Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 94


__ADS_3

Gladi mulai mencari keberadaan Kakek Rengga yang bersembunyi di Singapura, dengan bantuan teman-temannya Gladi berhasil menemukan Kakek Rengga di sebuah tempat terbengkalai jauh dari keramaaian.


Gladi dari menatap Kakek Rengga yang berada di kursi, tangan dan kaki Kakek Rengga yang diikat oleh temannya membuat Gladi bisa menghela nafas lega.


"Lepaskan aku, apa kalian tidak tau siapa aku," teriak Kakek Rengga.


"Kami tau siapa anda, justru karena kami tau siapa anda kami akan tetap memperlakukan anda seperti ini," sahut Devan.


"Aku Tuan keluarga Cafanza, beraninya kalian seperti ini padaku akan ku hancurkan organisasi tidak jelas kalian ini," ucap Kakek Rengga.


"Apa kamu yakin Pak tua kamu masih Tuan keluarga Cafanza," sahut Gladi yang berjalan menghampiri Kakek Rengga.


Melihat Gladi Kakek Rengga merasa kaget, dari baju yang digunakan Gladi Kakek Rengga tau Gladi adalah anggota yang saat ini menangkapnya.


"Kamu temannya wanita sialan itu, beraninya kamu memperlakukanku seperti ini," teriak Kakek Rengga.


Plaaaaaaaaak.


Tidak terima Vina dibilang wanita sialan Gladi langsung melayangkan tamparannya, Kakek Rengga menatap Gladi sambil menggertakkan giginya.


"Ketua izin menelpon temanku, pak tua ini membuat temanku kehilangan Anaknya," ucap Gladi.


"Izin diberikan, silanhkan," sahut Devan.


Gladi mengambil ponselnya dan bergegas menghubungi Vina, Gladi ingin Vina tau dan sekiranya memberikan hukuman apa yang pantas untuk Kakek Rengga.


Di tempat berbeda Vina mulai terlihat cemas, Vina tidak ingin terjadi sesuatu pada Gladi kenapa dia membiarkan Gladi pergi begitu saja waktu itu, Vina merasa sangat menyesal.


Kriiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiing.


Mendengar ponselnya berdering Vina bergegas mengambilnya, Vina yang melihat nama Gladi langsung mengangkatnya.


"Hallo," ucap Gladi dari sebrang telepon.


"Hallo, Gladi apa kamu baik-baik saja," sahut Vina.


"Aku baik-baik saja, aku punya kabar baik untukmu," sambung Gladi.


"Kabar baik apa?" tanya Vina.


"Kakek Rengga ada di markas oraganisasi mata-mata tempatku bekerja, aku dan rekanku sudah berhasil menangkapnya," ucap Gladi.


"Apa! yang benar saja," sahut Vina tidak percaya.


"Tentu saja," ucap Gladi.

__ADS_1


"Saat ini juga aku ke sana, aku ingin membuat perhitungan padanya," sahut Vina bergegas keluar kamarnya menghampiri Rengga, Ian dan Andreas yang duduk di ruang tamu.


"Aku akan menunggumu, kalau sudah sampai kabari saja aku," ucap Gladi sebelum menutup teleponnya.


Braaaaaaaak.


Vina yang terlalu bersamangat membanting pintunya kamarnya setelah keluar kamar, Vina langsung berjalan ke arah ruang tamu dengan wajah bahagianya.


"Kabar baik, Pak tua itu sudah tertangkap dan berada di organisasi tempat Gladi kerja. Aku sudah tidak sabar ingin ke sana untuk memberinya pelajaran," ucap Vina bersemangat.


"Yang benar saja," sahut Andreas.


"Tentu saja benar, kali ini aku tidak akan membiarkannya pergi lagi," sahut Vina.


"Kalau begitu ayo kita berangkat sekarang," ucap Rengga yang langsung berdiri.


"Kami ikut," sahut Ian dan Andreas serentak.


"Tidak perlu, terima kasih kalian berdua sudah membantuku kali ini aku akan menyelesaikannya sendiri," ucap Vina.


Mendengar perkataan Vina Ian dan Andreas hanya bisa pasrah, Andreas bahkan menghela nafas panjang karena keinginanya untuk ikut ditolak begitu saja oleh Vina.


Wleeeeekkk.


Rengga menggandeng tangan Vina dan mengolok Andreas, siapa suruh beberapa hari lalu dia mengoloknya akhirnya ada waktu juga untuk membalasnya.


