Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS

Jiwa : Season 2 DARAH IBLIS
Last Episode


__ADS_3

Hari-hari di jalani Argan dengan bahagia, selain dia sudah melabuhkan hatinya pada gadis pujaannya, dia pun bahagia karena sudah tidak ada lagi yang mengganggu keluarganya, dia bahagia iblis itu sudah musnah, meski tetap harus terluka karena harus mengorbankan ayahnya sendiri.


Hari ini dia baru pulang dari kampusnya, wajahnya nampak lelah dan lesu.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." jawab penghuni rumah.


Ternyata di rumahnya sedang ada tamu.


"Om Ayub!" sapa Argan sambil menyalami Ayub.


"Hai gan! gimana keadaannya?"


"Alhamdulillah baik om!"


"Ini siapa om?" tanya Argan pada seorang anak laki-laki umurnya sekitar di bawah dia 3 tahunan.


"Ohh ini anak om, namanya Iqbal!" jawab Ayub.


"Argan!" sapa Argan memperkenalkan diri.


"Iqbal kak!" balas Iqbal.


Tak lama Inas datang membawa minuman untuk tamu.


"Ehh kakak udah pulang!" Argan mengangguk setelah Inas menaruh minumannya dia menyalami bundanya, lalu Inas duduk di samping Argan.


"Nah karena sekarang sudah ada Argan, saya langsung bicara aja ya!" ujar Ayub. Membuat Argan kebingungan. Inas hanya mengangguk dan tersenyum.


Lalu Ayub mengeluarkan sebuah kotak dan memberikannya pada Argan.


"Apa nih om?" tanya Argan.


"Buka aja!" Argan pun membukanya dia terkejut melihat kalung belatinya. Argan menatap Ayub lalu menatap Inas.


"Kenapa belati ini bisa ada di om?" tanya Argan heran.


"Kamu inget pria bertopeng yang bantuin kita saat melawan iblis itu?" tanya Inas. Argan mengangguk dan menatap Inas.


"Itu adalah om Ayub dan yang satunya dia itu murid kakekmu, yang dulu pernah menjaga kamu, namanya Braga!" ujar Inas. Argan melongo.


"Bunda serius?" Inas mengangguk lalu Argan menatap Ayub dan Ayub pun mengangguk dan tersenyum.


"Tapi kenapa belati ini di kembalikan ke Argan om?"


"Karena itu hak kamu, kakek Nur Jagad sudah mewariskannya padamu! beliau menitipkannya pada om! kamu jaga baik-baik belati itu ya, jangan sampai belati itu jatuh ke orang yang salah, takutnya di gunakan buat hal yang tidak baik!!" ujar Ayub.


Argan mengangguk lalu dia terdiam dan menatap belati itu.


"Lalu bagaimana om bisa tau soal kejadian itu?" tanya Argan.


"Alhamdulillah dengan petunjuk dari Allah om bisa tau gan!" jawab Ayub. Argan mengangguk dia tidak ingin banyak bertanya lagi, sudah pasti semuanya adalah takdir Allah yang sudah di tentukan untuk mereka.


"Makasih ya om, udah mau bantu aku dan keluarga aku!"


"Sudah kewajiban kita untuk menolong saudara kita!"


Setelah perbincangan itu, Ayub dan Iqbal pamit pulang ke rumah adiknya Ayub yang ada di Bandung.


Lalu Argan menatap belati itu.


"Apa yang harus aku lakukan dengan belati ini bun?" tanya Argan.


"Simpan saja nak, mungkin saja suatu saat nanti bisa bermanfaat buat kebaikan!" jawab Inas.


"Iya bunda!" Inas tersenyum dan mengelus kepala Argan.


"Oh iya bun, bagaimana hubungan om Sandi dan Shina? apa masih belum di kasih restu sama om Fahri?" tanya Argan. Inas menggeleng.


"Besok Shina akan berangkat ke Perth, om Sandi udah menerima keputusan om Fahri untuk membiarkan Shina menggapai cita-citanya dulu, jika memang kelak mereka berjodoh Insya Allah mereka akan bersatu, sekarang om Sandi pengen fokus ngurusin perusahaan ayah!"


Argan mengangguk. "Aku doain semoga om Sandi dan Shina berjodoh!" ucap Argan.


"Aamiin.."


...***...

__ADS_1


Lima tahun berlalu Argan sudah menyelesaikan kuliahnya dan juga sudah mengurus perusahaan ayahnya.


