Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 68


__ADS_3

Andreas menatap sinar matahari yang berada di luar jendelanya, semalaman berpikir haruskah dirinya melanjutkan kuliah dan jauh dari Vina membuatnya tidak bisa tertidur.


"Ahhhhhh, keputusan yang sangat sulit" ucap Andreas yang bergegas bangun dari tempat tidurnya.


Setelah selesai mandi dan merapikan diri Andreas langsung berjalan ke rumah Vina, Andreas yang melihat Ian juga berjalan ke rumah Vina membuatnya lebih mudah memberitahukan pesan ayah angkatnya kemarin.


"Kak Vina" panggil Andreas yang berdiri di depan pintu.


"Aku mendengar suara mobilmu semalam. Bagaimana, apa yang ayah angkat katakan kemarin?" tanya Vina.


"Ayah angkat tidak masalah dengan keputusanku yang sudah tidak ingin membalas dendam lagi" sahut Andreas yang langsung duduk di samping Vina.


"Heeeeeh, pria apa kamu ini baru segitu saja sudah menyerah" ucap Ian yang berjalan menghampiri Andreas dan Vina.


"Itu sebelumnya memang keputusan ku, lagipula ayah angkat juga menyuruh kita semua untuk tidak melanjutkannya lagi" sahut Andreas.


"Itu tidak mungkin, ayah angkat tidak mungkin menyuruh kita berhenti membalas dendam" ucap Ian tidak percaya perkataan Andreas.


"Aku bicara apa adanya, ayah angkat juga bilang dia akan menikmati sisa hidupnya jika ada waktu dia akan kembali untuk melihat kita nanti" sahut Andreas.


"Aku tidak percaya perkataan mu" ucap Ian yang langsung berjalan keluar.


Ian berpikir ayah angkat sangat membenci keluarga Cafanza, atas dasar apa dia merubah keputusannya begitu saja.


Aku harus memastikannya sendiri" dalam hati Ian.


"Bagaimana dengan yang di berikannya pada kita?" tanya Vina.


"Ayah angkat bilang dia tulus menganggap kita sebagai anak angkatnya, semua yang di berikannya untuk kita tetap akan menjadi milik kita" sahut Andreas.


"Haaaaaah, Karena ayah angkat juga sudah menyerah aku tidak memiliki pilihan selain ikut menyerah, ku harap Rengga tidak lagi mencari masalah baru atau aku tidak akan melepaskannya" ucap Vina sambil menghela nafas panjang.


"Kak Vina" panggil Andreas.


"Maaf mungkin aku tidak bisa menjaga kak Vina dan menemani kak Vina lagi kedepannya" ucap Andreas dengan suara pelan.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu?" tanya Vina sambil menatap Andreas.


"Aku berencana melanjutkan kuliahku yang sempat terputus, itu akan menjauhkanku dengan kak Vina" ucap Andreas.


"Bukannya itu keputusan yang sangat bagus, dengan melanjutkan kuliah masa depanmu masih bisa kamu susun ulang lagi. Kita memang tidak bisa bertemu tapi aku akan tetap menunggu mu. Jujur saja kamu sudah ku anggap seperti adikku sendiri kesuksesan mu menjadi kebanggaan tersendiri untukku" sahut Vina sambil tersenyum menatap Andreas.

__ADS_1


Andreas yang mendengar perkataan Vina langsung terdiam, ternyata di mata Vina dirinya hanya di anggap seperti adiknya sendiri.


"Haaaaah, kalau begitu aku pulang dulu" ucap Andreas.


Andreas tidak merasa kesal dengan Vina, hanya saja perasaannya selama ini bertepuk sebelah tangan. Mungkin jalan terbaik untuknya memang menjauh dari Vina sementara waktu, lagipula di anggap adik juga bukan sesuatu yang buruk, pikir Andreas.


"Vin" panggil Gladi yang melihat Vina menatap ke arah pintu.


"Apa yang kamu lihat?" tanya Gladi sambil duduk di samping Vina.


"Haaaaah, semua sudah berakhir. Kita hanya perlu menikmati hidup saja" ucap Vina membuat Gladi yang mendengarnya merasa tidak mengerti.


"Apa maksudmu?" tanya Gladi lagi.


"Tidak ada pembalasan tidak ada dendam, mulai hari ini kita hanya perlu bersenang-senang menikmati hidup" sahut Vina sambil tersenyum.


"Kalau begitu tunggu apa lagi, ayo kita keluar merayakannya" ucap Gladi.


"Tentu saja. Ayo" sahut Vina semangat.


Vina yang menggendong Raka dan Gladi yang memegangi tangan Mia berjalan meghabiskan waktu mengelilingi beberapa taman. Mereka sangat bahagia terutama Vina, ternyata hidup tanpa di selimuti rasa dendam membuatnya merasa jauh lebih baik.


