
"Selamat makan, semoga harimu menyenangkan" ucap Rengga yang langsung berjalan pergi meninggalkan perusahaan Vina.
Vina bergegas kembali ke ruangannya dengan wajahnya yang memerah, Vina tidak habis pikir apa yang di lakukan Rengga kenapa dia berbeda dari biasanya.
"Terserahlah, lumayan sarapan gratis" ucap Vina yang langsung duduk di kursinya sambil membuka kotak makan pemberian Rengga.
Hahahahaha...
Vina tidak kuasa menahan tawa melihat nasi yang di bentuk seperti hati, huruf R yang di tulis menggunakan saos semakin membuat Vina tertawa sangat keras.
"Hehe, ada apa dengannya. Apa maksud dari makanan ini" ucap Vina sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah mencoba menahan tawanya Vina perlahan memakan sarapan pemberian Rengga, nasi yang lengkap dengan lauknya terasa sangat lezat berbeda dari masakannya selama ini.
"Emmm, di mana dia membeli makanan ini, karena tidak mungkin dia membuatnya sendiri" ucap Vina sambil melahap makanan di depannya.
____ _____
Di dalam mobil Rengga tersenyum puas, ingin rasanya dia melihat sendiri Vina memakan sarapan yang sudah di buatnya.
"Heee, aku sangat yakin dia pasti menyukainya" ucap Rengga.
Akan ku buat dia mencintaiku dan menikah denganku" dalam hati Rengga.
Rengga yang sudah mempersiapkan semuanya kembali datang ke perusahaan Vina, masih sama seperti sebelumnya makanan dan bunga mawar tidak lupa di bawanya.
"Di mana Vina?" tanya Rengga yang berdiri di depan pintu.
"Bu Vina ada di ruangannya" sahut salah satu karyawan Vina.
Kriiiiiiiing kriiiiiiing...
Suara telepon yang berbunyi bergegas di angkat karyawan Vina, setelah menatap Rengga sambil menganggukkan kepala karyawan Vina bergegas menutup teleponnya.
"Masuk saja, bu Vina menunggumu di ruangannya" ucap karyawan Vina.
"Dengan senang hati" sahut Rengga yang langsung berjalan pergi.
Tok tok tok...
"Aku masuk" ucap Rengga.
Rengga yang membuka pintu langsung di sambut tatapan oleh Vina.
__ADS_1
"Sebenarnya ada apa denganmu?" tanya Vina yang melihat Rengga berjalan ke arahnya.
"Memangnya ada apa denganku?" tanya Rengga balik sambil menaruh makan siang dan bunga mawar yang di bawanya di depan Vina.
"Ceo Rengga Cafanza apa anda kekurangan pekerjaan hingga menyempatkan diri memberikanku ini semua" ucap Vina menunjuk mejanya.
"Kerjaanku tentu saja banyak, tapi meluangkan waktu untukmu itu harus. Bagaimana makanannya tadi apa itu enak?" tanya Rengga santai.
"Lumayanlah" sahut Vina.
"Kalau begitu makan ini, aku jamin kamu pasti lebih menyukainya" ucap Rengga sambil tersenyum.
Vina menatap Rengga ragu. Apa mungkin makanan di depannya sama seperti sebelumnya yang berbentuk hati, Vina yang mengingat makanan Rengga tadi pagi membuatnya tertawa kecil.
"Apa yang lucu, makanlah" ucap Rengga sambil membuka kotak makan di depannya.
Puffff...
Hahahaha...
Vina kembali tertawa sangat keras, ternyata masih sama seperti sebelumnya walau bukan nasi sayuran yang di bentuk hati membuat Vina tidak kuat menahan tawanya.
"Di mana kamu Membelinya?" tanya Vina sambil mencoba berhenti tertawa.
"Membuatnya sendiri dengan bentuk seperti ini, apa kamu mengira aku anak kecil yang susah makan sampai harus membuat bentuk seperti itu untuk membujukku" ucap Vina.
"Terserah, tapi memang aku lagi berusaha mendapatkan cintamu" sahut Rengga terus terang.
"Haaaaah, Cinta" Vina kebingungan mendengar perkataan Rengga.
"Iya, bukannya kamu yang bilang kamu mau menikah dengan pria yang kamu cintai. Aku sekarang sedang berusaha untuk mendapatkan cintamu agar kamu mau menikah denganku" sahut Rengga sambil menatap Vina.