Siang itu saat Argan sedang duduk di ruangannya, seseorang datang menghampirinya.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Argan tersenyum menatap istrinya yang dia nikahi 3 bulan lalu. Lalu istrinya duduk di sofa.


"Ini udah waktunya makan siang, kok masih aja sih ngurusin kerjaan!" omel Penty sambil membuka kotak makan yang di bawanya. Argan menutup laptopnya dan menghampiri istrinya, lalu dia duduk disampingnya sambil memeluk mesra istrinya.


"Sekarang bawa apa yank?"


"Tadi aku masak bareng bunda yank, aku masakin udang saus tiram dan telur puyuh balado kesukaan kamu!" Argan mengecup pipi Penty.


"Makasih ya istriku tercinta!!" Penty tersenyum lalu menatap Argan yang sedang memeluknya dari samping.


Cup..


Argan mengecup bibir Penty. "I Love You!" Penty tersenyum dan mengusap pipi suaminya.


"Ya udah kamu makan dulu ya!" Argan mengangguk. Lalu seperti biasa dia akan bersikap manja pada Penty dan minta di suapi.


"Oh iya yank, hari ini Shina pulang dari Perth!" ucap Penty. Argan mengangguk lalu mengunyah makanannya dan menelannya.


"Om Sandi udah tau?" Penty mengangguk.


"Dia akan jemput Shina dibandara dan katanya dia akan langsung melamar Shina, dia gak mau buang waktu lagi katanya!" ucap Penty. Argan hanya menganggukan kepalanya.


"Bagus deh biar om Sandi gak galau terus!" ucap Argan sambil terkekeh.


Setelah selesai makan, Penty membereskan bekas makan suaminya itu.


"Yank jangan pulang dulu ya, aku masih kangen!" ucap Argan sambil memeluk Penty. Penty hanya menggelengkan kepalanya.


"Aku harus pulang yank, kasian bunda sendiri, dedek kan lagi gak ada di rumah!" Argan cemberut dan mengeratkan pelukannya.


"Ya udah makanan penutupnya mana?" Penty menghela nafas melihat kelakuan suaminya, dia sudah tau kebiasaan suaminya itu.


Lalu dia segera mencium bibir Argan, seperti biasa Argan tak akan melepaskannya begitu saja, dia akan menahan Penty hingga dia puas menikmati bibir istrinya, dia ******* lembut bibir istrinya sambil menahan tengkuk Penty, Penty mengalungkan lengannya di leher Argan dan menikmati makanan penutup suaminya, inilah kebiasaan suaminya jika makan siang di kantor, dia ingin selalu istrinya yang menemani, biar dapat makanan penutupnya. Setelah puas Argan melepaskannya dan mengusap bibir Penty dengan jempolnya.


Argan tersenyum dan mengelus pipi Penty.


"Udah puas?" Argan menggeleng.


"Belum yank! nanti malam kita lanjutin ya!" bisiknya. Penty sebal dan mencubit pinggang Argan membuat Argan mengaduh kesakitan.


"Auww.. ampun yank sakit!"


"Makanya jangan mesum!"


"Gak apa-apa kali yank, mesumnya kan cuma sama kamu!"


"Ya udah yank aku pulang dulu ya!" Argan mengangguk lalu mengecup kening istrinya.


"Hati-hati sayang!" Penty mengangguk lalu menyalami Argan.


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


...***...


Sandi sedang melajukan mobilnya, hatinya berkecamuk dan campur aduk. Rasa senang, bahagia, rindu dan juga deg-degan karena akan bertemu kekasihnya, yang sudah lama tak di jumpainya.


Tak lama dia sampai di bandara, dia menunggu Shina dengan perasaan yang gugup. Meski Fahri sudah merestuinya tapi rasa gugup itu selalu ada. Tak lama pesawat dari Perth mendarat, perasaan Sandi semakin membuncah, dia sangat merindukan kekasihnya itu.


Setelah beberapa saat dia melihat wanita yang di cintainya, dia terpaku menatap Shina, begitu juga Shina dia pun sangat merindukan kekasihnya itu. Shina segera berlari dan berhambur ke pelukan Sandi.


Sandi memeluk erat Shina seolah tak ingin melepaskannya.


"Aku kangen banget sama abang!" isak Shina. Sandi mengelus kepala Shina.


"Abang juga kangen banget sama kamu sayang!" Shina melepaskan pelukannya dan menatap Sandi, lalu dia mengusap pipi Sandi dan Sandi pun mengusap pipi Shina, lalu mereka berpelukan lagi.


