Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 23


__ADS_3

Rengga berjalan pulang dengan bajunya yang masih basah kuyup, sepanjang perjalanan Rengga tidak berhenti mengumpat Ian, bagaimana bisa asisten kepercayaannya yang selalu segan padanya berani menghianatinya.


"Aaaaarrrhhhhhhh" Rengga memukul setir mobilnya dengan kesal.


"Cih, aku tidak akan menyerah, bagaimanapun juga anak ku tetap harus bersama ku" ucap Rengga sambil mengendarai mobilnya pulang.


Sampai di rumah Rengga yang sudah mengganti bajunya kembali berpikir, Rengga berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa mengambil alih anaknya.


Kriiing, kriiiing, kriiiing...


Suara ponsel yang di taruhnya di meja berbunyi, Rengga yang melihat Aldo menelponnya bergegas mengangkatnya berharap Aldo memiliki solusi untuknya.


"Hallo, bagaimana, kapan kamu akan menikahinya?" tanya Aldo yang semakin membuat Rengga kesal.


"Diam. Semua gagal, kamu pasti tidak akan percaya Ian berani menghianatiku" sahut Rengga.


"Ian, apa kamu bercanda. Aku jelas tidak percaya" ucap Aldo.


"Aku sebenarnya juga masih tidak bisa percaya tapi itu kenyataannya, bahkan dia berani mengatakan ke wanita itu aku hanya berpura-pura menikahinya untuk mengambil anaknya" sahut Rengga yang langsung mengepalkan tangannya.


"Sudah, lebih jelasnya bagaimana jika datang kesini. Kita pikirkan cara lain" ucap Aldo.


"Heeeeh, aku akan kesana sekarang, tapi jika kamu tidak bisa memikirkan jalan lain jangan salahkan aku kalau Bar mu akan tutup selamanya" sahut Rengga sambil mematikan ponselnya.


"Santai bos, jangan terlalu kejam. Hallo, hallo" Aldo menggelengkan kepalanya tidak habis pikir, apa yang di katakan Rengga tidak mungkin serius.


Rengga mengambil jaket hitamnya dan berjalan ke arah mobilnya, dengan kecepatan penuh Rengga mengendarai mobilnya ke Bar Aldo.


Aldo yang melihat mobil Rengga langsung menghampirinya, Aldo merangkul Rengga yang wajahnya yang terlihat sangat suram lebih suram dari biasanya.


"Tenanglah, aku sudah menyiapkan kesukaan mu" ucap Aldo yang langsung membawa Rengga ke sebuah ruangan.


Rengga mengikuti Aldo tanpa bicara, sampai di ruangan yang di siapkan Aldo Rengga langsung duduk sambil mengambil satu botol minuman di depannya dan langsung meminumnya.


"Pelan-pelan, bagaimana ceritanya Ian bisa sampai menghianatimu?" tanya Aldo.


"Dia menolong wanita itu saat wanita itu melarikan diri dariku, dan dia langsung jatuh cinta pada pandangan pertama padanya" sahut Rengga yang kembali meneguk minuman yang di pegangnya.


"Jadi maksudmu dia tidak terima jika kamu ingin mempermainkan wanita itu" ucap Aldo.


"Dia bukan hanya tidak terima bahkan dia berani menggertak ku, jika aku mempermainkan wanita itu dia tidak akan melepaskan ku" sahut Rengga.

__ADS_1


"Aku tidak takut dengan gertakannya itu, hanya saja aku harus melakukan apa untuk mendapatkan anak ku kembali" sambung Rengga sambil menatap botol di tangannya yang tanpa sadar sudah kosong.


"Kemarin kamu bercerita padaku, saat wanita bernama Naina ingin naik ke ranjang mu dia menggunakan parfum perangsang bukan" ucap Aldo.


"Iya" sahut Rengga.


"Dalam keadaan setengah sadar kamu langsung mendatangi wanita bernama Vina itu. Bahkan kamu melakukan itu dengannya, apa kamu tidak berpikir jika mungkin saja kamu tanpa sadar tertarik padanya" ucap Aldo mencoba berpikir masalah Rengga dari sisi lain.


"Aku tertarik padanya, apa kamu gila mengatakan itu pada ku" sahut Rengga sambil menyunggingkan bibirnya ke arah Aldo.


"Itu mungkin saja, kalau tidak kenapa saat itu kamu langsung mendatanginya" ucap Aldo.


"Jangan bicara omong kosong, aku kesini meminta mu mencari cara lain. Sekarang apa rencanamu" sahut Rengga.


"Tidak ada jalan lain, cobalah mendekati wanita itu buatlah dia luluh pada mu. Menurut ku dengan pesona mu tidak ada satupun wanita yang tidak akan tertarik" ucap Aldo.


"Dia tidak mungkin percaya pada ku" sahut Rengga.


