
Gladi yang tadinya hanya memeluk Raka langsung menghampiri Vina, Gladi memeluk Vina sambil berbisik agar Vina tetap tenang.
"Aku sangat menyayangi Mia sama seperti aku menyanyangi Raka, tapi kenapa Anak kecil sepertinya harus mati dengan cara seperti ini," ucap Vina, air matanya terus menetes membasahi tangannya yang menutupi wajahnya.
"Mungkin ini sudah takdirnya, tadi apa kamu tidak mendengarnya dia senang bisa memilikimu sebagai Mamanya, dia juga sangat menyayangimu," sahut Gladi.
"Tapi, tetap saja Anak sepertinya tidak bersalah jika ingin membalas dendam seharusnya dia datang padaku," ucap Vina sambil mengepalkan tangannya.
Rengga dan Aldo yang sudah membereskan sisanya langsung kembali ke meja mereka, Rengga bergegas menutupi wajah Mia yang tersenyum dengan baju yang dipakainya.
Tanpa banyak bicara Rengga langsung mengangkat Mia dan membawanya ke mobilnya, Tak segan-segan Rengga juga langsung membeli tanah untuk memakamkam Putrinya di Paris.
Di kamar hotel Vina tidak berhenti menangis, Vina menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Mia.
"Tenang sayang aku sudah menyuruh anak buahku menyelidiki siapa yang menyuruh mereka," ucap Rengga sambil memeluk istrinya.
"Bagaimana aku bisa tenang, seorang anak kecil mengorbankan nyawanya untukku," sahut Vina.
"Lalu aku harus bagaimana agar kamu tenang?" tanya Rengga.
"Aku mau pulang," sahut Vina.
"Baiklah, kalau itu bisa membuatmu tenang ayo kita pulang," ucap Rengga bergegas keluar meminta Aldo menyiapkan tiket kepulangan mereka segera.
Hari itu juga Rengga, Vina dan lainnya pulang. Sepanjang perjalanan Rengga hanya bisa menghela nafas melihat Vina yang hanya diam, Vina berbicara hanya jika Raka berada dipelukannya.
Sampai di rumah Vina langsung mengurung dirinya di kamar, Rengga mencoba memahami Vina dengan cara tidak megganggunya. Rengga ingin Vina tenang dan tidak lagi menyalahkan dirinya sendiri, walau begitu penyelidikannya tetap harus dilanjutkan.
Gladi yang tidak ingin Vina terus seperti itu mencoba mencari solusi, diam-diam tanpa sepengetahuan Rengga dan Aldo Gladi menghubungi Ian dan Andreas. Dua hari setelah Gladi menghubungi keduanya Ian dan Andreas yang seolah janjian datang secara bersamaan.
"Ayolah Vin keluar, kamu sudah dua hari di dalam kamar setidaknya keluar makan Vin. Apa kamu tidak merindukan Raka? Raka mencarimu Vin," ucap Rengga di depan pintu kamar Vina.
"Kak Vina," teriak Andreas yang langsung berlari masuk ke dalam rumah diikuti Ian dari belakang.
"Kalian kenapa kemari?" tanya Rengga menatap tajam Ian dan Andreas.
"Aku yang menyuruh mereka kemari," sahut Gladi.
"Kenapa kamu menyuruhnya kemari, ini tidak ada sangkut pautnya dengan mereka," ucap Rengga.
"Kak Vina, Kak" teriak Andreas tanpa menghiraukan Rengga.
__ADS_1
"Heeeeh, aku yang memanggilnya saja tidak keluar apa lagi kamu," sahut Rengga menyunggingkan bibirnya.
Kreeeeet.
Terdengar pintu terbuka tepat setelah ucapan Rengga, Rengga masih tak percaya Vina langsung membuka pintu setelah kedua orang yang tidak disukainya datang.
"Wleeeeeeeek" Andreas menjulurkan Lidahnya mengolok Rengga dan berjalan ke arah Vina.
"Kamu baik-baik saja Vin?" tanya Ian yang berdiri di depan Vina.
"Aku baik-baik saja, tapi Mia" Vina kembali menangis.
Melihat Vina menangis Ian dan Andreas langsung memeluknya. Rengga yang melihatnya dari belakang terlihat sangat marah, Rengga bersiap ke arah ketiganya tapi dihalangi oleh Gladi.
"Di sini saja sebentar, kamu harusnya ingat sebelum Mia mengakui kamu sebagai Papanya mereka juga memperhatikan Mia dengan baik, mereka juga sama-sama kehilangan," bisik Gladi.
