Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 91


__ADS_3

Vina membaringkan tubuhnya dan mengangkat tangannya ke atas, Vina benar-benar merasa sangat bersyukur akhirnya masalah teror telah terselesaikan.


Kriiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing...


Rengga yang baru mau ikut berbaring mendengar ponselnya berdering, Rengga melihat nama Aldo yang berada di layar ponselnya dan terus menelponnya.


"Aku masih berada di bandara batal pergi, aku sudah menyuruh Anak buahku memeriksa kantormu ternyata tidak terjadi apa-apa," ucap Aldo dengan suara keributan yang masih terdengar di sekitarnya.


"Masalah teror di sini sudah selesai, tidak apa kamu tidak perlu pulang kita lanjutkan saja rencana kita," sahut Rengga.


"Baguslah kalau begitu. Oh ya satu lagi, Anak buahku ada menemukan jejak Kakekmu di sebuah rumah yang jauh dari kota, perkiraan mereka rumah itu baru ditinggalkan beberapa jam yang lalu," ucap Aldo lagi.


"Biarkan saja, tidak perlu terus mencarinya kita biarkan saja dia menghirup udara segar sementara waktu," sahut Rengga santai.


"Hem, baiklah kalau begitu aku kembali sekarang," ucap Aldo yang langsung menutup teleponnya.


Rengga yang baru mengakhiri panggilan teleponnya bergegas menghampiri Vina yang berbaring, tanpa banyak bicara Rengga langsung membuka bajunya dan menindih badan Vina.


"Kali ini kamu tidak bisa kabur lagi," ucap Rengga tersenyum penuh kemenangan.


"Kalau begitu aku hanya bisa pasrah," sahut Vina mengedipkan matanya sambil tersenyum.


"Dasar ikan kecil nakal, bersiaplah kamu dimakan kucing," ucap Rengga yang langsung mengarahkan bibirnya ke leher Vina.


Tok tok tok, tok tok tok...


"Mama Vina, apa Mama ada di dalam," ucap suara Mia dari luar.


Rengga yang menatap pintu langsung didorong oleh Vina, Vina menjulurkan lidahnya ke arah Rengga dan menarik satu matanya ke bawah.


"Hahahahaha," Vina tertawa sangat keras sambil berjalan membuka pintu.


Sial, sial, dua kali sudah ikan kecil lolos dari kucing belang. Tunggu saja lain kali kamu tidak akan lolos lagi," dalam hati Rengga.


"Mia ada apa Nak?" tanya Vina yang baru membuka pintu.


"Tidak ada apa-apa, Mia tadi tiba-tiba saja menghawatirkan Mama Vina," sahut Mia.


"Mama Vina baik-baik saja kan ada Papa yang melindunginya," ucap Rengga yang berdiri tepat di belakang Vina.


"Loh, bukannya Papa tidak ada, bagaimana bisa Papa ada di sini," sahut Mia kebingungan.


"Tanya saja Tante Gladi, cepat kembali istirahat nanti malam kita jalan-jalan," ucap Rengga.


Vina menatap Rengga yang berharap Mia kembali ke kamar Gladi segera, tujuannya sudah sangat jelas dia mau meneruskan aksinya yang tertunda.

__ADS_1


"Mia kalau mau tidur di sini juga tidak apa-apa, ayo masuk," ucap Vina sengaja agar Rengga tidak bisa berbuat apa-apa.


"Tidak Mama Vina, Mia kembali ke kamar Tante Gladi saja," sahut Mia berjalan pergi mengarahkan tongkatnya menuntun jalan.


Hahahaha. Anak pintar, itu baru Anakku yang bisa mengerti situasi," dalam hati Rengga.


Brrraaaaaak...


Rengga langsung menutup pintu sambil tersenyum, kali ini semua halangan sudah disingkirkan saatnya kembali melanjutkan dua kali aksinya yang tertunda.


"Untuk kali ini tidak akan ada yang mengganggu lagi, aku berjanji satu hal kalau sampai ada gangguan lagi aku akan menyerah untuk hari ini," ucap Rengga sambil menarik tangan Vina kembali ke kasur.


Vina merasa kasihan juga melihatnya Rengga yang sudah gagal dua kali. Vina berniat pasrah mengikuti keinginan Rengga yang ingin bermain seperti apa.


"Lakukan saja cepat," ucap Vina menaikan bajunya ke atas.


"Tidak bisa aku akan memakanmu secara perlahan," sahut Rengga.


"Jangan banyak gaya, nanti tidak jadi lagi," ucap Vina.