"Rengga, bukannya itu Vina" ucap Aldo yang tidak sengaja melihat Vina di sebrang jalan.


"Apa kita pergi menghampiri mereka?" tanya Aldo sambil menatap Rengga yang terus memperhatikan ke sebrang jalan.


Deg deg deg, deg deg deg...


Rengga tidak mempedulikan apa yang di katakan Aldo, melihat Vina tersenyum bahagia dengan kedua anaknya membuat detak jantungnya semakin cepat.


"Rengga, apa kita pergi kesana menghampiri mereka?" tanya Aldo sekali lagi sambil memukul pundak Rengga.


"Sepertinya tidak perlu, aku tidak ingin kebahagian mereka hilang karena kehadiran kita" sahut Rengga yang langsung berjalan ke arah mobilnya.


Kehadiran kita, kehadiranmu saja kali aku tidak " dalam hati Aldo sambil berjalan mengikuti Rengga dari belakang.


Di dalam mobil Rengga memegangi dadanya, tidak tahu kenapa dan apa sebabnya dirinya merasakan ada keanehan di dalam dirnya saat ini.


"Kenapa kamu memegangi dadamu?" tanya Aldo yang memperhatikan dari kaca.


"Tidak tahu, hanya merasa seperti ada yang berdegup sangat kencang" sahut Rengga.

__ADS_1


"Mungkinkah benih-benih cinta mulai muncul di hatimu" ucap Aldo sambil tersenyum melihat Rengga di kaca.


"Jangan bicara omong kosong, cepat jalankan mobilnya" sahut Rengga yang langsung mengalihkan pandangannya.


Hemmmm, mungkinkah yang di katakan Aldo benar. Apa aku sudah mulai memiliki perasaan ke Vina, atau aku hanya senang karena dia merawat kedua anakku dengan baik" dalam hati Rengga.


"Haaaah. Sudahlah lebih baik ikuti alur cerita yang berjalan saja" ucap Rengga dengan suara pelan.


Aldo yang mendengar perkataan Rengga hanya tersenyum sendiri, Rengga terlalu kaku untuk bisa mengerti apa yang di rasakan dirinya sendiri. Kalau saja yang berada di posisi Rengga saat ini adalah dirinya sudah pasti akan di ungkapnya perasaannya, dan memulai kehidupan barunya dengan sangat bahagia.


____ _____


Di tempat berbeda Ian yang tidak percaya apa yang di katakan Andreas bergegas pergi ke rumah ayah angkatnya, sampai di sana rumah yang terlihat sangat sepi menyambutnya dengan penuh rasa kesunyian.


"Ayah angkat" panggil Ian sambil membunyikan bell berulang kali.


Kreeeeeek...


Tidak lama setelah dirinya terus membunyikan bell seorang wanita muda berpakaian pelayan membukankannya pintu sambil tersenyum ramah.


"Tuan Yovan sudah pergi semalam" ucap wanita itu.


Ian yang melihat pelayan wanita di depannya mengatakan ayah angkatnya sudah pergi hanya bisa menghela nafas. Apa benar yang di katakan Andreas, apa semua sudah berakhir, pikir Ian sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba merasa pusing.


"Tuan, kenapa?" tanya pelayan wanita itu sambil memegangi tubuh Ian yang hampir terjatuh.


"Tidak apa-apa" sahut Ian mencoba kembali berdiri tegak.


"Masuk saja dulu, akan ku ambilkan obat" ucap pelayan wanita itu yang langsung membantu Ian masuk ke dalam rumah ayah angkatnya.


Sampai di dalam rumah pelayan wanita yang membantu Ian bergegas mengambilkan obat, tidak hanya obat segelas susu hangat yang baru di buatnya langsung di bawanya ke Ian yang masih memegangi kepalanya.


"Tuan minum dulu obatnya" ucap pelayan wanita itu dengan penuh khawatir.


"Terima kasih" sahut Ian sambil meminum obat yang di berikan pelayan wanita di depannya.


"Apa tuan sudah merasa jauh lebih baik?" tanya pelayan wanita itu.


"Iya, siapa namamu?" tanya Ian balik.


"Caca" sahut pelayan wanita itu yang langsung menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Terima kasih obatnya, aku pergi dulu" ucap Ian sambil berjalan pergi.


Pelayan wanita yang melihat Ian berjalan pergi hanya tersenyum. Sejak pertama kali melihat Ian dirinya sudah menyimpan perasaan padanya, hanya saja dirinya sadar diri Ian adalah anak angkat majikannya dan dia hanya seorang pelayan.


__ADS_2