
Dua hari berlalu setelah pesta ulang tahun Lidia, Vina yang tidak di ganggu lagi oleh Rengga membuatnya merasa jauh lebih tenang.
Vina menyalakan Tv sambil menjaga Raka yang sibuk bermain di sampingnya, Chanel Tv berulang kali di gantinya satu persatu, dirinya yang tidak suka film beromansa percintaan kembali mencari chanel lainnya.
"Pemirsa di temukannya mayat wanita yang di duga kematiannya melebihi 24 jam mengejutkan para warga sekitar, di dalam dompet korban tertera nama dan juga alamatnya. Bagi saudara yang mengenal korban bernama Lidia bisa mengambil jenasa
di rumah sakit simpang Tiga" ucap pembawa berita.
"Demikian yang dapat kami sampaikan, berita di laporkan dari tempat kejadian" sambung pembawa berita.
Vina yang melihat berita di Tv langsung terdiam, nama dan alamat yang di jelaskan sudah pasti milik Lidia mantan sahabatnya itu.
"Vin" panggil Gladi yang melihat Vina terdiam menatap Tv di depannya.
"Vina" panggil Gladi lagi lebih keras dari sebelumnya.
"Lidia sudah tidak ada" sahut Vina yang tanpa sadar meneteskan air matanya.
"Apa maksudmu?" tanya Gladi kebingungan.
"Aku melihat berita siaran langsung, ditemukan mayat seorang wanita bernama Lidia, dan alamat yang di bacakan pembawa berita adalah alamat Lidia. Lidia sudah meninggal" sahut Vina yang langsung memeluk Gladi sambil menangis.
"Lalu kenapa kamu bersedih, dia jahat pada mu itu karmanya" ucap Gladi.
"Walau begitu dia tetap pernah menjadi sahabatku, kira-kira siapa yang membunuhnya" sahut Vina.
"Dia mencari masalah dengan Rengga, Rengga sangat kejam apa mungkin dia yang membunuhnya" sambung Vina.
"Itu mungkin saja, tapi kamu tidak bisa sembarangan menuduh" ucap Gladi sambil menepuk pundak Vina.
"Sudah jangan di pikirkan, biar aku yang mengurusnya percayakan saja semua padaku" sambung Gladi.
"Iya, baiklah" sahut Vina.
"Aku pergi dulu, mungkin seminggu lebih baru pulang kamu lebih baik berhati-hati di rumah" ucap Gladi.
"Aku bukan anak kecil lagi" sahut Vina.
"Ayo yo, anak mama tua sendirian lagi, mama tua pergi dulu ya sayang nanti kalau mama tua pulang mama tua belikan kamu mainan" ucap Gladi yang langsung menggendong Raka sambil menciumi pipinya bertubi-tubi.
"Mama mama tau ta ta" celoteh Raka yang di anggap Gladi berkata mama tua hati-hati juga.
"Aku pergi dulu ya" ucap Gladi yang langsung berjalan pergi meninggalkan Vina dan Raka.
Haaaaah, Gladi bekerja sangat keras padahal aku tidak memiliki hubungan darah dengannya, tapi kebaikannya pada ku dan Raka sangat luar biasa" dalam hati Vina.
Tok tok tok, tok tok tok...
__ADS_1
Suara pintu yang di ketuk membuat Vina bergegas berdiri, Vina berjalan ke arah pintu sambil menggendong putranya.
"Siapa?" tanya Vina yang langsung membuka pintu.
"Kak Vina" panggil Andreas yang berdiri di depan Vina.
"Andreas" sahut Vina yang terkejut.
"Kamu kenapa di sini, bukannya kamu harus kuliah?" tanya Vina.
"Ceritanya panjang kak" sahut Andreas sambil tersenyum.
"Ya sudah masuk dulu" ucap Vina yang langsung duduk memangku putranya.
"Terima kasih" sahut Andreas.
Andreas duduk di depan Vina sambil terus tersenyum, Andreas merasa sangat bahagia akhirnya dirinya bisa bertemu lagi dengan Vina dan anaknya.
"Kamu tahu alamat ku dari mana?" tanya Vina.
"Kak Gladi yang memberitahu ku" sahut Andreas.
"Sudah bisa ku tebak, kamu jaga Raka dulu aku bikinin minum" ucap Vina sambil memberikan Raka ke Andreas.