"Tentu saja dia tidak percaya, tapi kamu bisa berpura-pura menyerah untuk mengambil anak mu dengan begitu kamu bisa lebih sering bertemu dirinya saat kamu menemui anak mu" ucap Aldo sambil tersenyum.


"Rencana lumayan, aku akan memikirkannya lagi" sahut Rengga yang langsung berdiri berjalan pergi meninggalkan Aldo.


Di tempat berbeda Ian dengan sedikit ragu memberanikan diri kembali ke rumah Vina, Ian berdiri sejenak di depan pintu sebelum memutuskan mengetuk pintu di depannya itu.


Tok tok tok, tok tok tok...


Ian berulang kali mengetuk pintu rumah Vina, Ian yang menunggu Vina membuka pintu di kejutkan seseorang yang langsung menepuk pundaknya.


"Sayang kamu bilang Vina sudah punya anak, apa mungkin pria ini adalah ayah dari anak haramnya itu" ucap Lidia yang berdiri tepat di belakang Ian.


"Lid, bagaimana bisa kamu berbicara seperti itu. Bukannya Vina masih sahabat mu" sahut Bram.


"Kalian siapa, untuk apa datang kemari" ucap Ian sambil menatap Lidia.


"Siapa aku apa urusannya denganmu, Vina pasti buta sudah mau membesarkan anak dari pria tidak jelas seperti mu" sahut Lidia sambil menyunggingkan bibirnya.


Ian yang merasa panas mendengar perkataan Lidia ingin sekali memukulnya, kata-kata yang keluar dari mulut Lidia jika di dengar Vina pasti membuatnya sakit hati.


"Lebih baik kalian pergi, dan kamu lebih baik bawa wanita bermulut sampah ini pergi sejauh mungkin jangan sampai membuat orang yang melihatnya ingin muntah" ucap Ian sambil menatap Bram.


"Ada apa, kenapa berisik sekali di depan rumah orang" ucap Vina yang baru membuka pintunya.

__ADS_1


"Ini dia sahabat terbaik ku" sahut Lidia sambil menutup mulutnya.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Vina menatap Lidia dan Bram dengan kesal.


"Aku hanya ingin mengundang mu, ku harap kamu bisa datang membawa anak haram mu itu dan juga ayahnya" sahut Lidia sambil menyerahkan selembar undangan lalu menunjuk Ian.


"Jaga mulut sampah mu itu" ucap Ian yang terlihat sangat marah.


"Aku hanya ingin memberikan undangan itu jangan lupa datang" sahut Lidia yang langsung memutar badannya berjalan pergi di ikuti Bram di belakangnya.


Ian yang melihat Lidia pergi setelah menghina Vina ingin mengejarnya, tangannya yang di tarik oleh Vina membuatnya hanya bisa melihat wanita yang menghina Vina pergi begitu saja.


"Sudah, masuk saja dulu" ucap Vina sambil melepas tangan Ian.


Ian mengikuti Vina yang duduk di ruang tamu sambil menatapnya.


"Aku kesini ingin menjelaskan, aku benar-benar tidak tahu jika Rengga" ucap Ian tidak melanjutkan perkataannya.


"Tidak masalah aku bisa mengerti, maaf soal yang tadi" sahut Vina yang merasa tidak enak hati melihat Lidia yang mengira Ian adalah ayah Raka.


"Aku tidak apa-apa, bagaimana dengan undangan itu?" tanya Ian.


"Aku tidak akan datang" sahut Vina.


"Kenapa tidak datang, dia yang sudah menghina mu sepantasnya mendapatkan balasan" ucap Ian.


"Biar saja" sahut Vina santai.


"Yang di katakan Ian memang benar, dia tidak hanya menikung pacar mu dan dia juga berani menghina anak mu, sebagai orang tua dimana rasa tanggung jawab mu" ucap Gladi yang berjalan ke arah Vina dan Ian.


"Ian kamu harus menemaninya pergi, sebagai pria kamu pasti tahu apa yang harus kamu lakukan, anggap saja itu sebagai permohonan maaf mu" sambung Gladi.


"Aku tidak keberatan" sahut Ian.


"Bagus, kalau begitu saat nanti kembali dari pesta wanita itu jangan lupa memberitahu ku kabar gembiranya" ucap Gladi yang kembali masuk ke dalam kamarnya.


"Tenang saja aku pasti akan membantu mu" ucap Ian sambil menatap Vina dengan serius.


"Kita pikirkan itu nanti, kamu pulanglah" sahut Vina sambil berjalan pergi meninggalkan Ian.


Tenang saja, aku yang sekarang bukan Ian yang seperti dulu bisa menahan kesabaran ku, demi harga dirimu aku akan membalasnya" dalam hati Ian sambil berjalan keluar rumah Vina.

__ADS_1


__ADS_2