Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 36


__ADS_3

Vina yang baru berjalan beberapa langkah dari rumahnya tiba-tiba di hentikan sebuah mobil, kaca mobil yang perlahan di buka membuat Vina bisa melihat dengan jelas siapa di dalamnya.


"Ian, Andreas" ucap Vina.


Ian dan Andreas bergegas turun menghampiri Vina, koper yang di bawa Vina langsung di simpan Ian di bagasi mobilnya.


"Kalian" ucap Vina tidak melanjutkan perkataannya.


"Mari masuk" sahut Ian sambil membuka pintu belakang untuk Vina.


"Terima kasih" ucap Vina yang langsung masuk ke dalam mobil di ikuti Ian dan Andreas yang duduk di depan.


Ian menjalankan mobilnya sambil sesekali memperhatikan Vina dari kaca, Wajah pucat Vina membuat Ian benar-benar tidak tega melihatnya.


"Andreas maaf, semua karena ku" ucap Vina yang memperhatikan Andreas terus diam tanpa berbicara.


"Itu bukan salah kak Vina, nasib ku sangat buruk aku bahkan tidak tahu kalau aku sebenarnya hanya anak pungut" sahut Andreas.


"Sudah lupakan saja yang baru terjadi pada kalian, aku akan membawa kalian bertemu seseorang" ucap Ian.


"Siapa?" tanya Vina dan Andreas bersamaan.


"Nanti juga kalian akan tahu" sahut Ian.


Ian yang mengendarai mobilnya keluar kota memakan waktu tiga jam perjalanan, sampai di kota Ian bergegas menuju sebuah rumah besar dan memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumah.


"Kalian berdua ikuti aku" ucap Ian sambil berjalan masuk ke dalam rumah di ikuti Vina dan Andreas di belakangnya.


Ian berjalan menuju halaman belakang tempat bermain golf, di sana seorang pria tua berdiri seperti sedang menunggu kedatangan tamunya.


"Ayah angkat aku membawa dua orang yang ku ceritakan di telepon tadi" ucap Ian.


"Heeh, selamat datang selamat datang, maaf hanya bisa meyambut kalian seperti ini" sahut pria tua itu yang langsung memutar badannya.


"Tidak apa-apa" ucap Vina dengan suara pelan.


"Nama kamu Vina, Ian banyak bercerita tentang mu" sahut pria tua itu sambil tersenyum menatap Vina.


"Dan kamu Andreas keponakan angkat Rengga Cafanza bukan" sambung pria tua itu yang juga tersenyum menatap Andreas.

__ADS_1


"Tuan Yovan, Tuan tidak boleh berdiri terlalu lama" ucap seorang wanita, pelayan pribadi pria tua di depan Vina dan Andreas.


"Baiklah aku akan duduk, jangan cerewet" sahut pria tua itu yang langsung duduk di depan Vina dan Andreas.


Ian yang sering berbicara seketika menjadi senyap setelah datang, Ian bahkan tidak berbicara pada Vina dan Andreas semenjak mereka menemui pria tua di depannya itu.


"Aku akan memperkenalkan diri terlebih dulu kepada kalian berdua. Perkenalkan nama ku Yovan Agra dan Ian adalah anak angkat ku" ucap pria tua itu.


"Dari cerita Ian aku merasa prihatin dengan kalian berdua. Anak di ambil di usianya yang masih sangat kecil sebagai seorang ibu pasti kamu tidak akan rela bukan" sambung pria tua di depan Vina.


"Tentu saja aku tidak rela, aku yang mengandung dan melahirkannya atas dasar apa dia berhak mengambilnya" sahut Vina.


"Sabar, dan untuk kamu di usir setelah di manfaatkan itu pasti sangat menyakitkan" ucap pria tua itu sambil menatap Andreas.


"Biasa saja, hanya cara mereka dari awal yang salah itu yang membuatku tidak bisa menerima" sahut Andreas.


"Heeeeh, dari dulu keluarga Cafanza selalu seperti itu dan semua sudah turun temurun. Sebagai generasi yang lebih muda aku percaya kalian bertiga bisa menghancurkan keluarga Cafanza, membalikan keadaan menjadi sesuai yang kalian inginkan" ucap pria tua itu.


"Apa maksud Tuan Yovan" sahut Vina.


"Aku akan mengangkat kalian menjadi anak angkat ku seperti Ian, dengan niat kalian sebagai tekad membalikkan keluarga Cafanza tidaklah mustahil" ucap tuan Yovan.


"Bagaimana caranya" sahut Andreas.


"Tunggu apa lagi, ayo" ucap Ian yang berjalan di belakang tuan Yovan.


