
Rengga semakin mendekati Vina dengan nafasnya yang masih tidak beraturan, tanpa banyak bicara Rengga menerjang tubuh Vina hingga terjatuh dan langsung menindihnya.
"Apa yang kamu lakukan, cepat berdiri" teriak Vina sambil berusaha mendorong tubuh Rengga.
"Haaaaah, haaaah. Aku tidak kuat" ucap Rengga yang terus menghembuskan nafasnya di telinga Vina.
"Tidak tahu diri, cepat berdiri" sahut Vina yang terus meronta, berharap Rengga bergegas bangun dari tubuhnya.
"Aku sudah tidak tahan, diamlah ini hanya sebentar" ucap Rengga yang langsung mencium bibir Vina.
Vina terus meronta sambil berusaha menjauhkan wajahya dari Rengga, semakin Vina berusaha melepaskan diri dari tubuh Rengga yang menindihnya semakin ganas Rengga menyerangnya terus menerus.
Pria ini seperti kerasukan setan, aku benar-benar tidak bisa lepas darinya" dalam hati Vina.
Vina yang tidak bisa berbuat apa-apa hanya pasrah saat Rengga melakukan apapun pada tubuhnya, Vina hanya berharap Rengga cepat menyelesaikan perbuatannya itu.
Rengga yang berhasil menyalurkan hasratnya membuatnya langsung tidak sadarkan diri, Vina yang merasa jijik melihat bekas yang di tinggalkan Rengga di tubuhnya bergegas ke kamar mandi membersihkan diri.
Suara tangisan Raka membuat Vina yang masih membersihkan diri di kamar mandi bergegas keluar, Vina yang masih memakai handuk langsung menggendong putranya sambil menatap cermin.
"Cih, tanda ini menjijikan" ucap Vina sambil menggosok tanda merah di dadanya.
__ADS_1
Vina yang mengingat Rengga masih berada di rumahnya bergegas memakai bajunya, Vina membawa putranya mendekati Rengga yang tertidur sambil membawa seember air di tangan kirinya, Vina yang merasa kesal langsung menyiramkan seember air tepat di wajah Rengga.
"Hujan, hujan" ucap Rengga yang langsung terduduk sambil menatap Vina yang berdiri menggendong anaknya.
"Wanita sialan beraninya kamu menyiram ku" sambung Rengga.
"Kenapa tidak berani ini rumah ku" sahut Vina.
"Kamu lebih baik pergi sekarang atau foto mu akan ku sebar" sambung Vina sambil menunjukan foto telanjang Rengga yang tertidur setelah memperkosanya.
"Kamu, apa yang kamu lakukan, beraninya kamu bermain-main dengan ku" ucap Rengga yang langsung berdiri.
"Aku akan mengingatnya, jangan harap bisa lepas dari ku" ucap Rengga yang selesai memakai kembali bajunya dan berjalan pergi meninggalkan Vina.
"Mama mama, oeeeek oeeeek"
Vina yang memperhatikan Rengga keluar rumahnya baru tersadar putranya menangis, entah karena ikatan batin atau apa Vina merasa anaknya tidak Ingin Rengga pergi meninggalkannya.
"Cup nak, cup" ucap Vina sambil menimang anaknya.
Vina bergegas menutup pintu dan menguncinya, Vina berjanji pada dirinya sendiri kejadian seperti itu tidak akan terulang kembali.
__ADS_1
Di dalam mobilnya Rengga mencoba mengingat kembali apa yang baru saja terjadi. Rengga mengingat sebelumnya Naina memakai parfum perangsang hingga membuatnya tidak bisa mengendalikan diri, di saat dirinya masih setengah tersadar dirinya mendatangi rumah Vina dan melampiaskan nafsunya pada Vina.
"Haaaah, semua karena Naina wanita pengganggu itu" ucap Rengga yang langsung membawa mobilnya pulang ke rumah.
Rengga yang baru sampai di rumah di sambut Kakeknya yang duduk dengan wajah suram menatapnya, Rengga menghampiri Kakeknya tanpa rasa takut sedikitpun kemarahan Kakeknya pasti karena Naina mengadu padanya.
"Dari mana kamu?" tanya sang Kakek dengan wajah serius.
"Kenapa, apa sekarang aku harus melapor pada Kakek kemanapun aku pergi" sahut Rengga yang langsung duduk di depan Kakeknya.
"Jadi sekarang kamu sudah berani pada ku, apa kamu berpikir aku tidak akan mengeluarkan mu dari keluarga Cafanza" ucap sang Kakek.
"Heeeeh, seharusnya Kakek tahu ancaman seperti itu tidak akan berpengaruh pada ku, dan seharusnya Kakek juga tahu aku tidak akan sungkan menyingkirkan setiap orang yang ingin menghalangi ku" sahut Rengga sambil menyunggingkan bibirnya.
"Selama ini aku sudah banyak mengikuti kemauan Kakek, aku bahkan berpacara dengan wanita gila itu hanya karena ingin kamu senang, tapi apa balasannya kamu malah membiarkan wanita murahan sepertinya ingin naik ke ranjang ku" sambung Rengga menatap Kakeknya dengan serius.
"Bagus sangat bagus, aku tidak menyangka kamu berani pada ku, sepertinya aku harus memikirkan lagi harus memberikan warisanku kepada siapa" ucap sang Kakek yang langsung berjalan pergi meninggalkan Rengga.
"Arrrrrrkkkkhhh, aku tidak perduli siapa yang akan menjadi pewaris mu, tapi siapapun yang akan menjadi pewarismu aku akan memberikan kehidupan yang lebih buruk dari pada kematian untuknya. Hahahahaha" Rengga tertawa sangat keras sambil menghancurkan vas bunga yang ada di depannya.
Di tempat berbeda. Vina berusaha kembali menidurkan putranya yang terus menangis, setelah Rengga meninggalkan rumahnya putra semata wayangnya terus menangis tidak mau berhenti. Vina tidak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi pada putranya, tidak biasanya putranya seperti itu.
__ADS_1