
Dua hari berlalu setelah Rengga datang kerumahnya, selama dua hari itu juga tubuh Raka panas dingin membuatnya terus menerus menagis. Vina merasa kebingungan apa yang harus di lakukannya, obat yang di belinya tidak bisa menyembuhkan Raka sama sekali.
Oeeeeeek, oeeeeek...
Raka masih terus menangis tidak perduli sebarapa keras Vina berusaha menenangkannya, Vina bahkan tidak tidur selama dua hari dua malam hanya agar putranya bisa tidur sedikit nyenyak.
"Vin, apa yang terjadi. Kenapa Raka terus menangis" tanya Gladi yang dari luar rumah sudah mendengar tangisan Raka.
"Aku juga tidak tahu, tubuh Raka dua hari ini panas dingin aku sudah membelikannya obat tapi tidak ada perubahan" sahut Vina sambil menimang putranya.
"Ayo ikut aku, kita bawa ke rumah sakit" ucap Gladi yang langsung melemparkan koper kecilnya lalu berjalan ke arah mobilnya.
Vina yang merasa sangat khawatir bergegas mengikuti Gladi dari belakang, Vina duduk di samping Gladi sambil mengelus kepala putranya yang baru saja tertidur.
"Kenapa kamu tidak menelpon ku, keadaan seperti ini sangat berbahaya untuk Raka" ucap Gladi sambil menjalankan mobilnya ke sebuah rumah sakit.
"Aku tidak ingin mengganggu mu, aku hanya tinggal di rumah semua urusan kamu yang menanggungnya masa bahkan Raka aku tidak bisa mengurusinya" sahut Vina.
"Haaaaah, semoga tidak terjadi apa-apa pada Raka" ucap Gladi yang terlihat sangat cemas.
Sampai di rumah sakit Gladi langsung mendatangi dokter anak, Gladi membaringkan Raka sambil memperhatikan sang dokter yang memeriksa keadan tubuh Raka.
Tidak butuh waktu lama sang dokter menuliskan hasil laporannya dan memberikannya ke Gladi, di dalam laporan hasil pemeriksaan dokter jelas tertulis Raka tidak menderita sakit apapun, hanya saja panas di tubuh Raka di karenakan sang anak yang bertambah pintar.
Kemungkinan juga sang anak merindukan seseorang yang memiliki hubungan darah dengannya, tambah sang dokter sebelum Vina dan Gladi berjalan keluar ruangan.
"Apa maksud dokter itu, tidak mungkin Raka merindukan Rengga" ucap Gladi yang merasa tidak terima mendengar perkataan sang dokter.
"Mungkin ada benarnya, dua hari yang lalu memang dia datang ke rumah aku mengusirnya sambil menggendong Raka saat Itu" sahut Vina.
"Jadi maksud mu Raka memang merindukannya, begitu" ucap Gladi.
"Aku tidak tahu, itu mungkin saja" sahut Vina yang kembali berjalan.
Braaaaaaak...
Vina yang berjalan keluar rumah sakit merasa menabrak seseorang, setelah melihat seorang pria tua terduduk sambil menatapnya kesal Vina bergegas menundukan kepalanya.
__ADS_1
"Maaf, maaf aku tidak sengaja" ucap Vina.
"Maafkan saudara ku, dia tidak melihat jalan hingga menabrak anda" sahut Gladi sambil membantu pria tua di depannya berdiri.
"Anak muda Zaman sekarang jalan tidak menggunakan matanya" ucap pria tua itu yang langsung menepis tangan Gladi.
"Dasar pak tua, kami kan sudah meminta maaf, lagipula jalan itu menggunakan kaki bukan menggunakan mata" sahut Gladi dengan nada tinggi.
"Jaga nada bicara mu, apa kamu tidak tahu sedang berbicara dengan siapa" tiga orang pengawal bergegas menghampiri pria tua itu sambil menggarahkan pistolnya ke Gladi
"Maaf maaf, kami yang salah" ucap Vina kembali menundukan kepalanya.
Oeeeeek, oeeeeeek...
