Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 79


__ADS_3

Sutttssssss...


"Sini" panggil Aldo yang sambil melambaikan tangannya ke arah Gladi.


Gladi yang melihat Aldo memanggilnya tanpa sadar langsung menghampirinya, Gladi berjalan ke arah Aldo sambil terus memperhatikan Vina dan Rengga yang masih berpelukan penuh haru.


"Mungkin itu ikatan karena mereka masih orang tua Raka" ucap Aldo yang melihat Gladi kebingungan sendiri.


"Sepertinya memang begitu. Kenapa kamu memanggilku" sahut Gladi.


"Aku tahu kamu sedih juga, sini peluk aku, aku bisa berbagi kesedihan denganmu" ucap Aldo yang langsung mengangkat tangannya bersiap menerima pelukan Gladi.


Buuuuuuuug...


Gladi yang melihat tangan Aldo bersiap menerima pelukannya langsung melayangkan pukulannya dengan sangat keras, enak saja Aldo ingin mengambil kesempatan darinya pikir Gladi.


"Kenapa, biar kita sama seperti Rengga dan Vina" ucap Aldo.


"Jangan konyol" sahut Gladi yang kembali mengepalkan tangannya bersiap memukul Aldo.


"Haaaaah, membosankan" ucap Aldo sambil berjalan menjauh dari Gladi.


Aldo berjalan ke arah Vina dan Rengga yang sudah melepaskan pelukannya. Andai Gladi tadi mau memeluknya betapa bahagianya dirinya saat ini.


"Tante Vina" panggil Mia yang berjalan mendekati Vina dan Rengga.


"Tante tenang saja, adik Raka pasti akan baik-baik saja" sambung Mia.


"Dari mana kamu tahu" sahut Aldo yang berdiri tepat di belakang Mia.


"Mia baru saja berdoa dengan tulus sama Tuhan agar adik Raka baik-baik saja, Mia percaya Tuhan pasti mengabulkan doa Mia" ucap Mia.


Rengga yang mendengar perkataan Mia merasa terharu, Rengga tidak menyangka anak seumuran Mia bahkan lebih mempercayakan semua pada Tuhan, tapi apa yang dirinya lakukan selalu bertentangan dengan ajaran Tuhan.


"Mia, bolehkah papa peluk Mia?" tanya Rengga yang berjongkok di depan Mia.


"Emmmm" Mia yang ragu mendengar perkataan Rengga hanya bisa diam. Suasana sudah sedih dirinya tidak ingin menambah kesedihan orang lain.


"Maafin papa nak, semua salah papa, seharusnya papa tidak membiarkan mu tinggal di panti asuhan" ucap Rengga yang langsung memeluk Mia.


Vina terdiam seribu bahasa melihat Rengga yang menangis sambil memeluk Mia, Vina bisa melihat penyesalan tulus keluar dari wajah Rengga.


"Keluarga Ananda Raka" ucap dokter yang baru keluar dari ruangan Raka.

__ADS_1


"Aku dok" sahut Vina dan Rengga serentak.


"Kedua orang tua Raka ya, kalau begitu silahkan ikut aku" ucap dokter yang langsung berjalan pergi.


Vina bergegas pergi mengikuti dokter di depannya tanpa mempedulikan Rengga yang berjalan di belakangnya, Rengga yang merasa di cuekin Vina langsung menggenggam tangan Vina dan berjalan di sampingnya.


"Haaaaaah" Vina menghela nafas panjang melihat Rengga yang menggenggam tangannya.


Sudahlah ini di rumah sakit untuk sementara ku biarkan saja dia" dalam hati Vina.


Di ruangan dokter Vina dan Rengga duduk bersebelahan dengan serius, Vina berharap anaknya baik-baik saja dan masih bisa di sembuhkan.


"Begini tuan Rengga dan nyonya Rengga, anak kalian terkena penyakit radang selaput otak. Walau penyakit ini tidak terlalu berbahaya tapi jika di biarkan bisa saja mengancam nyawa" ucap sang dokter.


"Lalu bagaimana dok? Apa anakku baik-baik saja" sahut Vina cepat.


"Raka anak nyonya Rengga baik-baik saja, untuk sementara hanya butuh dirawat beberapa hari di rumah sakit, tapi setelah itu anak nyonya harus lebih di perhatikan lagi kedepannya" ucap sang dokter.


Vina yang mendengar perkataan dokter akhirnya merasa lega, Vina berjanji pada dirinya sendiri bahwa kedepannya dia akan memperhatikan anaknya lebih baik lagi.


