
Heeeeeh, jika aku mengundangnya ke pertunangan Frieda itu mungkin bisa menarik perhatiannya, dengan begitu memintanya untuk mendukung ku tidaklah sulit" dalam hati tuan Satra yang tiba-tiba membuatnya tersenyum.
Tanpa berpikir panjang tuan Satra bergegas mengemudikan mobilnya menuju kantor Vina, undangan yang sudah siap di sebar di ambilnya beberapa untuk di berikannya ke Vina dan temannya.
Sampai di depan kantor Vina tuan Satra bergegas membuka pintu, tatapan sinis dari karyawan Vina sama sekali tidak di hiraukannya.
"Aku ingin bertemu bu Vina" ucap tuan Satra menghampiri salah satu karyawan Vina.
"Bu Vina ada di ruangannya, tapi tidak sembarang orang bisa menemuinya" sahut karyawan Vina sambil tersenyum sinis.
Tuan Satra yang melihat seluruh karyawan Vina seperti tidak menyukainya membuatnya terdiam, tuan Satra berpikir keras bagaimana caranya agar dia bisa memberikan undangan itu ke Vina.
"Ada apa ini, kenapa semuanya tidak lanjut bekerja" ucap Ian tegas.
Semua karyawan yang tahu Ian memiliki hubungan dekat dengan Vina langsung bubar kembali ke tempat masing-masing, mereka tidak ingin mengambil resiko kehilangan pekerjaan di tempat yang baru saja menampung mereka.
"Aku ingin bertemu bu Vina" ucap tuan Satra sambil menatap Ian.
"Tuan Mahendra silahkan ikut aku" sahut Ian yang berjalan pergi ke arah lift.
Sampai di depan ruangan, Ian bergegas masuk untuk memberitahu Vina bahwa seseorang ingin bertemu dengannya, sedangkan Tuan Satra yang melihat Ian memasuki ruangan hanya bisa menunggu di luar.
"Vin dia kembali lagi" ucap Ian yang berdiri di depan meja Vina.
"Dia siapa?" tanya Vina.
"Tuan Mahendra" sahut Ian sambil menatap Vina yang tiba-tiba tersenyum.
"Yang di tunggu akhirnya datang juga, suruh saja masuk" ucap Vina.
"Oh ya, kamu beritahu andreas untuk menjemput Gladi, dia pasti akan terkejut" sambung Vina.
"Ya kalau begitu aku pergi dulu" sahut Ian yang langsung melangkah keluar ruangan Vina.
"Masuklah" ucap Ian yang melihat tuan Satra masih berdiri di tempatnya semula.
Tuan Satra tersenyum kecil sambil menatap Ian, tanpa menunggu lebih lama lagi tuan Satra bergegas masuk ke ruangan Vina dan duduk di depannya.
"Apa kiranya yang membuat tuan Satra Mahendra kembali mendatangi ku" ucap Vina.
"Aku minta maaf untuk waktu itu, aku tidak ingin memiliki musuh" sahut tuan Satra.
"Oh soal itu aku tidak pernah mempermasalahkan nya, tuan Satra tenang saja" ucap Vina yang langsung menutupi mulutnya dengan tangan.
"Terima kasih kalau begitu, sebenarnya aku kesini ingin memberikan undangan, ku harap bu Vina bisa datang ke pesta pertunangan putri ku" sahut tuan Satra sambil menaruh 3 lembar undangan tepat di depan Vina.
"Wah mendapat undangan dari keluarga besar Mahendra aku tidak mungkin menolaknya. Terima kasih, aku pasti akan datang" ucap Vina.
__ADS_1
"Terima kasih, sudah berniat datang kalau begitu aku permisi dulu" sahut tuan Satra yang langsung berjalan pergi keluar ruangan Vina.
Vina tersenyum puas sambil memegang 3 undangan di tangannya, Kakek Rengga pasti tidak akan menyangka dirinya bisa mendapatkan undangan pertunangan cucunya.
"Kak Vina, lihat aku bawa siapa" ucap Andreas yang di ikuti Gladi di belakangnya.
"Kamu kerja di sini Vin?" tanya Gladi yang langsung menghampiri Vina sambil menggendong Raka.
"Iya aku..." bisik Vina di telinga Gladi.
"Yang benar, kamu jangan bercanda Vin" sahut Gladi yang merasa terkejut.
Gladi masih tidak bisa percaya kalau Vina adalah Presdir.
"Sudah ku bilang kamu pasti akan terkejut" ucap Vina santai sambil tersenyum.
Gladi yang masih tidak percaya hanya bisa terdiam, Gladi merasa seperti sedang bermimpi di mana semua keadaan menjadi terbalik.
"Kak Gladi" panggil Andreas mengejutkan Gladi yang terdiam.
"Kalau masih tidak bisa percaya tidak masalah, terkadang semua bisa berubah tidak sesuai perkiraan kita" ucap Vina.
