
Bram memutar badannya melihat siapa yang berbicara padanya, Bram yang melihat Rengga menatapnya dengan tajam langsung terdiam seribu bahasa.
"Pria sepertimu tidak cocok untuk Vina dan anak ku, lain kali jangan pernah berpikir seperti itu atau kamu akan kehilangan segalanya yang kamu punya" ucap Rengga.
"Aku tidak akan" sahut Bram yang langsung berjalan pergi melewati Rengga.
Ian dan Andreas yang melihat Rengga membela Vina membuat keduanya saling menatap, Ian dan Andreas serentak berpikir cara apa lagi sekarang yang akan di lakukan Rengga.
"Kalian tidak perlu membela ku, lagipula aku tidak akan kembali padanya" ucap Vina.
"Karena kamu bilang sudah menyerah dan tidak akan mengambil anak ku akan ku izinkan kamu masuk, ku harap kamu menepati perkataan mu" sambung Vina sambil menatap Rengga.
Ian dan Andreas yang melihat kehadiran Rengga sama-sama mengepalkan tangannya, ingin rasanya meminta Vina mengusirnya bukan malah membiarkannya masuk.
"Aku bikin minum satu lagi" ucap Vina sambil berdiri bersiap pergi ke dapur.
"Vin, bolehkah aku menggendongnya" sahut Rengga.
"Ya" ucap Vina yang langsung memberikan putranya ke Rengga.
Vina kembali melanjutkan langkahnya ke dapur, hari ini sebenarnya hari apa kenapa banyak sekali tamu yang datang bersamaan pikirnya.
"Sekarang apa lagi rencana mu?" tanya Ian sambil menatap Rengga.
"Itu bukan urusanmu" sahut Rengga sambil tersenyum.
"Ku ingatkan jangan pernah menyakiti kak Vina atau aku tidak akan pernah memaafkan mu" ucap Andreas.
"Semut jangan mengertak gajah, kalau gajah marah tahu sendiri akibatnya" sahut Rengga tanpa melihat ke arah Andreas.
Sialan, lihat saja nanti akan ku buat kamu menyesal" dalam hati Andreas.
Ian dan Andreas yang melihat Vina datang ke arah mereka langsung terdiam, keduanya tidak ingin melihat Vina membenci mereka karena mencari keributan di rumahnya.
Rengga yang melihat ekspresi Ian dan Andreas hanya tersenyum, ingin mengambil apa yang seharusnya menjadi miliknya jangan pernah bermimpi pikirnya.
"Panggil papa nak, panggil papa" ucap Rengga.
"Papapa" celoteh Raka sambil memegang pipi Rengga.
"Anak pintar" ucap Rengga sambil mencium pipi putranya.
"Minumlah" ucap Vina yang baru menaruh segelas teh lagi di meja.
"Ya" sahut Rengga yang langsung mengembalikan Raka ke Vina.
__ADS_1
Rengga meminum teh yang di buat Vina tanpa menghiraukan Ian dan Andreas, keduanya yang merasa malas melihat Rengga bergegas berdiri bersamaan.
"Kak Vin, aku pulang dulu. Kakek meminta ku untuk mempelajari urusan perusahaan" ucap Andreas.
"Oh kalau begitu hati-hati di jalan" sahut Vina sambil menatap Andreas yang berjalan keluar rumahnya.
"Aku juga pulang, masih ada yang harus ku kerjakan" ucap Ian.
"Ya hati-hati, kalau tidak sibuk silahkan mampir lagi" sahut Vina.
Andreas dan Ian yang berjalan pergi membuat Vina merasa canggung, Vina tidak tahu apa yang akan di lakukan Rengga saat hanya berdua seperti saat ini.
"Kamu tidak pulang juga" ucap Vina.
"Pufff, uhuk uhuk" Rengga yang mendengar perkataan Vina langsung terbatuk.
"Apa kamu mengusir ku" ucap Rengga.
"Tidak juga, tapi siapa tahu saja kamu ingin menyusul mereka" sahut Vina.
"Tidak, aku masih ingin di sini melihat anak ku" ucap Rengga santai.
"Terserah" sahut Vina pasrah.
"Aku ingin bertanya sesuatu jawab dengan jujur" ucap Vina sambil menatap Rengga.
"Apa kematian Lidia ada kaitannya dengan mu?" tanya Vina serius.
"Aku, kenapa kamu bisa berpikir seperti itu" ucap Rengga berbicara seperti tanpa beban.
"Dia berani mencari masalah dengan mu, kalau menurutku itu tidak aneh jika kamu yang membunuhnya" sahut Vina.
