Jodoh Tuan Kejam

Jodoh Tuan Kejam
Bab 66


__ADS_3

Rengga yang terdiam membuat Aldo terus menatapnya, Aldo bisa menebak apa yang sedang di pikirkan Rengga saat ini.


"Rengga"


"Rengga" teriak Aldo yang melihat Rengga masih terdiam sangat lama.


"Ada apa" sahut Rengga santai tanpa menatapnya.


"Bagaimana jika kita ke rumah Vina untuk memastikannya" ucap Aldo lagi.


Benar juga satu-satunya cara memastikan anak perempuan yang bersama Vina anaknya atau bukan harus menemuinya langsung, pikir Rengga.


"Tunggu apa lagi. Ayo" sahut Rengga yang bergegas berjalan ke mobilnya.


Aldo yang mengendarai mobil Rengga langsung menjalankan mobilnya menuju rumah Vina, perjalanan yang hanya memakan waktu beberapa menit itu membuat keduanya sampai di rumah Vina dengan sangat cepat.


"Kali ini kita hanya memastikannya saja, kamu jangan mencari masalah baru" ucap Aldo mengjngatkan Rengga.


"Tenang saja, aku tahu apa yang harus ku lakukan" sahut Rengga sambil turun dari mobil.


Ting tong ting tong...


Suara bell mengejutkan Mia yang asyik bermain bersama Raka, Mia yang tahu kedua tantenya memiliki kesibukan masing-masing bergegas berjalan ke arah pintu di tuntun tongkatnya, tepat setelah tongkatnya menyentuh pintu Mia bergegas membuka pintu di depannya itu.


"Kamu pasti Mia" ucap Rengga.


Mia terdiam sejenak, suara pria yang di dengarnya baru saja sama seperti suara pria yang pernah mendorongnya. Mia yang merasa ketakutan perlahan berjalan mundur.


"Tante Vina, tante Vina" teriak Mia sangat keras.


Rengga yang mendengar Mia berteriak kebingungan sendiri, mungkinkah perlakuannya sebelumnya membuat Mia ketakutan padanya.


"Ada apa Mia" ucap Vina yang langsung berlari menghampiri Mia.


"Dia datang lagi" sahut Mia gemetaran.


"Dia siapa?" tanya Gladi yang berjalan menghampiri Vina dan Mia.


Vina menduga yang di maksud Mia pasti Rengga, Vina yang memeluk Mia langsung melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah pintu.


"Kamu, untuk apa kemari"ucap Vina sinis sambil menatap Rengga.

__ADS_1


"Anak perempuan bernama Mia itu anak ku" sahut Rengga membuat Vina yang mendengarnya merasa sangat terkejut.


"Anak mu, apa kamu tidak salah" ucap Vina menyunggingkan bibirnya.


"Aku sudah menyelidiki semuanya, Mia anak ku" sahut Rengga.


"Kenapa baru sekarang kamu mengakuinya anak, kemana saja kamu selama 5 tahun ini" teriak Andreas yang berjalan ke arah Rengga dan Vina.


"Aku sudah menduganya, pasti kamu hacker yang sudah memulihkan data Mia dan membawanya keluar dari panti asuhan" sahut Rengga.


"Memang benar aku, lalu kenapa" ucap Andreas.


"Kembalikan itu anak ku, kamu tidak ada hak padanya" sahut Rengga menatap Andreas serius.


"Andreas memang tidak memiliki hak tapi Mia masih saudara Raka, dia akan tetap bersama ku lebih baik menyerahlah" ucap Vina sambil tersenyum.


"Apa maksud mu, kamu sudah mengambil Raka kenapa kamu masih mengambil Mia dia anakku darah daging ku" sahut Rengga.


Vina yang mendengar perkataan Rengga hanya tersenyum, Vina masih tidak habis pikir Rengga menelantarkan kedua anaknya dengan cara yang berbeda tapi masih mengharapkan anaknya kembali.


"Apa paman yang mendorongku kemarin adalah papaku" ucap Mia yang berdiri di samping Gladi.


"Aku papamu nak, maafkan papa yang tidak mengenalimu sebelumnya" sahut Rengga yang langsung berjongkok di depan Mia.


Rengga tidak bisa berkata apa-apa lagi, kedua anaknya sama sekali tidak menyukainya. Rengga sadar diri semua memang salahnya tapi, ya sudahlah. Rengga bergegas berdiri berjalan pergi kembali ke mobilnya tanpa menoleh ke arah Vina maupun Mia.


