Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 46


__ADS_3

Tik tok tik tok tik tok...


Jam di dinding terus berbunyi memecah keheningan malam.


Rengga yang tidak kunjung bisa tidur langsung menatap jam di dinding yang sudah menunjukan pukul 23:30, kegelisahan yang menyelimutinya membuatnya berpikir haruskah dia menelpon Kakeknya dan bertanya apa Raka sudah tertidur.


Rengga dengan sedikit ragu menekan nomor Kakeknya dan meneleponnya. Menit demi menit terus berlalu, Rengga masih menunggu Kakeknya menjawab panggilan teleponnya walau dirinya tahu di jam segitu Kakeknya sudah tertidur.


"Haaaaaah, masih ada waktu besok. Kenapa aku seperti ini, bukannya aku tidak memperdulikan anak itu" ucap Rengga yang langsung melemparkan ponselnya ke atas tempat tidurnya.


Kriiiiiiiing kriiiiiing kriiiiiiiing...


Suara ponselnya yang baru di lemparkan ke tempat tidur mengejutkan Rengga, Rengga yang berpikir Kakeknya akhirnya terbangun langsung mengangkat teleponnya.


"Hallo Kek" ucap Rengga tanpa melihat siapa yang menelponnya.


"Kek kek kek, ini aku" sahut Aldo dengan sedikit heran.


"Kamu, kenapa menelpon ku" ucap Rengga sambil menutup mulutnya.


"Ada apa dengan mu, tidak biasanya aku mendengar suara mu yang seperti ini" sahut Aldo.


"Haaaaah" Rengga duduk di tepi tempat tidurnya sambil menghela nafas panjang.


"Menurut mu aneh tidak jika aku kepikiran anak itu" ucap Rengga.


"Anak siapa yang kamu maksud?" tanya Aldo kebingungan.


"Anak ku, anak siapa lagi. Tadi Kakek ku membawanya pergi bersama Gladi, tidak tahu kenapa aku merasa rumah ku terasa berbeda dari biasanya" sahut Rengga sambil menatap kaca di depannya.


"Heeeeh, itu memang aneh bahkan sangat aneh. Padahal selama dia ada di rumah mu kamu tidak pernah memperhatikannya, setelah di tinggal pergi kamu baru meraskan kesepian" ucap Aldo menyunggingkan bibirnya di balik teleponnya.


"Ahhhhhhh, apa yang terjadi pada ku. Aku tidak biasanya seperti ini" sahut Rengga berteriak.


"Mungkinkah sebenarnya kamu menyayangi anak mu itu, hanya saja kamu tidak tahu cara menyampaikannya" ucap Aldo.


"Heeeeeeh, aku tidak pernah menyayangi siapapun selain Anggi" Sahut Rengga sambil memegangi kepalanya.


"Bukan itu yang ku maksud" ucap Aldo yang tidak habis pikir dengan Rengga.


"Sudahlah katakan kenapa kamu menelpon ku malam-malam begini" sahut Rengga mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Aku hanya ingin bertanya, haruskah aku menyelidiki lebih lanjut perusahaan V.A" ucap Aldo.


"Sudahlah sepertinya tidak perlu, pertunangan ku sebentar lagi, aku sudah tidak sabar ingin mendapatkan 25% saham dari pak tua itu" sahut Rengga.


"Baiklah" ucap Aldo yang langsung mematikan ponselnya.


Silau sinar matahari yang tembus dari kacanya membangunkan Rengga yang merasa baru saja tertidur, ditatapnya jam dinding yang sudah menunjukan pukul 08:30 pagi hari.


Rengga mengambil ponsel yang di taruhnya di bawah bantal, sambil memegangi kepalanya yang masih terasa berat Rengga langsung menelpon Kakeknya.


Tut tut tut...


Panggilannya yang tidak kunjung tersambung membuatnya kesal, sudah jam berapa ini tidak mungkin Kakeknya masih tertidur pikirnya.


"Hallo" suara Kakeknya terdengar di telepon.


"Hallo Kek, kapan Raka kamu antar pulang" sahut Rengga yang langsung ke inti pembicaraan.


"Apa maksudmu, aku baru saja membawanya sehari. Biar dia tetap di sini, setelah selesai perunangan mu dia aku antar pulang" ucap Kakek Rengga yang merasa sedikit gugup, Raka dan Gladi baru saja di bawa pergi tidak mungkin baginya untuk memberitahukan nya ke Rengga.


"Ada apa dengan mu, bukannya kamu juga tidak menyukai anak itu. Apa mungkin sekarang kamu sudah berubah pikiran" sambung Kakek Rengga.