"Haaaaaah, aku hanya terkejut. Aku pasti percaya pada mu" sahut Gladi yang langsung duduk sambil memangku Raka.
"Anak mama, sini mama gendong" ucap Vina yang langsung mengambil putranya dan menggendongnya.
"Iya nanti kita main ya" sahut Vina sambil mencium putra kecilnya yang menggemaskan itu.
"Vin" ucap Ian yang baru membuka pintu dan berjalan menghampiri Vina.
"Apa yang di katakan tuan Mahendra tadi, dia tidak mungkin mencari masalah lagi bukan" sambung Ian.
"Tidak tidak, kamu tenang saja, kedatangannya sungguh seperti yang ku perkirakan" sahut Vina.
"Apa maksudnya kak?" tanya Andreas.
"Lihatlah sendiri" sahut Vina sambil menaruh undangan di atas mejanya.
"Dia datang secara langsung untuk memberikan undangan, ini sulit di percaya" ucap Ian yang merasa sangat terkejut.
"Hahahahaha, aku sudah bilang setiap masalah pasti ada jalan keluarnya" sahut Vina yang langsung tertawa.
"Iya iya, tapi kamu tetap harus berhati-hati, Rengga dan Kakeknya itu licik jangan sampai kamu masuk lagi ke dalam jebakannya" ucap Gladi.
"Heeeeh, tenang saja kali ini aku berani menjamin siapa yang akan terjebak" sahut Vina sambil tersenyum.
_______ _______ ________
__ADS_1
Di tempat berbeda Rengga yang merasa tidak tenang mendatangi rumah Kakeknya, tanpa sepengetahuan Kakeknya Rengga bergegas masuk ke dalam rumah memeriksa di mana Raka beristirahat.
"Heeeeh, kenapa kamu datang tidak memberitahu ku" ucap Kakek Rengga yang merasa terkejut melihat Rengga berada di rumahnya.
"Tidak penting, aku hanya ingin melihat putra ku" sahut Rengga.
"Sayangnya kamu terlambat, aku mengirim anak itu pergi berlibur dengan pengasuhnya" ucap Kakek Rengga mencari alasan.
"Apa!" sahut Rengga.
"Kenapa tidak meminta izin dari ku, aku orang tuanya" ucap Rengga dengan nada tinggi.
"Ayolah sejak kapan kamu mulai memperhatikan anak itu, selama ini ada atau tidaknya anak itu bukannya tidak berpengaruh pada mu. Lagipula kasihan anak itu, kamu sama sekali tidak menyayanginya" sahut Kakek Rengga.
"Itu urusanku, aku ingin bertemu dengannya sekarang, katakan kemana kamu mengirim mereka" teriak Rengga yang terlihat sangat marah.
"Aku sudah bilang setelah pertunangan mu dia akan kembali, jika kamu tidak percaya kamu bisa mencarinya sendiri" sahut Kakek Rengga sambil berjalan pergi meninggalkan Rengga.
Sialan, sepertinya Kakek sengaja melakukannya, dia tidak ingin acara pertunangan itu gagal semua sudah di rencanakannya" dalam hati Rengga.
"Tapi bagaimanapun juga aku harus bisa menemukan Raka, aku tidak mau anak itu menjadi alat untuknya" ucap Rengga sambil berjalan pergi.
Rengga meninggalkan rumah Kakeknya dengan tergesa-gesa, mobilnya yang di parkir di depan rumah Kakeknya bergegas di bawanya ke Bar Aldo.
"Aldo" teriak Rengga yang langsung masuk ke Bar yang terlihat sepi di depannya.
Hoooooam...
Aldo yang mendengar teriakan Rengga bergegas terbangun, mulutnya yang masih menguap di tutupnya menggunakan tangan sambil berjalan menghampiri Rengga.
"Ini masih siang, ada apa berteriak sekeras itu. Aku masih mengantuk" ucap Aldo.
"Bantu aku menemukan anak ku, dia di kirim pergi oleh Kakek ku" sahut Rengga cepat.
"Oh, biarkan saja. Nanti juga pasti dia kembali" ucap Aldo santai.
Buuuuuuuug...
Rengga memukul perut Aldo dengan keras, bagaimana bisa Aldo berkata seperti itu dengan santainya.
"Awwww, kenapa kamu memukul ku" ucap Aldo sambil memegangi perutnya.
"Aku tidak mau tahu bagaimanapun caranya kamu harus berhasil mendapatkan anak ku dan membawanya pulang" sahut Rengga.
"Ya, akan ku usahakan" ucap Aldo.
Cih, ternyata benar yang ku perkirkan, sebenarnya dia menyayangi anak itu tapi terlalu egois untuk mengungkapkannya" dalam hati Aldo sambil memperhatikan Rengga yang berjalan menjauh.
__ADS_1