
Sepanjang jalan Rengga tidak berhenti mengumpat, dirinya sama sekali tidak menyangka kalau Vina di angkat anak oleh tuan Yovan. Masih teringat saat dulu sekali di saat dirinya masih berumur 8 tahun, tuan Yovan dan istrinya tidak sengaja menyerempetnya hingga membuatnya terluka walau tidak parah.
Waktu itu tuan Yovan dan istrinya yang hanya warga biasa tanpa pendukung membuat kakeknya bersikap tegas, kakeknya tanpa segan langsung meminta anak buahnya memukuli tuan Yovan di depan istrinya, sang istri yang merasa tidak tega melihat suaminya di pukuli berniat mencari bantuan, naas saat istrinya berlari mobil berlawanan langsung menabraknya hingga membuatnya tewas di tempat.
Kematian sang istri tentu menjadi luka tersendiri untuk tuan Yovan waktu itu, tapi kakeknya sama sekali tidak mempedulikan mereka malah membawanya pergi begitu saja. Sebelum pergi kakeknya bahkan berkata dengan suara keras mereka pantas mendapatkannya, itu karma bagi mereka yang membuat ku terluka.
"Arrrrrrrkkkkhhhh. Kenapa aku mengingat kejadian itu lagi" ucap Rengga.
Di usianya yang masih 8 tahun Rengga bukanlah anak yang kejam, Rengga sudah meminta kakeknya untuk menghentikan anak buahnya yang masih memukuli tuan Yovan lagipula dirinya tidak terluka parah waktu itu, tapi sangat di sayangkan kakeknya tidak mendengarkannya sama sekali.
Rengga bahkan menyesali perkataan kakeknya yang berkata mereka pantas mendapatkannya, Rengga berpikir setidaknya jika kakeknya tidak bersimpati janganlah mengatakan sesuatu yang malah menyakiti hati orang lain.
"Tuan Yovan pasti berniat balas dendam, ketiganya sengaja di jadikan alat untuknya" ucap Rengga.
"Tidak, sepertinya aku tidak bisa membiarkan Vina menjadi alat balas dendamnya, aku harus bisa meyakinkan Vina untuk menjauh darinya" sambung Rengga yang langsung menambah kecepatan mobilnya.
Rengga memutar mobilnya mengarah ke rumah kakeknya, Rengga berpikir pak tua itu harus mengetahui buah dari perbuatan masa lalunya.
Bruuuuuuuaaakkk...
Rengga mendobrak pintu kakeknya tanpa perlu membunyikan bell, hari sudah malam jika membunyikan bell belum tentu pak tua itu mendengarnya, pikir Rengga.
"Heeeeeh, apa yang membuatmu berperilaku seperti maling dan siapa yang mengajarkan mu begitu"ucap kakek Rengga yang duduk santai di ruang tamu.
"Tidak ada yang mengajarkan ku menjadi maling, tapi untuk menjadi orang yang kejam aku sudah di latih sejak kecil" sahut Rengga.
"Kamu terlahir menjadi pewaris dunia bisnis, apa yang salah dengan mendidikmu menjadi kejam" ucap kakek Rengga sambil tersenyum.
"Tidak ada salahnya, aku datang kemari hanya ingin memberitahu mu buah dari perbuatan masa lalu mu sudah bisa di petik" sahut Rengga yang berdiri tepat di depan kakeknya.
"Apa mkasud mu?" tanya kakek Rengga kebingungan.
__ADS_1
"Apa kamu masih ingat saat umurku 8 tahun seseorang menyerempet ku?" tanya Rengga balik.
"Heeeeh, tentu saja aku mengingatnya. Waktu itu aku merasa sangat bahagia melihat istri pria itu mati di depan mata ku" sahut kakek Rengga tanpa merasa bersalah.
"Bagus kalau kamu mengingatnya, apa kamu masih mengingat Vina?" tanya Rengga lagi.
"Vina, wanita murahan itu aku akan mengingatnya sampai kapanpun" sahut kakek Rengga yang langsung mengepalkan tangannya.
"Bagus, Vina adalah anak angkat pria yang kamu pukuli waktu itu. Kamu tahu sendiri Vina yang sekarang sudah bukan Vina yang dulu, seharusnya kamu bisa menebak sekuat apa pria yang dulu itu" ucap Rengga.