"Anak pintar, masih ingat paman atau tidak" sahut Andreas yang langsung menggendong Raka sambil mencium pipinya.
"Vina" suara pria dari depan pintu mengejutkan Andreas.
Andreas yang merasa penasaran siapa yang datang langsung berjalan ke arah pintu.
"Paman Ian" ucap Andreas.
"Andreas kenapa kamu di sini?" tanya Ian.
"Kakek yang meminta ku membantu paman mengurus perusahaan, kakek juga bilang aku tidak perlu bersusah payah kuliah karena belum tahu siapa yang akan menjadi pewarisnya" sahut Andreas.
"Kalau paman Ian kenapa ke sini, tidak mungkin paman Rengga sudah bertemu dengan kak Vina bukan" sambung Andreas.
"Siapa di luar Andreas?" tanya Vina sambil berjalan menghampiri Andreas.
"Eh, Ian masuk" ucap Vina sambil tersenyum menatap Ian yang berdiri di depan pintu.
Ian dan Andreas yang duduk bersebelahan membuat suasana canggung, Ian merasa Andreas pasti belum tahu apa yang di lakukan pamannya selama ini.
"Sebentar aku ambil minum lagi" ucap Vina sambil menggendong putranya berjalan ke dapur.
Ian yang tidak ingin Rengga mempermainkan Vina lagi langsung memulai pembicaraannya.
__ADS_1
"Apa kamu tahu apa yang di lakukan paman mu?" tanya Ian.
"Tidak, memangnya apa yang di lakukannya?" tanya Andreas balik.
"Paman mu ingin mendekati Vina untuk mengambil anaknya dan dia melakukan segala cara untuk itu" sahut Ian.
"Apa maksudmu Raka adalah anak paman Rengga?" tanya Andreas yang merasa sangat terkejut.
"Iya, lebih baik kamu perhatikan paman mu itu" sahut Ian.
"Lalu kenapa kamu memberitahu ku, bukannya kamu asisten paman yang paling di percaya" ucap Andreas.
"Aku sudah berhenti, aku tidak mau bekerja dengan pria yang ingin menyakiti Vina" sahut Ian.
"Apa yang kalian bicarakan, ku lihat dari jauh sepertinya sangat serius" ucap Vina sambil menaruh segelas teh di depannya.
"Tidak ada yang serius kok kak, aku sudah lama tidak bertemu paman Ian kami saling tanya kabar saja" sahut Andreas.
"Oh, ku kira ada rahasia yang tidak boleh ku dengar" ucap Vina sambil tersenyum.
"Vin, di mana Gladi?" tanya Ian mengalihkan pembicaraan.
"Dia ada kerjaan mungkin seminggu lagi baru pulang" ucap Vina.
"Oh" sahut Ian sambil menganggukkan kepalanya.
Tok tok tok...
Suara pintu yang kembali di ketuk mengejutkan Vina, Vina bergegas berdiri dan berjalan ke arah pintu kali ini siapa lagi yang datang pikirnya.
"Vin" ucap Bram yang berdiri di depan Vina.
"Kamu, ada apa?" tanya Vina yang merasa tidak senang melihat mantan pacarnya itu.
"Kamu sudah dengar berita tentang Lidia?" tanya Bram balik.
"Aku melihatnya tadi, aku turut berduka cita semoga tenang di alam sana" sahut Vina.
"Vin aku minta maaf aku salah, aku tidak seharusnya termakan perkataan manis Lidia. Aku mau kita balikan seperti dulu, aku tidak keberatan dengan anak mu dari pria lain" ucap Bram yang langsung membuat Vina terkejut.
"Apa maksud mu, apa kamu mengira Vina tidak bisa mendapatkan pria yang lebih baik dari kamu" sahut Ian yang berdiri di belakang Vina.
"Heeeh, apa kamu mengira yang bisa menerima anak Vina cuma kamu saja" ucap Andreas yang menyusul Ian dan berdiri di sampingnya.
"Itu urusanku dengan Vina kalian tidak berhak ikut campur" sahut Bram dengan nada tinggi, Bram tidak menyangka ada dua pria di dalam rumah Vina.
"Bagaimana dengan ku" ucap Rengga yang berdiri tepat di belakang Bram.
__ADS_1