"Berubah apa, tidak ada. Aku hanya. Ya sudahlah aku mau berangkat ke kantor" sahut Rengga yang langsung mematikan ponselnya.


"Huuuuuuh" Kakek Rengga menghela nafas panjang.


Dirinya merasa terkejut mendengar Rengga yang bertanya kapan anaknya kembali, padahal selama ini jika dia membawa pergi Raka Rengga bahkan tidak pernah bertanya apapun.


"Mungkinkah" ucap Kakek Rengga sambil berpikir.


_______ _____ _____


Di tempat berbeda Vina sibuk melepas kerinduannya dengan putranya, Vina tidak berhenti mengajaknya bermain hingga putra kecilnya kelelahan dan tertidur pulas di pangkuannya.


Senyum yang terpancar dari wajah Vina membuat Gladi ikut bahagia melihatnya, Selama ini dirinya terus berdoa kepada Tuhan agar Vina dan putranya bisa kembali bersama dan hidup bahagia.


"Gladi kenapa tidak masuk?" tanya Vina sambil berdiri depan Gladi.


"Suuuuutsss, Raka baru tidur bukan, jangan ribut" sahut Gladi yang langsung menarik tangan Vina menjauh dari kamar Raka.


Gladi menarik tangan Vina ke ruang tamu, dirinya yang merasa penasaran ingin mengetahui semua yang di lakukan Vina selama ini.

__ADS_1


"Coba ceritakan bagaimana bisa kamu sampai seperti ini?" tanya Gladi sambil menatap Vina.


"Ini benar-benar panjang ceritanya" sahut Vina yang bingung mau menjelaskannya dari mana.


"Baiklah-baiklah, aku ganti pertanyaannya" ucap Gladi.


"Sekarang apa yang akan kamu lakukan?kamu dan Raka sudah kembali bersama kenapa kamu tidak membawanya pergi ke luar negeri saja untuk menghindar dari Rengga" sambung Gladi.


"Untuk apa menghindar, aku sudah mendapatkan putra ku kembali. Ini saatnya pembalasan yang sebenarnya di mulai" sahut Vina yang langsung tersenyum sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Bagaimana cara mu membalas dendam?" tanya Gladi lagi.


"Aku hanya tinggal menunggu hari pertunangannya, di situlah semua di mulai" sahut Vina.


"Heeeeeeem, kamu berbeda dari yang dulu, kalau begitu aku akan mendukung mu" ucap Gladi yang langsung mengelus rambut Vina dan bergegas berdiri.


"Gladi" panggil Vina yang membuat Gladi menghentikan langkahnya.


"Terima kasih" sambung Vina sambil menatap Gladi.


"Bodoh, kamu sudah seperti saudara ku, anak mu akan menjadi anak ku" sahut Gladi.


Vina yang mendengar perkataan Gladi kembali tersenyum, dirinya dan Gladi tidak memiliki hubungan darah tapi kebaikan Gladi selama ini bahkan lebih dari sekedar saudara pikir Vina.


"Kak Vina, kak Vina" teriak Andreas yang berjalan ke arah Vina.


"Kamu ini terus berteriak, ada Apa?" tanya Vina sambil menatap Andreas yang duduk di sebelahnya.


"Kak Vina aku mendengar pesta pertunangan Rengga akan di adakan tertutup, hanya tamu yang memiliki undangan yang bisa masuk" sahut Andreas.


"Heeeeeh, ternyata pak tua itu sudah berjaga-jaga, kalau begitu biarkan saja" ucap Vina santai.


"Tapi kita tidak bisa masuk, bagaimana" sahut Andreas.


"Kamu tenang saja, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya" ucap Vina yang tiba-tiba langsung tersenyum.


Di tempat berbeda tuan Satra yang sebenarnya masih ragu dengan pertunangan putrinya mulai sedikit cemas, di dalam hatinya ingin sekali membatalkan pertunangan itu tapi dirinya tidak tega melihat putrinya yang terlanjur mencintai Rengga.


Bagaimana jika nantinya setelah saham keluarganya di berikannya ke Kakek Rengga akankah kehidupan putrinya bahagia, lagipula 75% saham yang di keluarkannya itu tidaklah sedikit.


"Apa aku harus mencari pendukung dari pihak lain. Saat ini memang banyak yang ingin menjalin kerja sama dengan keluarga Mahendra tapi saat saham yang di pegang keluarga Mahendra hanya 25% apa mereka masih mau mendukung ku" ucap tuan Satra.

__ADS_1


"Tapi siapa yang mau mendukung ku" sambung tuan Satra sambil berusaha berpikir.


"Wanita itu" ucap tuan Satra yang langsung berdiri dari tempat duduknya.


__ADS_2