Vina yang melihat makanan tersedia di meja makan panjang hanya menggelengkan kepalanya, benar-banar orang kaya hidangannya saja setara dengan menu di restoran pikir Vina.


"Silahkan di nikmati, jangan sungkan" ucap tuan Yovan yang langsung menikmati semangkuk bubur di depannya.


"Makanlah, ayah angkat tidak bisa makan selain bubur semua di sediakan untuk kita" ucap Ian yang melihat Vina dan Andreas ragu untuk mengambil makanan di depan mereka.


Setelah selesai makan tuan Yovan meminta Ian membawa Vina dan Andreas ke ruangan pribadinya, ruangan yang di rancang kedap suara membuat rahasia yang di bicarakan tidak akan di dengar orang luar.


"Kalian bertiga sudah datang, kalau begitu langsung saja ke intinya" ucap tuan Yovan serius.


"Apa kalian berdua keberatan menjadi anak angkat ku?" tanya tuan Yovan sambil menatap Vina dan Andreas.


"Tidak semua demi anak ku" sahut Vina.

__ADS_1


"Aku juga tidak" ucap Andreas.


"Bagus-bagus, kalau begitu aku akan mengatur kalian bertiga agar bisa membalikan keluarga Cafanza" sahut tuan Yovan sambil tersenyum.


"Andreas kamu dan Ian akan melakukan pembelajaran khusus cara meretas sistem keamanan komputer, dan untuk kamu Vina apa aku boleh tahu kamu mahir di bidang apa?" tanya tuan Yovan, menatap Vina.


"Aku mendapatkan sertifikat menjahit hasil desain tangan ku sendiri waktu kursus di Singapura" sahut Vina.


"Desain ya, kalau begitu kamu akan menjadi desainer khusus keluarga Agra dan aku akan menempatkan mu di perusahaan" ucap tuan Yovan tersenyum puas.


"Kalian bertiga akan mendapatkan pelatihan selama beberapa tahun ke depan, dan saat semua sudah selesai menghancurkan keluarga Cafanza adalah langkah selanjutnya" sambung tuan Yovan sambil tertawa kecil.


"Kalau begitu beristirahatlah malam ini, karena besok kalian tidak bisa bertemu satu sama lain cukup lama" ucap tuan Yovan sambil berjalan pergi meninggalkan ruangannya.


Ian yang melihat ketegangan di wajah Vina dan Andreas langsung menepuk pundak keduanya, Ian meminta Vina dan Andreas mengikutinya ke kamar yang sudah di sediakan untuk mereka.


"Siapa tuan Yovan sebenarnya?" tanya Vina yang berjalan di belakang Ian.


"Aku sendiri masih tidak tahu, aku di angkat anak tepat setelah malam itu" sahut Ian.


"Tapi kalian tidak perlu khawatir tuan Yovan tidak sama seperti Kakek Rengga yang hanya memanfaatkan kita" sambung Ian.


"Aku tidak peduli, mau tuan Yovan memanfaatkan ku atau tidak yang terpenting membalas keluarga Cafanza adalah tujuan hidup ku" ucap Andreas.


"Kalau begitu kita sepakat, keluarga Cafanza bersiplah menerima kehancuran kalian" sahut Vina.


Untuk anak ku tunggu mama nak, mama akan mengambil mu kembali" dalam hati Vina.


Haccccciiiiuuuuu...


"Sepertinya hari ini aku lebih sering bersin, para semut pasti sedang merencanakan sesuatu sekarang" ucap Rengga yang berdiri di depan komputer di kamarnya.


Tok tok tok, tok tok tok...


Suara ketukan pintu di kamarnya membuat Rengga merasa kesal, Rengga yang melihat Gladi berdiri di depannya langsung menatapnya dengan tajam.


"Badan Raka panas, obat yang ku minumkan juga tidak menurunkan panasnya" ucap Gladi yang berdiri di depan Rengga sambil menggendong Raka.


"Biarkan saja, anak ku tidak boleh menjadi lemah jika hanya panas saja tidak bisa menahannya bagaimana dengan musuhnya kelak" Sahut Rengga cuek sambil kembali menutup pintunya.

__ADS_1


"Sialan, dia anak mu apa kamu tidak memiliki hati, jika tahu begitu kenapa kamu mengambilnya dari Vina" ucap Gladi yang masih berdiri di depan pintu Rengga.


Sudahlah, mama tua akan merawat mu nak mama akan mengambilkan kompres untuk mu" dalam hati Gladi sambil berjalan kembali ke kamar Raka.


__ADS_2