
Ian dan Andreas menatap Vina yang masih berdiri di belakang pintu, keduanya bergegas menarik tangan Vina dan membawa Vina duduk di sofa.
"Kalian kenapa?" tanya Vina kebingungan.
"Kak Vina tidak mungkin menerima Rengga kan kak" sahut Andreas.
"Vin, Rengga musuh kita kamu ingat itu kan" ucap Ian.
"Oh kalian mendengar yang di katakan Rengga tadi, kalian berdua tenang saja dia juga tidak mungkin serius walau dia serius aku juga tidak mungkin mau menikah dengannya" sahut Vina.
"Haaaaaah, syukurlah" ucap Andreas yang langsung mengelus dadanya.
Ian menatap Vina dengan penuh keraguan, dirinya memang percaya untuk sementara Vina tidak akan mau menikah dengan Rengga, tapi kedepannya siapa yang tahu pikirnya.
"Ian" panggil Vina yang melihat Ian terdiam.
"Aku pulang dulu, hari ini libur lebih baik aku beristirahat di rumah" sahut Ian yang langsung berjalan pergi dengan wajah berbeda dari sebelumnya.
"Ian kenapa?" tanya Gladi yang menggendong Raka berjalan ke arah Vina.
"Aku juga pulang dulu kak, kalau kak Vina butuh bantuan telepon saja aku" ucap Andreas sambil berjalan keluar rumah Vina.
Aku merasa dua pria itu berbeda dari biasanya, tapi kenapa" dalam hati Vina.
"Vin" panggil Gladi.
"Itu dua orang kenapa?" tanya Gladi.
"Setelah mereka mendengar perkataan konyol dari Rengga mereka berdua jadi aneh begitu" sahut Vina sambil mengangkat bahunya.
"Memangnya apa yang di katakan Rengga?" tanya Gladi lagi.
"Itu, aku ingin menikah dengan mu" sahut Vina.
"Apa!" teriak Gladi yang langsung melompat dari tempat duduknya.
"Aku juga kaget tadinya, bahkan sampai membuat perut ku sakit mendengarnya" ucap Vina.
"Dasar pria gila, sudah memisahkan anak dari ibunya tanpa merasa bersalah bilang mau menikah dengan mu. Jangan mau, aku tidak setuju" sahut Gladi sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku juga tidak mau, aku sangat membencinya" ucap Vina.
"Sudahlah, sini Raka sama mama kita main sampai puas hari ini. Oke" sambung Vina yang langsung menggendong anaknya ke kamarnya.
Haaaaaaah, pantas saja kedua pria itu berbeda ekspresinya. Mereka berdua pasti merasa cemburu, mereka takut Vina setuju menikah dengan Rengga" dalam hati Gladi.
Di tempat berbeda Ian yang baru sampai rumah langsung naik ke lantai dua, Ian yang sampai di tempat tujuannya bergegas membuka kamar latihan tinjunya dan masuk ke dalamnya.
Tanpa membuka bajunya Ian memukul samsak tinju di depannya, perasaan kesal cemburu dan takut kehilangan Vina untuk selamanya di tumpahkannya sepenuhnya dengan terus memukul samsak di depannya.
__ADS_1
"Mati kau Rengga, mati kau, apa kamu berpikir bisa mengambil Vina dari ku" ucap Ian yang masih terus memukul samsak sebagai pelampiasannya.
Bug bug bug bug...
Ian terus memukul samsak sambil membayangkan yang di pukulinya saat ini adalah wajah Rengga.
"Mati kau" ucap Ian
melayangkan pukulan terakhirnya.
"Haaah haaaah, aku tidak akan membiarkan mu mendekati Vina lagi" ucap Ian yang langsung terbaring tanpa memperdulikan keringatnya.
Ian mengepalkan tangannya sambil menggertakaan giginya, sampai kapanpun dirinya tidak akan membiarkan Rengga menikahi Vina apapun yang terjadi, dan jika Vina tidak menikah dengannya orang yang berhak menikahinya sudah pasti bukan Rengga. Ian bahkan berpikir dia siap membantu mencarikan pria baik untuk Vina jika dirinya memang bukan jodoh Vina.
______ _______ _____
Di kamarnya Rengga masih membayangkan Vina yang tertawa setelah dirinya berkata ingin menikahinya, Rengga berpikir sebenarnya apa yang lucu dari perkataannya hingga membuat Vina tertawa dan kenapa Vina malah mengatai kalau otaknya bermasalah.
"Kamu selalu saja mengganggu ku, aku sudah tidak tidur semalaman dan sekarang kamu minta aku datang kemari" ucap Aldo yang terpaksa kembali datang ke rumah Rengga.
"Aku baru saja mendatangi rumahnya" sahut Rengga tanpa mempedulikan ekspresi kesal Aldo.
