di balik helmnya karena berhasil mengerjai Penty.


Lalu Argan sengaja memainkan rem dan gas motornya hingga membuat Penty terus mepet ke arah Argan.


"Elo sengaja ya mau modus sama gue!" Penty kesal karena di kerjain Argan. Meski kesal tapi dia tak melepaskan pelukannya.


"Argaannn.." pekik Penty kesal sambil memukul-mukul punggung Argan.


"Ampun.. ampun.. iya gue berhenti!" ucap Argan nyerah karena Penty terus memukulinya.


Setelah mereka berjalan sekitar sepuluh menit dari sekolah. Tiba-tiba Penty menyuruh Argan menghentikan motornya. Argan pun menghentikannya. Lalu Penty turun dan berlari ke arah rumah sakit. Argan pun mengikutinya.


"Mama.." panggil Penty saat dia melihat Intan mamanya. Penty langsung memeluk Intan dan terisak, di luar dugaan Intan melepaskan paksa pelukan Penty.


"Ngapain kamu peluk-peluk saya, pergi!!" pekik Intan.


"Mama.." lirih Penty berderai air mata. Intan pun meninggalkan Penty yang sedang menangis karena di perlakukan buruk oleh mamanya sendiri. Argan menghampiri Penty, tapi Penty malah berlari meninggalkan Argan.


"Pen..!" Argan pun mengikuti Penty berlari.


"Pen, tunggu!!" Penty tak menghiraukan panggilan Argan. Argan mengejar Penty dan akhirnya Argan bisa menjangkau Penty dan menarik tangan Penty lalu Argan memeluknya.


"Menangislah jika membuat hati lo tenang!" ucap Argan sambil mengelus kepala Penty. Tangis Penty pun pecah dalam pelukan Argan.


Argan mengelus punggung Penty untuk menenangkan Penty.


Penty masih terisak, setelah merasa tenang Argan mengajak Penty duduk di bangku taman. Argan dan Penty berpandangan, lalu Argan menyeka air mata Penty.


"Jangan nangis lagi ya, gue gak mau liat lo nangis!" Penty menatap Argan perasaanya aneh saat menatap Argan.

__ADS_1


"Kenapa gue merasa nyaman didekat Argan!" ucapnya dalam hati. Argan dan Penty masih saling menatap dan Argan masih memegang pipi Penty.


"Gue sayang sama lo!" ucap Argan tiba-tiba membuat Penty memperdalam tatapannya.


"Maksud lo?"


Argan mendekatkan wajahnya ke wajah Penty, lalu Argan mencium pipi Penty membuat Penty terbelalak kaget. Belum selesai keterkejutan Argan membuatnya terbelalak kaget lagi.


"Gue suka sama lo, elo mau gak jadi pacar gue?" bisik Argan di telinga Penty.


Penty speechles, apa dia gak salah dengar atau dia sedang halusinasi, pikir Penty.


"Elo apaan sih, jangan becanda deh!" ucap Penty sambil mendorong Argan setelah tersadar dari keterkejutannya. Argan tertawa melihat wajah Penty yang memerah.


"Elo tau aja gue lagi becanda, mana mungkin gue suka sama lo! lagian juga gue di larang pacaran sama bunda!" ucap Argan tertawa.


"Nyebelin lo!!" Penty kesal karena Argan berhasil mengerjainya lagi. Namun jauh di dalam lubuk hatinya dia merasa kecewa karena Argan tidak benar-benar menyukainya.


"Udah ayo pulang, keburu sore nih!" ucap Argan sambil menarik tangan Penty. Lalu mereka berjalan menuju motornya yang mereka tinggal di dekat rumah sakit. Argan dan Penty pun pulang dengan menaiki motornya.


Mereka terdiam saat berada di motor. Setelah sampai rumah, Penty langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Argan langsung rebahan di sofa.


Setelah selesai mandi dan berganti baju, Penty menghampiri Argan yang sedang terbaring di sofa.


"Elo mau di masakin apa?" tanya Penty.


"Terserah kamu, aku bakal makan apa pun yang kamu masak!" jawab Argan masih sambil terbaring dan memejamkan mata.


"Kamu! sejak kapan elo panggil aku kamu!"


"Sejak sekarang!" ucap Argan lalu dia bangkit dari rebahanya dan menatap Penty yang sedang duduk di sofa sebrang.


Penty yang merasa risih ditatap Argan langsung beranjak. "Mau kemana?"


"Mau masaklah!" jawab Penty sambil berjalan menuju dapur.


"Bantuin gak?" teriak Argan.


"Gak perlu gue bisa sendiri!" sahut Penty berteriak juga.


Argan pun tersenyum dia kembali merebahkan tubuhnya tapi baru saja dia memejamkan mata. Terdengar teriakan Penty, Argan pun langsung beranjak dan menghampiri Penty.


"Kenapa?" tanya Argan panik.


"Enggak apa-apa! tangan gue kena pisau!" jawab Penty.


Argan langsung memegang tangan Penty dan menghisap jari telunjuk Penty yang terkena pisau.


Argan menghisap jari telunjuk itu sambil memejamkan mata, bukan apa-apa darah Penty terasa sangat manis entah kenapa jiwa iblisnya muncul dan ingin terus menghisap darah Penty sampai tandas. Argan menghisap kuat telunjuk Penty. Sampai Penty meringis kesakitan.


"Argan stop!" pekik Penty sambil berusaha melepaskan tangannya. Tapi Argan memegang kuat tangan Penty dan terus menghisap darah Penty. Argan tak mempedulikan teriakan Penty yang terus berteriak meminta berhenti. Tapi Argan tak menghiraukannya jiwa iblisnya tak bisa di kendalikan, dia terus menghisap darah Penty hingga Penty terkulai lemas dan Brukkk..


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung.....


__ADS_2