
Di dalam ruangannya Rengga masih terus berpikir siapa yang berani meretas data komputer Kakeknya, jika komputer Kakeknya yang memiliki sistem keamanan tinggi saja masih bisa di retas bagaimana dengan data perusahaannya.
Kriiiiiiing kriiiiiiiing kriiiiiiiiiing...
Suara ponselnya yang tiba-tiba berbunyi mengejutkan Rengga, Rengga bergegas mengangkat teleponnya tanpa memperhatikan siapa yang menelponnya itu.
"Hallo, ku harap kamu menyukainya" ucap suara di telepon yang membuat Rengga langsung beranjak berdiri.
"Kamu siapa, apa kamu tahu kamu sedang berurusan dengan siapa" sahut Rengga.
Tut tut tut...
Suara telepon yang terputus membuat Rengga langsung membanting ponselnya, suara seorang pria yang di dengarnya barusan sudah pasti bukan suara wanita yang di temuinya semalam.
"Haaaaah, capeknya" ucap Aldo yang langsung duduk di depan Rengga.
"Sejak kapan kamu masuk?" tanya Rengga yang melihat Aldo tiba-tiba duduk di depannya.
"Sejak kamu melamun, habis membanting ponselmu" sahut Aldo.
"Heeeeeh, data di komputer Kakek ku di retas apa menurutmu semua hanya kebetulan" ucap Rengga yang kembali duduk.
"Aku tidak tahu, yang pasti perusahaan V.A bukan sembarang perusahaan, aku sudah mencari informasi tapi yang ku dapat hanya informasi perusahaan itu baru saja berdiri" sahut Aldo.
"Heeeeeh, mungkin kali ini kamu dapat masalah besar, tidak tahu bos mana lagi yang sudah kamu singgung" sambung Aldo.
"Ahhhhhh benar-banar membuat ku sakit kepala, sekarang apa yang harus ku lakukan terlebih dulu. Apa aku harus mencaritahu tentang wanita itu atau tentang siapa yang meretas data kakek ku" sahut Rengga sambil mengepalkan tangannya.
"Kenapa kamu tidak mencoba menenangkan pikiran mu, siapa tahu setelah kamu sedikit memberi perhatian pada anak mu masalah mu bisa terselesaikan" ucap Aldo.
"Cih aku tidak percaya hal seperti itu, masalah ku pasti terselesaikan jika aku bergerak sendiri, kalau berpikir gunakan logika mu" sahut Rengga semakin kesal mendengar perkataan Aldo.
"Huuuh terserah kamu saja, aku pernah dengar terkadang anak bisa membawa keberuntungan untuk orang tuannya" ucap Aldo sambil berjalan pergi meninggalkan ruangan Rengga.
Cihhhh, anak tetaplah anak, apalagi anak kecil memangnya apa yang bisa di lakukannya" dalam hati Rengga.
______ _______
Di kantor Vina Ian yang baru saja menelepon Rengga langsung di sambut tawa Vina dan Andreas, Vina berpikir Rengga pasti sedang kebingungan sekarang siapa yang meretas data komputer kakeknya.
"Sekarang apa yang akan kita lakukan kak Vina?" tanya Andreas.
"Saat ini lebih baik kita tetap tenang setelah mereka kembali memulihkan data aku akan memberikan kejutan terbaru" sahut Vina santai sambil tersenyum.
Di tengah ketenangan Vina dirinya masih teringat putra kecilnya, andai bisa bertemu atau setidaknya mengetahui gimana kabar putra kecilnya itu pasti akan membuatnya bahagia.
"Kak, kak Vina" panggil Andreas.
__ADS_1
"Eh, kenapa Andreas?" tanya Vina.
"Kakak kenapa melamun?" tanya Andreas balik.
"Aku hanya kepikiran Raka, semoga dia baik-baik saja" sahut Vina.
"Vin, aku memiliki ide, tidak tahu kamu menyetujuinya atau tidak" ucap Ian sambil menatap Vina.
"Ide apa?" tanya Vina penasaran.
"Aldo tidak mengetahui jika kita bekerja sama, bagaimana jika aku mencari tahu tentang keadaan Raka ke dia" ucap Ian.
"Itu terlalu beresiko, kalau sampai dia mengetahuinya kamu tahu kerugian kita sebesar apa bukan" sahut Vina.
"Tenang saja, serahkan semua pada ku" ucap Ian santai.
"Haaaaah, baiklah semoga kamu tidak mengecewakanku" sahut Vina.
Di malam harinya, Ian mengendarai mobilnya ke Bar Aldo. Ian yang tidak ingin di curigai langsung memesan ruangan khusus beserta dua gadis untuk menemaninya minum, dari jauh Aldo yang melihat Ian memasuki ruangan bergegas menghampirinya, Ian yang tidak pernah datang ke Bar sudah pasti membuatnya merasa curiga.
"Yo, aku tidak menyangka siapa yang datang ke tempat ku" ucap Aldo.
"Heeeh aku punya uang, aku bebas kemanapun aku mau" sahut Ian sambil tersenyum.
