
Penty berada di kamarnya, Penty merasa sendiri. Semua orang yang dia sayangi seperti menjauh.
"Mama papa aku kangen kalian! sekarang aku sendirian!" isaknya. Penty menangis sampai dia terlelap.
Sedangkan Argan sudah cukup lama dia tak sadarkan diri dan belum sadar membuat Inas semakin khawatir.
"Ayah kenapa anak kita belum bangun yah?" tanya Inas cemas. Ares segera memeriksa Argan, nafas dan nadinya masih ada.
"Yah kita panggil dokter aja ya yah? bunda khawatir!"
"Iya sayang, kalo gitu ayah telpon dokter dulu!" Inas mengangguk. Lalu Ares keluar dan menelpon dokter.
Setelah lima belas menit menunggu dokter pun datang. Dokter langsung memeriksa keadaan Argan. Tidak ada hal yang serius semuanya baik-baik saja, bahkan dokter berfikir Argan hanya tertidur.
"Anak ibu sama bapak, baik-baik saja tidak ada yang perlu di khawatirkan!" ucap dokter.
"Tapi dok anak saya sudah lama tidak sadarkan diri dan belum sadar juga!" sahut Inas.
"Ya udah dok terima kasih sudah menyempatkan datang untuk memeriksa anak saya!" ucap Ares. Dia tak ingin istrinya bicara lebih.
"Baik pak kalo begitu saya permisi, kalo anak bapak belum sadar juga sebaiknya di bawa kerumah sakit saja!" ujar dokter.
"Iya terima kasih dok!" Ares pun mengantar dokter ke depan. Inas menangis lagi.
"Bangun sayang jangan bikin bunda khawatir nak!" Inas menggenggam tangan Argan dan menempelkan di pipinya.
Setelah mengantar dokter kedepan. Tiba-tiba telpon Ares berdering. Ternyata dari Fahri.
📞"Hallo mas Fahri!"
📞"Hallo mas Ares, maaf mas Ares saya mengganggu, apa ada kabar dari Sandi soal anak saya?"
📞"Maaf mas Fahri bahkan saya belum tau keberadaan Sandi mas!" jawab Ares. Terdengar suara helaan nafas kecewa dari Fahri.
📞"Kita terus berusaha dan berdoa mas, semoga kita bisa menemukan Shina dan semoga Shina baik-baik saja!"
📞"Iya mas Ares terima kasih banyak, maaf sudah ganggu mas Ares!
📞"Tidak usah sungkan mas Fahri, saya akan bantu mas Fahri sebisa saya!"
📞"Iya mas sekali lagi terima kasih! kalo gitu saya tutup dulu telponnya mas Ares!"
📞"Iya mas Fahri!"
Setelah menutup telponnya Ares masuk, Inka menghampirinya.
"Ayah kenapa kakak belum bangun?"
"Mungkin kakak capek sayang, jadi belum bangun!" jawab Ares untuk menenangkan anak bungsunya itu.
"Oh iya kak Penty mana, kok ayah gak liat?"
"Tadi kak Penty pamit pulang yah, tadi kak Penty nangis yah!"
"Nangis?" Inka mengangguk. Ares terdiam.
"Ada apa yah? karena saya terlalu sibuk sama Argan dan Shina, Penty jadi terabaikan!" pikir Ares.
"Ya udah kita ke kamar kakak yuk!" ajak Ares Inka mengangguk lalu mereka masuk ke kamar Argan.
"Bun!" Inas menoleh.
"Iya yah!"
"Ayah mau susul Penty dulu ya!"
"Emang Penty kemana yah?" tanya Inas panik.
"Tadi kakak pulang bun tapi sambil nangis!" jawab Inka.
"Kita terlalu sibuk sama Argan, sampe lupa sama Penty!" Inas mengangguk.
"Iya yah, ajak Penty pulang yah!" Ares mengangguk.
"Iya udah ayah pergi dulu ya!"
"Iya yah, ayah hati-hati!" Ares pun berangkat untuk menyusul Penty ke rumahnya.
Di tempat lain Shina dan Sandi sedang makan bersama di warung makan dekat penginapan.
"Abang kapan kita pulang?" tanya Shina setelah menghabiskan makannya.
"Iya sayang! habis makan kita pulang yah!" Shina mengangguk.
__ADS_1
Setelah membayar makannya mereka beranjak pergi, tapi tiba-tiba hujan turun.
Terpaksa mereka menunggu hujan reda. Hujan turun deras. Shina memeluk tubuhnya karena kedinginan. Sandi langsung memeluk Shina agar tidak kedinginan.