"Hehehehe, sudah ku bilang kali ini tidak akan ada yang menganggu kita, kalau ada sesuai janjiku hari ini aku akan menyerah," sahut Rengga yang langsung mencium pipi Vina.


Tok tok tok, tok tok tok...


"Rengga, Rengga." panggil Aldo dari luar sambil terus mengetuk pintu kamar Rengga.


Aldo yang melihat pintu terbuka bertatapan dengan Rengga, Aldo meminyipitkan matanya mencoba melihat dengan teliti wajah kesal Rengga.


"Apa yang terjadi pada wajahmu? bukannya terornya sudah selesai," ucap Aldo.


"Ah jangan-jangan kamu ada masalah baru, coba cerita apa yang harus ku lakukan," sambung Aldo.


"Iya aku punya masalah baru," sahut Rengga dengan nafas berat.


"Benarkah, katakan padaku aku pasti akan membantumu," ucap Aldo.


"Kamu mau tau apa masalahku?" tanya Rengga yang langsung disambut anggukan kepala oleh Aldo.


"Masalahku karena kamu hancur sudah hariku yang tersisa," ucap Rengga sedikit berteriak.


"Eh, aku. Memangnya apa yang sudah ku buat?" Aldo menaruh tangannya di dagu mencoba berpikir.


Braaaaaaaak...


Rengga membanting pintu sambil mengertakkan giginya.

__ADS_1


"Sial, ternyata kalau sekali apes tetap saja apesnya akan datang seharian," ucap Rengga yang langsung masuk ke dalam dan tengkurap di samping Vina.


"Hahahaha, lagi pula aku sudah bilangkan sebelumnya kamu saja yang tidak percaya," sahut Vina tertawa jahat.


"Hem, oke. Aku akan tidur bangunkan aku kalau sudah besok pagi," ucap Rengga dengan suara lemas.


"Hei, Bukannua tadi kamu berjanji sama Mia akan mengajaknya jalan-jalan nanti malam. Bagaimana bisa kamu mau tidur sampai besok pagi." Vina langsung menarik telinga Rengga.


"Adeh adeh, iya aku hanya bercanda," sahut Rengga. Ingin rasanya dirinya menangis tapi sebagai pria dirinya tidak boleh menangis.


***


Malam harinya semua yang sudah bersiap bergegas menuju mobil, seharusnya bulan madu yang hanya ada untuk Rengga dan Vina kini berubah menjadi liburan satu keluarga.


Aldo membawa mobil berkeliling kota sambil sesekali berhenti di beberapa tempat. Tawa gembira keluar dari wajah semua yang berada di mobil, tapi itu semua hanya sesaat sebelum sesuatu yang buruk menimpa mereka.


Vina meminta Aldo berhenti di sebuah restoran, mereka semua yang belum makan ada baiknya jika mengisi perut terlebih dulu sebelum kembali melanjutkan jalan-jalan mereka.


Doooooooooooooor...


Satu suara tembakan mengejutkan semua yang berada di dalam restoran, dari luar restoran tiga orang bersenjata api berdiri menatap semua yang satu meja dengan Vina.


"Apa itu sasaran kita?" bisik tiga orang itu berbahasa Perancis.


"Ya sepertinya memang mereka, kalau begitu serahkan padaku," sahut salah satu dari tiga orang itu yang langsung mengarahkan tembakannya ke Vina.


Doooooooooooooor...


"Awas Mama Vina," teriak Mia yang berdiri dari tempat duduknya dan membentangkan tangannya.


Doooooooooor...


Dooooooooooooor...


"Tidak, Mia." teriak Vina yang melihat Mia mengorbankan dirinya untuk melindunginya.


Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...


Vina berteriak sambil mengambil 3 pisau yang ada di depannya, dengan gerakan cepat Vina langsung melempar ketiganya dengan pisau dan tepat mengenai mereka.


"Mia, sadar Nak. Kamu pasti bisa bertahan," ucap Vina sambil menangis menggengam tangan Mia.


Restoran yang tenang bersimbah darah, Aldo dan Rengga seketika berpencar mengurus beberapa orang yang tersisa di luar sedangkan Gladi memeluk Raka dengan sangat erat.


"Mama Vina, Mia merasa senang bisa memiliki Mama Vina yang menyayangi Mia, Mama Vina tidak pernah membeda-bedakan Mia dengan Raka. Mia tidak menyesal mati melindungi Mama Vina, Mama Vina harus membesarkan Raka dengan baik ya. Mia sayang kalian semua."

__ADS_1


Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...


Melihat Mia yang menutup matanya Vina berteriak histeris, kenapa-kenapa harus Anak kecil yang tidak bersalah yang menjadi korban mereka yang egois.


__ADS_2