Oh pantas saja, ternyata begitu" dalam hati Vina sambil tersenyum.
"Makanan yang kamu buat memang enak, usaha yang bagus" ucap Vina.
"Lalu bagaimana? Apa kamu sudah mencintaiku?" tanya Rengga lagi.
"Hahahaha, ayolah kamu baru membawakan makanan dua kali itu mana mungkin cukup untuk mendapatkan cintaku" sahut Vina sambil tertawa.
Baru memberikan makanan dua kali saja sudah berharap mendapat Cinta, apa Rengga mengira Cinta itu seperti perut kosong yang jika lapar di beri makan bisa langsung kenyang. Vina menggelengkan kepalanya tidak habis pikir.
"Itu belum cukup ya, kalau begitu aku akan membawakanmu makanan setiap hari cepat atau lambat kamu pasti akan mencintaiku" ucap Rengga.
__ADS_1
"Jika begitu caramu yang ada aku malah mencintai makananmu dan bukan dirimu, cobalah pikirkan cara lain agar aku bisa mencintaimu" sahut Vina.
"Cara lain seperti apa?" tanya Rengga.
"Pikir saja sendiri, sudah keluar sana" ucap Vina.
Rengga terdiam sambil memutar bola matanya, jika cara memberi makanan saja kurang lalu bagaimana lagi cara dirinya agar mendapatkan cinta Vina pikir Rengga.
Aldo, dia pasti tahu" dalam hati Rengga sambil berdiri bersiap pergi.
"Bergerak cepatlah sedikit, jika terlambat nanti aku akan mencintai pria lain" ucap Vina yang sengaja menggoda Rengga.
Rengga berbakat di bidang bisnis dan lainnya sangat di sayangkan gagal di bidang percintaan. Cih, tampan dan kaya ternyata tidak menjadi jaminan" dalam hati Vina sambil menggelengkan kepalanya.
Di jalan Rengga langsung menelpon Aldo, tanpa basa basi Rengga meminta Aldo mencari cara mendapatkan cinta seseorang. Walau kaget Aldo mengiyakan permintaan Rengga, Aldo meminta Rengga sabar menunggunya yang datang malam nanti.
"Rengga, Rengga" teriak Aldo sambil berjalan masuk ke rumah Rengga.
"Tidak perlu berteriak, cepat katakan bagaimana caranya" ucap Rengga yang sengaja menunggu Aldo di ruang tamu.
"Tara" teriak Aldo sambil menaruh berjejer buku novel di depan Rengga.
"Cinta Ceo dingin, Bos galak jatuh cinta, Mencintai tulus dari hati" Rengga membaca judul novel yang di jejer Aldo satu persatu.
Dari banyaknya novel di depannya Rengga tertarik dengan tiga sampul novel yang sama menceritakan tentang Ceo jatuh cinta. Rengga yang tidak mengerti maksud Aldo langsung menatapnya, Rengga berpikir dirinya minta ide untuk mendapatkan cinta Vina kenapa Aldo malah membawakan novel bergenre romantis untuknya.
"Apa ini?" tanya Rengga.
"Bukannya tadi kamu bilang ingin mendapatkan cinta Vina" sahut Aldo.
"Apa hubungannya dengan buku-buku ini?" tanya Rengga lagi.
"Ini buku novel tentang percintaan, mau Ceo sepertimu atau orang biasa percintaannya ada di novel ini semua" sahut Aldo lagi.
"Aku pergi dulu, selamat membaca" ucap Aldo sambil berjalan pergi.
Sial, aku yang menunggunya ternyata hanya mendapatkan ini" dalam hati Rengga sambil mengambil satu novel di depannya dan langsung membuka bagian tengahnya.
Oh tidak, jangan seperti itu...
Rengga yang baru membaca beberapa kata langsung menutup kembali novel yang di pegangnya. Dari lima kata yang di bacanya Rengga sudah bisa menebak kata lainnya.
"Dasar Aldo, berani sekali dia mempermainkanku" ucap Rengga.
__ADS_1
Rengga menumpuk semua novel yang di berikan Aldo dan langsung membawanya ke kamarnya, melanjutkan cerita yang tadi di bacanya sudah pasti harus dalam keadaan tenang pikir Rengga.