
Tuan Satra Mahendra (ayah dari Frieda) bergegas keluar kantor V.A dengan wajah suram, Ian dan Andreas yang merasa penasaran apa yang di katakan tuan Mahendra langsung menghampiri Vina yang ada di ruangannya.
"Apa yang di katakan tuan Mahendra?" tanya Ian yang berdiri di depan Andreas.
"Tidak ada yang serius, aku sudah memperingatkan nya" sahut Vina santai sambil tersenyum tipis.
"Ka Vina memang, emmmm" ucap Andreas yang langsung mengacungkan dua jempolnya.
"Sudah-sudah kalian kembalilah bekerja" sahut Vina.
Tanpa berbicara Ian dan Andreas bergegas keluar ruangan Vina, keduanya yakin secepatnya perusahaan akan berkembang pesat di bawah tanggung jawab Vina yang berpendirian tegas.
Di tempat berbeda tuan Satra Mahendra langsung menuju rumah Kakek Rengga, sebagai ayah Frieda tuan Satra ingin meminta penjelasan dari Kakek Rengga.
"Tuan tuan, tuan Satra datang berkunjung" ucap seorang pelayan yang langsung menghampiri Kakek Rengga.
"Tidak biasanya dia kemari, sepertinya ada sesuatu yang penting yang ingin di bicarakannya" sahut Kekek Rengga.
"Sambut kedatangannya aku akan bersiap" sambung Kakek Rengga yang langsung berjalan ke kamarnya.
Di depan rumah kakek Rengga tuan Satra menghentikan langkahnya, seorang pelayan yang berdiri di depannya langsung mempersilahkan nya masuk menunggu tuan Gamta (Kakek Rengga) bersiap.
"Calon besan, apa yang membuatmu datang kemari" ucap Kakek Rengga.
"Tuan Gamta aku mengira kamu sudah mengetahuinya" sahut tuan Satra yang langsung berjabat tangan.
"Katakan saja ada apa tidak perlu sungkan" ucap Kakek Rengga sambil tersenyum.
"Begini, semalam kamu meminta putri ku menemani Rengga menghadiri acara lelang amal. Aku mengira karena kamu yang memintanya apa yang di inginkan putri ku adalah tanggung jawabmu" sahut tuan Satra.
"Memangnya apa yang di inginkan Frieda, siapa yang berani mengambilnya" ucap kakek Rengga.
"Heeeeeh, tidak ada yang mengambilnya hanya saja yang seharusnya menjadi tanggung jawab cucumu malah membuat putriku membayarnya sendiri" sahut tuan Satra sambil tersenyum penuh arti.
"Semalam putri ku menghabiskan 1 miliar hanya untuk sebuah gaun, sedangkan cucu mu menghabiskan 5 miliar untuk barang yang tidak di perlukannya" sambung tuan Satra yang masih tidak ingin menjelaskan detailnya.
"Ahhhhh aku mengerti, maaf Rengga memang tidak perhatian atau bisa di bilang dia itu hati batu. Bagaimana jika aku mengembalikan 1 miliar itu pada mu, aku akan memberi Rengga nasihat agar lebih memperhatikan putri mu" ucap Kakek Rengga.
"Tidak perlu di kembalikan, hanya saja ke depannya aku tidak berharap ada kejadian seperti itu lagi" sahut tuan Satra yang langsung berdiri.
"Itu saja yang ingin ku sampaikan aku pergi dulu, ku harap pesta pertunangan nanti lebih dari yang ku harapkan" sambung tuan Satra sambil berjalan pergi.
__ADS_1
Sebenarnya pertunangan Frieda itu keputusan yang benar atau salah, kenapa aku jadi ragu seperti ini" dalam hati tuan Satra.
"Cih, belum menjadi besan sudah seperti itu. Ini semua karena Rengga aku harus menasehatinya atau aku akan gagal mendapatkan saham keluarga Mahendra" ucap Kakek Rengga.
_____ ______
Di tempat berbeda, Aldo mulai menyelidiki perusahaan V.A. Aldo menggunakan seribu satu cara untuk mendapatkan informasi dari lingkungan sekitar perusahaan.
Setelah bertanya selama setengah hari Aldo hanya bisa menggelengkan kepalanya, Aldo tidak habis pikir bagaimana bisa perusahaan yang katanya baru di dirikan berani mencari masalah dengan keluarga besar Mahendra.
"Haaaah, informasi yang ku dapat hanya perusahaan yang baru berdiri, selebihnya bahkan siapa pengelolanya tidak ada yang tahu" ucap Aldo sambil menatap pintu keluar masuk perusahaan.
Sial, jika begini terus aku tidak bisa membantu Gladi" dalam hati Aldo.
