
Seorang Ceo Rengga Cafanza semakin hari semakin gelisah, tidak tahu kenapa dirinya merasa sangat tidak tenang. Dia bertanya-tanya sendiri apa dia tidak tenang karena mengetahui ada yang ingin membalas dendam, atau dia tidak tenang karena Vina di jadikan pion untuk membalasnya.
Arrrrrrrrkkkkkhhhhh...
Teriakan Rengga mengejutkan karyawan di depannya yang kebetulan mengadakan rapat perusahaan, para karyawan menatap satu sama lain tanpa berani berbicara satu katapun.
"Bubar bubar, kita adakan rapat nanti jika aku sudah siap" ucap Rengga yang langsung berjalan keluar.
Rengga kembali ke dalam ruangannya yang ada Aldo di dalamnya, Aldo menatap Rengga yang memasang wajah kebingungan dengan penuh gelisah.
"Ada apa dengan mu?" tanya Aldo yang berdiri di depan Rengga.
"Haaaaah, aku benar-benar bingung. Aku merasa sangat gelisah tapi aku bingung apa yang membuat ku gelisah seperti ini" sahut Rengga yang duduk di depan Aldo.
"Aku melihat mu gelisah semenjak malam itu, sebenarnya apa yang kamu lihat di sana?" tanya Aldo.
"Aku tahu siapa orang di belakang Vina, dia yang bisa membuat Vina menjadi seperti sekarang ini pasti bukan orang biasa. Aku juga tahu Vina adalah pion utamanya" sahut Rengga.
"Jadi, apa kamu takut dengan orang yang akan balas dendam pada mu, atau kamu takut terjadi sesuatu pada Vina karena menjadi pionnya?" pertanyaan Aldo membuat Rengga terdiam.
"Aku" sahut Rengga yang bingung ingin menjawab apa.
Apa sebenarnya yang membuatku gelisah, apa benar aku takut tapi sejak kapan aku takut seseorang membalas dendam padaku. Musuh ku banyak bahkan jika mereka semua ingin balas dendam aku tidak akan pernah takut pada mereka, Apa aku takut terjadi sesuatu pada Vina, tapi kenapa" Rengga yang terdiam mulai berpikir keras.
Aldo yang melihat ekspresi Rengga bisa menduganya, Rengga tidak pernah takut pada siapapun kegelisahannya pasti karena Vina yang jadi pion musuhnya, pikir Aldo.
"Sepertinya aku tahu kenapa, bagaimana jika kamu mencoba membicarakannya dengan Vina, siapa tahu dia bisa mengerti keadaannya dan menjauh dari orang yang ingin balas dendam padamu itu" ucap Aldo.
"Mau berbicara bagaimana, bahkan untuk menemuinya saja aku tidak bisa" sahut Rengga.
"Gampang, kamu tinggal suruh seseorang untuk memberitahu Vina jika ada yang ingin membeli hasil desainnya dan akan mengajaknya bekerja sama. Sisanya kamu pasti tahu apa maksud ku" ucap Aldo sambil tersenyum.
"Heeeeh, kali ini ide mu brilian. Aku pergi dulu" sahut Rengga yang langsung berjalan pergi meninggalkan Aldo.
Pria dingin sepertinya bahkan tidak menyadari dirinya sendiri, sudah jelas peduli pada Vina masih terus mencoba menyangkalnya" dalam hati Aldo.
__ADS_1
Rengga yang sudah tahu harus berbuat apa bergegas mencari seseorang untuk memberitahu Vina, Rengga bahkan langsung menyiapkan ruangan khusus untuk berbicara dengan Vina di restoran bintang 5.
Di tempat berbeda seorang wanita suruhan Rengga bergegas memasuki kantor Vina, mengaku sebagai asisten perusahaan besar dari luar kota membuat wanita itu di sambut baik di perusahaan Vina.
"Maaf membuatmu menunggu lama" ucap Vina sambil berjabat tangan.
"Tidak masalah bu Vina, nama ku Felsia aku di minta atasan untuk mengundang anda. Atasan ku tertarik dengan beberapa desain anda beliau berharap bisa bekerja sama dengan perusahaan V.A" sahut wanita itu tanpa gugup.
"Oh kalau boleh tahu kapan atasan anda siap di temui?" tanya Vina.
"Secepatnya, kalau bu Vina tidak sibuk aku akan mengantar ke sana" sahut Felsia yang langsung berdiri.
