Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 95


__ADS_3

Rengga yang melihat Vina bersiap menampar Kakeknya langsung memegang tangan Vina, Kakek Rengga merasa sangat tersentuh menyadari cucunya ternyata masih mempedulikannya.


"Kenapa kamu menghentikannya, apa saat ini kamu sedang mengasihaniku," ucap Kakek Rengga.


"Jangan bercanda padaku, untuk apa aku mengasihani manusia tidak beradap sepertimu. Sebenarnya apa yang ada di otakmu itu, aku membiarkanmu melarikan diri seharusnya kamu senang, bukan malah membuat masalah baru membunuh Anakku," sahut Rengga menggeretakan giginya.


"Aku tidak berniat membunuhnya, aku ingin membunuh wanita sialan ini, sampai kapanpun aku tidak akan menyukainya dan tidak akan menerimanya sebagai anggota keluarga Cafanza," ucap Kakek Rengga.


"Heeeeh, aku tidak peduli kamu menerimanya atau tidak Vina adalah istriku sekarang. Aku mungkin mamang tidak bisa memukulmu, jadi aku akan mengizinkan organisasi yang menangkapmu untuk menyiksamu," sahut Rengga sambil tersenyum.


"Cucu tidak tau diri, menyesal aku membiarkanmu tetap hidup kalau tau begini lebih baik aku biarkan saja kamu mati bersama kedua orangtuamu," ucap Kakek Rengga kelepasan.


Kakek Rengga langsung mengalihkan pandangannya, ingin rasanya menutup mulutnya yang tidak bisa menjaga rahasia penting yang selama ini sudah disimpannya sangat rapat.


"Apa maksudmu?" tanya Rengga matanya menatap Kakeknya dengan tajam.


"Hahahahaha, kalau begitu lebih bagus kubongkar saja semuanya. Asal kamu tau semua yang kukatakan padamu itu bohong, orangtuanmu bukan mati dalam kecelakaan tapi karena dibunuh Anak buahku. Siapa yang suruh Ayahmu menikahi wanita biasa sama sialannya seperti wanita ini. Hahahahah."


Kakek Rengga terus tertawa sangat keras, perasaannya sangat lega telah mengucapkan semua yang selama ini disimpannya.


Buuuuuuuuug.


"Bedebah, kamu membunuh darah dagingmu hanya karena alasan tidak jelas seperti itu. Kamu juga bahkan membunuh Cicitmu, apa kamu masih bisa disebut manusia," teriak Rengga yang baru memukul Kakeknya.


"Di dunia ini keluarga tidak lebih berharga dari harta, dari pada hartaku jatuh ke wanita sialan yang hanya bisa memeberikan cinta lebih baik kalau dia mati saja," ucap Kakek Rengga tidak merasa bersalah sedikitpun.


Rengga mengepalkan tangannya, ingin rasanya dirinya terus memukul pembunuh orangtuanya itu sampai mati tapi apalah daya dirinya tidak bisa karena Kakeknya yang selama ini merawatnya.


Puuuuug.


Aldo menepuk pundak Rengga memintanya mundur, karena Rengga tidak bisa biar dirinya saja yang memukul Pak tua itu sampai puas.


Buuuug, buuuug, buuuuug.


Aldo terus memukul perut Kakek Rengga, ketiganya bisa melihat dengan jelas ekspresi Kakek Rengga yang kesakitan tapi tetap tidak merasa bersalah.


"Ha hahahahaha, aku menyesal membiarkanmu hidup," teriak Kakek Rengga.


Buuuuuug, buuuuuug, buuuuuuuuug.


Melihat Rengga yang bersedih mengetahui kebenaran tentang orangtuanya Vina langsung memeluk Rengga, Vina menepuk pundak Rengga memintanya tetap bersabar.


"Vina bawa Rengga keluar, kali ini aku tidak hanya akan memukul perutnya," ucap Aldo yang mengeluarkan knuckle dari balik bajunya.

__ADS_1


Menuruti perkataan Aldo Vina langsung membawa Rengga keluar, sampai di depan pintu Vina menatap ke arah Gladi dan Devan yang terlihat sangat canggung.


Arrrrrkkkkkhhhhhh.


Arrrrrrrrrkkkkkhhhhh.


Jeritan dari Kakek Rengga terus terdengar, suara pukulan demi pukulan masih bisa didengar Vina dari luar.


Satu jam sudah Aldo berada di dalam, tak lama suara pintu terbuka diikuti langkah Aldo membuat Vina langsung menatap ke arah Aldo yang berlumuran darah.