Aldo yang merasa cukup untuk hari itu bergegas kembali ke Bar nya, tanpa dirinya sadari tiga pasang mata terus memperhatikannya yang kebingungan sendirian di bawah.
"Kak Vina, Aldo pasti di kirim oleh Rengga" ucap Andreas yang masih menatap Aldo yang bersiap pergi.
"Tenang saja, dia tidak akan bisa mendapatkan informasi apapun" sahut Vina santai.
"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Ian.
"Pertanyaan yang bagus, sepertinya ini sudah saatnya kalian berdua bekerja" sahut Vina sambil tersenyum.
"Bukan perusahaan Cafanza tapi pak tua Cafanza, dia pasti memiliki komputer sendiri untuk memantau data perkembangan perusahaannya dan kita bisa memulainya dari menghilangkan data itu" Sahut Vina.
"Ide yang sangat cemerlang, kalau begitu tunggu apa lagi mari kita mulai" ucap Andreas dengan penuh semangat.
Andreas yang memang memahami kunci terbukanya komputer Kakek Rengga membuat pekerjaan mereka menjadi mudah, setelah berusaha selama 1 jam data yang tersimpan di komputer kakek Rengga berhasil mereka retas sepenuhnya.
"Yeeeh berhasil" ucap Andreas.
"Huuuh, lebih mudah dari yang di perkirakan" sahut Ian sambil tersenyum.
"Lumayan cepat" ucap Vina yang tidak tahu sejak kapan berdiri di depan pintu.
"Datanya sudah ada di kita, apa langkah selanjutnya?" tanya Ian.
"Salin, setelah itu hapus. Aku tidak sabar ingin mendengar berita ini dari luar" sahut Vina sambil berjalan pergi.
Di rumah Kakek Rengga yang masih kepikiran kedatangan calon besannya tadi membuatnya gelisah, makanan minuman yang di siapkan pelayannya sama sekali tidak membuatnya berselera.
__ADS_1
Wiuuuuuuuuu...
Suara alarm yang di pasang untuk berjaga-jaga di komputernya tiba-tiba berbunyi.
Kakek Rengga yang mendengar suara alarm merasa sangat terkejut, tanpa berpikir apa yang terjadi kakek Rengga langsung memeriksa komputernya.
"Ahhhhhh, siapa yang berani meretas komputer ku" teriak Kakek Rengga yang masih menekan nekan tombol keyboard di depannya.
"Sialan, siapa yang berani mencari masalah dengan ku" sambung Kakek Rengga yang terlihat sangat marah besar.
Rengga, aku harus menelponnya jangan sampai data yang tersimpan di perusahaan juga ikut di retas" dalam hati Kakek Rengga sambil mengambil ponselnya yang berada di kantongnya.
Tut tut tut...
Suara teleponnya yang tidak di angkat Rengga membuatnya semakin kesal.
Setelah nencoba cukup lama kakek Rengga memutuskan untuk menelpon sekali lagi, dan jika tidak di angkat dirinya akan pergi ke perusahaan Rengga.
"Hallo" suara Rengga terdengar di telepon.
"Dari mana saja kamu, di telepon tidak di angkat" bentak Kakek Rengga.
"Heeeeh, aku malas berbicara jika yang kamu bicarakan tentang anak keluarga Mahendra itu" ucap Rengga.
"Cucu durhaka diamlah, cepat periksa semua data di perusahaan mu sekarang" sahut Kakek Rengga yang terdengar serius.
"Untuk apa, bukannya kamu juga memiliki salinan penuhnya" ucap Rengga.
"Komputer ku di retas semua data di hapus, aku curiga seseorang sengaja melakukannya, cepat periksa siapa tahu yang selanjutnya yang mereka retas adalah data di perusahaan" sahut Kakek Rengga.
"Sialan" ucap Rengga yang langsung mematikan ponselnya.
Rengga yang berada di ruangannya bergegas keluar, semua karyawannya yang bertanggung jawab di bagian kepengurusan data langsung di minta mengecek ulang semua data.
"Tuan Rengga semua data aman" ucap salah satu karyawannya.
"Benarkah" sahut Rengga.
"Benar tuan, apa perlu kami menyalinnya" ucap karyawan lainnya.
"Kalau begitu lakukan" sahut Rengga yang langsung berjalan kembali ke ruangannya.
__ADS_1
Ini aneh, jika ingin meretas data kenapa yang di retas hanya di komputer kakek, bukannya seharusnya adalah data yang ada di perusahaan" dalam hati Rengga sambil berpikir keras.
"Huuuuu, Kira-kira siapa yang sedang ingin bermain dengan ku" ucap Rengga sambil memegangi kepalanya.