"Apa maksud mu semua sudah di atur olehnya untuk membalas dendam pada ku" sahut kakek Rengga.
"Iya, bukan hanya itu. Andreas juga menjadi anak angkatnya itu mengapa sistem keamanan mu bisa di retas dengan mudah" ucap Rengga.
"Sial, ternyata ada pembalasan yang siap menanti ku" sahut kakek Rengga.
"Aku sudah memikirkan caranya, dan hanya itu satu-satunya cara agar dia tidak bisa melakukan apapun" ucap Rengga yang langsung menyandarkan tubuhnya.
"Katakan" ucap kakek Rengga.
"Pria itu menjadikan Vina sebagai pion terdepannya, hanya dengan mengambil Vina ke pihak kita pria itu akan menyerah" sahut Rengga.
"Tunggu, jangan bilang kamu ingin menikahi wanita itu" ucap kakek Rengga.
"Itu hanya satu-satunya cara yang ku miliki, selebihnya pikirkan sendiri" sahut Rengga yang langsung berjalan pergi.
Kakek Rengga terdiam mendengar perkataan Rengga, dia sangat membenci Vina karena sudah merusak rencananya tapi kalau Vina tidak berada di pihaknya dirinya tidak tahu apa yang akan di lakukan pria itu untuk membalasnya.
Di tempat berbeda Vina mengambil anaknya yang tertidur di pangkuan Gladi, Vina bergegas membawa putra kecilnya itu untuk di tidurkan di kamarnya sebelum memutuskan membuka hadiah yang diberikan para tamu untuknya.
"Ahhhhhhhh, akhirnya waktunya membuka kado" ucap Vina sambil tersenyum.
__ADS_1
Vina yang sudah duduk di lantai langsung membuka satu persatu hadiah di depannya.
Sreeeeek...
Sreeeeeeeek...
Suara robekan kertas kado terdengar sangat keras, Vina yang sudah membuka kadonya satu persatu bergegas menyimpannya di lemari khususnya.
"Hadiah dari ayah angkat" ucap Vina yang teringat dirinya menaruh hadiah pemberian ayah angkatnya di depan meja riasnya.
Vina yang berjalan ke arah meja riasnya langsung mengambil kotak kecil pemberian ayah angkatnya dan bergegas membukanya, Vina menatap sebuah kalung berliontin berlian yang di ambilnya dari dalam kotak sambil menutup mulutnya.
"Kalung ini sangat mahal, bagaimana bisa ayah angkat menghadiahkan kalung ini untuk ku" ucap Vina tanpa menyadari ada sesuatu di kalungnya.
Di tempat berbeda tuan Yovan yang masih dalam perjalanan pulang tiba-tiba tersenyum, sang pelayan pribadi yang menyadari tuannya tiba-tiba tersenyum memutuskan bertanya padanya.
"Anda terlihat sangat bahagia" ucap pelayan pribadi tuan Yovan sambil melihat ke arah kaca.
"Aku bahagia bisa memberikannya kalung itu" sahut tuan Yovan.
"Kalau boleh tahu, apa yang istimewa dari kalung itu?" tanya pelayan tuan Yovan lagi.
"Itu kalung yang di inginkan istri ku sejak dulu, aku sudah lama akhirnya bisa membelinya hanya saja aku tidak bisa memakaikannya karena dia sudah tidak ada" sahut tuan Yovan.
"Haaaaaah, maaf membuat anda mengingatnya kembali tuan" ucap pelayan pribadi tuan Yovan yang merasa bersalah.
"Tidak masalah, aku bahagia bisa memberikan kalung itu ke Vina. Semoga kalung itu bisa menjaganya" sahut tuan Yovan.
Kalung itu sudah ku tambah penyadap suara, aku bisa mendengar apa saja yang Vina bicarakan di belakang ku jika suatu hari nanti dia menghianatiku demi pria itu. Aku tidak bermaksud ingin mengambil kebebasannya tapi, sampai kapanpun aku tidak ingin pria itu yang menikah dengannya" dalam hati tuan Yovan.
"Istri ku lihatlah dari surga sana aku perlahan membalaskan dendam mu, aku tidak akan membiarkan keluarga Cafanza terus merasakan kebahagiaan mereka" ucap tuan Yovan dengan suara pelan.
__ADS_1