"Kalau aku yang membunuhnya mungkin mayatnya tidak akan di temukan siapapun, itu juga tidak akan masuk berita" ucap Rengga.
"Kalau bukan kamu lalu siapa, siapa lagi di dunia ini yang bisa lebih kejam dari mu?" sahut Vina bertanya-tanya sendiri.
"Mana aku tahu, tapi bisa saja dia mencari masalah dengan yang lain, apa kamu tidak mencurigai dua orang tadi" ucap Rengga.
"Kalau Andreas tidak mungkin aku bisa menjaminnya, dan kalau Ian juga tidak mungkin walau dia terlihat terang-terangan dia masih memiliki hati yang lembut" sahut Vina sambil berpikir.
"Haaaah, kecurigaan ku hanya bisa tertuju pada mu" sambung Vina.
"Apa kamu pernah mendengar fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan, kamu curiga seperti itu sama saja membunuh ku" ucap Rengga sambil menyeruput teh yang di pegangnya.
"Memang benar fitnah lebih kejam dari pada pembunuhan, tapi orang seperti mu walau di fitnah seribu kali juga tidak bakal mati" sahut Vina ketus sambil menyunggingkan bibirnya.
__ADS_1
"Haaaah, intinya aku tidak membunuhnya. Percaya atau tidak terserah kamu" ucap Rengga.
"Aku mau mengajakmu pergi, jangan salah paham aku hanya ingin mengajak anakku jalan-jalan kamu juga tidak mungkin membiarkan ku menbawanya sendirian bukan" sambung Rengga.
"Oh, kalau begitu tunggu sebentar. Anggap saja aku tidak ada, lagipula aku juga tidak berharap jalan-jalan bersama mu" sahut Vina yang langsung berjalan ke kamarnya.
Di dalam kamar Vina tidak berhenti menggerutu, siapa juga yang ke pedean di ajak jalan olehnya pikir Vina sambil mengganti bajunya.
Vina yang sudah selesai berganti baju bergegas menghampiri Rengga dan putranya, Rengga yang melihat Vina memakai make up tipis dengan baju kasual membuat Rengga terdiam menatapnya.
"Ada apa?" tanya Vina.
"Tidak ada apa-apa" sahut Rengga sambil mengalihkan pandangannya.
"Ayo berangkat" sambung Rengga yang langsung menggandong anaknya keluar.
Vina mengikuti Rengga dari belakang yang berjalan ke arah mobilnya, Vina duduk di samping Rengga sambil memangku putranya yang terus menggenggam jarinya.
Rengga yang melihat Vina dan putranya sudah siap langsung menjalankan mobilnya, Rengga bergegas mengendarai mobilnya ke sebuah taman bermain anak yang sudah di kosongkan anak buahnya sebelumnya.
"Sampai" ucap Rengga sambil memarkir mobilnya.
"Ini kenapa kosong, bukannya kalau hari libur ramai" ucap Vina yang turun dari mobil sambil memperhatikan sekelilingnya.
"Aku sengaja mengosongkannya untuk Raka, bukannya begini lebih enak Raka bisa bermain sepuasnya" sahut Rengga.
"Kalau begini terlalu sunyi Raka bahkan tidak ada teman bermainnya" ucap Vina.
"Anak ku tidak butuh teman, saat besar nanti anak orang lain yang ingin berteman dengannya" sahut Rengga santai.
Jika Raka bersamanya nanti menjadi bagian dari keluarga Cafanza sudah pasti memiliki banyak teman, Raka tidak perlu harus mencari teman seperti anak lainnya.
"Dunia orang kaya susah ku mengerti, tapi tetap saja itu tidak bagus untuk Raka saat besar nanti" ucap Vina yang langsung berjalan ke salah satu perosotan di depannya.
"Kamu, apa yang kamu lakukan" teriak Rengga yang melihat Vina ingin menaiki anak tangga perosotan.
"Kalau tidak naik bagaimana Raka bisa main prosotan" sahut Vina.
"Turun, biar aku saja" ucap Rengga yang langsung mengambil Raka dari gendongan Vina.
Vina mengangkat bahunya sambil menunggu Rengga menurunkan anaknya ke prosotan, Vina yang menunggu cukup lama di bawah tapi tidak ada tanda-tanda anaknya turun langsung menengok ke atas.
Vina menatap Rengga yang terlihat ragu ingin menurunkan anaknya bermain prosotan tepat di depannya itu.
"Turunkan saja" teriak Vina kesal.
__ADS_1
"Tidak nanti jatuh" sahut Rengga yang kembali membawa turun anaknya.