"Biar gak kedinginan!" Shina mengangguk lalu menyenderkan kepalanya di dada Sandi.
"Abang!"
"Hm!" Shina mendongak dan menatap Sandi.
"Ada apa sayang?" tanya Sandi sambil merapihkan helaian rambut yang mengenai wajah Shina.
"Abang jangan tinggalin Shina ya, Shina gak mau kehilangan abang! Shina sayang sama abang, Shina cinta sama abang!"
Sandi menatap gadis cantik itu, hatinya menghangat mendengar ungkapan cinta dari gadis itu bertubi-tubi. Dia pun tak ingin kehilangan gadis itu. Dia sangat mencintai gadis itu.
"Abang gak akan tinggalin Shina, abang juga sayang dan cinta sama Shina!" Shina tersenyum dan memeluk erat tubuh Sandi.
Tak lama hujan pun reda, Sandi bergegas membawa Shina untuk pulang, kasian gadis itu pasti sudah sangat kelelahan.
Sandi dan Shina berjalan menuju jalan besar untuk mencari kendaraan agar mereka bisa pulang. Sandi belum terlalu hapal daerah itu sebelum pergi dia bertanya pada orang, untuk menanyakan jalan menuju tempat tinggalnya.
Setelah bertanya Sandi dan Shina menaiki bis yang akan langsung menuju daerah tempat tinggalnya.
Dua jam kurang perjalanan mereka sampai. Mereka turun dari bis dan mencari taksi untuk ke rumah Shina.
Shina terlihat bahagia karena dia akan pulang. Sandi tersenyum melihat gadis yang di cintainya bahagia. Shina tak melepaskan genggaman tangannya pada Sandi.
Setelah menemukan taksi dan menaiki taksi. Tak lama mereka sampai di rumah Shina. Shina langsung berlari dan memanggil papanya.
"Papa! papa! Shina pulang!" panggil Shina sambil menggedor-gedor pintu. Namun tak ada jawaban.
"Bibi Shina pulang!" namun masih belum ada jawaban.
"Abang kok papa gak ada?" tanya Shina sedih.
"Mungkin papa sedang mencari Shina dan belum pulang!"
"Kita tunggu ya!" Shina mengangguk lalu mereka duduk di depan.
"Non!" panggil seseorang. Shina dan Sandi menoleh.
"Bibi!" Shina langsung menghampiri bi Ida pembantu setianya itu. Shina langsung memeluk bi Ida.
"Non gak apa-apa? non baik-baik aja? bibi khawatir banget sama non!"
"Ayo non kita masuk!" ajak bi Ida.
"Ini siapa non?" tanya bi Ida saat melihat Sandi.
"Ini bang Sandi bi, dia yang udah nolongin Shina!" jawab Shina sambil tersenyum.
"Saya Sandi bi!" Sandi menyalami bi Ida. Bi Ida mengangguk dan tersenyum.
"Ya udah, ayo kita masuk!"
Mereka pun masuk. Bi Ida membuatkan minum untuk Shina dan Sandi. Shina mengambil kotak p3k untuk mengobati luka Sandi. Sandi tersenyum melihat wajah Shina yang sedang serius mengobati lukanya.
"Abang mandi dulu ya, nanti Shina pinjemin baju papa!" ucap Shina sambil mengobati luka Sandi.
"Gak usah sebentar lagi abang mau pulang!" wajah Shina langsung sedih saat Sandi berkata pulang, dia merasa tidak rela berpisah dengan Sandi, dia memeluk Sandi.
"Kenapa?" tanya Sandi saat melihat Shina tiba-tiba memelukanya.
"Shina gak mau pisah sama abang, Shina ingin selalu sama abang!" ucap Shina sambil memeluk manja pada Sandi. Sandi tersenyum.
"Kita kan bisa ketemu lagi!" ucap Sandi sambil melepaskan pelukannya. Tak lama bi Ida datang dan membawa minum.
"Di minum dulu den, non!"
"Makasih bi!" ucap Sandi. Bi Ida hanya mengangguk dan tersenyum.
"Bi papa kemana?"
"Papa non, sedang pergi kerumah temannya yang mau bantu nyariin non!"
"Siapa bi?" tanya Shina.
"Kak Ares!" jawab Sandi.
"Maksudnya teman papa om Ares?" tanya Shina menoleh ke arah Sandi. Sandi mengangguk lalu dia menjelaskan kejadian kemarin yang tadinya mereka akan makan malam bersama tapi tidak jadi karena Shina diculik.