"Aku membiarkannya tetap hidup, tapi tenang saja dia tidak akan berani mengganggumu di masa depan," ucap Aldo sambil menepuk pundak Rengga.


"Tanganmu, pakailah ini," ucap Gladi yang langsung memberikan sapu tangan ke Aldo.


Devan mengernyitkan dahinya dan membuang muka, Devan merasa sangat kesal melihat Gladi yang perhatian sama Aldo.


"Walau dia tetap hidup aku tidak ingin dia keluar dari penjara dalam sisa hidupnya, semua aku serahkan ke kalian lakukan apa saja asal jangan membunuhnya," ucap Rengga.


"Tidak masalah serahkan saja pada kami," sahut Devan.


"Ayo kita pulang," ucap Vina menarik tangan Rengga berdiri.


Rengga mengikuti Vina yang menariknya keluar, Aldo yang juga harus pulang bersama Rengga dan Vina langsung menarik tangan Gladi.


"Tentu saja membawanya pulang," sahut Aldo sambil melepaskan tangan Devan.


"Dia anggota organisasiku, kamu tidak bisa membawanya pergi begitu saja," ucap Devan.


"Apa maksudmu? jadi kamu ingin menahannya agar tetap di sini," sahut Aldo.


"Tentu saja, apa kamu berpikir dia bisa datang dan pergi begitu saja," ucap Devan sambil tersenyum penuh kemenangan.


Buuuuuuuuug.


Tidak terima Gladi di tahan Aldo langsung memukul Devan. Gladi kaget melihat Aldo yang tiba-tiba memukul ketuanya, Gladi tau Aldo kuat dan bisa bela diri tapi Devan juga tidak kalah dari Aldo Gladi tidak ingin keduanya berkelahi.


Devan mengusap darah di sudut bibirnya sambil tersenyum, berani memulai mencari masalah dengannya sepertinya kekasih Gladi sudah bosan hidup.


Buuuuuuuuug.


Baaaaaaaaaaaam.


Devan membalas pukulan Aldo dan menendangnya hingga terlempar, walau pukulan Aldo tidak seberapa sakit tapi harga dirinya yang diinjak-injak membuat Devan memutuskan membalas sampai tuntas.

__ADS_1


"Sudah cukup," teriak Gladi.


"Maaf ketua, maafkan dia," ucap Gladi menundukkan kepalanya.


"Gladi apa maksudmu, untuk apa meminta maaf padanya," sahut Aldo.


"Baiklah karena kamu yang memintanya aku tidak akan memperhitungkannya, jadi suruh orang ini pergi dari sini aku tidak ingin melihatnya," ucap Devan.


"Ketua aku mau berhenti," sahut Gladi membuat Devan melotot kaget.


Devan masih tidak percaya apa yang didengarnya.


"Apa kamu bilang?" tanya Devan.


"Dia mau berhenti, apa kamu tuli," teriak Aldo.


Buuuuuuuuug.


"Aku tidak bertanya padamu," ucap Devan yang baru saja memukul Aldo.


"Gladi apa kamu serius ingin berhenti?" tanya Devan.


"Aku serius ketua," sahut Gladi.


"Haaaaah, aku mengizinkanmu berhenti tapi syarat tetap harus dilakukan," ucap Devan.


Aldo yang tidak mengerti syarat apa yang dimaksud Devan langsung menatap Gladi. Gladi hanya diam, dirinya tidak bisa memberitahu Aldo syarat untuk anggota yang mau berhenti kalau Aldo tau Aldo pasti tidak akan mengizinkannya.


"Baik, Aku siap ketua," ucap Gladi penuh keyakinan.


"Kalau begitu antar tamu keluar setelah itu kita bicarakan lagi," sahut Devan yang berjalan pergi meninggalkan Gladi dan Aldo.


Aldo menatap Gladi berharap Gladi memberitahu apa syaratnya, kenapa Devan mengizinkannya begitu saja asal mengikuti persyaratan, mungkinkah persyaratannya harus tidur dengan pria itu pikir Aldo.


"Jangan berpikir yang tidak-tidak, Ayo keluar," ucap Gladi sambil menarik tangan Aldo.


Devan yang mengintip dari jauh memegangi dadanya, sesak rasanya melihat wanita yang dicintainya akan pergi meninggalkannya untuk selamanya.


Di depan markas Vina dan Rengga sudah menunggu Aldo, tanpa banyak bicara Gladi mendorong Aldo ke arah Rengga dan Vina lalu masuk kembali ke dalam markas.


"Gladi tidak ikut pulang bersama kita?" tanya Vina.


"Jangan membahasnya lagi," sahut Aldo yang langsung naik ke helikopter.

__ADS_1


__ADS_2