"Rengga" ucap Aldo yang baru masuk ke dalam mobil.


Rengga tidak mempedulikan Aldo yang memanggilnya, di sandarkannya tubuhnya sambil menatap keluar jendela mobil. Aldo yang menjalankan mobilnya membuat Rengga tanpa sadar meneteskan air matanya.


Kenapa dirinya harus menelantarkan kedua anaknya, Raka yang masih kecil saja tidak mau di temuinya dan sekarang Mia karena perlakuan kasarnya membuat anaknya trauma padanya.


"Ahhhhhhhhhhh"


Rengga berteriak sekeras mungkin, hatinya merasa sangat sakit saat ini. Bagaimana bisa kedua anaknya membencinya dan bagaimana cara agar dirinya bisa mendapatkan kebersamaan bersama anaknya lagi.


"Haaaaaah" Aldo yang memperhatikan Rengga hanya bisa menghela nafas panjang, penyesalan selalu datang belakangan semua tidak bisa di putar kembali.


"Kalau sudah begini apa kamu tidak berpikir untuk menikahi Vina, Mia bahkan lebih dekat dengannya" ucap Aldo mencoba mencairkan suasana.


"Menikahinya tidak mudah, dua pengganggu itu tidak mungkin diam begitu saja" sahut Rengga.

__ADS_1


"Kecuali" sambung Rengga.


"Kecuali apa?" tanya Aldo.


"Kecuali kita bisa meyakinkan tuan Yovan" sahut Rengga.


"Bukannya itu semakin tidak mungkin" ucap Aldo.


"Haaaaaah, kita hanya bisa mencobanya" sahut Rengga.


Di rumah Vina, Mia masih terus menangis. Mia merasa senang tapi juga sedih, Mia senang papanya menemuinya dan mengakuinya tapi Mia juga sedih pertama kali bertemu papanya malah ingin memukulnya dan mengatainya anak haram.


"Paman Andreas" panggil Mia.


"Ada apa Mia?" tanya Andreas sambil berjalan menghampiri Mia.


"Apa benar yang tadi itu papa Mia?" tanya Mia balik.


Andreas menatap Vina yang berdiri di sampingnya, Vina menganggukkan kepalanya membolehkan Andreas berkata yang sebenarnya pada Mia.


"Namanya Rengga, dia papa Mia sedangkan paman adalah keponakannya" ucap Andreas sambil mengelus kepala Mia.


"Tapi, paman baik kenapa papa Mia sangat jahat" sahut Mia.


Andreas yang mendengar perkataan Mia langsung terdiam, sebenarnya dirinya tidak berbeda dari Rengga dirinya juga bukan orang baik, kalau dirinya orang baik bagaimana mungkin dirinya berniat menjadikan anak perempuan di depannya menjadi pion untuk melawan Rengga.


"Paman kenapa diam saja" ucapan Mia menyadarakan Andreas yang terdiam membisu.


"Mia di dunia ini selalu ada orang jahat dan orang baik, terkadang seseorang menjadi jahat karena ada alasannya sendiri" sahut Andreas sambil mengusap kepala Mia.


"Tapi paman pasti orang baik, kalau bukan karena paman Mia sekarang masih berada di panti asuhan" ucap Mia.


Andreas yang mendengar perkataan Mia lagi-lagi terdiam, Andreas merasa bersalah pada Mia ingin rasanya dirinya mengatakan yang sebenarnya.


"Iya paman orang baik, kita semua orang baik termasuk papa Mia juga" sahut Vina yang menyadari Andreas sudah tidak bisa lagi berbicara.


"Papa Mia bukan orang baik tante, kalau papa Mia orang baik papa Mia tidak mungkin memukul tante" ucap Mia lagi.


"Ya sudah ayo Mia masuk, adik Raka dari tadi cariin Mia loh" sahut Gladi mencoba mengalihkan pembicaraan.


"Baik tante" ucap Mia dengan polosnya.

__ADS_1


Vina menatap Andreas yang diam-diam menangis. Andreas baru menyadari ternyata semua yang di lakukannya selama ini salah, walau Rengga dan kakeknya menjahatinya setidaknya dulu mereka pernah merawatnya, tidak seharusnya dia melupakan kebaikan hanya karena sakit hatinya.


__ADS_2