
"Huuuuu, Yes"
Andreas bersorak kegirangan di kamarnya, Andreas merasa sangat senang melihat ekspresi kesal pamannya.
Keesokan harinya Andreas yang ingin berangkat ke kampus tidak lagi bertemu pamannya, Andreas yang merasa penasaran apa pamannya sudah pergi memutuskan memanggil pelayannya.
"Bi, dimana paman?" tanya Andreas sambil menatap wanita paruh baya di depannya.
"Tuan Rengga berangkat pagi-pagi sekali, katanya ada pekerjaan yang masih menunggunya" ucap pelayan itu sambil menundukan kepalanya.
"Oh sudah pulang ternyata, baguslah" sahut Andreas.
"Tapi Tuan Rengga berpesan agar saya terus memperhatikan Tuan Andreas, Tuan Rengga tidak ingin Tuan Andreas menjadi semakin liar katanya" ucap pelayan itu yang masih menundukan kepalanya.
"Bibi tenang saja, aku juga sudah besar nanti kalau paman tanya bilang saja aku tidak pernah kemana-mana" sahut Andreas sambil berjalan pergi.
Haaaaah, menjadi pelayan aku ini serba salah" dalam hati sang pelayan yang hanya bisa menganggukan kepalanya.
Andreas yang tadinya berencana ke kampus langsung mengurungkan niatnya, Andreas bergegas ke rumah Vina sambil berharap selama beberapa hari saat dirinya pergi tidak terjadi sesuatu pada Vina dan bayinya.
Ting tong, ting tong...
Andreas berulang kali membunyikan bell rumah Vina, setelah menunggu cukup lama Gladi membukakan pintu sambil menatap Andreas yang berdiri di depannya.
"Oh masih kesini lagi rupanya" ucap Gladi ketus.
"Maaf kak, hari itu aku ada keperluan jadi pulang tanpa pamitan" sahut Andreas.
"Huuuuh, masuklah kamu jelaskan sendiri sama Vina" ucap Gladi yang langsung masuk ke dalam rumah.
Vina yang duduk di ruang keluarga merasa sangat terkejut melihat kedatangan Andreas, wajah sedih karena merasa bersalah Andreas tidak berani menatap Vina yang duduk tepat di depannya.
"Andreas kamu kenapa?" tanya Vina.
__ADS_1
"Maaf kak hari itu aku pulang tanpa berpamitan" sahut Andreas.
"Sudah lupakan saja, aku tahu kamu pergi pasti karena ada urusan yang mendesak" ucap Vina.
"Benarkah, ku kira Kakak marah padaku" sahut Andreas.
"Kita bukan anak kecil lagi, untuk apa aku marah tidak jelas seperti itu" ucap Vina dengan santai.
"Huuuh, syukurlah" sahut Andreas yang langsung duduk di samping Vina.
Gladi yang melihat Vina dan Andreas duduk berdekatan tanpa banyak berpikir langsung duduk di tengah-tengah, Gladi menatap Andreas sambil mengeluarkan lidahnya mengolok Andreas.
"Kamu ini" ucap Vina yang langsung di sambut tertawa kecil Andreas.
"Oh ya Vin, aku sudah mencari guru kursus untuk mu sambil menjaga Raka kamu bisa belajar di rumah" ucap Gladi.
"Kursus apa?" tanya Vina yang merasa penasaran.
"Kursus menjahit" sahut Gladi.
"Tapi, nanti pengeluaran kita jadi bertambah" sahut Vina.
"Kamu tidak perlu khawatir gaji ku tidak kecil, lagi pula Andreas pasti akan membantu" ucap Gladi dengan santai.
"Andreas masih butuh banyak biaya untuk kuliahnya, tidak baik merepotkannya" sahut Vina.
"Kak Vina tenang saja aku bisa bantu kok" ucap Andreas.
"Tapi" sahut Vina.
"Ini demi kamu sendiri, guru kursus yang ku sewa pasti tidak akan mengecewakan" ucap Gladi.
"Haaaah, terserah kalian saja" sahut Vina yang hanya bisa pasrah.
__ADS_1
Di tempat berbeda, Rengga baru kembali ke rumahnya di lihatnya dua mobil berwarna putih terparkir rapi di tempat parkiran rumahnya, Rengga yang tidak menyangka siapa yang datang mengunjunginya merasa sangat terkejut melihatnya.
"Kakek, apa yang membuatmu datang kemari" ucap Rengga yang tidak menyangka sang Kakek datang kerumahnya.
"Apa aku harus ada alasan untuk datang kemari, dasar cucu tidak berbakti" sahut Kakek Rengga.
"Bukannya seperti itu, aku hanya merasa sangat terkejut Kakek datang mengunjungi ku tanpa memberitahuku terlebih dulu" ucap Rengga.
"Haaaaah, kemarilah" sahut sang Kakek yang meminta Rengga duduk di sampingnya.
Rengga duduk di samping Kakeknya sambil bertanya-tanya di dalam hati, apa tujuan sang Kakek datang mengunjunginya kali ini.
"Kepergian Calon istrimu sudah hampir setahun lamanya, aku tahu kamu masih belum bisa melupakannya tapi kamu tetap harus memiliki pasangan untuk hidupmu" ucap sang Kakek sambil menatap Rengga.
"Maksud Kakek" sahut Rengga.
Sang Kakek mengeluarkan sebuah foto dari dalam sakunya dan di taruhnya di tangan Rengga, Rengga menatap sekilas foto di tangannya itu lalu menaruhnya diatas meja di depannya.
"Namanya Naina Khanza, Kakeknya adalah teman baik ku. Aku ingin kamu bisa memiliki hubungan dengannya" ucap sang Kakek yang membuat Rengga terkejut.
"Tapi Kek aku tidak memiliki perasaan padanya" sahut Rengga yang merasa keberatan.
"Heeeh, bukannya dari dulu kamu orangnya tidak pernah memikirkan perasaan sebelum mengenal calon istrimu itu. Sudah, keputusan ku sudah bulat kamu tidak boleh menolaknya" ucap sang Kakek yang langsung berdiri bersiap berjalan pergi.
"Dimana Andreas kenapa aku tidak melihatnya?" tanya sang Kakek sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Aku mengirimnya ke Singapura agar dia bisa mandiri" sahut Rengga.
"Oh, kalau begitu aku akan pulang saja. Nanti suruh anak itu menelpon ku" ucap sang Kakek yang langsung berjalan pergi meninggalkan Rengga.
"Satu hal lagi" sambung sang Kakek sambil menghentikan langkahnya.
"kamu harus ingat kamu tidak boleh menolak permintaan ku, kamu harus menjalani hubungan dengan Naina. Aku akan memberimu kemudahan, kamu bebas menentukan kapan kamu mau menikahinya" sambung sang Kakek yang langsung berjalan keluar rumah Rengga.
__ADS_1
Rengga mengepalkan tangannya dengan penuh rasa kesal, niatnya menjodohkan Andreas malah dia yang mendapatkan perjodohan dari sang Kakek.