"Terima kasih dok, kami permisi dulu" ucap Rengga yang langsung menarik tangan Vina berjalan keluar ruangan dokter.


"Raka baik-baik saja, apa kamu merasa lega sekarang" ucap Rengga sambil berjalan di samping Vina.


"Emmmm, kamu dengar tidak apa yang di katakan dokter tadi?" tanya Rengga.


"Apa?" tanya Vina balik sambil menatap Rengga.


"Panggilan nyonya Rengga tidak terdengar buruk untukmu" sahut Rengga.


"Cih, itu panggilan yang sangat buruk, aku tidak mau lagi ada yang memanggilku seperti itu" ucap Vina yang langsung mempercepat langkahnya.


Dari kejauhan Glio yang melihat Vina dan Rengga bergegas berdiri dari duduknya, tanpa memperdulikan Rengga Glio langsung menghampiri Vina.


"Bagiamana kondisi anakmu?" tanya Glio.


"Sudah lebih baik, terima kasih sudah datang" sahut Vina.


"Huuuuh, anakku tidak butuh orang lain untuk memperhatikannya" ucap Rengga yang masih berdiri di samping Vina.


"Tidak perlu hiraukan dia" sahut Vina sambil berjalan ke arah Gladi.


"Bagaimana Vin? Apa kata dokter?" tanya Gladi.

__ADS_1


"Untuk sekarang sudah jauh lebih baik" sahut Vina.


"Syukurlah" ucap Gladi sambil mengelus dadanya.


Krucuuuuuk...


Suara keras yang keluar dari perut Vina bisa di dengar semua orang, Rengga yang mendengar panggilan alam dari perut Vina sudah tahu apa yang harus di lakukannya.


"Aldo pergi beli makan untuk Vina" ucap Rengga memerintah.


"Aku, apa tidak salah" sahut Aldo kebingungan.


"Iya kamu, mau siapa lagi" ucap Rengga.


Dasar Rengga seharusnya yang seperti ini dilakukannya sendiri, mau cari perhatian malah merepotkan orang lain" dalam hati Aldo kesal.


"Tidak perlu. Ayo Vin kita cari makan dulu sebentar, jika kamu sakit karena lapar bagaimana kamu bisa menjaga anakmu nantinya" ucap Glio.


"Tidak aku masih harus menunggu putraku" sahut Vina.


"Pergi saja Vin, biar aku yang jaga di sini. Benar apa yang di katakannya jika kamu juga sakit siapa yang akan menjaga Raka nantinya" ucap Gladi yang sengaja ingin membuat Rengga cemburu.


"Baiklah, kalau begitu aku titip Raka kalau dia sudah sadar jangan lupa telepon aku" sahut Vina yang langsung berjalan pergi di ikuti Glio di belakangnya sambil tersenyum.


"Cara yang benar itu begitu, bukan malah menyuruh orang lain" ucap Aldo sambil melirik ke arah Rengga.


"Hanya begitu saja aku juga bisa, lihat saja" sahut Rengga sambil berjalan mengikuti Vina dan Glio.


Vina dan Glio yang baru keluar dari rumah sakit langsung mencari tempat makan terdekat, tidak jauh dari rumah sakit Vina dan Glio yang menemukan rumah makan sederhana bergegas masuk ke dalamnya.


"Apa kamu tidak apa-apa makan di sini?" tanya Vina.


"Aku malah sudah terbiasa. Bagaimana denganmu?" tanya Glio yang langsung duduk di depan Vina.


"Yang penting bisa kenyang makan di mana sama saja" sahut Vina.


"Aku kira ada yang mau di ajak makan di restoran bintang lima, kenapa hanya ngajakinnya makan di tempat makan biasa seperti ini" ucap Rengga yang langsung duduk di samping Vina.


"Jangan bicara seperti itu, tidak enak dengan pemilik tempat makan ini" sahut Glio.


"Benar katanya, lagipula kamu kenapa ikut masuk bukannya tadi aku sudah masak banyak di rumahmu dan kamu juga sudah memakannya" ucap Vina sambil menatap Rengga penuh selidik.


"Aku hanya lapar lagi" sahut Rengga asal. Sebenarnya dia hanya cemburu Vina makan berduaan dengan Glio tapi tidak mungkin baginya berbicara terus terang, mau di bawa kemana harga dirinya pikir Rengga.

__ADS_1


__ADS_2