"Aku tebak dia pasti tidak akan mengizinkan mu membawa anaknya" ucap Aldo yang langsung duduk di samping Rengga.
"Bukan itu intinya, aku sudah menyampaikan niat ku tapi tanggapannya sangat aneh" sahut Rengga.
"Aku sudah bilang aku ingin menikahinya tapi dia malah tertawa, bahkan dia mengatai otakku bermasalah" sahut Rengga.
"Apa! yang benar saja" ucap Aldo.
"Hahahahaha, hahahahaha, Vina ternyata masih waras" sambung Aldo sambil terus tertawa.
"Apa maksudmu?" tanya Rengga heran.
"Ayolah Rengga, Vina itu wanita kamu sudah membuatnya membencimu dia jelas tidak akan mau menikah dengan mu walau kamu tampan bagai pangeran sekalipun" sahut Aldo sambil menggelengkan kepalanya.
"Tapi kamu pasti ada caranya bukan" ucap Rengga.
"Kali ini aku tidak punya cara, kamu harus melakukannya sendiri. Cobalah gunakan ini mu" sahut Aldo yang langsung memegang dada Rengga.
"Aku pulang dulu, jangan menggangguku" sambung Aldo sambil berjalan pergi meninggalkan Rengga.
"Menggunakan ini, apa maksudnya" ucap Rengga memegangi dadanya.
Deg deg deg deg...
Rengga yang memegangi dadanya bisa merasakan sesuatu berdetak cepat, perasaan seperti itu sama sekali belum pernah di rasakannya selama ini.
Kalau di ingat lagi, wajah Vina memang sangat cantik bisa menikahinya membuatku mendapatkan keuntungan berlipat ganda" dalam hati Rengga sambil tersenyum.
__ADS_1
Haciiiuuuu...
"Siapa yang sedang membicarakan ku" ucap Vina yang tiba-tiba bersin.
"Mama, aka mau alan" celoteh Raka sambil menarik tangan Vina.
"Raka mau ke mana nak" ucap Vina yang langsung mengikuti putra kecilnya berjalan keluar.
Raka menunjuk pintu sambil terus melompat kesenangan, Vina menganggukan kepalanya dirinya mengerti maksud putra kecilnya yang ingin mengajaknya jalan-jalan.
"Gladi, Ayo kita jalan. Raka sepertinya bosan di rumah" ucap Vina.
"Ayo, aku juga kebetulan bosan di rumah" sahut Gladi yang langsung berjalan ke arah Vina.
Vina yang menggendong Raka bergegas berjalan ke arah mobilnya, di dalam mobil Gladi bersiap mengendarai mobil mengelilingi kota yang sudah sangat lama tidak di kelilinginya.
"Kita mau kemana, Vin?" tanya Gladi.
"Kita ke pantai saja bagaimana" sahut Vina.
"Ide bagus, pantai kami datang" teriak Gladi sambil tersenyum.
Di jalan Aldo tidak sengaja melihat mobil Vina yang di kemudikan Gladi, Aldo yang sudah lama tidak bertemu Gladi bergegas mengikutinya dari belakang.
Hanya membutuhkan waktu setengah jam untuk sampai ke pantai, Gladi yang sudah memarkir mobil bersiap menyusul Vina yang berjalan duluan menggendong Raka ke pinggiran pantai.
"Gladi" panggil suara yang tidak asing di telinga Gladi.
Gladi memutar badannya menatap Aldo yang berjalan ke arahnya, walau tidak tahu bagaimana bisa dirinya bertemu dengan Aldo secara kebetulan, Gladi berpikir ini waktu yang tepat untuk berterima kasih padanya.
"Senangnya bisa melihat mu terbebas" ucap Aldo yang berdiri di depan Gladi.
"Semua berkat Vina" sahut Gladi.
"Terima kasih selama di rumah Rengga kamu banyak membantu ku" sambung Gladi.
"Sudah seharusnya" ucap Aldo sambil tersenyum.
"Kalau begitu aku pergi dulu, Vina pasti menunggu ku" sahut Gladi yang bersiap pergi meninggalkan Aldo.
"Tunggu" ucap Aldo yang langsung menarik tangan Gladi dengan kuat.
Gladi yang tidak bisa menjaga keseimbangannya membuat bibirnya tidak sengaja mencium pipi Aldo, bibirnya yang sebelumnya di poles lipstik meninggalkan cap bibir di pipi Aldo dengan sangat jelas.
"Aku tidak sengaja, kenapa kamu menarik tangan ku" ucap Gladi sambil mengelap mulutnya.
Aldo yang mendapatkan ciuman dadakan seketika menjadi patung, andai yang terkena cium Gladi tadi bibirnya betapa bahagianya dirinya.
"Eh dimana Gladi" ucap Aldo yang baru tersadar dari lamunannya, Gladi sudah tidak ada di depannya.
__ADS_1