Melihat Vina mengemasi barang Rengga bergegas menelpon Aldo, Rengga meminta Aldo menyiapkan helikopter untuk membawanya langsung ke Singapura saat ini juga.


Di depan rumah Rengga helikopter telah siap, Aldo yang sudah terbiasa membawa helikopter membuatnya mendapat tugas dari Rengga menjadi pilotnya.


"Kalian mau ke Singapura hanya berdua, Gladi mana?" tanya Aldo.


"Kami mau ke Singapura karena Gladi, apa Gladi tidak memberitahumu?" tanya Vina balik.


"Tidak ada," sahut Aldo.


"Banyak bicara, cepat berangkat aku sudah tidak sabar ingin melihat Pak tua itu," ucap Rengga.


Hanya membutukan waktu satu jam untuk sampai ke Singapura, Gladi yang sudah mengirim alamat setelah mendapat izin dari ketuanya bersiap menyambut Vina.


"Gladi, apa kamu benar baik-baik saja?" tanya Vina sambil memeluk Gladi.


"Aku baik-baik saja lihatlah, malah sebenarnya hampir semua anggota di sini mengiraku sudah mati," sahut Gladi.


"Ayo ikut aku kita bertemu ketua organisasi mata-mata rahasia dulu, tidak mungkin kita bisa mendatangi Pak tua itu sebelum minta izin," ucap Gladi sambil menarik tangan Vina.

__ADS_1


Di belakang Vina Rengga dan Aldo mengikuti Gladi memasuki sebuah ruangan, di dalam ruangan Devan yang sudah tau akan kedatangan tamu langsung berdiri.


"Selamat datang di markas kami, namaku Devan ketua organisasi mata-mata ini," ucap Devan.


"Aku Rengga Cafanza dan ini istriku," sahut Rengga.


"Senang dengan kedatangan anda berdua, kalau pria yang di belakang sana siapa dia?" tanya Devan.


"Namaku Aldo, pacar Gladi," sahut Aldo yang langsung memeluk pinggang Gladi.


Devan melotot kaget, Devan tidak percaya apa yang barus saja di dengarnya.


"Kamu ini," ucap Gladi melepaskan pelukan tangan Aldo.


"Ehem Gladi, berdiri di sampingku," ucap Devan.


Aldo mengernyitkan dahinya tidak senang, sebenarnya kenapa pria itu langsung menyuruh Gladi berdiri di sampingnya memangnya siapa dia.


"Gladi tetap di sini saja," sahut Aldo memegang tangan Gladi.


"Gladi kemarilah, aku ketua mu apa perkataanku tidak kamu dengar," ucap Devan.


Gladi merasa bingung harus diam atau ke tempat ketuanya, posisinya saat ini benar-benar sangat sulit dan tidak tau harus bagaimana.


"Maaf mengganggu, aku ingin melihat Pak tua itu sekarang," ucap Vina.


"Ahhh, aku hampir saja lupa. Ikut aku, Gladi kamu tetap di sebelahku," sahut Devan sambil berjalan pergi meninggalkan ruangannya diikuti Gladi.


Aldo mengepalkan tangannya tidak senang, Gladi kekasihnya bagaimana bisa ada pria lain yang menghalanginya berdekatan dengan pasangannya.


"Kalian masuklah, aku dan Gladi akan menunggu di sini," ucap Devan menggenggam tangan Gladi menghentikannya masuk ke dalam.


Berbeda dari Rengga dan Vina yang langsung masuk ke dalam Aldo malah malas ingin masuk, Aldo tidak mau Gladi menunggu di luar hanya dengan pria yang mencurigakan itu.


Melihat ketiganya yang masuk ke dalam Devan menatap Gladi, Devan ingin meminta penjelasan apa benar yang dikatakan Aldo tadi.


"Gladi, apa benar yang dikatakannya?" tanya Devan.


"Itu. Bagaimana mau menjelaskannya, ceritanya sangat panjang ketua," sahut Gladi.


"Jadi benar dia kekasihmu?" tanya Devan.


Gladi menganggukkan kepalanya mengiyakan perkataan Devan. Devan berdecak pelan sambil mengalihkan pandangannya, Devan tidak terima Gladi memiliki kekasih hanya dirinya yang pantas menjadi kekasih Gladi.


Di dalam ruangan Rengga dan Vina menghampiri Kakek Rengga, Vina yang berjalan paling depan berhenti tepat di hadapan Kakek Rengga dan langsung menamparnya.

__ADS_1


Plaaaaaaaaak.


"Pak tua sialan," teriak Vina bersiap melayangkan tamparannya lagi.


__ADS_2