"Kalau begitu maaf merepotkan mu" ucap Vina sambil berjalan mengikuti wanita di depannya.
Vina yang selalu serius tentang bisnis tidak merasa curiga sedikitpun, Vina bahkan naik mobil wanita suruhan Rengga yang membawanya ke sebuah restoran berbintang 5 tanpa banyak bertanya.
Felsia menghentikan langkahnya di depan sebuah ruangan yang sudah di pesan Rengga, Felsia memajukan tangannya meminta Vina masuk ke dalam ruangan di depannya sambil tersenyum.
Tap tap tap...
Vina menatap hidangan di atas meja tepat di depannya dengan sedikit kebingungan, semua sudah tersedia seperti seseorang sengaja menunggunya, Vina berpikir ini bukan hal yang terbiasa saat dia berbicara tentang bisnis.
"Kamu sudah datang" suara pria tidak asing membuat Vina mengerutkan dahinya.
Rengga yang berdiri di depan pintu langsung berjalan ke kursi tepat di depan Vina.
"Kamu lagi" ucap Vina yang merasa tidak senang melihat Rengga.
"Duduklah, jarang bisa membuat mu menemui ku" sahut Rengga.
Vina tersenyum sinis sambil menarik kursinya, tanpa berbicara Vina terpaksa duduk berhadapan dengan Rengga.
Vina menatap Rengga yang mulai mengambilkan makanan di depannya, Vina yang tidak terbiasa melihat Rengga seperti itu merasa curiga makanan yang di ambilkan Rengga pasti ada racunnya.
"Makanlah" ucap Rengga yang melihat Vina hanya memperhatikan makanan di depannya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus memakannya? Siapa yang tahu racun apa yang sudah kamu masukan ke dalamnya" sahut Vina.
"Aku tidak sepicik itu, karena kamu ragu maka lihatlah aku yang akan memakannya" ucap Rengga sambil mengambil makanan di depannya dan langsung memakannya.
Vina hanya diam melihat Rengga makan dengan lahapnya, walau makanan di depannya tidak beracun tetap saja dirinya tidak akan memakan apapun yang berkaitan dengan Rengga.
"Lihat bukan, aku sudah memakannya" ucap Rengga.
"Aku melihatnya silahkan di habiskan" sahut Vina.
"Haaaaaah, baiklah kalau kamu tidak mau memakannya" ucap Rengga yang langsung menghela nafas panjang.
"Katakan intinya saja untuk apa kamu bersusah payah meminta orang membawa ku kemari, tapi sebelum itu aku akan jelaskan kalau sampai kapanpun aku tidak akan memberikan Raka pada mu" sahut Vina.
"Aku tidak akan mengambil Raka, aku menyuruh orang membawa mu kemari karena ada hal penting yang harus ku bicarakan pada mu" ucap Rengga yang langsung menatap Vina serius.
"Kalau begitu katakan" sahut Vina.
"Ini tentang tuan Yovan" ucap Rengga.
"Ayah angkatku kenapa?" tanya Vina sambil memperhatikan Rengga yang menatapnya serius.
"Sebenarnya kamu hanya di manfaatkannya, aku mau kamu menjauh darinya" sahut Rengga.
Vina yang mendengar perkataan Rengga langsung menatapnya tajam, Vina tidak menyangka Rengga mengundangnya hanya untuk menjelekan ayah angkatnya.
"Percaya pada ku tuan Yovan buka orang baik, aku memberitahu mu demi kebaikan mu sendiri" sambung Rengga.
"Heeeeeh, hahahahaha" Vina tertawa sangat keras sambil memukul meja di depannya.
"Ini tidak lucu, aku hanya mengingatkan mu" ucap Rengga.
"Memang tidak lucu, aku hanya tidak menyangka orang seperti Rengga Cafanza berani menjelekan orang lain di belakangnya. Oh ya apa tadi kamu bilang tuan Yovan bukan orang baik, kalau orang sepertinya saja bukan orang baik bagaimana dengan mu" sahut Vina yang langsung menatap Rengga tajam.
"Tapi kamu hanya..." ucap Rengga tidak melanjutkan perkataannya.
__ADS_1
"Diam, aku tidak peduli seperti apa tuan Yovan menurutmu, tapi menurut ku dia orang baik tidak sepertimu" sahut Vina sambil berjalan pergi meninggalkan Rengga.