Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 93


__ADS_3

Vina menatap Ian dan Andreas yang sedang berpikir menebak-nebak siapa dalang dibalik pembunuhan Mia, mata Rengga yang tidak sengaja melihat ke arah Vina membuatnya cemberut, padahal dirinya juga ikut berpikir bagaimana bisa Vina hanya menatap dua orang asing itu dan tidak menghiraukannya.


"Karena masih belum ada yang tau, bagaimana kalau kalian berpikir di rumah kalian masing-masing" ucap Rengga membuat Vina, Ian dan Andreas menatapnya bersamaan.


"Benar juga apa yang dikatakannya, Vin kami pulang dulu," sahut Ian.


"Pulanglah, kalau masih belum tau siapa dalangnya jangan datang kemari lagi," ucap Rengga yang melihat Ian berjalan pergi sedangkan Andreas masih terlihat duduk santai.


"Kamu kenapa tidak pergi?" tanya Rengga.


"Ini juga aku mau pergi, Kak Vina kalau ada apa-apa hubungi saja aku atau langsung saja datang ke rumahku ya," ucap Andreas.


"Siapa juga yang mau ke rumahmu yang jauh di Singapura sana," sahut Rengga menyunggingkan bibirnya.


"Singapura dari mana, rumahku dan rumah Ian berada tepat di samping rumah ini kami bisa datang dan pergi sesuka hati kami," ucap Andreas yang langsung berjalan keluar.


Rengga mengepalkan tangannya, bodohnya kenapa dirinya bisa lupa kalau rumah Vina berada di tengah-tengah antara rumah Ian dan Andreas.


"Coba tau begitu aku akan membawamu ke rumahku saja," ucap Rengga sambil menatap Vina yang hanya diam.


"Vin, apa kamu sengaja menguji kesabaranku?" tanya Rengga.


"Menguji bagaimana maksudmu?" tanya Vina balik.


"Aku mengalah kamu mengunci diri selama beberapa hari, saat aku memanggilmu kamu tidak mau keluar tapi saat mereka yang memanggilmu kamu langsung keluar. Tidak hanya itu dari tadi aku juga melihat kamu menatap terus mereka, apa aku kalah tampan dari mereka?" ucap Rengga.


"Bukan begitu," sahut Vina.


Belum sempat memberi penjelasan Rengga langsung mencium bibir Vina, Rengga memegang kedua tangan Vina agar tidak memberontak dan kabur kembali ke kamar.


Buuuuuuuuug.


Vina yang bukan lagi wanita lemah seperti saat pertama kali bertemu Rengga langsung menggunakan kakinya membuat Rengga menatap ujung meja, Rengga yang termundur membuat pegangannya dari tangan Vina terlepas.


"Jangan main-main, sekarang aku masih tidak mood bercanda," ucap Vina kembali duduk.


"Aku tidak sedang bercanda tapi cemburu," sahut Rengga pelan.

__ADS_1


"Sudahlah aku mau istirahat di kamar sambil berpikir, kalau kamu mau masuk silahkan kalau tidak biar ku kunci saja," ucap Vina sambil berjalan meninggalkan Rengga.


"Tunggu aku," sahut Rengga.


***


Di tempat berbeda Andreas yang sudah lama tidak memakai komputer di kamarnya tiba-tiba tersenyum, benar saja semua yang di perkirakannya dari awal masuk akal hanya berbeda sedikit jadi dirinya hanya perlu menyelesaikan sisanya.


Andreas yang sudah terbiasa meretas dengan mudah mendapat email organisasi belahan dunia, tanpa ragu Andreas langsung mengirim email meminta penjelasan ke organisasi belahan dunia.


Aku tidak menyangka organisasi besar menerima pekerjaan membunuh anak kecil, apakah organisasi belahan dunia sangat membutuhkan uang." email yang pertama dikirim Andreas.


...Benarkah ada yang seperti itu, sebagai pimpinan kenapa aku tidak mengetahuinya. Kami akan menyelidiki lebih lanjut dan akan mengabari siapapun kamu, karena aku tau kamu yang bisa meretas komputer kami dari jarak jauh bukanlah sembarang orang." balasan dari organisasi belahan dunia....


Kalau begitu aku tunggu hasilnya saja, aku yakin organisasi besar seperti OBD bisa dengan mudah melacak siapa yang berani menyebabkan Kekacauan." balas Andreas setelah mengirim email meminta penjelasan sebelumnnya.