"Tapi dia Istriku dan hanya aku yang boleh memeluknya," sahut Rengga.
Ian dan Andreas yang tanpa sadar memeluk Vina bergegas melepaskan pelukan mereka, keduanya menatap Vina yang perlahan mengusap air matanya.
"Kak Vina jangan bersedih, Mia anak yang tegar dia pasti tidak akan senang melihat Kak Vina bersedih," ucap Andreas.
"Benar Vin, lagi pula kesedihanmu hanya membuatnya tidak tenang di alam sana," sahut Ian sambil menepuk pundak Vina.
"Tamu-tamu yang sangat aku hormati, sikahkan duduk di ruang tamu layaknya para tamu ini bukan rumah pribadi kalian," ucap Rengga memasang wajah tersenyumnya yang terpaksa.
"Ayo Kak kita duduk dulu, kita bicarakan sama-sama bagaimana cara menyelesaikannya," sahut Andreas yang langsung menarik tangan Vina.
Plaaaaaaak.
Rengga yang sudah tidak tahan melihat Vina di pegang Andreas langsung memukul tangannya, mata Rengga menatap Andreas dengan tajam meminta Andreas tidak melewati batasannya.
"Sudah cukup Andreas, kita di sini untuk menenangkan Vina bukan untuk membuat seseorang cemburu, duduklah kamu jangan sampai diusir keluar," ucap Ian sembari menarik tangan Andreas ke ruang tamu.
"Kamu temani mereka, aku bikin minum dulu," ucap Vina sambil berjalan ke dapur meninggalkan Rengga.
"Sabar Rengga, sabar," sahut Rengga mengelus dadanya.
Vina yang baru selesai membuat minum bergegas keluar, Vina menaruh dua gelas teh dan satu kopi susu di meja tepat di depan Rengga, Ian dan Andreas.
"Istriku tahu saja kesukaanku," ucap Rengga.
__ADS_1
"Silahkan diminum," sahut Vina.
"Rengga apa kamu sudah menemukan siapa yang membunuh Mia?" tanya Ian.
"Kamu pikir kalau aku tahu kenapa aku hanya diam di sini," sahut Rengga ketus.
"Cih, ternyata seorang Rengga bahkan tidak bisa mencari tahu dengan benar," ucap Andreas menyunggingkan bibirnya.
"Aku bertanya serius, apa ada orang yang kaliam curigai?" tanya Ian lagi.
"Tentu saja," sahut Rengga.
"Siapa?" tanya Andreas penasaran.
"Kakekku," ucap Rengga pelan.
"Apa!" teriak Ian dan Andreas serentak, keduanya sama-sama merasa sangat terkejut.
"Bagaimana mungkin," ucap Ian kebingungan sambil memegangi kepalanya.
"Aku sendiri saja tidak tahu, tapi orang yang membunuh Mia bukan orang langsung suruhan Kakekku, pasti ada prantaranya yang tinggal di paris," sahut Rengga menduga-duga.
"Organisasi Belahan Dunia," ucap Andreas.
"Apa maksudmu?" tanya Rengga.
"Di Perancis Organisasi belahan dunia sangat terkenal, mereka bergerak karena uang dan akan mengorbankan anggota terkecil mereka sebelum bertindak yang sebenarnya," ucap Andreas yang langsung mengepalkan tangannya.
"Jadi kamu mau bilang kalau serangan waktu itu bukan serangan yang sebenarnya?" tanya Rengga.
"Tentu saja bukan, apa kamu tidak curiga kenapa mereka langsung menyerang secara terbuka" ucap Andreas lagi.
"Jadi apa maksudmu aku masih dalam bahaya," sahut Vina.
"Itu juga yang ku takutkan Kak," sahut Andreas sambil menatap Vina.
Suasana menjadi hening seketika, semua terhanyut dalam pemikirannya sendiri-sendiri.
"Tunggu, itu tidak sepenuhnya benar," ucap Ian membuat semua mata menatapnya.
"Apa maksudmu?" tanya Rengga.
__ADS_1
"OBD memang sangat terkenal dan rumor kengerian mereka juga tersebar luas, jadi apa menurut kalian OBD membiarkan kalian kembali sedangkan mereka sudah menerima uangnya," sahut Ian.
Rengga menganggukan kepalanya sepemikiran dengan Ian, lalu siapa dibalik penyerangan di Paris mungkinkah itu musuh lain dari perusahaan yang gagal bekerja sama dengannua, pikir Rengga.