Kedua sejoli itu sedang menumpahkan rasa rindunya, Fahri menatap lirih anaknya dia tau betapa Shina mencintai Sandi, ada rasa penyesalan di dirinya karena memisahkan anaknya dengan pria yang di cintainya. Saat pertama kali sampai Perth Shina sakit karena memikirkan Sandi, sehingga membuat Shina terus murung dan dia susah payah harus membujuk anaknya itu.


Tapi sekarang dia senang melihat kebahagiaan dan senyuman anaknya kembali.

__ADS_1


Setelah puas berpelukan, Sandi melepaskan pelukannya lalu dia berjongkok di hadapan Shina, lalu dia mengambil sebuah kotak di kantong jasnya. Ada sebuah cincin di dalam kotak itu.


"Will you merry me?" Shina menangis terharu dia tidak menyangka Sandi akan melamarnya di pertemuan pertama mereka setelah perpisahan.


"I will!" jawab Shina mantap tanpa ragu karena ini yang dia harapkan selama ini.


Sandi tersenyum lalu menyematkan cincin itu di jari manis Shina, lalu dia mengecup punggung tangan Shina. Lalu dia berdiri dan mengecup kening Shina.


"I Love you sayang!!"


"I Love you too abang!!" balas Shina sambil memeluk Sandi lagi.


...***...


Pagi itu Argan di bangunkan oleh suara istrinya yang terdengar sedang muntah-muntah di kamar mandi. Argan segera terbangun dan menghampiri istrinya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Argan khawatir sambil memijit tengkuk Penty.


"Gak tau yank, rasanya mual sama pusing!" jawab Penty. Lalu Argan memapah Penty kembali ke kasur dan membaringkannya.


"Ya udah nanti aku panggilin dokter ya!" Penty mengangguk.


"Ya udah aku buatin teh manis anget dulu ya!"


"Iya yank!"


Argan pun beranjak ke dapur, di sana Inas dan Inka sedang menyiapkan sarapan untuk mereka.


"Lho kak, Penty mana?" tanya Inas.


"Peniti lagi sakit bun, katanya mual sama pusing!" Inas tersenyum mendengar ucapan anaknya.


"Apa Penty telat datang bulan kak?"


"Gak tau bun, emang kenapa?" tanya Argan balik.


"Istrimu mungkin hamil kak!" Argan terkesiap mendengar ucapan Inas.


"Maksud bunda Peniti sedang hamil?" Inas mengangguk.


"Wahh.. aku bakal punya ponakan dong!" ucap Inka senang. Inas mengangguk dan tersenyum.


"Bunda gak becanda kan?"


"Biar lebih pastinya kakak periksain Penty, takutnya bunda salah dan ternyata Penty cuma masuk angin!"


Setelah mendengar ucapan Inas Argan langsung berlari ke kamarnya.


"Sayang, kamu telat datang bulan gak?" tanya Argan langsung.


"Apaan sih yank? kok malah nanya gitu!"


"Jawab yank, iya apa nggak?" Penty mengangguk.


"Berarti kamu sedang hamil yank!"


"Jangan sok tau deh yank!" Argan tak mempedulikan ucapan istrinya dia sangat senang hingga dia terus menciumi perut istrinya.


"Kita periksa ya!" Penty mengangguk.


Setelah selesai periksa wajah mereka berbinar dan cerah karena dugaan Inas benar bahwa Penty sedang mengandung.


"Bunda!" Argan langsung memeluk Inas dan menangis bahagia di pelukan Inas.


"Bun, aku bakal jadi ayah!" Inas pun tak kuasa menahan tangisnya dia bahagia mendengar anaknya akan memiliki anak.


"Selamat ya sayang!" Penty menghampiri Inas dan Argan lalu ikut memeluk mereka. Inas sangat bahagia masih di beri kesempatan untuk melihat anaknya akan menjadi seorang ayah, dia mencium kening Argan dan Penty.


...***...


"Kak Ares, kita bakal punya cucu, rasanya baru kemarin aku melahirkan putra kita, sekarang dia bakal menjadi ayah sepertimu, aku yakin dia bakal menjadi ayah yang hebat seperti kamu! kak aku sangat merindukanmu, kapan kamu akan menjemputku? aku benar-benar merindukanmu, aku ingin bertemu kamu suamiku!"


Inas menatap dan mengusap foto suaminya, lalu menciumnya.


.......


.......

__ADS_1


...-Tamat-...


__ADS_2