Andreas kembali tersenyum sambil membaringkan badannya, sudah lama dirinya tidak membantu Vina dan akhirnya dirinya bisa membantunya lagi walau sangat disayangkan seseorang yang pernah menganggapnya orang baik telah pergi meninggalkannya.


Keesokan paginya Andreas yang baru membuka mata langsung bangun dan duduk di depan komputernya, Andreas bergegas membuka email yang masuk dan membacanya.


Sangat disayangkan ternyata insiden seperti itu benar terjadi, sebagai pemimpin aku meminta maaf dan turut berduka cita. Sebagai tebusan rasa bersalah aku akan memberitahu yang menyuruh anggota bawahku adalah seorang pria tua bernama Cafanza dan dia sekarang berada di Singapura. Sekian semoga kita bisa bertemu." email yang dikirim organisasi belahan dunia.


"Kak Vina," teriak Andreas dari depan pintu.


Andreas menatap Ian dan Rengga yang sedang duduk mendahuluinya di sana bersama Vina.


"Kenapa kalian diam saja?" tanya Andreas.


"Situasinya semakin sulit, memang OBD di balik penyerangan Vina dan Mia waktu itu," sahut Ian.


"Oh soal itu aku juga sudah tau, tapi anggota OBD yang menyerang bukan suruhan pimpinan mereka, bahkan pimpinan mereka sudah meminta maaf dan memberitahukan sesuatu yang penting," ucap Andreas santai.


"Memberitahukan apa?" tanya Vina dan Rengga serentak.


"Saat ini Pak tua itu berada di Singapura," sahut Andreas.


"Di Singapura bagaimana bisa, bukannya kamu juga tinggal di sana," ucap Rengga.

__ADS_1


"Sepertinya dia sengaja mencari tempat persembunyian yang tidak terlalu jauh, agar kalian tidak menyangkanya," sahut Ian.


"Tunggu, apa kalian bilang Singapura tadi," ucap Gladi yang keluar sambil menggendong Raka.


"Benar," sahut Vina.


"Haaaaah, serahkan saja padaku. Saat ini juga aku akan ke Singapura," sahut Gladi.


"Memangnya apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Rengga.


"Itu urusanku," sahut Gladi yang langsung menyerahkan Raka ke Vina dan bergegas mengambil tasnya.


"Kak Vina apa Kakak Gladi baik-baik saja?" tanya Andreas.


"Kita hanya bisa mengandalkannya," sahut Vina.


Pembicaraan berhenti tepat setelah Gladi pergi, Vina membiarkan Gladi pergi bukan tanpa sebab Gladi mata-mata rahasia yang bekerja di Singapura dulunya mendapatkan informasi dan bantuan tidak sulit baginya.


Setelah sampai di Singapura Gladi bergegas mendatangi markas rahasia, semua rekannya yang ditemuinya di luar menatapnya penuh heran.


"Kamu kembali juga, kami mengira kamu sudah gugur," ucap ketua pemimpin organisasi mata-mata rahasia.


"Maaf Ketua demi mendalami peran aku harus menghapus jejakku, dan aku sudah menemukan kebenaran dari semuanya," sahut Gladi yang berlutut.


"Katakan," ucap ketua yang sudah tidak sabar.


Gladi mengarang sebagian cerita agar Rengga tidak lagi menjadi tersangka, Gladi fokus menjadikan Kakek Rengga sebagai kambing hitam semua yang dilakukan Rengga demi Vina.


"Jadi pria tua yang kamu katakan itu ada di sini," ucap ketua Gladi penuh semangat.


"Benar, pria tua itu sangat licik dia bisa keluar dari penjara tanpa ada yang tau siapa yang membantunya kabur," sahut Gladi.


"Kalau begitu kamu urus sampai tuntas dan pastikan dia tidak akan pernah kabur," ucap ketua Gladi.


"Baik ketua," sahut Gladi yang langsung berjalan ke luar.


Melihat Gladi kembali dengan sendirinya membuat Devan merasa sangat senang, sebagai ketua organisasi mata-mata Devan sudah lama memperhatikan Gladi dan menaruh hati padanya. Kehilangan Gladi beberapa tahun lalu membuatnya cukup terpukul, hingga suatu ketika dirinya sendiri yang turun tangan memata-matai keluarga Cafanza melihat Gladi menggendong anak saat itu juga seperti hancur harapannya.

__ADS_1


Kali ini berbeda, dua hari setelah pemberitahuan seorang pria tua dari keluarga Cafanza memasuki Singapura Devan mendapat informasi baru, Devan tidak menyangka anak yang digendong Gladi ternyata adalah anak temannya dan dirinya masih memiliki harapan.


__ADS_2