"Oh jadi om Ares teman papa!" ucap Shina tak percaya.
__ADS_1
"Ayo bang kita kesana, aku pengen ketemu papa!" ajak Shina tak sabar sambil menarik tangan Sandi.
"Non kan baru sampe, non istirahat dulu, nanti papanya di telpon aja!" ujar bi Ida.
"Bener kata bibi, Shina pasti capek, sekarang istirahat ya!" kata Sandi, Shina menggeleng.
"Nanti abang bakalan pulang, Shina gak mau abang pulang!" rengek Shina. Sandi mengelus kepala Shina.
Bi Ida hanya tersenyum melihat Shina bermanjaan pada Sandi.
"Baru kali ini liat non Shina manja sama laki-laki selain papanya, apa dia pacar non Shina?" tanya bi Ida dalam hati. Dia pun meninggalkan Shina dan Sandi dan tak ingin mengganggu mereka.
"Besok abang kesini lagi oke!"
"Ya udah tapi abang pulangnya nanti, temenin Shina sampe papa pulang!"
Sandi mengangguk dan tersenyum. Shina memeluk manja Sandi lagi. Sampai tak terasa dia tertidur dalam dekapan Sandi.
Sandi menanyakan kamar Shina pada bi Ida lalu dia menggendong Shina untuk di baringkan di kamar. Sandi menyelimuti Shina dan mengecup kening Shina.
"Mimpi indah sayang, abang janji akan selalu jagain kamu!" Lalu Sandi keluar kamar.
"Maaf bi, apa bibi udah telpon pak Fahri?" tanya Sandi saat bertemu bi ida di luar kamar Shina.
"Udah den, sekarang dalam perjalanan pulang!" Sandi mengangguk.
Sandi pun menunggu Fahri pulang. Tak lama Fahri pulang bersama dua polisi.
"Pak Fahri!" sapa Sandi.
"Mas Sandi apa benar anak saya sudah pulang?" tanya Fahri. Sandi mengangguk.
"Di mana anak saya? Di mana dia?" tanya Fahri antusias.
"Dia sedang tidur di kamarnya pak!" Fahri langsung berlari ke kamar Shina.
"Shina! sayang!" panggil Fahri. Dia langsung memeluk erat Shina yang sedang tertidur, dia sangat bahagia anaknya selamat dan tidak apa-apa.
"Papa aku gak bisa nafas!" ucap Shina karena Fahri memeluk tubuhnya erat sampai dia terbangun.
"Maaf sayang! anak papa baik-baik aja kan? anak papa gak terluka kan?"
"Iya papa aku baik-baik aja dan gak kurang satu pun!"
"Syukurlah sayang, papa sangat takut kehilangan kamu!"
Setelah puas berpelukan dengan anaknya, Shina dan Sandi menceritakan kejadian yang menimpa Shina pada polisi dan Fahri.
"Maaf maksud nona Shina Rendi Anggara si bandar narkoba itu?" tanya salah satu polisi. Memang terdengar kabar ada beberapa tahanan yang kabur dan itu termasuk Rendi. Shina mengangguk.
"Dulu dia guru aku waktu SMP jadi aku kenal sama pak Rendi!" ucap Shina.
Setelah mendengarkan keterangan dari Shina dan Sandi, polisi itu pamit dan akan memproses keterangan Shina.
Setelah polisi itu pamit, Sandi pun pamit pulang. Namun wajah Shina langsung sedih saat Sandi pamit pulang. Sandi mengerti dan menggenggam tangan Shina.
"Makasih banyak mas Sandi karena sudah menyelamatkan putri saya, sungguh saya berhutang pada mas!"
"Gak usah begitu pak Fahri, saya senang sudah menolong anak bapak!" balas Sandi.
"Saya tidak tau harus bicara apa selain berterima kasih!"
Sandi pun pamit dan Shina mengantar Sandi keluar. Sandi mengelus kepala Shina.
"Kenapa sedih? hm.."
"Abang janji besok ke sini ya!" Sandi mengangguk.
"Iya sayang, besok abang kesini!"
Cup..
Shina mengecup pipi Sandi. Membuat Sandi tersenyum. "I Love You abang!" bisik Shina.
Membuat Sandi semakin mengembangkan senyumnya. "I love you too My Princess!" bisik Sandi juga, membuat Shina blushing.
"Ya udah abang pulang ya, Shina istirahat ya!" Shina mengangguk.
"Abang hati-hati!" Saat Sandi akan mengecup kening Shina, Fahri keluar.
"Shina!!" panggil Fahri.
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung.....