Raka kembali menangis sangat keras, Vina yang tidak ingin menambah masalah bergegas keluar dari rumah sakit sambil menarik tangan Gladi.
"Pria tua itu bukannya kita sudah meminta maaf dan aku bahkan ingin membantunya berdiri" ucap Gladi yang terus menggerutu sambil memasuki mobilnya.
"Sudahlah itu hanya pria tua, lagipula pria tua itu bukan orang sembarangan kita tidak seharusnya menyinggungnya" sahut Vina.
Di dalam rumah sakit. pria tua yang sempat melihat ke arah Raka langsung terdiam, pria tua itu merasa anak yang di lihatnya tadi mirip dengan cucunya saat masih kecil.
"Anda tidak apa-apa pak?" tanya seorang pengawal pria tua itu.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Mungkin aku hanya terlalu kesal pada cucu ku sialan itu jadi aku tidak bisa mengontrol emosi ku" sahut pria tua itu yang kembali berjalan memasuki sebuah ruangan dokter lansia.
Gladi yang masih merasa sangat kesal dengan perkataan dokter di tambah berhadapan dengan pria tua tadi membuatnya terus-terusan menggerutu sepanjang jalan, Vina yang mendengarnya hanya bisa diam karena dirinya tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Bagaimana, apa kamu akan membawanya menemuinya?" tanya Gladi sambil menatap Vina.
"Menemuinya, bukannya itu sama saja masuk ke dalam kandang singa" sahut Vina.
"Lalu bagaimana?" tanya Gladi lagi.
"Karena kata dokter Raka tidak apa-apa mungkin beberapa hari ke depan juga baikan" sahut Vina.
"Huuuh, semoga saja" ucap Gladi sambil memfokuskan pandangannya menyetir ke depan.
__ADS_1
Dari kejauhan Gladi dan Vina menatap satu sama lain, keduanya sama-sama kebingungan siapa yang parkir mobil tepat di depan rumah mereka itu.
"Itu seperti mobil yang di pakai Ian saat menolong ku malam itu" ucap Vina.
"Tapi untuk apa dia kemari lagi?" tanya Gladi.
"Tidak tahu" sahut Vina sambil mengangkat bahunya.
Gladi memarkir mobilnya di belakang mobil yang parkir di depan rumahnya, Gladi dan Vina yang baru turun dari mobil langsung berjalan ke arah pria yang berdiri membelakangi mereka itu.
Postur tubuh pria ini sepertinya aku mengenalnya" dalam hati Vina.
"Rengga" panggil Vina yang membuat Gladi terkejut mendengarnya.
"Aku sudah menunggu lama sekali, cepat buka pintunya" ucap Rengga memerintah.
"Ini rumah ku, apa hak mu memerintah kami membuka pintu" sahut Gladi kesal.
"Karena aku ayah anak ini" ucap Rengga sambil menunjuk Raka yang di gendong Vina.
"Cih, dasar tidak tahu malu" sahut Gladi yang langsung membuka pintunya.
"Ku izinkan kamu masuk, tapi jika kamu macam-macam aku akan membuat mu tidak bisa keluar dari rumah ku" sambung Gladi sambil berjalan pergi meninggalkan Vina dan Rengga.
Vina yang berdiri di depan pintu begegas masuk dan duduk di sofa ruang tamu, di pangkunya anaknya yang baru terbangun menatap ke arah Rengga yang berdiri di depannya.
"Ada apa kamu kemari lagi?" tanya Vina.
"Aku mengunjungi anak ku apa butuh alasan" sahut Rengga sambil tersenyum.
"Cih, kali ini akan ku birkan kamu melihat anak mu sampai puas, tapi lain kali jangan berharap" ucap Vina.
"Pap pap pap" oceh Raka sambil menatap Rengga yang masih berdiri di depannya.
"Apa kamu memanggilku papa, ayo panggil sekali lagi" sahut Rengga yang langsung mengambil Raka dari pangkuan Vina dan menggendongnya sangat tinggi.
"Kamu mendengarnya, dia memanggil ku papa, anak ku memang pantas menjadi anak ku" sambung Rengga yang merasa sangat bahagia.
__ADS_1