"Iya ya ya, di dunia ini yang punya uang yang berkuasa" ucap Aldo.
"Aku sudah lama tidak bertemu Vina dan anaknya kira-kira bagaimana kabarnya?" tanya Ian santai sambil menuang minuman di depannya.
"Cih, aku juga tidak tahu kabar wanita itu, tapi kalau anaknya sudah pasti kabarnya baik dia tinggal bersama Rengga sekarang" sahut Aldo yang langsung memberikan informasi penting ke Ian tanpa di sadarinya.
"Apa!" ucap Ian yang pura-pura terkejut.
"Rengga berhasil mengambil Raka lalu siapa yang menjaganya?" tanya Ian.
"Apa kamu masih ingat Gladi?" tanya Aldo balik.
"Iya, aku mengingatnya" sahut Ian.
"Dia yang menjaga Raka sekarang" ucap Aldo yang kembali mengejutkan Ian.
"Haaaaah. Bagaimana bisa Gladi yang menjaga Raka" sahut Ian yang merasa penasaran.
"Kamu mantan asistennya kamu pasti bisa menebak cara apa yang di gunakannya, hanya saja aku merasa kasihan walau anak itu bersama Rengga di sama sekali tidak di perhatikannya" ucap Aldo.
"Aduhh, mulut ini lancang sekali. Bagaimana bisa aku bercerita padamu, jika Rengga tahu habislah aku" sambung Aldo yang langsung menutup mulutnya.
Heee, kabar ini termasuk kabar baik atau kabar buruk untuk Vina. Haruskah aku memberitahunya semua yang di katakan Aldo" dalam hati Ian yang membuatnya terdiam.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Aldo.
"Tidak ada, aku hanya masih penasaran di mana Vina sekarang. Sampai kapan dia akan diam" sahut Ian.
"Aku juga berharap dia kembali, kamu mau tahu kenapa?" ucap Aldo.
"Kenapa" sahut Ian sambil menatap Aldo.
"Aku ingin Raka dan Gladi terbebas dari Rengga, memang benar aku temannya yang bisa di bilang juga anak buahnya, tapi saat dia melarang ku mendekati Gladi aku hanya bisa berharap Gladi bebas darinya" ucap Aldo.
"Kalau dugaan ku benar kamu pasti menyukai Gladi, lalu kenapa kamu tidak membebaskannya" sahut Ian yang sengaja memancing Aldo lebih dalam lagi.
"Haaaah Itu sulit, bahkan sebelum aku membebaskan Gladi aku mungkin sudah mati di tangannya" ucap Aldo pasrah.
Ian yang mendapatkan informasi banyak dari Aldo membuatnya tersenyum, suatu hari nanti Aldo pasti bisa di manfaatkannya pikir Ian.
Pagi harinya yang bertepatan dengan hari minggu membuat Ian bergegas pergi ke rumah Vina, Andreas yang datang mendahuluinya membuat Ian menyunggingkan bibirnya sinis.
"Pagi-pagi sudah bertamu" ucap Ian.
"Kamu juga sama" sahut Andreas santai sambil menikmati kue di depannya.
"Sudah-sudah kita ini saudara untuk apa terus bertengkar, Ian bagaimana semalam" ucap Vina yang langsung duduk di depan Andreas dan Ian.
"Aku mendapatkan banyak informasi, tapi mungkin ini bisa menjadi kabar baik dan kabar buruk untuk mu" sahut Ian.
"Kalau begitu tunggu apa lagi, cepat katakan" ucap Andreas yang merasa sangat penasaran.
"Aldo memberitahu ku bahwa Raka sebenarnya baik-baik saja karena ada yang mengasuhnya, apa kalian tahu siapa pengasuhnya" sahut Ian sambil menatap Vina dan Andreas.
"Tidak, siapa?" tanya Vina.
"Gladi" sahut Ian yang membuat Vina dan Andreas terkejut.
"Apa! yang benar saja" ucap Andreas.
"Untuk apa aku berbohong, tapi Aldo juga memberitahuku bahwa Raka sama sekali tidak mendapatkan kasih sayang dari Rengga" sahut Ian.
"Pria sialan itu, dia berani mengambil anak ku tapi tidak memberinya kasih sayang, seharusnya aku tidak membiarkan dia berpura-pura menyayangi Raka waktu itu" ucap Vina yang merasa sangat marah mendengar yang di katakan Ian.
"Bukan hanya itu, sebenarnya Aldo juga ingin Raka dan Gladi terbebas dari Rengga karena dia sebenarnya menyukai Gladi" sahut Ian.
"Haaaaah" Andreas membuka mulutnya lebar-lebar.
Aldo menyukai Gladi apa itu tidak salah pikir Andreas.
"Vin, jadi bagaimana" ucap Ian yang melihat Vina terdiam.
__ADS_1
"Aku hanya bisa bersabar, sebentar lagi aku pasti akan mengambil anak ku kembali" sahut Vina sambil mengepalkan tangannya.